Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
47. Merindukan Ibu Panti


__ADS_3

"Ini aku, Morena. Aku teman Lyla."


"Hah? Teman Lyla? Apa Lyla ada bersama denganmu?" tanya ibu panti dengan cepat, terdengar dari nada suaranya khawatir yang membuat pikiran Lyla kini tertuju pada wanita itu.


"I-iya, Lyla bersama denganku."


"Apakah dia ada denganmu sekarang ini? Di mana dia? Aku ingin bicara dengannya. Bisakah kau berikan telepon ini padanya?" tanya ibu panti lagi dengan penuh harap.


Lyla yang mendengar itu, menggelengkan kepalanya. Dia tidak akan kuat jika berbicara dengannya. "Katakan jika aku tidak ada," bisik wanita itu berbicara sepelan mungkin.


"Apakah dia ada di sana? Aku ingin berbicara dengan dia," tanya ibu panti sekali lagi.


"Em ... dia sedang tidak ada sekarang ini. Dia sedang bekerja, dan aku sedang cuti sakit, aku ada di rumah." Jawaban Morgan lalu berpura-pura terbatuk, membuat ibu panti merasa kecewa. Dia sangat khawatir karena Lyla tidak pulang juga, tidak juga memberinya kabar.


"Oh, begitu rupanya," jawab ibu panti dengan kecewa. "Kapan dia akan pulang? Bisakah aku berbicara dengannya nanti? Kalian berada di mana? Kenapa dia tidak memberiku kabar sebelumnya? Aku sangat takut dengan keadaannya. Apakah dia baik-baik saja?" Terdengar suara tangis dari ibu panti membuat Lyla merasa semakin sedih.


Morgan menatap Lyla, tampak wanita itu hanya diam saja dengan mata yang sudah basah.


"Tentu saja, jika dia sudah pulang nanti aku akan menghubungimu kembali. Anda tenang saja, dia di sini baik-baik saja bersama denganku. Anda jangan khawatir. Aku pasti akan menjaganya dan memastikan jika dia baik-baik saja di sini," ucap laki-laki itu yang membuat Lyla menatapnya.


Ibu panti menghela nafasnya dengan lega. "Syukurlah jika dia baik-baik saja. Aku sangat khawatir sekali karena tidak bisa menghubungi ponselnya. Dia menghilang tanpa kabar."


"Ponselnya hilang dicuri orang saat kami baru saja tiba di kota ini. Maaf karena aku baru bisa menemukan nomor Anda dan menghubungi Anda, tapi Anda jangan khawatir dia dalam keadaan baik sekarang ini. Setidaknya dia masih bisa makan dengan lahap," ucap laki-laki itu sekali lagi sambil melirik Lyla.


Ada rasa kesal di dalam hati Lyla, tapi juga dia merasa lega karena Morgan mengikuti apa yang dia minta.


"Aku sangat khawatir sekali dan juga tidak tahu dengan keberadaannya. Kenapa dia pergi tanpa bicara denganku terlebih dahulu. Dasar anak nakal!" ucap ibu panti dengan nada yang kesal, tapi juga terdengar suara isak tangisnya di sana. Tentu saja itu juga membuat Lyla merasa semakin sedih. Bukan hal yang mudah juga dengan peristiwa yang terjadi belakangan ini.


Morgan merasa bingung dengan apa yang akan dia katakan lagi, tapi selanjutnya dia bisa bernapas lega saat ibu panti kemudian menutup teleponnya karena ada sesuatu hal yang harus dia kerjakan. Lyla mendengar suara yang ada di belakang ibu panti, dia mengenali suara itu dan kini rasa rindunya kepada temannya semakin membuncah.


"Aku tutup teleponnya dulu. Malam nanti akan aku hubungi lagi," pamit ibu panti kepada Morgan. Panggilan itu pun kini sudah berakhir.


"Astaga, apa yang aku pikirkan?" ucap laki-laki itu.


Lyla sekarang mengusap wajahnya yang basah, dia tersenyum kecil dengan penuh kebahagiaan saat ini. Akhirnya, setelah hampir satu minggu dia bisa mendengar suara ibu panti lagi.


"Lain kali aku tidak mau melakukan ini. Kau lakukan saja sendiri dengan ibu pantimu!" ucap Morgan dengan sarkas dan dengan wajah yang kesal.


Lyla tersenyum senang. "Iya tentu saja, nanti akan aku urus sendiri." Pundak Lyla berguncang, rasanya ingin tertawa dengan apa yang tadi dia dengarkan. Bisa-bisanya Morgan menirukan suara perempuan dengan baik.

__ADS_1


"Apa?" tanya laki-laki itu melirik Lyla dengan sebal. Akhirnya Lyla tidak tahan lagi. Rasanya geli sekali dan tidak menyakiti jika laki-laki itu bisa diajak kerjasama.


Lyla tertawa terbahak setelah Morgan menutup panggilan tersebut. Rasanya lucu sekali ketika mendengar suara morgan yang bak perempuan, mendayu-dayu dan masih terdengar berat saja.


"Akh ... aduh! Kau lucu sekali." Lyla tertawa terbahak sambil memukuli lengan Morgan cukup keras. Laki-laki itu hanya diam saja, dia juga tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi terhadap dirinya.


Tidak bisa dipercaya. Aku .... kenapa aku melakukan hal konyol itu?


"Morena! Hahaaa ...." Lyla tak tahan, memegangi perutnya yang sedikit sakit karena guncangan, dia masih saja tertawa, tak peduli dengan tatapan Morgan yang tertuju pada dirinya.


"Hentikan tawamu!" titah Morgan.


"Aku tak bisa ... Morena!" Tawa itu semakin keras saja. Lyla sampai menangis dibuatnya.


"Aku tidak akan menghubungi ibu pantimu lagi!" ucap Morgan kesal.


"Maaf. Maafkan aku. Aduh, kau lucu. Aku hanya tidak menyangka jika kau akan menjadikan dirimu perempuan, maksudku berpura-pura."


Morgan yang kesal hendak pergi meninggalkan Lyla.


"Eh kau mau kemana? Jangan marah!"


"Hei, jangan pergi. Aku benar-benar minta maaf." Lyla menarik tangan Morgan agar duduk kembali di tempatnya tadi. Susah payah Lyla menghentikan tawanya.


"Terima kasih karena telah menghubungi ibu panti untukku. Aku sangat menghargai bantuanmu barusan," ucap Lyla pada akhirnya.


"Aku senang ...." ucapan Lyla terhenti, tawa yang tadi ada di bibirnya kini berganti. Dia mengusap air mata yang seketika kembali hampir jatuh ke pipinya.


"Aku senang karena bisa mendengar suara ibu panti lagi."


Morgan melihat Lyla menangis, terenyuh melihat gadis itu. Rasanya aneh, ada seperti tercubit di dalam hatinya, tapi dia tidak tahu karena apa.


"Apa kau merindukan dia?"


"Iya, aku sangat rindu sekali, sudah sejak kejadian itu aku tidak bertemu dengannya," ucap Lyla.


Morgan hanya terdiam mendengar ucapan Lyla, dia paham dengan maksud Lyla barusan.


"Maaf."

__ADS_1


"Heh?" Lyla mengangkat kepalanya dan menatap morgan setelah mendengar ucapan laki-laki itu. Aneh. Dia menunggu, tapi kemudian merasa jika dia salah mendengar.


"Aku minta maaf atas kejadian itu. Anak buahku menangkap orang yang salah, dan aku tidak memeriksa kebenarannya sebelum ini. Aku minta maaf," ucap Morgan sekali lagi, barulah Lyla percaya dengan apa yang dia dengar barusan.


"Aku akan bertanggung jawab, tapi bukan tanggung jawab seperti yang lainnya. Aku akan berikan berapa yang kau minta," ucap laki-laki itu. Ya, jika Lyla meminta sebuah perusahaan pun dia akan memberikannya.


Lyla tertawa kecil, dia sudah tidak berharap tanggung jawab apa pun dari laki-laki ini. Entah hatinya terbuat dari apa, seharusnya dia masih marah bukan dengan perlakuan yang telah dia dapatkan dari Morgan? Akan tetapi, semua yang telah berlalu sangat sulit untuk dihindari, semua sudah terjadi dan tak ada yang bisa diperbuat untuk memperbaikinya lagi.


"Sekarang banyak pengobatan medis yang bisa membuatmu utuh kembali, operasi keperawanan misalnya. Aku bersedia memberikan yang kau mau dan membiayai semuanya asalkan kau memaafkanku," ucap Morgan dengan tidak enak hati.


Aneh.


Baru kali ini dia bisa berbicara seperti itu selain kepada Renee.


Morgan mengangkat kepalanya saat terdengar tawa kecil dari mulut Lyla.


"Apa jika aku melakukan pengiobatan medis semua akan kembali seperti semula?" tanya Lyla sambil menatap Morgan dan memberikan senyum miris.


"Semua tidak akan sama lagi, Tuan Muda. Meski iya aku akan bisa kembali seperti dulu, tapi itu tidak akan sama persis seperti yang Tuhan ciptakan untukku. Bagaimana dengan hatiku? Luka pada tubuh bisa sembuh, tapi luka di dalam sini?" tanya Lyla sambil memegang dadanya.


Morgan terdiam mendengar penuturan Lyla.


Ya, benar. Luka pada hati memang sulit untuk disembuhkan.


"Maaf."


"Sudah lah, yang sudah berlalu biarkan saja berlalu. Jika memang ini sudah menjadi takdirku, aku bisa apa? Aku tidak bisa menghindar dari takdir yang telah Tuhan gariskan untukku," ucap Lyla lagi, kemudian dia bangkit dan mengambil tiang infusnya untuk kembali ke ranjang.


"Kau mau ke mana?" kini Morgan yang balik bertanya. "Apa kau bisa menemaniku duduk di sini?"


Lyla melihat wajah itu yang tampak sedih. Dia mengurungkan niatnya dan kembali duduk di samping Morgan.


"Oke."


...****************...


Nah loh, ngapain Morgan manggil Lyla. Jangan dijahilin ya.


yuk mampir dulu ke sini

__ADS_1



__ADS_2