
Pintu ruangan tersebut telah dikunci, lampu juga sudah dimatikan, menyisakan satu lampu dengan cahaya remang di dekat ranjang dengan ukuran besar.
Morgan tengah duduk di tepian ranjang tersebut, menunggu wanita itu datang dan mendekat kepadanya.
"Come, Baby!" ucap Morgan sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
Wanita itu tersenyum senang, dia mendekat dan duduk di atas pangkuan Morgan dengan dua kaki terbuka lebar sehingga bagian bawah gaunnya tersingkap, tampak miliknya yang hanya tertutup kain mini berwarna merah kini menempel pada permukaan celana Morgan yang menyembul sesuatu di dalamnya.
Morgan menutup matanya, tatkala merasakan ciuman lembut dan lama kelamaan penuh semangat dari wanita tersebut. Tangannya tidak bisa diam, bergerak di dada wanita itu meski rasanya sedikit aneh, padahal dia biasa menemukan hal tersebut pada wanita yang lainnya juga. Terpikir olehnya hal yang lain, dada yang lain.
"Tuan. Apakah kita bisa cepat melakukannya?" tanya wanita tersebut. Morgan menjauhkan wajahnya dari dada wanita itu. Bercak merah terdapat di bekas kecupan bibir Morgan pada kulitnya.
"Kenapa ingin cepat saja? Aku masih ingin bermain-main sebentar."
Kini wanita itu diam, hanya menikmati perlakuan Morgan yang tengah menc*mbunya. Des*h manja keluar dari bibir wanita itu membuat Morgan akhirnya tidak tahan lagi. Dengan gerakan cepat, Morgan menariknya dan menindihnya. Menyesap wangi aroma tubuh lawan jenisnya dan menikmati suasana malam tersebut.
Pakaian dua orang itu kini tertanggal di lantai. Suara des*h penuh kenikmatan terdengar seiring dengan gerakan cepat keduanya. Peluh yang membasah tidak lagi dihiraukan, semakin cepat gerakan membuat mereka mandi keringat.
"Akh. Tuan." Dia mengigit bibirnya, merasakan sesuatu yang kini memenuhi bagian bawah tubuhnya. Kedua tangannya menahan tubuh yang dari belakang tengah di manjakan oleh lelaki tersebut, dia tidak peduli dadanya bergoyang maju mundur dengan keras akibat hentakkan yang kuat dari Morgan.
Benar kata yang lain, laki-laki ini memang perkasa, sehingga sudah lumayan lama mereka bermain dan juga mengganti pose dia masih belum keluar juga, sedangkan si wanita entah sudah berapa kali mendapatkan kl*maksnya. Lemas tentu saja, tapi dia ingin memuaskan tuan muda yang satu ini dan tentunya akan mendapatkan banyak uang darinya.
Morgan masih menghentak, memegang pinggang wanita cantik yang sama sekali tidak dia minati kecantikannya. Dia hanya ingin terpuaskan saja. Akan tetapi, rasanya sungguh berbeda dengan apa yang telah dia rasakan tadi. Jelas ini tidak senikmat saat dia menggauli Lyla, hingga Morgan merasa kecewa dengan pelayanan wanita itu. Tidak menjepit sama sekali.
__ADS_1
Ah. Lyla.
Tanpa sadar, nama itu yang berada di benak Morgan saat ini.
Morgan melepaskan miliknya dari l*bang kenikmatan wanita tersebut. Dia hanya menatap dingin tubuh yang masih dengan posisi bak seekor hewan, wanita itu kehilangan kenikmatannya dan segera berbalik, melihat Morgan yang kini mulai mengenakan pakaiannya. Sungguh kecewa sekali dia mendapati tuan muda yang satu ini menghentikan gerakannya.
"Tu-Tuan. Kenapa—"
"Aku sudah tidak mau lagi," ucap Morgan.
"Tidak mau lagi? Apakah saya melakukan kesalahan?" tanya wanita itu dengan tatapan takut. "Saya akan melakukan dengan lebih baik lagi. Saya mohon, kita ulangi sekali lagi. Biarkan saya memberikan servis yang terbaik untukmu, Tuan," ucapnya memohon sambil menahan tangan Morgan. Laki-laki itu memberikan tatapan yang tajam sehingga dia menarik tangannya dan berlutut di lantai.
"Lagi? Aku tidak pernah memakai wanita lebih dari sekali," ucap Morgan kepada wanita tersebut. Seketika wanita yang masih polos bak bayi merasa takut, dia memang pernah mendengar hal itu, Morgan tidak pernah memakai layanan dari seorang wanita lebih dari sekali. Akan tetapi, dia tidak pernah mendengar seseorang yang gagal melayani seorang Morgan Castanov.
Morgan mengeluarkan dompetnya, beberapa lembar uang yang ada di sana dia lemparkan pada pangkuan wanita tersebut, kemudian tuan muda itu pergi meninggalkan ruangan itu dengan keadaan dirinya yang kesal.
'Apa aku harus menyewa wanita lain?' pikir Morgan. Dia berpikir memang wanita itu tidak bisa memuaskannya. Mungkin saja sudah terlalu banyak melayani laki-laki sampai sudah tidak bisa lagi memberikan servis yang terbaik.
Tatapannya tertuju pada beberapa wanita yang ada di sana, seksi dan juga menarik hati.
"Hei, lihat di sana. Bukankah itu Tuan Muda Castanov? Cepat sekali dia turun," ucap seseorang kepada Margareth, gadis dengan gaun hitam itu menoleh ke arah yang ditunjuk dua sahabatnya. Senyum merekah di bibirnya. Dia menyerahkan gelas yang ada di tangan, lalu segera beranjak untuk mendekat ke arah Morgan yang tengah menoleh ke arah kanan dan kiri seakan tengah mencari sesuatu.
"Aku akan pergi," ucap Margareth.
__ADS_1
"Semoga berhasil, Baby!" seru kedua sahabatnya itu. Margareth segera berjalan dengan langkah yang cepat dan kemudian beberapa langkah di dekat Morgan dia memperlambat laju kakinya sehingga tampak sangat anggun. Jika bukan dengan Tuan Muda Castanov, tidak ingin dia melakukan hal yang seperti ini. Tuan muda itu sangat menggoda sekali meski semua orang juga sudah tahu bagaimana track record laki-laki itu.
"Apa yang sedang dicari oleh Tuan Muda Castanov? Apakah sedang menunggu seseorang?" tanya Margareth membuat Morgan menolehkan kepalanya ke arah asal suara. Morgan tersenyum mendapati Nona Muda Keluarga Wang berada di tempat yang sama.
"Ya, aku sedang mencari seseorang."
"Apakah dia orang yang sangat penting?" tanya wanita itu lagi sambil memperlihatkan senyumnya yang manis.
"Tidak juga. Apa kabar Nona Muda Wang? Sudah lama tidak bertemu, ya. Kebetulan sekali," Morgan mengulurkan tangannya dan segera disambut oleh nona muda tersebut.
"Ah, ya. Lama sekali kita tidak pernah bertemu lagi setelah malam itu."
"Iya, malam itu. Memang sangat lama sekali," ucap Morgan. Menatap dari atas hingga ke bawah penampilan Margareth yang seksi dengan balutan gaun hitam melekat di tubuhnya.
"Tuan Muda, aku ingin tahu siapa yang Anda tunggu. Apakah bisa kita berdua berbincang sambil menunggunya?" tanya Margareth lagi.
Morgan merasa tidak enak hati, jika bukan dari keluarga Wang tentu saja dia akan menolak wanita ini. Bukan dia tidak tahu dengan tatapan Margareth, dia tahu sedari dulu. Apalagi kakak gadis ini adalah adik dari temannya.
"Mari," ucap Margareth lalu mendahului pergi ke tempatnya tadi, sedangkan dua sahabatnya sudah menyingkir ke tempat lain untuk menjalankan aksinya.
"Apa kau pikir dia akan berhasil tidur dengan Tuan Muda Castanov?" tanya seorang sahabat Margareth.
"Aku pikir tidak akan semudah itu," jawab yang lain.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa dukungannya ya, like, vote, dan hadiah 🤭