
Sopir dan wanita itu menatap kepergian Morgan menuju ke arah lift dengan membawa rantang makanan dengan warna pink tersebut.
"Maaf, Anda bisa membeli makanan di luar saja, kan?" ucap sang sopir yang merasa tak enak hati, berbeda dengan wanita tersebut yang tersenyum senang melihat lembaran uang yang ada di tangannya.
"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa," ucap wanita itu lagi sambil tersenyum.
"Semoga tuan muda mendapatkan kebahagiaannya," ucap wanita itu, lalu pergi dari sana untuk melanjutkan pekerjaannya.
Morgan keluar dari dalam lift, diikuti oleh sang sopir yang membawakan rantang berwarna biru di belakangnya.
"Apa yang kalian lihat?" seru Morgan membentak orang-orang yang melihatnya keluar dari dalam lift. Beberapa orang menunduk seketika, tapi tatapan mereka tak lepas dari benda yang dia bawa di depan perutnya. Dalam hati bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan sang bos yang tumben sekali membawa bekal makan siang ke kantor.
"Apa itu dari pacarnya?" ucap salah seorang setelah Morgan berada jauh dari mereka.
"Apa mungkin jika bukan dari kekasihnya, dia mau membawa bekal?"
"Ooh, sweetnya. Andai wanita itu aku. Aku akan memasak setiap hari untuk pak bos. Ternyata bos kita yang dingin bisa manis juga mau membawa bekal dengan warna pink itu," ucap salah seorang dengan tatapan mata jatuh cinta.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Kalian tidak dibayar untuk bergosip!" ucap Gerald yang tiba-tiba saja hadir di belakang mereka. Sontak ketiga wanita itu terkejut dan mengalihkan tatapannya dari Morgan ke belakang.
"Tuan Gerald ...."
Gerald melihat ke arah yang mereka lihat tadi. Morgan sudah hampir masuk ke dalam ruangannya.
"Ada masalah apa? Apa kalian ada urusan untuk bicara privat denganku?" tanya Gerald lagi yang membuat ketiga wanita itu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak. Kami tidak ada urusan dengan Anda. Jangan sampai!" ucap salah seorang dengan cepat dan tersenyum kaku. Jangan sampai ada urusan dengan laki-laki ini yang mana akan membuat mereka ada di dalam masalah nanti ke depannya.
"Kami hanya melihat betapa pak bos kita itu ternyata orang yang sangat manis sekali," ucap salah seorang dengan pandangan lembutnya yang iri pada wanita si pembuat makanan. Ucapan wanita itu membuat Gerald mengerutkan keningnya bingung.
"Tuan. Apa pak bos sedang dekat dengan wanita?" tanya yang lain.
"Iya, jawab pertanyaan kami. Kami patah hati jika jawabannya 'iya'," ucap wanita itu.
__ADS_1
Gerald masih belum paham dengan apa yang mereka ributkan di sini.
"Kembali ke ruangan kalian, jangan bergosip!" ucap Gerald pada akhirnya lalu meninggalkan ketiga wanita itu untuk pergi ke ruangan Morgan.
"Aku rasa bos memang sedang jatuh cinta."
Morgan baru saja duduk di kursinya, menatap wadah makanan yang baru saja dia simpan di atas meja. Dia hanya diam saja menatapnya dengan tak mengerti.
"Tuan." Sopir mendekat dan menyimpan satu rantang berwarna biru yang dia bawa di samping rantang pink, kemudian dia pamit untuk pergi ke tempatnya berdinas setiap hari. Apa lagi jika bukan mobil tempatnya menunggu hingga bosan dan tertidur.
Gerald yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu memberikan jalan untuk sopir tersebut lewat.
"Apa itu?" tanya Gerald saat sudah sampai di depan meja Morgan. "Kau ... bekal makan siang?" tanya Gerald bingung, ternyata ini yang membuat para wanita tadi bergosip di luaran sana.
"Haha, tumben sekali. Seorang Morgan Castanov membawa bekal makanan? Amazing sekali!" ucap Gerald.
Morgan tidak menjawab apa-apa, hanya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Dia melirik kesal pada Gerald yang tertawa kecil.
Tring!
Sebuah suara terdengar dari dalam saku pakaian Gerald, segera laki-laki itu mengeluarkan ponselnya dan membuka pesan yang berasal dari asistennya, tampak wajahnya semakin berbinar saat membaca pesan itu di dalam hatinya.
[Aku menitipkan bekal makan siang untukmu, Tuan Gerald. Tolong jangan dibuang, ya. Lyla.]
Gerald menaikkan satu alisnya, lalu dengan senyum yang lebar dia mulai membalas ketikan di layar ponselnya.
"Akh, anak ini manis sekali! Terima kasih, Lyla. Aku pasti akan memakannya habis untukmu," ucap Gerald sambil mengetikkan pesan.
Morgan melirik Gerald dengan wajah bahagianya, membuat dia serasa kesal melihat wajah menggelikan itu.
"Ah, ya ampun. Dia manis sekali. Kenapa juga harus repot membuatkan aku bekal makan siang?" gumam Gerald, tapi sangat jelas terdengar oleh Morgan.
Gerald bangkit dari duduknya dan mengambil rantang dengan warna pink dari atas meja kerja Morgan, tapi kemudian tangannya dipukul cukup keras oleh laki-laki itu bak seorang guru yang tengah memukul punggung tangan muridnya yang tidak menggunting kuku.
__ADS_1
"Aww!" Sontak Gerald menarik tangannya dan mengelusnya, meski tak sakit sama sekali.
"Itu milikku." Morgan memberikan tatapan tajam pada Gerald.
Kening Gerald mengerut mendengar ucapan dari Morgan. Pink?
Yang benar saja! batin Gerald terheran.
"Ini milikku," ucap Morgan sekali lagi seraya membawa rantang tersebut ke atas pangkuannya.
Gerald kemudian tersenyum menatap Morgan.
"Apa? Kenapa?" tanya Morgan menatap heran Gerald. Laki-laki itu tersenyum meringis, memiringkan kepalanya dan tetap menatap Morgan, malah seperti badut yang menyeramkan.
"Ternyata Lyla yang membuatnya. Apa kalian ...."
"Apa yang kau maksud? Aku hanya menghukumnya karena dia bangun kesiangan tadi. Enak saja berbuat seenaknya di rumahku!" ucap Morgan kesal.
"Benarkah? Kau yakin hanya menghukumnya?" tanya Gerald tidak percaya, masih dengan senyumannya tadi.
"Kau pikir apa? Apa kau pikir dia akan memasak jika tidak aku suruh? Dia sangat pemalas. Pulangkan dia secepatnya jika tangannya sudah sembuh," ucap Morgan.
"Cepat pergi dari sini. Bawa milikmu keluar!" usirnya.
Gerald menarik rantang berwarna biru itu sambil memperhatikan wajah Morgan yang kesal. Dia yakin sekali jika bukan karena itu saja.
"Oke. Aku akan kembali ke ruanganku. Aku akan menikmati makanan ini dengan sepenuh hati." Gerald menaikkan tinggi-tinggi rantang tersebut sejajar dengan hidungnya.
"Ah, sepertinya aku tidak akan menunggu sampai siang. Tiba-tiba saja aku lapar dan tidak sabar melihat isi di dalamnya apa," ucap Gerald, lalu tanpa pamit dia pergi dari sana dengan langkah yang santai seraya memeluk rantang biru di dalam dekapannya.
Morgan melihat pintu ruangannya tertutup kembali. Dia merasa jijik melihat wajah Gerald yang seperti tadi. Seakan laki-laki itu bucin pada Lyla.
"Cih! Aku yakin rasanya tidak enak sama sekali!" ujar Morgan menyimpan rantang tersebut kembali di atas meja, menggeserkannya di tepian hingga hanya bisa dia lihat dengan ujung matanya saja.
__ADS_1