
"Apa kau merindukanku?" tanya George, laki-laki dengan tinggi 192 centi itu menatap Renee dengan lamat dan penuh cinta.
"Tidak. Hentikan tatapanmu itu, George! Aku ada urusan denganmu."
"Ya, memang kau harus punya urusan denganku. Bagaimana jika urusan untuk mulai menata masa depan kita, hah?" ujar George mendekat dan memeluk Renee dengan erat.
Renee mendorong dada George cukup keras, tapi laki-laki itu tidak juga melepaskan pelukannya dari Renee.
"Lepaskan aku."
"Tidak. Aku sangat rindu sekali denganmu. Tak ada alasan untukku melepaskanmu lagi," ucap George mendekat dan mencium Renee dengan posesif. Renee sampai membulatkan mata dengan perlakuan George barusan.
"Apa yang kau lakukan?" ujar Renee.
"Aku? Selayaknya seorang laki-laki kepada perempuan yang dia cintai."
"Aku tidak!" ujar Renee menatap George dengan tajam.
George tersenyum dengan santai, sudah biasa jika wanita ini menolaknya.
"Kapan kau akan mulai mencintaiku?" tanya George.
"Kita saudara sepupu, tidak pantas kau mencintaiku, George."
George melepaskan tangannya dari Renee dan berdecak dengan kesal.
"Kau selalu saja mengingatkan itu. Apa tidak bisa mengabaikan pertalian persaudaraan kita? Kau menyebalkan!" ujar George kesal.
Renee tertawa kecil melihat wajah menggemaskan laki-laki yang berusia di atasnya dua tahun ini.
"Hentikan, George. Kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku. Lagi pula, bagaimana nanti dengan leluhur kita? Carilah wanita yang baik dan hentikan segala kegilaanmu selama ini," ujar Renee, George paham dengan apa yang Renee maksudkan. Dia hanya berdecak kesal, kesukaannya terhadap pesta dan wanita tidak bisa dia hilangkan semenjak dulu.
"Aku belum akan menghentikannya sebelum mendapatkanmu."
"Aku menyesal karena menolongmu dan terlalu baik padamu, George." ujar Renee.
George menghela nafasnya dengan pelan. "Katakan kau mau apa menemuiku?" tanya George sambil duduk di tepian kasur.
"Aku ingin kau membantuku."
__ADS_1
"Bantu apa?" tanya George bingung melihat senyum dingin wanita itu.
...***...
Di luar bulan sedang bersinar dengan sangat terang sekali, udara dingin tidak Morgan pedulikan sama sekali, dia membiarkan angin berembus membelai kulitnya yang tanpa mengenakan baju. Bayangan wajah Renee telah mengusiknya. Selama empat tahun dia mencari keberadaan wanita itu, tapi kenapa saat setelah bertemu dengannya dia merasa marah dan tidak terima?
"Tuan!" seru seseorang sambil menepuk bahu Morgan, sontak Morgan mengalihkan tatapannya ke samping dan mendapati Lyla berdiri di sana. Morgan mengerutkan keningnya melihat Lyla.
"Kenapa kau berani masuk ke dalam kamarku?" ujar Morgan marah. Lyla menundukkan kepalanya dan memeluk bukunya dengan erat.
"Em ... anu. Aku tidak bisa mengerti soal ini, ini terlalu sulit untukku. Maaf jika aku lancang, aku tadi sudah mengetuk pintu, tapi tidak ada yang menjawab. Aku juga sudah mencari Tuan Gerald, tapi aku tidak menemukannya di rumah." Lyla masih menunduk takut.
Morgan mengambil buku yang ada di tangan Lyla dan melihat judul di sampul buku tersebut.
"Ikut aku ke ruang kerjaku," titah Morgan, kemudian dia mengambil pakaiannya dari dalam lemari dan berjalan mendahului Lyla pergi ke luar.
"Yang mana yang kau tidak paham?" tanya Morgan setelah mereka berdua duduk di sofa ruang kerja.
"Ini. Maafkan aku karena aku tidak bisa belajar dengan baik," ujar Lyla dengan takut dan tidak enak hati.
Morgan membuka buku tersebut dan membacanya, soal ini sangat mudah sekali baginya yang memiliki kepintaran di atas rata-rata.
Lyla tersenyum senang dengan ucapan Morgan barusan. Dia tidak menyangka jika Morgan ternyata orang yang sangat baik sekali.
"Kau tidak marah?"
"Untuk apa aku marah?"
"Karena banyak yang aku belum pahami."
"Tidak, tapi dalam satu bulan kau masih tidak bisa menguasai materi juga jangan harap kau akan bebas dari sini," ancam Morgan menatap Lyla. Lyla menelan salivanya dengan susah payah.
"Oke, aku pasti akan bisa lulus dengan nilai yang memuaskan untukmu, Tuan."
Morgan mulai membantu Lyla untuk belajar, dia tidak segan menunggu wanita itu dan mengajarinya dengan baik. Rasa kantuk yang tadi sempat dia rasakan sudah hilang seketika karena dekat dengan Lyla.
Mata itu berkedip, fokus dengan buku yang ada di tangannya. Hidungnya mungil, mancung, bibir tipis berwarna pink tanpa olesan make up.
Ah, apa yang aku lakukan? gumam Morgan di dalam hati. Dadanya berdebar dengan cukup kencang, entah mengapa. Dia menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain sementara Lyla tidak sadar jika laki-laki ini sudah semenjak setengah jam yang lalu memperhatikannya.
__ADS_1
Sampai dua jam lamanya, Morgan memperhatikan Lyla dalam diam. Alih-alih mengajari Lyla, dia hanya menemani dan menikmati wajah cantik itu meski di dalam hati merutuki dirinya sendiri.
"Aku sudah selesai. Bisa kau cek tugasku? Apakah masih ada yang salah?" ujar Lyla mengagetkan Morgan dan kemudian salah tingkah. Morgan segera mengambil buku Lyla dan mengecek jawabannya. Dia tersenyum puas, semua jawabannya benar.
"Ya, sudah."
"Apa jawabanku benar?" tanya Lyla dengan penuh harap.
"Ya, benar."
"Aaah, senangnya! Aku bisa tidur hari ini," ucap Lyla.
"Ya, tidurlah dengan nyenyak. Jika kau kesulitan lagi jangan segan untuk mencariku."
Lyla merasa malu dengan ucapan Morgan, dia sudah lancang masuk ke dalam kamarnya.
"Anu ... Tuan Morgan, maaf soal yang tadi. Aku tidak sopan masuk ke dalam kamar Anda. Aku tidak tahu lagi harus bertanya pada siapa karena Tuan Gerald tidak ada di rumah," ucap Lyla.
"Jangan cari Gerald jika aku ada di rumah. Kau bisa minta tolong padaku, kan?" ucapnya dingin.
"Aku hanya takut jika Anda sibuk, jadi aku mencari Tuan Gerald," ucap Lyla, memang benar jika Morgan sibuk, tapi mendengar nama Gerald dia sebut membuat kesal juga.
"Lain kali cari aku dulu sebelum cari dia."
"Baik!" ucap Lyla sambil tersenyum.
Lyla sedang membereskan buku-bukunya, Morgan menatapnya ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi akhirnya urung dia lakukan.
"Ada apa?" tanya Lyla saat sadar jika Morgan menatapnya sedari beberapa detik yang lalu.
"Tidak ada. Aku hanya ingin bilang jika kau harus semangat dalam belajarmu. Hanya itu saja. Semangat!" ucap laki-laki itu seraya mengepalkan tangannya di depan dada, kemudian Morgan berdiri dan pergi dari sana dengan cepat meninggalkan Lyla seorang diri.
Lyla melongo melihat pintu ruangan kerja Morgan yang kini kembali tertutup rapat.
"Dia aneh," ucap Lyla sambil menggelengkan kepalanya kemudian beranjak pergi dari sana.
Morgan berbaring di atas kasurnya. Apa yang tadi dia pikirkan rasanya sangat menggelikan sekali.
"Aaahhh, ada apa denganku?" ujarnya sambil menutup wajahnya dengan bantal.
__ADS_1