
Morgan memasuki sebuah ruangan yang cukup gelap, tidak ada cahaya lampu yang ada di dalam ruangan ini. Seseorang yang membawanya kemari menyuruhnya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
Suara derap langkah kakinya terdengar dengan sangat jelas sekali. Morgan mengernyitkan keningnya dan melihat seseorang ada di sana duduk dengan tenang sambil menatap ke arah luar yang terhalang oleh kaca besar dari ruangan ini.
“Maaf. Apakah kita saling mengenal?” tanya laki-laki itu.
Seorang laki-laki tua berusia hampir enam puluh tahun berdiri dengan bertopang pada tongkatnya.
“Tuan Castanov, senang bisa bertemu lagi denganmu,” ucap laki-laki tua itu.
Morgan masih belum tahu siapa dia.
Tidak ada suara lagi. Laki-laki itu membalikkan tubuhnya dan tetap saja Morgan tidak mengenalinya.
“Apakah kau tidak tau siapa aku?”
Melihat dari kalung dan cincin yang ada di tangannya, Morgan mengenali laki-laki itu seperti apa yang Alex sampaikan malam itu.
“Oh, Tuan Benedict. Apakah aku benar?” tanya Morgan, menyidik laki-laki tua itu yang memiliki rambut putih dan kulit yang sudah berkeriput.
__ADS_1
Laki-laki tua itu tersenyum senang karena Morgan mengetahui siapa dirinya.
“Maafkan aku karena aku tidak mengenali Anda. Tapi, aku senang sekali bisa bertemu dengan Anda, Tuan,” ucap Morgan sekali lagi sambil menyodorkan tangannya kepada laki-laki itu.
Frans Benedict, seorang laki-laki tua yang masih aktif di bidang usaha dan banyak orang yang takluk kepadanya. Di negara ini tidak ada satu orang pun yang tidak mengenalinya. Dia adalah seorang pengusaha yang tidak bisa dipandang remeh.
Frans Benedict menyuruh Morgan untuk duduk.
“Aku tidak menyangka jika kau akan datang ke pesta ini.”
Morgan tersenyum dan beruntung karena laki-laki tua ini datang ke pesta, dia harus berterima kasih kepada Alex yang telah memasukkannya ke pesta ini.
Mereka pun berbincang dengan akrab, apa lagi yang dibicarakan jika bukan urusan pekerjaan dan sedikit hal lain yang mereka bicarakan.
“Saya senang bertemu dengan Anda, Pak. Semoga saja di lain waktu kita bisa berjumpa lagi.
Morgan pergi dari ruangan itu diiringi tatapan dari Tuan Benedict.
“Ikuti laki-laki itu.”
__ADS_1
Seorang pengawal Tuan Benedict memberi perintah, segera laki-laki yang menerima perintah tersebut segera pergi dari sana dan membawa anak buahnya untuk pergi.
Morgan berjalan dengan langkah yang santai pergi ke arena pesta dan segera menghilang di ruangan lain. Sementara itu, orang yang diutus Tuan Benedict tadi kelimpungan mencari keberadaan Morgan untuk saat ini.
“Dia menghilang. Cepat cari dia!” teriak yang lain.
Morgan bersembunyi dan tersenyum tipis, kemudian menarik pakaiannya sehingga jas terlepas dan dia sudah berganti pakaiannya menyerupai seorang pelayan pria. Gegas pakaian miliknya dia simpan di dalam sebuah kantong plastik dan melemparkannya ke dalam saluran pembuangan sampah.
“Cepat cari dia!” teriak salah seorang yang mencari keberadaan Morgan, derap langkah kaki terdengar dengan cukup kencang mencari keberadaan pria itu.
Morgan berjalan dengan langkah yang santai mengambil nampan dan minuman serta mengambil sebuah kacamata yang ada di saku bajunya.
“Tidak ada.” Lapor salah seorang laki-laki dengan napas yang terengah.
“Sial! Cari dia sampai dapat!”
Semua laki-laki berseragam itu pergi ke luar dari area gedung, sementara Morgan memberikan sebuah minuman untuk Lyla dan Alex.
"Untuk Anda, Nona."
__ADS_1