
Robinson tertawa melihat wajah Morgan yang sedikit kebingungan. Pastilah putranya itu tidak pernah tahu melihat ekspresinya yang seperti ini.
"Kami terjebak dalam badai besar. Tumpukan salju membuat mobil tergelincir. Udara dingin malam itu membuat mesin mobil kami mati. Terpaksa kami pergi dari mobil itu dan berjalan kaki untuk sampai ke tempat yang dimaksud. Tapi, kami tidak pernah sampai di sana. Ibumu sedang sakit waktu itu, dan aku tidak tega untuk membawanya terus ke tempat yang dia tuju."
"Aku memaksa dia untuk berteduh, hujan salju semakin deras dan pakaian kami semakin basah. Ibumu adalah orang yang sangat keras kepala. Itu sebabnya sifatnya menurun kepadamu. Sampai dia hampir mati di tengah badai salju, dia tetap berjalan demi rasa khawatirnya pada pria itu." Robinson menjadi geram sendiri. Bukan karena dia mencintai Sarah, tapi dia sangat menyayangkan Sarah mencintai orang yang salah.
"Aku memaksanya untuk berteduh, menyeretnya ke motel terdekat karena hanya itu lah satu-satunya tempat untuk menginap kala itu. Awalnya dia tidak mau, tapi aku meyakinkan dia akan menyuruh anak buahku untuk melihat keadaannya."
"Malam itu dia terus menangis. Dia tertidur dan mengigau. Entah bagaimana, dia sudah ada di dekatku yang tidur di lantai. Aku pikir dia sedang demam parah sehingga mengalami halusinasi parah. Dia mengira aku adalah suaminya. Aku lelaki dewasa dan siapa yang akan tahan jika digoda seperti itu?" Wajah Robinson memerah dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Aku memang sudah punya kekasih, tapi tubuh dan pikiranku tidak tahan jika disuguhi hal yang memabukkan. Apa lagi malam itu terasa sangat dingin sekali. Sebuah pelukan hangat yang menghantarkan kami pada pergulatan panas malam itu. Sialnya, aku baru tahu jika itu adalah hal pertama untuk ibumu. Dua tahun pernikahannya, dia belum tersentuh oleh lelaki."
__ADS_1
Morgan menatap Robinson, tidak tampak kebohongan yan ada di wajah dan ucapan pria itu.
"Saat pagi, jelas dia menangis dengan keadaan kami yang tanpa busana. Aku tidak paham, dia yang meminta, tapi dia juga yang menyesalinya. Sampai sekarang aku masih belum paham apa kemauan wanita. Terlalu rumit untukku. Maka dari itu, aku tidak ingin berhubungan dengan wanita lagi. Cukup aku dipusingkan dengan tangis ibumu waktu itu."
"Setelah kejadian malam itu, aku terus memantau keadaannya. Aku mengutus seseorang untuk masuk ke dalam mansion ayahmu, dan kebetulan sekali bawahanku dipekerjakan sebagai asisten ibumu. Aku bisa lebih tenang karena tidak mengalami kesulitan untuk mengetahui keadaannya. Dan tidak lama, kabar kehamilan ibumu bisa aku dengar. Tapi tentu saja ayahmu murka mendengarnya. Aku merasa bersalah dan ingin membawa ibumu pergi dari neraka itu, tapi pria laknat itu tidak membiarkanku membawanya pergi."
"Dia bersumpah akan menghancurkanku, dan dia juga akan membuat hidup ibumu menderita. Aku tidak peduli dengan hal itu. Tapi, ibumu menyuruhku untuk pergi dan memohon kepadaku. Bagaimana pun perlakuan suaminya, dia akan terima karena rasa cintanya pada pria itu. Andai dulu aku sudah seperti sekarang, sudah aku pastikan untuk membawanya dengan paksa dan membunuh ayahmu yang tidak memiliki hati itu!"
Tangan Robinson mengepal. Andai dia memiliki kekuasaan yang besar waktu itu, sudah bisa dipastikan dia akan membawa Sarah dengannya dan dia akan membahagiakan Sarah dan putranya, tidak peduli apakah Sarah akan mencintainya atau tidak. Sarah tidak menggugurkan kandungannya, itu sudah menjadi kebahagiaan untuknya.
"Dokter." Morgan bangun dari duduknya. "Bagaimana keadaan kekasihku?"
__ADS_1
Pun dengan Robinson yang juga ikut berdiri dan menatap ke arah dokter yang usianya hampir sama dengannya
"Keadaannya buruk. Dia terkena salah satu zat yang berbahaya untuk tubuhnya."
"Lakukan apa pun untuk membantunya." Morgan mengguncang bahu dokter tersebut dan tidak peduli jika orang itu sebaya dengan sang ayah.
"Kami akan berusaha. Anda harap tenang. Dan, tolong Anda periksakan diri Anda sendiri," ucap dokter tersebut kepada Morgan. Melihat luka sobek di tangan Morgan dan darah yang telah mengering di kemeja hijau pria itu membuat dokter menyuruhnya juga untuk diperiksa. Akan tetapi, Morgan tidak mendengarkan dan mendorong tubuh dokter kemudian pergi ke dalam ruangan itu dan menemui Lyla yang terbaring tidak sadarkan diri.
"Lyla, Sayang. Bangunlah. Kau pasti dengar kan suaraku?" tanya Morgan kepada kekasihnya, dia menangis dan tidak peduli jika wajah ya kini menjadi jelek. Dia hanya takut jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Nayla.
Robinson melihat hal tersebut dan merasa iri karena Morgan terlihat sangat mencintai Lyla. Dia yang hidup sudah puluhan tahun iri dengan cinta tulus putranya.
__ADS_1
Robinson membalikkan tubuhnya dan menatap dokter dengan sekilas. Dokter pun sudah mengerti akan apa yang dikatakan oleh Robinson.
"Cari tahu obat yang bisa menyembuhkannya. Kalau calon menantuku tidak sembuh juga, bersiaplah jabatanmu akan aku turunkan!" desisi Robinson yang diangguki oleh dokter tersebut.