
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Apa kakakmu tahu?" tanya Morgan saat keduanya telah duduk di sofa yang tersedia di sana.
"Tentu saja tidak. Anda tahu kakakku seperti apa," ucap Margareth sambil menuang minuman ke dalam gelas dan memberikannya pada Morgan.
"Jadi, kau sudah berbuat nakal rupanya." Morgan tersenyum kecil lalu menggoyangkan gelas yang ada di tangannya sehingga air berwarna merah itu berputar-putar di sana.
"Aku hanya sedang ingin keluar sedikit dari rutinitas yang membosankan. Apa menurutmu itu salah?" tanya Margareth tanpa menyebut Morgan lagi dengan sebutan 'anda'.
"Tidak. Kau berhak untuk itu. Tapi apa kau tidak takut dengan kakak dan juga kakekmu?"
"Mereka tidak akan tahu. Itu juga kalau kau tidak melaporkanku," ucap Margareth sambil tertawa malu. Morgan suka dengan wanita yang berani seperti ini, meski bukan tipenya tapi wanita itu cukup cantik dan juga menawan.
"Kenapa aku harus melaporkanmu. Itu hakmu? Kau bebas untuk menentukan apa yang kau inginkan," ucap Morgan lalu kembali menyesap minumannya sedikit dan menyimpannya di atas meja.
"Terima kasih, Tuan Muda. Kata-katamu sangat berarti sekali untukku."
"Apa kau datang sendirian?" tanya Morgan lagi.
"Iya, aku datang sendirian," dustanya.
"Bahaya sekali seorang wanita muda datang ke tempat seperti ini sendirian. Seharusnya kau bersama dengan yang lain. Kenapa tidak datang dengan temanmu? Atau, pasanganmu?" tanya Morgan lagi.
Margareth tersenyum malu dan menundukkan kepalanya. "Temanku memiliki acara dengan pasangannya masing-masing."
"Pasanganmu?" tanya Morgan lagi.
__ADS_1
"Aku belum punya pasangan," ucap Margareth. Morgan menatap wajah Margareth yang bersemu kemerahan meski di ruangan ini lampu tidak terlalu terang, tapi sangat nyata terlihat karena Margareth memiliki kulit yang putih.
"Benarkah? Rasanya tidak percaya wanita cantik sepertimu tidak punya pasangan."
"Untuk saat ini tidak ada. Siapa yang mau denganku? Mereka hanya menganggap aku adalah gadis yang manja." Sedikit terdengar keluhan pada nada bicaranya itu.
"Kau memang manja, tapi kau juga sangat menawan," ucap Morgan yang membuat kedua sudut bibir Margareth melengkung ke atas. Semakin kencang debar di dalam dadanya, tidak menyangka jika Tuan Muda Castanov mengatakan hal yang seperti itu.
"Terima kasih atas pujianmu. maukah kau menemaniku turun ke lantai dansa? Sudah sedari tadi aku ingin berdansa, tapi aku juga sedikit takut dengan mereka," ucap Margareth. Morgan menatap ke arah lantai dansa, berbagai macam sifat orang ada di sini. Morgan menganggukkan kepalanya dan kemudian berdiri, mengulurkan telapak tangan kepada wanita cantik itu.
"Let's do this," ucap Morgan dengan tersenyum lembut. Margareth senang akan respon yang diberikan oleh lelaki itu, lantas dia menyambut tangan Morgan dan kemudian berjalan ke lantai dansa. Dua orang itu kini meliukkan tubuhnya mengikuti hentak suara musik yang disuguhkan oleh DJ. Seketika Morgan terlupa akan niatnya tadi. Dia kini tengah asyik memegang pinggang Margareth dan bergerak di belakangnya.
Margareth senang dengan apa yang dilakukan Morgan. Dia kini tengah memikirkan sesuatu dan terlihat senyum licik pada bibirnya. Margareth membalikan tubuhnya sehingga mereka berdua saling berhadapan memaksa Morgan melepaskan tangannya dari pinggang Margaret. Kedua tangan wanita itu dia kalungkan ke leher Morgan. Senyum tersungging pada bibir keduanya, tetap pada gerakan yang semakin lama membuat jarak dari mereka semakin dekat saja.
"Kamu wangi sekali," ucap laki-laki itu sambil menyentuh pipi Margareth dengan ujung hidungnya. Merasakan aroma dari kulit putih Margareth yang seperti permen lollipop. Manis sekali.
Margareth semakin memeluk Morgan dengan erat, menikmati setiap sentuhan ujung hidung pada kulitnya, menikmati segala kehangatan yang dimiliki laki-laki itu. Rasanya bulu kuduk meremang, membuat aliran darah pada tubuhnya bergerak mengalir dengan cepat. Panas di dalam tubuh meningkat membuat hasrat yang ada di dalam diri keluar dan semakin menginginkan Morgan lebih besar lagi.
Morgan menyesap leher Margareth, sedikit meninggalkan sebuah tanda merah yang samar. Sebuah lenguhan terdengar dari bibir Margareth mendapatkan perlakuan dari pria tersebut. Dunia seakan milik berdua, mereka tidak peduli dengan tatapan dari pengunjung yang lain. Tak ada lagi rasa malu saat keduanya saling beradu dan menyesap bibir satu sama lain.
"Manis sekali," ucap Morgan setelah melepaskan diri saat Margareth sedikit kesulitan bernapas karenanya. Ditatapnya wanita muda tersebut yang semakin bersemu di pipinya. Tampak semakin cantik dan dia tidak menyangka jika Margareth yang dulu dia kenal kini sudah menjelma menjadi seorang wanita dewasa yang sangat cantik dan menawan.
Wanita itu tersenyum senang, tidak menyangka dengan apa yang mereka lakukan barusan. Dia menganggap jika tuan muda ini sudah bisa menerima dirinya.
Margareth melepaskan pelukannya dari Morgan dan menundukkan kepala. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud ... kurang ajar padamu," ucap Margareth meminta maaf dengan suara yang pelan.
__ADS_1
Sial! Apa yang sudah aku lakukan? Morgan pun tersadar, tidak seharusnya dia melakukan itu pada adik temannya sendiri. Margareth sedari dulu hanya dia anggap sebagai anak kecil saja. Gadis kecil yang sangat manja.
"Aku juga minta maaf, tidak seharusnya aku melakukan ini pada adik temanku sendiri." Ucapan Morgan membuat Margareth terkejut.
"Jadi, kau menganggapku hanya adik kakakku saja? Bukan yang lain?" tanya Margareth dengan kecewa. Margareth menunggu jawaban Morgan selanjutnya. Akan tetapi, laki-laki itu hanya membuang pandangannya ke arah lain.
"Entahlah. Jika kau berharap aku menganggapmu lebih, aku pun tidak tahu," ucap Morgan dengan jujur. Tentu saja hal itu membuat Margareth sangat kecewa. Dia sudah mengira saat Morgan menciumnya tadi, laki-laki itu sudah bisa menerima dirinya.
Margareth tersenyum dan mendekat ke arah Morgan, membelai pipi pria itu dengan lembut. "Tak apa. Tidak masalah jika kau belum menganggapku, bukankah suatu saat kita juga bisa lebih dekat lagi jika kita sering bertemu?" ucap Margareth dengan penuh harap. Morgan jelas paham dengan maksud wanita ini.
"Entahlah, apakah aku bisa atau tidak. Aku hanya tidak mau membuatmu kecewa," ucap Morgan sekali lagi.
Margareth menatap Morgan, baginya ucapan lelaki ini menjadi pertanda jika dia juga ingin dekat dengannya, bukan?
"Apakah kita bisa mencobanya? Sudah lama aku mengagumimu, Tuan Castanov," ucap Margareth kini dengan berani.
Morgan memilih diam, jelas pertanyaan itu tidak ingin dia jawab. Ada seseorang yang sedang dia tunggu.
Wanita dengan tubuh semampai itu mendekatkan dirinya pada sosok Morgan yang tinggi, sedikit berjinjit agar ia bisa meraih bibir laki-laki tersebut. Dikecupnya bibir Morgan untuk yang kedua kali.
"I love U, Morgan."
...****************...
Jangan lupa dukungannya ya, like, vote, dan hadiah ðŸ¤
__ADS_1