Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
205


__ADS_3

Di sebuah villa, di dalam kamar pengantin, dua orang tengah duduk bersisian di tepi ranjang dengan sedikit membelakangi satu sama lain. Alex dan Jane masih tidak menyangka jika mereka telah menikah dan berada di dalam ruangan yang sama. Pertemuan mereka tidak terduga, juga pada pertemuan kedua tidak menyenangkan untuk Alex, mana dia sangka jika ternyata gadis berkaca mata ini sekarang adalah istrinya.


“Tuan—“


“Anu—“


Kedua orang itu terdiam tatkala saling berbicara bersamaan. Malu-malu terlihat di wajah keduanya.


“Kau duluan.”


“Tidak. Ladies first.”


Jane tidak berbicara, hanya menunduk dan memainkan jemari tangannya di atas pangkuan.


“Maaf soal ini. Aku tidak tahu jika dia adalah kakekku dan kau terjebak di sini bersama denganku.” Jane merasa bersalah. Melihat Alex yang sangat tampan dan mapan, tentu bukan wanita culun yang seperti dirinya yang pantas berada di samping Alex.


“Aku yang minta maaf. Aku tidak seharusnya memintamu untuk ikut denganku ke pesta itu.”


Ya, Alex lah yang merasa bersalah di sini. Andai dia tidak memaksa Jane untuk pergi ke pesta itu, tentu saja dia tidak perlu ada di sini. Alex memang ingin menikah, tapi tidak dengan wanita yang tidak dia cintai juga. Apa lagi berhubungan dengan Tuan Pierre. Bisa saja dia mati jika dia melakukan kesalahan terhadap gadis ini.


“Jika memang kau tidak berkenan, kau bisa menceraikanku malam ini juga.”


Alex terkejut dengan ucapan gadis ini. Jane memang bukan wanita yang dia cintai, tapi untuk menceraikan di malam pertama apakah itu hal yang baik?


“Kakekmu pasti akan membunuhku, Jane.”


“Oh, iya. Benar juga.”


Jane mengingat malam itu, setelah dia bertemu dengan Pierre, laki-laki tua itu tidak melepaskannya. Dia mengutus seseorang untuk menjemput ibunya dan akhirnya mereka kembali berkumpul. Jane memang senang melihat senyum ibunya lagi, tapi karena itu dia juga harus menikah dengan Alex karena permintaan kakeknya.


“Jadi, kita harus bagaimana? Aku hanya takut kau tidak nyaman bersama denganku. Seharusnya kau bisa menolak pernikahan ini, Tuan. Kau berhak bersama dengan pasanganmu.”


“Aku tidak punya pasangan. Lalu bagaimana denganmu? Kekasihmu juga pasti sedang menunggu di sana. Apa dia tahu berita pernikahan kita?” tanya Alex.


“Aku juga tidak punya kekasih.” Nada Jane terdengar malu, takut jika Alex mengejeknya karena di usia dua puluh lima tahun dia masih belum pernah berpacaran sama sekali.


“Oh, begitu rupanya. Aku sedang berpikir sesuatu,” ujar Alex.


“Apa yang kau pikirkan?”


Alex sempat ragu untuk mengatakannya.


“Mungkin ini adalah hal yang gila, tapi aku bingung dengan kehidupan kita. Pertemuan kita sangat singkat sekali dan aku tahu kau tidak mudah untuk hidup dengan orang yang kau tidak cinta.” Jane menunggu dan menyiapkan hatinya. Entah apa yang akan dikatakan oleh Alex kemudian, tapi memang benar, dia tidak bisa hidup dengan pria yang tidak dia cintai. Karena desakan kakeknya, dia terjebak hidup bersama dengan Alex di dalam ikatan pernikahan. “Kita lakukan pernikahan ini seperti yang kakek mau. Dan kita menunggu waktu yang tepat untuk berpisah.”


Jane membalikkan tubuhnya, begitu juga dengan Alex yang ingin melihat raut wajah Jane akan usulnya ini.


“Jadi, kita akan menunggu sampai kapan untuk mengakhirinya?”


“Itu artinya kau setuju?” tanya Alex, Jane menganggukkan kepalanya.


“Iya. Aku pikir itu bukan ide yang buruk. Jelas kita tidak bisa bersama karena tidak ada cinta di antara kita.”


Jane sangat setuju dengan ide Alex. Alex memang tampan bak malaikat, tapi dia bukan tipe-nya juga. Jane menginginkan pria dengan rambut berwarna hitam dan ikal, sementara rambut Alex merah dan lurus. Tipe wajah yang Jane suka adalah tipikal wajah orang Asia dengan mata yang sedikit sipit.


“Kalau begitu kita deal?” Alex menyodorkan tangannya.


“Deal!” Jane menyambut tangan Alex untuk bersalaman.


Malam itu kedua orang tersebut tidur bersisian. Di villa milik Tuan Pierre ada banyak penjaga dan tidak mungkin rasanya jika kedua orang itu tidur di kamar yang berbeda. Bisa saja ada yang melaporkan perbuatan mereka kan?


“Kau sudah tidur?” tanya Alex. Ditatapnya langit-langit kamar dengan lampu gantung hias antik yang indah di atas tempat tidur mereka.


“Belum.”


“Apa kau tidak akan mengganti gaunmu? Terlihat tidak nyaman.”


Jane memang masih mengenakan gaun pengantin sedangkan Alex hanya mengenakan baju kemeja.


“Ya, memang ini tidak terlalu nyaman, tapi tidak ada baju yang bisa aku pakai.”

__ADS_1


Alex bangkit dari tempat tidur dan menuju lemari. Ketika dibuka, matanya dibuat tercengang oleh isi yang ada di dalam sana. Tidak ada pakaian yang benar, semuanya hanya pakaian kurang bahan yang pasti akan membuat jakunnya turun dan naik. Alex menyingkirkan pemikirannya yang kotor, Jane pasti tidak akan bisa membuat adik kecilnya berdiri. Tubuh wanita itu rata.


Jane terkejut saat Alex mendekat dan membuka kancing kemejanya.


“Apa yang akan kalu lakukan?” tanya Jane dengan mata yang membulat, kedua tangannya memegang selimut dan menutupi tubuh bagian atasnya. Sementara itu, Alex tidak peduli dan masih membuka pakaiannya.


“Kau bisa memakai ini. Aku yakin jika kau tidak akan bisa tidur dengan gaun pengantin.” Alex menyerahkan kemeja putih tersebut untuk Jane.


Jane terpana, bukan hanya karena apa yang dilakukan oleh Alex saja, tapi karena bentuk kotak-kotak yang ada di perut Alex terlihat indah.


“Ambillah. Apa kau juga butuh celanaku?” tanya Alex, kekaguman Jane menjadi buyar, berganti dengan rasa malu yang membuat wajahnya memerah.


“Ti-tidak. Tidak perlu.”


Dia akan pakai apa jika tidak memakai celana? pikir Jane. Hanya melihat perut kotak Alex saja sudah membuat pikirannya tidak karuan, bagaimana jika dia melihat pria itu tanpa mengenakan pakaian? Jane merinding karenanya.


“Terima kasih.” Jane menyambut pakaian itu sementara Alex pergi ke tempatnya semula dan kembali berbaring tanpa mengenakan baju.


Jane masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan segera. Sedikit sulit sebenarnya karena dia tidak bisa menggantinya sendirian.


Apa aku harus meminta tolong kepadanya?


Usaha Jane tidak membuahkan hasil, dia tidak bisa meraih kancing gaun pengantin itu. Andai itu adalah sebuah resleting, pasti Jane akan bisa membukanya sendiri.


Akhirnya, Jane memutuskan untuk meminta bantuan kepada Alex.


“Tuan Alex, apa kau sudah tidur?” Jane sempat ragu, tapi melihat Alex bergerak membuat dia lega juga, ternyata pria itu memang belum tidur.


“Ada apa?”


“Anu ....” Jane tampak malu. Kening Alex mengerut menunggu ucapan selanjutnya dari Jane. “Aku tidak bisa membuka kancing gaun ini. Bisakah kau menolongku?” tanya Jane sambil berbalik dan menarik rambutnya ke depan.


Alex tanpa bicara langsung berdiri dan menolong Jane membuka kancing gaun pengantin itu. Sial, kancing itu sangat kecil sehingga menyulitkan Alex yang memiliki jari jemari yang besar, apa lagi kancing tersebut terdapat hingga ke bawah hingga sebatas pinggang Jane.


Angin berembus dari luar, rambut Jane sempat terbang dan menghalangi pandangan Alex. Disingkirkannya rambut itu dan tak sengaja Alex menyentuh kulit leher Jane.


Sesuatu perasaan yang aneh hinggap pada diri Alex. Aneh, bak tersengat listrik. Tubuh Alex menegang dan membuat dadanya berdebar dengan cukup kencangnya.


Dag-dig-dug jantungnya berdebar dan tidak bisa dia mengerti.


Alex menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk fokus, tapi melihat kulit punggung Jane yang putih mulus malah semakin membuat dia sesak napas. Sesak di bagian tubuhnya yang lain juga.


“Tuan. Apakah sudah selesai?” tanya Jane. Alex tersadar dan segera menyelesaikan membuka kancing Jane.


“Tunggu sedikit lagi.”


Jane menunggu hingga Alex selesai membuka semuanya.


“Sudah.”


“Terima kasih, Tuan.”


Jane menunduk sambil memegangi pakaiannya agar tidak melorot.


“Ah, sial! Ada apa ini?” rutuk Alex setelah Jane menutup pintu kamar mandi.


Reaksi aneh terjadi pada dirinya, bukan hanya di hatinya yang berdenyut, tapi sesuatu di bawah sana juga berdenyut dan membuat ngilu.


“Tidak, Alex. Kau tidak mungkin kan bernafsu kepada wanita yang tidak kau cintai. Apa lagi dia tidak mencintaimu,” gumam Alex. Daripada pusing memikirkan hal tersebut, Alex pergi membuka pintu balkon setelah mengambil rokok miliknya.


Jane pun tak kalah berdebar di dalam kamar mandi. Sentuhan tidak sengaja Alex di kulit punggungnya membuat lututnya terasa lemas tadi. Untung saja tidak sampai membuatnya pingsan.


“Ada apa ini?” desis Jane sambil memegangi dadanya yang berdebar tidak karuan. Baru pertama kalinya dia dekat dengan seorang pria, dan baru kali ini pula dia berada di dalam sebuah ruangan bersama dengan seorang pria. Ya, sebenarnya bukan pertama kali juga berada di ruangan yang sama, sewaktu di restoran tempatnya bekerja pun dia juga pernah beberapa kali bersama teman prianya, tapi itu hanya teman pria biasa.


Jane ragu, apakah dia bisa tidur di malam ini dengan Alex yang ada di sampingnya? Tapi ....


“Ah, apa yang harus aku lakukan?” pekik Jane sambil menggelengkan kepalanya. “Kita sudah sepakat. Dia tidak mungkin kan melanggar apa yang kita sepakati? Dia tidak akan berbuat yang aneh-aneh kan?”


Jane menepis pemikiran buruknya. Semoga saja Alex tidak berbuat yang lebih.

__ADS_1


Cermin di kamar mandi cukup besar dan Jane bisa melihat dirinya yang telah berganti pakaian dengan milik Alex. Wajahnya semakin memerah saat menghirup aroma wangi maskulin yang berasal dari kemeja putih itu. Tangan Jane mengancingkan baju dari atas hingga ke bawah dan dia melihat aneh pada dirinya sendiri.


Semua yang terjadi kali ini tidak pernah dia alami sebelumnya, ini adalah pengalaman pertamanya pula memakai baju seorang laki-laki. Jane ragu, apakah dia akan keluar dengan pakaian ini? Sebagian pahanya terlihat, tapi jika dia mengenakan kembali gaun pengantin, dia tidak nyaman.


Jane membuka pintu kamar mandi, mengintip di dalam kamar itu dan berharap jika Alex telah tidur. Akan lebih baik jika pria itu tidak melihat penampilannya yang memalukan seperti ini.


“Ah, dia tidak ada?” gumam Jane saat melihat ranjang di sana yang kosong, pintu balkon terbuka dan Jane menebak jika Alex ada di luar sana.


Dengan mengendap-endap, gadis itu keluar sambil memeluk gaun pengantinnya. Andai Alex masuk ke dalam pun, laki-laki itu tidak akan bisa melihat penampilannya, kan?


“Lebih baik aku cepat tidur.”


Jane melemparkan gaunnya ke single sofa dan segera mengambil tempat yang tadi serta menarik selimutnya hingga ke leher. Matanya dia pejamkan, tapi sampai hampir sepuluh menit dia tidak bisa tidur juga.


Melirik ke arah samping di mana Alex pastinya akan beristirahat nanti, Jane mengambil satu selimut yang lebih tipis dan beralih ke sofa panjang. Meski sempit, setidaknya jantungnya tidak akan banyak berdebar seperti saat mereka berada di ranjang yang sama.


Jane yang lelah, menyimpan kaca matanya di atas meja, akhirnya bisa memejamkan matanya.


Alex masih berada di luar, asap tipis mengepul di udara yang sudah menjadi dingin. Malam ini banyak penjaga yang berlalu lalang baik di luar mansion maupun di dalam gerbang. Bisa dia lihat dengan sangat jelas olehnya.


Alex tidak pernah mengira dirinya akan berada di sini, menjadi cucu menantu Tuan Pierre. Dia yang ingin menghindari perjodohan itu malah terjebak dengan permainannya sendiri.


Rokok sudah habis setengah, tapi Alex masih tidak juga beranjak dari tempatnya itu. Memandang ke arah langit yang sudah menghitam sedari tadi, awan kelabu bergerak pelan seiring embusan angin. Tubuhnya lelah karena perjalanan yang cukup panjang, tapi dengan adanya Jane di kamar yang sama, tidak bisa membuatnya beristirahat dengan baik. Bagaimana jika dia khilaf? Itu akan membuat mereka tidak bisa melepaskan diri selamanya.


Alex mematikan rokok di tangannya, menginjaknya dengan sandal rumah hingga padam. Masuk ke dalam kamar, hal yang dia lihat pertama kali adalah Jane yang tertidur dengan lelap di sofa.


Glek!


Sedikit kesulitan Alex menelan saliva saat dia melihat putihnya dada Jane. Karena terlalu elah, Jane jadi tertidur dan melupakan ketakutannya akan Alex. Rasa kantuk dan lelah mengalahkannya sehingga dia tidak sadar jika kali ini dia lalai.


Jane tidak sadar jika selimut telah jatuh sebagian.


“Apakah dia tidak tahu jika ini berbahaya?” gumam Alex, kemudian dia mengambil dan menyelimuti istrinya dengan selimut itu tanpa melihat. Tidak kuat lagi rasanya setelah kejadian tadi, kali ini jelas dia melihat sesuatu yang menonjol tampak menggiurkan.


“Apa yang kau pikirkan, Alex? Jangan gegabah!” Alex harus kuat. Jane tidak menggodanya dan dia tidak boleh terprovokasi hanya karena melihat benda itu saja.


Sampai tengah malam, Alex tidak bisa tidur. Sesekali dia melirik ke arah Jane yang tertidur di sofa. Gadis itu sedari tadi bergerak seperti tidak nyaman. Dia ingin menyuruhnya untuk pindah, tapi melihat wajah lelah Jane, Alex tidak tega untuk membangunkannya.


Alex bangun dan mendekat pada Jane yang terlihat menggigil. Baru Alex sadari jika AC berada tidak jauh di dekat sofa tempat Jane berada.


“Hei, bangun. Pindah lah ke tempat tidur,” titah Alex, tapi Jane tidak terbangun meski tubuhnya sudah diguncang cukup kencang oleh pria itu. “Jane.”


"Hemm?" Mata Jane terbuka, melirik ke pada Alex, kemudian kembali tertutup karena saking lelahnya.


"Pindah lah ke atas ranjang, biar aku yang tidur di sini."


"Lima menit lagi, Bu. Aku pasti akan mengepel lantainya," gumam Jane diantara tidurnya. Napasnya cukup kencang dan teratur.


Jane bergerak mengubah posisinya, tapi karena hal itu juga membuat dia hampir terjatuh ke lantai. Refleks Alex menunduk dan menangkap tubuh Jane yang hampir terguling.


"Jane!" seru Alex terkejut. Dia menghela napasnya lega saat bisa menangkap tubuh Jane. Berbeda dengan Alex, Jane yang kini ada di pangkuan Alex tidak terganggu sama sekali dan tidak sadar jika saat ini dia ada di tangan suaminya.


"Bu, aku ingin makan ramyun," gumam Jane dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Wajah Jane tampak berbeda tanpa mengenakan kaca mata, alisnya terlihat sedikit tebal, berbentuk melengkung ke atas, bulu matanya lentik dan panjang. Hidung yang mancung dengan tulang yang terlihat jelas di tengah-tengah, dan bibirnya ....


Glek.


Lagi-lagi Alex menelan ludahnya dengan kasar. Aneh, rasanya sesak kembali menghampiri di dalam celananya.


Alex mendesis saat merasakan linu di bawah sana.


"Ahss, sial! Ada apa denganku?"


Cepat-cepat Alex memalingkan wajahnya dari wajah Jane dan membawanya ke ranjang, membaringkannya dengan perlahan di sana. Alex sampai menahan napas, takut jika Jane akan terbangun dan kemudian malu karenanya.


Alex menarik selimut untuk menutupi tubuh Jane. Akan tetapi, sebelum selimut hangat itu menutupi tubuh istrinya, Alex tidak sengaja melihat kemejanya tersibak dan memperlihatkan paha mulus Jane. Tangannya menggantung di udara, sedikit gemetaran.


Apa yang kau pikirkan, Alex?

__ADS_1


Alex segera menutupi tubuh Jane dan memilih pergi ke dalam kamar mandi.


__ADS_2