
Pernikahan Gerald dan Lian berjalan dengan sangat lancar, mereka berucap janji setia di depan pastur dan disaksikan oleh para tamu yang hadir di sana.
Suara riuh terdengar gemuruh saat pastur mempersilakan kedua pasangan itu untuk saling berciuman satu sama lain. Akan tetapi, Gerald hanya diam dan berdiri bak patung saja. Pria itu memang sudah pernah mencium Lian dua kali sebelumnya, tapi disaksikan oleh banyak orang di sini membuatnya canggung dan malu.
Lian melihat Gerald yang masih diam menatapnya.
"Hei, Tuan. Pastur menyuruh kita untuk berciuman." Akan tetapi, Gerald melirik ke arah lain dan puluhan pasang mata menatapnya. Perasaannya menjadi tidak karuan. Lian yang tidak sabar, berjinjit dan menarik kedua pipi Gerald sehingga jarak mereka menjadi nol. Gerald tentu saja terkejut atas perlakuan Lian yang sangat berani.
"Hwaaaa!"
Suara riuh itu terdengar lagi. Mereka takjub melihat pemandangan indah dan tidak peduli suaranya telah menggema di ruangan ini.
Gerald terbuai akan lembut dan hangat ciuman Lian, sehingga dia.menyingkirkan rasa canggungnya dan kini menikmati ciuman lembut itu.
Acara yang ditunggu akhirnya tiba. Beberapa gadis yang masih lajang berkumpul di bawah panggung tempat pemberkatan dan menunggu dengan dada yang berdebar sementara Lian berada di depan mereka dan membelakangi. Buket bunga siap untuk dilemparkan.
"Ayo, kita juga harus ikut!" seru Selvi menarik tangan Lyla.
"Eh, tapi—"
Lyla tidak bisa lagi berbicara, Selvi sudah menariknya dan bergabung dengan mereka, dan Morgan sudah tidak bisa protes. Selvi tanpa malu bergabung dengan para gadis muda yang ada di sana.
__ADS_1
"Kalian siap?" teriak Lian dengan suara yang sangat nyaring.
"Cepat lemparkan!"
Lempar padaku!" Berbagai seruan terdengar dari mereka yang masih menunggu.
Hitungan mundur dimulai. Lian mengintip sebentar ke belakang dan membuang mereka berteriak protes.
"Aku akan melemparnya!" teriak Lian. "Tiga!"
Buket bunga itu melayang tinggi di udara. Para gadis berusaha untuk mendapatkannya, saling berebut, dan berteriak. Namun, buket bunga itu lebih dulu ditangkap oleh Selvi yang sangat antusias, padahal dia hanya ikut-ikutan saja untuk meramaikan suasana. Pada akhirnya, mendapatkan buket bunga di tangannya membuat dia terdiam membeku. Sementara para gadis lain kecewa karena tidak mendapatkannya.
"Aku dapat?" Selvi masih tidak percaya, padahal buket bunga sudah ada di tangannya.
"Segera lah mencari pendamping, Tante. Kau sudah mendapatkan bunganya," goda Lian, tapi melihat ekspresi Selvi yang tiba-tiba saja murung membuat Lyla menyenggol lengan pengantin itu. "Upss. Apa aku salah bicara?" bisik Lian tidak enak hati.
Suasana yang tadinya riuh, kini menjadi hening. Pun para tamu yang lain juga hanya diam dan menatap Selvi.
Selvi mendekat ke arah Lian dan memberikn benda tersebut kepadanya. "Lemparkan sekali lagi. Aku harap ada orang lain yang segera akan terpenuhi keinginannya."
Entah apakah kesakralan tersebut bisa diulang lagi atau tidak, tapi Selvi tahu pasti jika dia tidak akan mudah menemukan pasangan yang bisa mengerti dirinya. Melihat pada wajah para gadis yang ada di sana membuat Selvi merasa malu. Seharusnya aku sadar diri.
__ADS_1
Baru saja Lian akan menerima buket bunga tersebut, seseorang mengambilnya dari tangan Selvi.
"Kenapa kau mengembalikannya?"
Robinson menggenggam buket bunga tersebut dan menatap protes pada wanita itu.
"Robinson?"
"Ini adalah sebuah doa dan pengharapan untukmu. Apakah kau tidak mau?" tanya pria itu.
Siapa yang tidak ingin menikah? Selvi jelas mau, tapi ....
Tiba-tiba saja Robinson berlutut di hadapan Selvi, disaksikan oleh para tamu yang ada di sana. Dia memberikan buket bunga tersebut dan segera disambut oleh Lyla.
"Ro-Robinson, apa yang—"
Robinson mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya dan segera membuka kotak bludru berwarna hitam di tangannya. tampak sebuah cincin berlian hang berkilau saat terkena sinar lampu di dalam ruangan itu. Indah sekali. Semua orang yang hadir di sana takjub dengan bentuk dan kilau dari cincin bertahtakan berlian tersebut.
Selvi membeku melihat apa yang dilakukan oleh Robinson. Mendadak otaknya menghilang dan dia tidak bisa berpikir sama sekali.
"Stevie Charlotte Gwyn. Aku tidak akan berbasa basi. Ayo, menikah denganku!"
__ADS_1