Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
235


__ADS_3

Tidak tahan melihat istrinya yang berkelahi seperti itu, Robinson berteriak dan menarik kedua tangan wanita itu bersamaan. Entah apa yang akan terjadi kepada mereka jika dia tidak mengambil sikap tegas. Bisa saja jika Rose akan membahayakan istrinya dan juga bayinya.


"Kalian berdua hentikan! Apa yang kalian lakukan di sini! Sayang, ingat dengan kesehatanmu. Dan Rose pergi kau dari sini. Dan jangan ganggu aku lagi!" usir Robinson kepada mantannya itu.


"Tapi, Robin—"


"Pergi!" usir Robinson sekali lagi sambil menunjuk ke arah pintu.


Rose tidak terima, menghentakkan kakinya ke lantai dan mengambil tasnya. Sambil merapikan rambutnya dan juga bajunya, Rose berkata, "Aku akan tetap kembali untuk merebutmu lagi, Robinson!" ucap Selvi dengan tatapan marah. "Dan kau ... aku tidak peduli meski kau akan membunuhku, aku akan menjadikan dia juga suamiku meski aku harus menjadi yang kedua!" seru wanita itu sambil menunjuk Selvi yang ada di belakang Robinson.


Selvi ingin maju, tapi Robinson menahan tangan wanita itu. Padahal dia ingin sekali membuat hidung mancung wanita itu patah atau setidaknya bengkok.


"Tolong hentikan, Rose. Di antara kita hanyalah masa lalu, masa sekarang dan masa depanku adalah istriku."


Rose akhirnya pergi dengan langkah kaki yang keras menghentak ke lantai.


"Aku tidak akan membiarkanmu, Robin. Kau akan jadi milikku!" geram wanita itu sambil mengepalkan tangannya.


Di dalam ruangan kantor Robinson, dia membalikkan tubuhnya dan melihat wajah Selvi yang masam, rambut istrinya itu berantakan.


"Sayang, apa kau tidak ingat dengan anak kita? seharusnya kau tidak perlu repot untuk melakukan sesuatu dengan wanita itu." Robinson merapikan rambut istrinya, tapi Selvi yang keras kepala hanya melipat kedua tangannya di depan dada.


"Dia hanya masa laluku. Kau tidak perlu berdebat atau bahkan berkelahi dengannya. Aku tidak akan mengkhianati mu, Sayang." Robinson kemudian terdiam tatkala tatapan Selvi menjadi tajam kepadanya.


"Pulang sekarang! Bawa semua pekerjaanmu ke rumah. Aku tidak mau wanita itu datang ke sini dan apa pun bisa terjadi kan?" perintah Selvi.


"Apa?"


"Kau tidak mendengarnya, Robinson? Jika bisa, seluruh karyawanmu pindahkan ke rumah agar wanita itu tidak bisa lagi datang menemuimu."


"Tapi—"


"Apakah aku harus memanggilmu dengan nama kecilmu lagi?" tanya Selvi tegas.


"Tidak perlu kau menyebut nama itu lagi, aku akan pulang sekarang dan mengerjakan semua tugasku dari rumah."


Akhirnya Robinson mengalah, ingat apa kata putrinya jika dia tidak boleh membuat mood ibu hamil menjadi down. Apa lagi emosi Selvi naik turun saat ini.


Robinson menatap makanan yang tercecer di lantai.


"Sudah, jangan pikirkan makanan itu. Aku bisa memasaknya lagi di rumah," ujar Selvi kemudian menarik tangan Robinson untuk pergi dari sana.


Untuk saat ini Robinson selamat, tapi saat sampai di rumah nanti, andai istri ya memasak, tentu saja dia tidak akan selamat. semoga saja tidak sampai pulang pergi ke kamar mandi.


"Weston. Bawa semua pekerjaan suamiku ke rumah, pindahkan semua isi kantor ini ke rumah hari ini juga!" perintah Selvi.

__ADS_1


"Baik, Nyonya."


Weston dengan patuh segera menundukkan kepala saat dua orang itu pergi, dia ingin tertawa saat melihat atasan yang dingin dan tidak tersentuh, kini seperti kerbau yang di cucuk hidungnya, masuk ke dalam lift.


"Semoga saja istriku nanti tidak seperti dia," doa Weston pelan.


Robinson tidak mau terjadi sesuatu kepada istrinya, dia membawa Selvi ke rumah sakit sebelum pulang.


Mendengar cerita dari ayahnya, Rachel hanya menggelengkan kepala.


"Mom, aku tahu kau sangat berani, tapi tolong, jangan lakukan itu lagi dan membahayakan janin mu. Kita tidak tahu bagaimana di masa depan. Kau harus benar-benar menjaga adikku dengan baik, Mom." Rachel sampai memohon dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Dia sangat menyayangi keluarganya dan dia tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Ini karena wanita itu. Aku tidak tahan untuk menjambak rambutnya. Andai ayahmu tidak memisahkan kami, aku sudah memisahkan kepalanya dari leher!"


Rachel menelan ludahnya kasar. Sepertinya sang ibu sedang cemburu.


"Iya. Iya. Baiklah jika kau ingi melakukannya, tapi nanti. Tunda dulu sampai kau melahirkan. Jangan mengambil resiko dan membuat adikku dalam bahaya. Aku sebagai doktermu, tentu saja marah. Dan aku sebagai anakmu, meminta agar kau menjaga adikku sampai dia lahir." pinta Rachel sekali lagi sambil terus mengarahkan alat di perut ibunya. Janin yang ada di dalam sana sehat dan selamat.


"Baiklah. Baiklah. Tapi mulai sekarang aku akan memperhatikan ayahmu selama dua puluh empat jam. Jangan harap wanita itu bisa kembali. Semua orang yang akan bertemu dengan ayahmu, harus melewatiku dulu!"


Kali ini Robinson yang sulit menelan ludah. Banyak pekerjaan di luar yang harus dia lakukan. Lalu bagaimana dia akan bekerja nanti?


"Terserah, mom. Dia milikmu. Lakukan apa yang kau mau." Rachel tertawa kecil, sedangkan Robinson menatap protes kepada putrinya.


Semua yang dibutuhkan Robinson sudah ada di dalam ruangan kerjanya. Pekerjaan yang ada di perusahaan telah dipindahkan dan Robinson mau tidak mau bekerja dari rumah saja. Sudah tidak ada lagi jadi mahal yang melekat di tubuhnya, tapi kini adalah kaos biasa yang dia pakai sehari-hari di rumah.


"Terima kasih, Sayang. Kau tidak perlu repot menyiapkan aku kopi. Tidurlah, istirahatlah di kamar.


Tiba-tiba saja Selvi duduk di pangkuan suaminya. Menatap wajah tampan sang suami dan pakaian rumahan yang dia kenakan membuat pikiran Selvi menjadi resah. Diambilnya rahang sang suami dan mencium Robinson lembut. Hal itu membuat sesuatu bereaksi di bawah bo**ng hangat Selvi dan semakin membesar.


"Sayang, ayo kita istirahat. Kau tidak perlu bekerja keras hari ini."


Tanpa melihat tatapan protes Robinson, Selvi menarik tangan itu untuk masuk ke dalam kamar mereka.


Tok. Tok. Tok.


Ruangan kerja Robinson diketuk oleh Weston dari luar, saat tidak terdengar suara sahutan dari dalam, Weston masuk ke ruangan itu dan tidak menemukan tuannya. Saat Weston mengira jika tuannya berada di kamar mandi, suara ******* dan teriakan terdengar dari ruangan di sebelahnya yang merupakan kamar utama untuk Robinson dan Selvi.


"Ah, Willy. Faster!"


Sial sekali untuk Weston. Jomlo tiga puluhan tahun itu mendengar suara mengerikan istri tuannya yang sedang keenakan. Apa lagi pintu yang terhubung ke ruangan itu terbuka sedikit sehingga sekilas saja Weston bisa melihat dua orang itu yang polos sedang bertumbuk di atas kasur.


"Ah, terlalu sekali!" gumam Weston kesal karena ada yang bereaksi di dalam celananya. Dengan segera dia meninggalkan ruangan kerja itu untuk menghindar, jangan sampai mendengar suara-suara aneh lagi dari dua orang tersebut.


Saat Weston hendak keluar rumah, Rachel datang dan bermaksud memberikan makanan sehat untuk Selvi.

__ADS_1


"Nona," sapa Weston.


"Apa ayah ada di ruangannya?"


Rachel yang hendak melangkah dihalangi oleh Weston.


"Lebih baik Anda jangan masuk ke dalam."


"Kenapa?" tanya Rachel bingung.


"Anu ... Tuan dan Nyonya ...." Weston sampai merinding saat akan mengatakannya, dan Rachel mengerti apa yang ingin dibicarakan oleh Weston.


"Mereka bermain bilyard lagi?" tanya Rachel.


"Bilyard? Tidak, mereka sedang bercinta."


Rachel ingin tertawa melihat wajah Weston.


"Baiklah. Aku juga tidak akan mengganggu mereka. Aku hanya ingin mengantarkan buah tropis ini untuk mom. Bisa tolong kau simpan di dalam kulkas?" pinta Rachel.


"Tentu saja." Weston akan pergi, tapi melihat Rachel yang oleng refleks dia menangkap tubuh yang semakin kurus itu. "Apa Nona tidak apa-apa?" tanya Weston. Rachel segera menjauhkan dirinya dari Weston dan menahan rasa pusingnya.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Terima kasih atas bantuanmu, Weston. Aku akan kembali ke rumah sakit," ucap Rachel.


"Akan aku antar. Tunggu sebentar." Weston memanggil maid yang kebetulan ada di sana dan memintanya menyimpan buah tropis tersebut ke dalam kulkas.


"Tidak apa, Weston. Aku bisa sendiri."


"Tidak, Nona. Baik Tuan, Nyonya, dan keluarganya adalah prioritasku. Akan aku antar kau ke rumah sakit," ucap Weston.


Rachel tidak lagi menolak, dan pergi dengan menggunakan mobilnya dengan Weston yang mengemudi. Akan tetapi, saat di tengah jalan, Rachel tertidur karena lelah dan Weston tidak tega untuk membangunkan wanita itu. Mengantarnya ke apartemen juga tidak mungkin karena dia tidak ingin mengganggu Rachel. Weston tidak membawa Rachel ke rumah sakit, tapi membawa wanita itu pulang ke apartemennya dan menunggu saja di basement hingga Rachel bangun sendiri. Yang Weston lakukan sekarang adalah merendahkan sandaran punggung kursi Rachel ke belakang dengan hati-hati agar wanita itu tidak terbangun dan bisa tetap nyaman.


Hingga malam hari, Weston menunggu saja sampai Rachel terbangun sendiri.


Rachel terkejut saat melihat dia ada di basement apartemennya dan Weston bersandar di depan mobilnya sambil merokok. Apalagi saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


"Kenapa aku bisa tertidur selama ini?" Ingatan Rachel tertuju pada siang tadi, padahal dia tadi hendak kembali ke rumah sakit di jam tiga sore, tapi kenapa dia bisa tertidur sampai jam tujuh?


Saat terdengar suara pintu ditutup, Weston membuang rokoknya dan menginjaknya hingga apinya padam.


"Kau sudah bangun, Nona? Maaf aku tidak berani membangunkanmu. Jadi, aku menunggumu di sini."


"Maaf, sudah membuatmu menunggu, Weston," ucap Rachel malu.


"Tidak apa-apa. Aku akan kembali ke mansion, apa kau tidak apa-apa aku tinggal sendirian? Atau aku antar ke depan unitmu?" tanya Weston.

__ADS_1


"Tidak perlu, kembalilah ke mansion, aku bisa sendiri ...." Akan tetapi, saat sebelum Rachel menyelesaikan ucapannya, dia oleng kembali dan pingsan. Lagi-lagi Weston menangkap Rachel.


"Nona. Nona!"


__ADS_2