Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
195


__ADS_3

Benar saja, setelah Lian dan Gerald selesai, mereka melihat daging yang sudah menghitam dengan cara yang menyedihkan. Terbakar sampai hangus dan hampir menjadi abu. Lian menatap kesal pada suaminya dengan bibir yang mencebik tanda marah, sementara Gerald memalingkan wajahnya ke arah lain dan tidak ingin melihat wajah marah istrinya itu.


"Ini gara-gara kau, Tuan!" Lian memperlihatkan daging gosong yang masih terdapat bara itu ke hadapan wajah suaminya.


"Aku? Jangan salahkan aku. Salahkan morgan dan kakakmu, mengapa mereka bermain hingga mengeluarkan suara yang enak untuk didengar dan dipraktekkan?" ucap Geral tidak peduli dan menyingkirkan daging hangus dari tangan istrinya.


"Apa yang harus aku lakukan? Maafkan aku, ayam. Tolong jangan marah karena kau tidak bisa kami nikmati dengan baik," sesal gadis itu sedikit berkaca-kaca di matanya.


Gerald sedikit heran dengan Lian, sampai seperti itu hanya karena sebuah makanan yang tidak bisa dimakan. Lagi pula, itu semua bukan hanya salahnya saja, kan? Dia sudah menitipkan makanan tersebut kepada Robinson dan Selvi, tapi ke mana dua orang itu?


Gerald mencoba untuk mencari keberadaan dua orang tersebut, tapi dia masih tetap saja tidak bisa menemukannya. Hanya dari beberapa meter dari tempat mereka, terlihat ada bekas benda terseret dan Gerald baru sadar jika tikar yang tadi tergelar kini sudah tidak ada lagi. Mengikuti arah tanda tersebut, dia melihat semak-semak yang bergerak tidak beraturan, padahal angin tidak terlalu kencang.


"Cih, mereka tidak tahu tempat rupanya. Dasar tua-tua keladi!" gumam Gerald.


Lian masih meratapi makanan yang ada di dalam wadah, membolak balikannya dan dia tidak bisa menemukan bagian yang masih layak untuk dimakan. Padahal itu adalah satu ekor ayam utuh yang akan sangat lezat di dalam pikirannya.


"Ada apa dengan kalian?" Suara Lyla terdengar, dan terheran saat melihat Lian yang tersedu dengan benda hitam di tangannya.


"Dagingnya gosong."


Morgan tidak bisa menahan gelak tawanya,melihat benda hitam yang ada di dalam wadah itu. Tampak menggelikan seorang wanita menangisi daging yang gosong.


"Kenapa kau tertawa, Tuan? Ini gara-gara kau!" tunjuk Lian dengan tanpa ragu sama sekali menunjuk Morgan dengan tangan kosong.


Morgan dan Lyla tentu saja bingung dengan apa yang dimaksud oleh gadis kecil ini.


"Aku?" tanya Morgan sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, andai kau tidak mengeluarkan suara menggelikan itu, aku pasti akan bisa mengurusi daging ini dengan baik!"

__ADS_1


"Eh, suara apa?" Morgan masih juga bingung apa yang dimaksud oleh Lian barusan.


"Kalian tidak bisa meredam suara bercinta, sampai-sampai Gerald--, humptt--" Lian tidak bisa lagi berbicara karena Gerald membekap mulutnya dengan telapak tangan. Gadis kecil itu berusaha untuk melepaskan tangan Gerald dari mulutnya, tapi dia tidak bisa melakukannya.


"Apa maksud kalian?"


"Ah, tidak apa-apa. Jangan hiraukan. Kami akan masuk ke dalam cottage. Kalian nikmati saja watu berdua kalian."


Gerald mengambil wadah yang masih ada di tangan Lian dan menyimpannya di atas pasir, kemudian menarik tangan istrinya untuk kembali masuk ke dalam cottage.


"Eh, apa kalian tidak akan membakar ini?" Lyla melihat daging panggang yang masih ada di wadah yang lain, telah tertusuk lengkap dengan tomat dan bawang untuk acara barbeque.


"Kalian lakukan saja sendiri, istriku sepertinya sedang lelah." Gerald menutup pintu cottage-nya dengan cepat.


"Kenapa mereka aneh sekali?" tanya Lyla, Morgan yang memang tidak tahu apa-apa hanya mengangkat kedua bahunya cukup tinggi dan tidak ingin memikirkan hal tersebut lagi.


"Entahlah. Lebih baik kita urus ini. Aku lapar, Sayang."


"Aku juga lapar."


Morgan dan Lyla mulai membakar daging barbeque di atas panggangan dan mulai membubuhkan saus yang telah dibuat oleh Lian tadi.


"Wangi sekali." Perut Morgan semakin lapar karena mencium aroma dari daging yang dia panggang.


"Iya, aku lapar."


"Tentu saja kau lapar. Kau sudah aku gempur beberapa kali sebelum keluar tadi." Morgan tertawa cukup keras dan membuat Lyla kembali sebal. Rasanya tidak ada hari libur untuknya dari acara melayani suami di atas ranjang. Seluruh tubuhnya sakit sekali dan pegal di bagian kaki.


Suara semak-semak terdengar cukup keras membuat Morgan dan Lyla menoleh bersamaan. Daging yang telah mereka bakar telah matang dan mereka menikmatinya di depan api unggun yang masih berkobar.

__ADS_1


"Apa dagingnya sudah matang?" Selvi bergerak keluar dari balik semak itu dan merapikan rambutnya.


"Mom, kau baru datang?"


"I-iya, aku baru datang." Senyuman Selvi terlihat malu-malu sementara Morgan bisa melihat senyuman aneh di wajah Selvi dan ayahnya yang baru terlihat dari balik semak yang sama.


"Dagingnya baru saja matang. Ayo kita nikmati bersama-sama."


Morgan terheran dengan sikap Lyla yang biasa saja, seakan wanita itu memang tidak tahu dengan apa yang baru saja terjadi kepada dua orang itu.


"Umm, ini enak sekali. Sayang, cobalah ini. Ini benar-benar enak." Selvi memanggil suaminya, Robinson mendekat dan duduk di atas pasir di samping istrinya dan menikmati daging barbeque dari tangan istrinya.


"Morgan, apa kau mau?"


Morgan pun tidak ingin ketinggalan, dia jelas lapar sekarang ini dan tidak ingin melewatkan makanan lagi. Setidaknya ini bukan makanan yang dimasak oleh bibinya.


Di dalam kamar, Gerald sedang menahan diri untuk tidak berteriak. Dia menyesal, karena seharusnya dia tidak membawa Lian masuk ke dalam tadi dan membiarkan saja wanita itu bersama dengan yang lainnya. Kedua tangan Gerald terikat dasi di atas ranjang cukup, kuat sehingga dia tidak bisa melepaskan dirinya, sementara itu Lian berada di atas tubuh Gerald dan menggodanya. Sial sekali!


Bagaimana aku bisa kalah dengan wanita ini. Tolong. Siapa pun, tolong aku! batin Gerald di dalam hati. Tersiksa batinnya karena Lian sampai saat ini hanya menggodanya tanpa mau melakukan apa pun terhadapnya. Dia telah membuat adiknya membesar tanpa mau bertanggung jawab dengan apa yang telah terjadi.


Ada yang berdiri, tapi bukan keadilan, justru sebuah penyiksaan batin yang membuat Gerald tidak tahan. Andai dia bisa melepaskan tangannya, sudah pasti yang akan disiksa di sini adalah istrinya.


"Sayang, aku mohon. Sudahi penyiksaan ini. Aku tidak tahan lagi." Tatapan pria yang selama ini dikenal dingin itu menghiba, memohon pada istrinya untuk segera mengeksekusinya saja.


"Tidak akan semudah itu, Sayangku. Bukankah kau juga bilang tadi padaku untuk menikmatinya saja? Maka sekarang, kau yang harus menikmati permainan ini." Senyum Lian tampak mengerikan jika dilihat oleh Gerald.


Lian mendekat dan mulai melakukan aksinya, menjadikan Gerald bak eskrim yang disiram dengan madu. Bukan hanya sebuah kiasan saja, tapi Lian memang benar-benar menjadikan Gerald seperti sebuah hidangan. Dia telah membawa madu yang disukainya ke tempat ini dan kini madu itu dia siramkan ke seluruh tubuh suaminya.


"Sayang, Honey, Bunny-ku. Aku mohon, aku tidak tahan. Ini lengket sekali. Ahhhsss," desis pria itu saat Lian menikmati tubuhnya dengan lidahnya.

__ADS_1


__ADS_2