Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
165. Penyerangan


__ADS_3

"Aku tidak perlu undanganmu untuk datang kemari. Apa yang kau lakukan dengan Crownford?" tanya Morgan langsung tanpa berbasa basi. Tatapannya tajam menatap laki-laki dengan jambang rapi dan teratur itu.


...***...


Beberapa menit yang lalu di rumah kediaman yang Lyla tempati sekarang, diserang orang-orang tidak dikenal. Beberapa tembakan terdengar dengan sangat keras setelah helikopter pergi meninggalkan kediaman itu. Para bawahan Alex mencoba untuk mengusir musuh, sementara Paman Will membawa Lyla untuk pergi dari pintu lain rumah itu. Tidak sempat untuk membawa Lyla pergi dari pintu utama rumah itu. Berondongan senjata api terdengar keras sehingga Lyla berteriak ketakutan. Hampir saja Lyla tidak bisa bergerak di dalam kamar lain, tapi Paman Will segera menariknya untuk pergi dari sana.


Di dalam kamar utama, Paman Will membawa Lyla masuk ke dalam sebuah lemari yang dibelakangnya terdapat pintu rahasia untuk sampai ke bagian lain sisi rumah. Namun, tidak disangka jika mereka bisa mengetahui keberadaan mereka berdua dan menyusulnya, menangkap Lyla dan Paman Will.


Paman Will tidak ingin terjadi sesuatu hal kepada majikannya itu, dia mengeluarkan pistol yang terselip di pinggangnya untuk menghalau langkah musuh. Akan tetapi, tenaganya sudah tidak seperti puluhan tahun lalu, jiwa perangnya sudah menurun karena usia yang mulai senja.


"Paman, aku takut!" seru Lyla sambil mengikuti langkah Paman Will menyusuri lorong panjang yang masih belum terlihat ujungnya.


"Tenang lah, Nona. Aku akan melindungi mu!" Paman Will terus menarik tangan Lyla, sesekali menunduk untuk menghindari tembakan yang membabi buta.

__ADS_1


"Arghh!" Teriakan Paman Will seraya tubuh tua itu ambruk di samping Lyla. Lyla terkejut dan menutup mulutnya melihat Paman Will.


"Tidak apa-apa, aku hanya tersandung. Ayo!" Paman Will memaksakan bangkit meski tubuhnya terasa sakit. Dia kembali menarik tangan Lyla dan pergi.


Sampai di ujung lorong, Paman Will menendang pintu dengan keras beberapa kali sehingga kakinya sakit, sehingga kemudian terlihatlah sebuah cahaya yang kemudian membesar dan terlihat banyak pohon di luar sana.


Suara tembakan kembali terdengar. Paman Will menunduk dan diikuti Lyla karena terkejut sekali lagi. Debu terbang dari dinding yang ada di depan mereka.


"Keluar. Pergi ke arah jam dua, kau akan menemukan beberapa orang penjaga di sana."


"Aku akan menghadang mereka. Pergilah, aku yakin Tuan Morgan akan datang sebentar lagi.


Lyla ingin menolak, tapi Paman Will mendorong Lyla dan memaksanya untuk segera pergi.

__ADS_1


"Paman ... tidak. Aku tidak mau--"


"Jangan membuat hidupku menjadi tidak berguna. Aku akan lebih sedih dan marah jika tidak bisa membantumu sebaik mungkin. Kau cantik, seperti ibumu. Dan kau mewarisi sesuatu yang ayahmu miliki. Cinta yang tulus." Paman Will tersenyum, kemudian dia masuk kembali ke lorong itu untuk menghalau musuh yang mengejar.


Lyla tahu jika dia tidak boleh berada di sini, dia segera pergi meski dengan berat hati.


Paman Will menutup pintu, menghilang dari pandangan Lyla. 'Semoga bantuan segera datang!' batin Paman Will.


Beberapa orang datang menyusul, Paman Will mengeluarkan satu pistol lagi yang terselip di pinggangnya dan menembaki satu demi satu musuh yang mengejar Lyla.


Langkah kaki Lyla cepat, diiringi air mata yang berderai banyak. Tidak rela rasanya pergi meninggalkan Paman Will di sana.


Kakinya sakit, perutnya juga sakit, hutan kecil ini terlalu luas untuknya sehingga sampai beberapa menit dia berlari, ujung dari tempat ini belum ketemu juga. Sebuah helikopter terbang di udara menuju ke rumah utama. Lyla berhenti dan melihat helikopter itu, dia berharap ada Morgan di dalam sana, tapi saat sebelum dia bisa mengedipkan mata, helikopter itu tiba-tiba saja meledak menyebarkan puing-puing yang beterbangan di udara.

__ADS_1


Lyla berteriak ketakutan, sekarang dia berharap jika Morgan tidak ada di dalam sana. Dia kembali melajukan kakinya dengan cepat ke benteng di seberang hutan.


"Nona!" teriak seseorang. "Nona Laura, tunggu!"


__ADS_2