
Jane terkejut karena kehadiran sang kakek yang ada di sana.
"Aku hanya sedang mengunjungi cucuku. Aku tidak sabar untuk bertemu saat hari resepsimu, jadi aku dan yang lain datang kemari."
"Yang lain?" Jane terpaku. Tiba-tiba saja dia melihat beberapa orang yang pernah dia lihat sebelumnya, para bibi dan sepupu yang tiba-tiba saja ada di sana.
"Hai, Jane."
"Selamat pagi, Jane."
"Kau sudah bangun? Cepat mandi, kebetulan kami belum sarapan!"
Beberapa orang menyapa Jane, terakhir kakak dari ibunya menyuruh Jane untuk mandi dan bergabung di ruang makan.
"Cepatlah bersih-bersih, kau pasti lapar dan lelah sisa semalam." Tuan Pierre kembali mengajak Jane.
"I-iya. Tapi ... aku minta pakaian. Di dalam tidak ada pakaian yang bisa aku pakai di luar kamar." Jane berbicara dengan malu-malu sambil mengeratkan selimutnya lagi.
Mendengar itu, Tuan Pierre tertawa terbahak-bahak, sehingga terdengar hingga ke dalam kamar.
"Si tua itu pasti sangat bahagia," gumam Alex.
Alex bangkit dan mengacak-acak rambutnya, memasang wajah mengantuk dan mendekat pada sang istri.
"Jane, kenapa kau lama sekali?"
Alex membuka sedikit pintu kamarnya, terlihat Tuan Pierre yang tertawa semakin kencang saat melihat cucu menantunya.
"Cucu menantu. Apakah aku sudah membangunkanmu? Maafkan aku." Tuan Pierre tidak segan untuk menjadi lebih baik lagi terhadap Alex.
"Tuan--"
"Kakek. Aku adalah kakekmu sekarang," potong Tuan Pierre.
"Iya, Kakek. Aku sudah bangun, tapi aku lelah karena semalam dan aku masih mengantuk. Apakah Kakek ada perlu sehingga menyusul kami ke sini?" tanya Alex, membuat Tuan Pierre menjadi malu. Saking tidak ingin melewatkan momen penting cucunya, dia sampai tidak bisa tidur semalam dan memutuskan untuk datang ke villa ini.
'Ah, seharusnya aku memasang CCTV di dalam sana,' batin Tuan Pierre. Sayang sekali dia tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Akan dia jadikan sebuah dokumentasi pribadi untuk cucunya itu.
"Tidak ada. Aku hanya sedang bosan di rumah dan ingin menghabiskan waktu bersama dengan Jane."
Alis Alex naik sebelah. "Jadi, jika kami akan pergi berbulan madu, kau juga akan ikut serta?"
Tuan Pierre sangat ingin ikut, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya saat melihat wajah malu-malu sang cucu. "Tidak. Tentu saja tidak akan. Apa yang akan si tua ini lakukan di sana? Kalian anak muda berduaan, sedangkan aku sendirian? Oh, tidak, Cucuku. Cepatlah kalian mandi. Aku akan suruh ibumu untuk membawa pakaian.
"Eh, Ibu juga ada di sini?" Jane seharusnya tidak terkejut mengingat tadi banyak keluarganya ada di sini.
"Iya, tentu saja. Ibumu juga tidak mau melewatkan hari penting ini. Cepat mandilah, aku akan panggil ibumu."
__ADS_1
"Baik," ucap Jane dengan suara yang sangat lirih sekali. Jane kembali menutup pintu kamarnya dan terdiam di depan pintu itu.
Jane mengembuskan napasnya yang terasa berat. Hidup di dalam keluarga ini memang menyenangkan, tapi dia tidak terbiasa akan keramahan, keakraban, dan semua hal yang baru dia dapatkan. Kakeknya tampak perhatian sekali, tapi justru itu yang membuat Jane menjadi sedikit tidak nyaman.
Jane membalikkan badan, dia terkejut karena hampir saja wajahnya menubruk dada Alex.
"Eh, kenapa kau masih ada di sini?" tanya Jane yang mendongakkan kepalanya dan menatap Alex.
"Tidak ada. Apa yang kau pikirkan?"
"Aku? Aku tidak sedang memikirkan apa-apa. Hanya saja ...." Jane memalingkan tatapannya ke arah lain. Malu rasanya saat ini kepada Alex karena dia sadar jika sang kakek dan keluarganya terlalu berlebihan dengan datang kemari di hari pertama mereka menikah.
"Hanya saja apa?"
Napas Alex yang terasa di ubun-ubunnya membuat Jane menahan napasnya.
"Ti-tidak. Aku hanya takut jika kau tidak nyaman dengan adanya kakek dan yang lainnya di sini. Maaf," ucap Jane sekali lagi.
Alex tertawa kecil, mengusap kepala Jane dan mengacak-acak rambutnya. Tidak tahukan Alex jika Jane kini sedang sesak napas?
"Tidak apa-apa, Jane. Aku sudah tau watak kakekmu. Kau baru melihatnya seperti ini, sedangkan aku sudah lebih lama mengenal kakek tua itu darimu. Sudah, jangan dipikirkan. Mandilah, kau pasti lapar, kan?"
Jane mengangguk saja saat Alex menyingkirkan tangannya dari sana. Tidak menunggu untuk diperintahkan dua kali, dia pergi ke kamar mandi dengan langkah yang cepat dan menyeret selimutnya.
"Kenapa dia jadi imut begitu?" gumam Alex melihat Jane yang meninggalkannya.
"Ini pakaian kalian. Mana Jane?" tanya ibu Jane seraya memberikan sebuah paper bag kepada Alex. Ibu Jane sangat khawatir terhadap putrinya, dia sangat tahu jika Jane belum pernah berhubungan dengan pria dan dia sangat yakin sekali jika Alex adalah pria pertama untuk Jane. Mengingat masa lalunya, dia sudah menyiapkan salep untuk Jane pakai. 'Ah, dia pasti sangat kesakitan semalam,' pikir wanita itu.
"Jane sedang mandi, Bu. Apakah ada perlu? Aku bisa panggilkan dia."
Wanita cantik itu menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, biarkan saja dia mandi. Kami akan menunggu kalian keluar untuk sarapan bersama. Atau, kalian akan sarapan di kamar?"
Alex melirik terlebih dahulu ke arah kamar mandi. Dia tahu apa yang tengah dipikirkan oleh wanita ini.
"Kami akan makan di luar."
"Baiklah kalau begitu. Kami akan menunggu kalian keluar." Ibu Jane pamit dan pergi. Ales menutup kembali pintu kamarnya.
Tidak berapa lama, Jane keluar dengan menggunakan handuk kimono yang ada di sana. Jane menutupi dadanya yang terlihat dengan menggunakan tangan. Sementara itu, Alex sedang memainkan ponselnya.
"Apa ini pakaianku?" tanya Jane mendekati paper bag yang ada di atas tempat tidur. Alex mengalihkan tatapannya.
"Heemm. Ibu menunggu kita untuk makan bersama."
"Iya."
"Aku akan mandi."
__ADS_1
"Iya," jawab Jane seraya mengambil paper bag itu, sementara Alex bangkit dan mandi.
Satu persatu pakaian yang ada di sana dia keluarkan, ada dua pakaian, itu untuk Alex dan untuknya sendiri.
Jane mengangkat pakaian miliknya dan menatapnya dengan mata membulat. "Apa-apaan ini?"
Pakaian itu memang indah, tapi sangat terbuka sekali dan bisa jadi memperlihatkan sebagian dadanya. Bagian bawahnya pendek, setinggi lutut saat Jane menempelkannya di depan tubuhnya.
"Apa tidak ada pakaian lain?"
Jane jadi bingung sendiri. Kenapa harus pakaian seperti ini yang datang kepadanya?
Hingga Alex keluar dari kamar mandi, Jane masih duduk dengan memegang pakaian itu.
"Ada apa?" tanya Alex sambil mendekat dan mengambil pakaian baru miliknya.
"Aku tidak bisa keluar kamar."
"Kenapa?" tanya Alex. Jane mengangkat pakaian itu dan membuat Alex mengerti. Mungkin seumur hidup, Jane jarang mengenakan pakaian tersebut, bahkan pakaian yang dia carikan untuknya pada saat acara ulang tahun Tuan Pierre pun lebih tertutup dari ini.
"Jadi, apakah kita akan berada di dalam kamar seharian?"
Jane bingung, semua orang pasti sudah menunggunya, tapi memakai gaun ini ....
"Tidak. Yang lain sudah menunggu."
Akhirnya Jane mengalah, kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai baju itu. Dia tidak ingin mengecewakan keluarganya yang sudah jauh datang ke tempat ini untuk bertemu dengannya.
Jane keluar kamar mandi, Alex yang menunggu gadis itu melihat Jane dalam balutan dress dengan baikan rok mengembang di atas lutut, bagian dadanya rendah dan memperlihatkan belahan dada Jane.
"Kau yakin mau memakai itu?" tunjuk Alex.
"Mau bagaimana lagi? Semua orang pasti sudah menunggu."
"Apa kau nyaman?"
"Tidak. Tapi setelah sarapan aku akan kembali ke kamar saja."
"Baiklah. Ayo kita sarapan dengan cepat. Aku akan meminta Mac untuk membeli pakaian tertutup. Untuk sementara, kau bisa mengenakan ini." Jas yang dipakai Alex kemarin saat acara pemberkatan dipasangkan di kedua bahu Jane. "Setidaknya akan sedikit menutupi dadamu." Alex membuang pandangannya ke arah lain.
"Iya." Jane senang karena Alex adalah pria yang pengertian sekali.
"Jane, tunggu."
"Ap--" Ucapan Jane terpotong, matanya membulat saat Alex mendekat dan melakukan hal yang tidak dia duga.
*****
__ADS_1
Nah lo, Alex ngapain ya 😂