
Mendapatkan penolakan dari Gerald membuat Morgan kini kesal dan marah-marah tidak jelas.
"Sialan. Kenapa dia tidak bisa meninggalkan meeting dulu sebentar dan antarkan pakaian untukku!" ujar laki-laki itu kesal.
Lyla menarik napasnya dan mengembuskannya dengan kasar, sikap laki-laki itu sangat kekanakan sekali.
"Hei, Tuan Muda. Daripada kau marah-marah tidak jelas lebih baik kau pergilah sendiri untuk membelinya. Atau, jika kau tidak mau pergi pakailah pakaian yang ada. Kau tidak mau terserang flu, bukan?" ujar wanita itu.
Morgan hanya menatap pakaian tersebut sambil berpikir. Tentu saja dia tidak mau sakit, maka dia mengambil pakaian tersebut dan pergi ke kamar mandi.
"Dasar tuan muda yang manja," ucap Lyla setelah Morgan menutup pintu kamar mandi.
"Ingat, Tuan Muda. Jangan lagi membuka keran yang ada di sana!" teriak Lyla memberi peringatan, dia lalu tertawa lagi dan kemudian melanjutkan menghabiskan makanannya.
"Awas aja kalian kalau aku sudah keluar dari rumah sakit ini." Morgan bergumam kesal sambil melepas pakaiannya dan membuangnya pada tong sampah. Dia segera mengganti dengan pakaian rumah sakit yang diberikan Lyla tadi.
"Kenapa mereka sangat kompak sekali?" ucapnya sekali lagi.
Baju yang dipakai terlihat sedikit kekecilan untuknya, tentu saja karena itu adalah baju yang bukan untuk ukurannya. Saat dia keluar dari kamar mandi, lagi-lagi Lyla tertawa dengan keras.
"Hentikan tawamu sekarang juga!" ucap Morgan yang semakin kesal.
"Maaf. Apa aku harus meminta pakaian dengan size ukuranmu?" tanya Lyla menawarkan diri, rasanya menggelikan juga melihat laki-laki yang biasanya sangat rapi dengan menggunakan jasnya, kini memakai pakaian rumah sakit.
"Tidak perlu! Aku akan menghubungi sopir ku saja," ucap laki-laki itu kemudian mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas meja.
"Kenapa tidak dari tadi saja? Kenapa harus ada drama terlebih dahulu," gumam Lyla dengan pelan, tentu saja sangat pelan agar Morgan tidak mendengarnya.
Morgan kini duduk di sofa menyilangkan satu kakinya di atas kaki yang lain, dia tengah memainkan ponselnya. Lyla melirik laki-laki itu dengan diam-diam. Ingin berbicara, tapi masih bingung bagaimana menyampaikannya.
"Apa kau ingin mengejekku lagi?" tanya Morgan membuat Lyla terkesiap. Padahal sudah dari tadi laki-laki itu terus menunduk menatap ponsel.
"Tidak siapa yang akan mengejekmu?" ucap Lyla kemudian turun dari ranjangnya dan mendekat pada Morgan. Dia duduk di sampingnya dan ikut menatap ponsel Morgan yang tengah memperlihatkan gambar sebuah game.
"Ada apa?" Morgan mematikan ponselnya membuat Lyla merasa kecewa. "Ada TV jika kau bosan di sini."
"Bukan itu."
__ADS_1
"Lalu?" tanya Morgan mengalihkan tatapannya kepada Lyla.
"Aku sudah lama tidak bertemu dengan ibu panti. Tidak tahu juga bagaimana kabar mereka. apa aku bisa minta tolong padamu?" tanya Lyla dengan penuh harap.
"Tolong apa? Kau ingin aku menghubungi mereka?"
Lyla menganggukkan kepalanya dengan cepat dan tersenyum lebar. Ternyata laki-laki ini cukup mengerti juga.
Morgan terdiam menatap gadis yang duduk di sebelahnya ini, senyumannya sangat ....
Dia segera menggelengkan kepalanya dan mengalihkan tatapannya dari Lyla.
"Menjauh sedikit dariku. Aromamu tidak enak," ucap laki-laki itu membuat Lyla sontak beralih duduknya sedikit menjauh. Dia juga mencubit pakaiannya dan menghantarkan pada hidung.
"Tidak bau. Apa hidungmu bermasalah, Tuan?" tanya Lyla. Morgan hanya diam saja, dia tidak ingin terlalu dekat dengan gadis itu. Bukan karena alasan bau, tapi membuat dia sesak tidak bisa bernafas.
"Aku akan menelpon mereka, tapi kau harus diam saja," ucap Morgan dan ditanggapi dengan anggukan kepala Lyla.
"Iya aku akan diam saja. Lagi pula aku juga tidak ingin memberitahu mereka jika aku ada bersama denganmu. Emm ... Maksudku berada di sini," ralat ucapan gadis itu yang membuat Morgan mengalihkan tatapannya.
"Baguslah ternyata kau mengerti jika aku malu berada denganmu," ucap Morgan membuat Lyla merasa kesal.
"Kenapa seperti itu?" tanya Morgan bingung.
Lyla menundukkan kepalanya, terlihat dari mata Morgan jika gadis itu sedang sedih.
"Tidak apa-apa, tadi sudah kubilang jika aku tidak mau membuat ibu panti khawatir. Jika dia tahu aku ada di sini mungkin saja dia akan menyusulku dan bertanya kenapa aku bisa bersama denganmu. Bukankah jika seperti itu akan menjadi masalah juga? Selain menjadi masalah denganmu, aku juga harus menjawab apa?" tanya Lyla Dengan sedih. Hati Morgan tersentak mendengar ucapan dari gadis itu, tidak menyangka jika Lyla ternyata ingin menutupi semua yang terjadi kepada dirinya.
Lyla mengusap air mata yang sempat turun melewati pipi. "Kenapa kau diam saja? Ayo cepat hubungi ibu pantiku," suruh wanita itu dengan tatapan penuh harap, dan suara yang riang seakan tidak pernah terjadi hal lain sebelumnya.
Morgan menggerakkan ibu jarinya mencari nomor dari panti asuhan. "Aku harus bilang apa?" tanya laki-laki itu bingung, sebenarnya dia takut jika salah berbicara.
"Katakan apa saja. Aku hanya ingin mendengar suaranya," ucap Lyla sambil tersenyum dan membenarkan posisi duduknya.
Suara panggilan terdengar, Lyla menunggu dengan penuh harap, dadanya berdebar menantikan hal yang sudah beberapa lama tidak dia dapati dan Morgan melihat wajah itu. Sadar jika sesuatu di dalam hatinya berdenyut, dia mengalihkan tatapannya dari Lyla.
Sial!
__ADS_1
"Kenapa tidak ada yang mengangkat teleponnya? Apa mungkin nomornya salah?" tanya Lyla tanpa sadar sambil menggoyangkan tangan Morgan.
"Ini nomor yang benar, setidaknya ini yang diberikan oleh Gerald."
"Ha? Jadi kau benar-benar tidak memiliki nomornya?" tanya Lyla sedikit kesal.
"Ini yang aku dapat dari dia. Mana aku tahu ini benar atau tidak," ucap laki-laki tersebut dengan acuh. Lyla mendengkus sebal mendengar ucapan Morgan.
"Cih, aku kira kau adalah orang yang hebat," ucapnya sambil melepaskan tangan Morgan.
Mendengar ucapan wanita itu Morgan seketika melayangkan tatapan tajam dan memberikan protes kepada Lyla. "Aku memang laki-laki yang hebat. Kau saja yang tidak tahu."
"Aku memang tidak tahu, kau tidak terkenal. Aku tidak pernah melihatmu di televisi," ucap Lyla lagi.
"Aku tidak perlu masuk televisi untuk menjadi terkenal."
"Ya, berarti jangan mengatakan dirimu terkenal jika memang tidak pernah masuk televisi."
Baru saja Morgan akan melayangkan protes kembali, terdengar suara yang lain dari ponselnya.
"Halo. Maaf dengan siapa?" tanya suara tersebut yang membuat Morgan menghentikan debatnya bersama dengan Lyla.
"Halo?"
Wajah Lyla berbinar ketika mendengar suara wanita yang dia kenali.
"Itu suara ibu pantiku," bisiknya sambil kembali menggoyangkan lengan morgan dengan senangnya.
"Halo? Ini siapa?"
"Cepat katakan sesuatu," bisik Lyla Lagi, membuat Morgan gelagapan.
"Ini aku Morena. Aku teman Lyla," jawab Morgan dengan suara menyerupai perempuan. Lyla melongo mendengar Morgan yang berbicara seperti itu.
...****************...
Cieee, Morgan salting 🤣
__ADS_1
yuk mampir dulu ke sini, karya kak Eni Pua