
Lian benar-benar memberikan sesuatu yang luar biasa untuk suaminya. Dia marah karena Gerald tidak memikirkan perasaannya mengenai daging yang telah dia urus dengan baik dan akhirnya terbakar sehingga tidak bisa lagi dinikmati.
"Jangan salahkan aku jika sekarang aku menikmati suamiku sendiri," ucap Lian dan semakin keras berusaha untuk membuat suaminya mengucapkan kata ampun kepadanya.
Tinggalkan dua orang yang absurd itu.
Aduh, ya ampun. Othor makan apaan ya, nulis kisah beginian ðŸ˜. Ya sudah lah, lanjutttt ....
Malam berbintang, udara yang bersemilir cukup dingin membuat Lyla mendekatkan dirinya kepada Morgan. Selvi dan Robinson sudah masuk ke dalam cottage dan lanjut menikmati malam tanpa berhenti dengan percintaan mereka yang tidak ingin berhenti hanya di malam ini.
"Morgan. Menurutmu, apa aku akan bisa memiliki anak secepatnya?" tanya Lyla.
"Semoga saja. Pulang dari sini, mari kita periksakan kesehatan dan lakukan program kehamilan untukmu. Aku akan mencari rumah sakit terbaik untuk melakukan program ini."
"Iya."
Morgan tiba-tiba saja menjadi takut. Track record-nya selama ini buruk dan dia sedikit takut akan karma yang telah dia perbuat di masa lalu. Jangan sampai karena perlakuannya di masa lalu membuat dia tidak bahagia dengan istrinya.
"Ada apa?" tanya Lyla saat Morgan tidak menjawab pertanyaan barusan. "Kau melamun? Apa yang sedang kau pirkirkan?" tanya wanita itu lagi seraya mengusap pipi Morgan dan memaksa pria itu untuk menoleh kepadanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang berpikir cara terbaik untuk membahagiakanmu." Senyuman Morgan sangat manis dan Lyla suka itu. Morgan yang dulu tidak pernah terlihat senyumnya barang sedikit pun, kali ini dia tidak segan lagi untuk mudah tersenyum kepadanya.
"Kau tidak perlu terlalu berusaha keras untuk membahagiakanku. Cukup kau selalu berada di sisiku, aku juga sudah bahagia. Sangat bahagia," ulang Lyla sambil tersenyum pada suaminya.
"Kau terlalu baik untukku, dan aku sangat bangga memilikimu sebagai istriku."
Dua orang itu saling mendekat dan mencium bibir satu sama lain. Rasa cinta yang ada pada diri mereka semakin mengembang seiring bertambahnya waktu dan kebersamaan yang mereka lalui.
***
Keesokan harinya, Robinson mengajak semuanya untuk pergi dari tempat tersebut. Mereka pergi ke hotel yang Robinson buat di dalam laut. Benar saja seperti apa yang Robinson kirimkan kepada Lyla lewat chat beberapa hari yang lalu, dia dibuat terkagum-kagum dengan adanya tempat itu yang begitu sangat indah.
Dari awal masuk ke dalam tempat tersebut, Lyla dan Lian sudah dibuat berdecak kagum oleh apa yang mereka lihat. Bangunan yang berdiri di tepian pantai itu terlihat kecil, tapi saat mereka masuk ruangan tersebut menjadi sangat lebar dan luas. Ada sebuah tangga yang menuju ke bawah, dan di sana mereka dibuat takjub lagi dengan keadaan kamar yang persis beberapa meter di bawah permukaan laut. Mereka seperti berada di sebuah wahana akuarium, tapi akuarium ini sangat besar sekali.
Sejauh mata memandang, terdapat banyak ikan yang berlari ke sana dan kemari mengikuti arus ombak yang bergerak pelan di bawah sana. Cahaya yang masuk ke dalam kamar itu juga sangat baik sehingga mereka tidak memerlukan lampu jika berada di dalam sana pada siang hari.
"Bagaimana?" tanya Robinson kepada semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
"Jujur saja aku takut. Bagaimana jika kami sedang bercinta para ikan itu menonton kami?" ucap Lian.
Pertanyaan dari Lian tersebut tentu saja membuat Robinson tidak bisa menahan gelak tawanya. "Itu resiko, Sayang. Memangnya kenapa jika kita bercinta dan mereka menontonnya? Bukankah itu adalah pengalaman yang tidak biasa? Kapan lagi kalian bisa melakukan hal yang kalian mau di dalam sini?"
"Tapi ... bagaimana jika seandainya ada seorang penyelam yang melihat aktivitas kami di sini?" Lian bertanya sekali lagi. Baru saja dia bisa memikirkan hal tersebut.
"Tidak ada, Nona. Ini adalah pulau pribadiku dan dijaga oleh banyak orang bawahanku. Tidak ada orang asing yang bisa masuk ke pulau ini tanpa seizinku. Jadi kau tenang saja. Lagi pula ini adalah kaca satu arah, dari luar tidak akan terlihat apa-apa di dalam sini." Robinson mencoba untuk menerangkan. Dia juga paham akan hal tersebut, meski sebenarnya dia tidak peduli jika ikan-ikan itu akan menontonnya bercinta dengan sang istri, tapi tentu saja dia harus berjaga-jaga akan hal seperti ini. Dan dia membuat cermin satu arah, di mana orang yang ada di dalam ruangan ini bisa melihat keluar dan para ikan hanya akan melihat dirinya saja dari luar sana.
"Jika kalian memang ingin menginap di sini, carilah kamar yang kalian mau. Di sini hanya tersedia sekitar lima kamar yang bisa kalian gunakan untuk menginap, sisanya adalah ruang kerja dan ruang pribadi."
Morgan terheran dengan adanya bangunan ini di pulau. Jika melihat teknologi yang ada di sini cukup mumpuni dan modern. Ponselnya juga menunjukkan adanya sinyal di tempat ini. Akan tetapi, kenapa saat di cottage dia tidak menemukan sinyal pada ponselnya?
"Di sini juga tersedia internet. Kalian tidak perlu khawatir jika takut kehilangan hal menyenangkan yang ada di luar sana."
"Tapi kenapa saat di cottage tidak ada sinyal sama sekali?" tanya Morgan.
Robinson tertawa malu. "Aku memang membatasi kegiatan di cottage. Di sana memang aku mengharapkan untuk kita hanya bisa bersenang-senang saja tanpa memikirkan hal-hal yang ada di luar pulau ini."
Morgan tidak bisa lagi berkata-kata akan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Apa yang dia lakukan memang tidak salah, tapi rasanya hampa karena dia tidak bisa mengecek semua pekerjaannya.
"Silakan kalian pilih saja kamar yang kalian mau pakai," perintah Robinson sekali lagi kepada kedua pasangan itu.
"Yang mana?"
"Kamar nomor dua yang kita lihat tadi. Aku tidak suka dengan kamar yang ada terlalu dalam dari permukaan air."
"Oke, mari kita pergi ke sana."
Gerald menurut saja apa yang diinginkan oleh istrinya, daripada Lian membuatnya tidak bisa berdaya lagi seperti semalam. Lian memang wanita yang polos, tapi dia tidak pernah menyangka jika istrinya itu bisa berbuat mengerikan seperti tadi malam.
Gerald sampai bergidik ngeri mengingat peristiwa semalam.
"Ada apa denganmu?" tanya Lian melihat Gerald di sampingnya.
"Tidak ada. Tidak ada apa-apa," ucap pria itu.
Morgan membiarkan Gerard dan Lian mengambil kamar yang mereka mau. Dia dan Lyla masih melihat-lihat ruangan yang lainnya.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu? Kau mau mencoba untuk semalam tinggal di kamar ini?"
Lyla tentu saja mau mencoba hal baru di kamar ini. Meskipun sebenarnya dia takut. Bagaimana jika kamar ini bocor? Bagaimana jika ada hiu yang berenang ke arahnya dan menabrak dinding kaca ini? Bagaimana jika dia tenggelam? Lyla tidak bisa berenang.
"Apa Ayah yakin kita akan aman si ini?" tanya Lyla sekali lagi. Tangannya tidak dia lepaskan dari suaminya.
"Iya, aku yakin sekali. Percaya lah aku sudah mencoba tidur di setiap kamar yang ada di sini dan aku tidak sampai mati, kan? Bahkan aku sudah mencoba semua gaya di semua kamar ini, Sayang."
Selvi menjadi malu karena ucapan suaminya yang membuat Lyla dan Morgan menatap ke arahnya. Refleks, tangannya bergerak untuk menyikut perut Robinson yang mulai mengembang dari pada sebelum bersama dengannya.
"Aww, ini sakit!"
"Jaga ucapanmu, Sayang. Kau tidak perlu kan memberikan laporan yang aneh-aneh kepada yang lainnya?" gumam wanita itu protes. Robinson hanya tersenyum, tapi dia tidak malu dan bahkan bangga dengan pencapaiannya selama ini.
"Aku akan pergi sebenar dengan istriku, kalian pilih saja kamar yang kalian mau," ucap Robinson.
Dua orag itu pergi, meninggalkan Morgan dan Lyla yang ada di ruangan tersebut.
Lyla melihat ke arah bawah, lantai kaca tebal menjadi lantai dan dinding yang mengelilingi ruangan itu. Dia tidak berani bergerak di dalam sana, takut jika dia mengambil langkah, maka kaca itu akan pecah dan membuatnya tenggelam. Padahal, kemarin saat Robinson mengirimkan pesan chat, ia sangat antusias sekali dan ingin mencoba untuk menginap di dalam ruangan ini.
"Kau mau mencoba tidur di sana?" tunjuk Morgan ke arah ranjang yang ada di sana.
"Aku takut. Kita tidak akan tenggelam kan?"
"Jika kita tenggelam, ada aku yang akan menyelamatkanmu."
Mendengar ucapan Morgan, Lyla menjadi sangat takut kali ini.
"Haha, aku bercanda. Bahkan jika aku melompat di sini, kita tidak akan tenggelam. Apa kau percaya jika ayahku akan membunuh anaknya di sini? Ya, meskipun itu bisa terjadi padaku karena aku sering melawan padanya."
"Iya, benar sekali. Jika aku mati di sini bahkan dunia tidak akan tahu soal kematianku. Aku bisa dikabarkan sebagai orang yang hilang dan mereka tidak akan menemukan mayatku." Tiba-tiba saja Morgan merinding jika membayangkan hal tersebut.
"Ah, memang ayah yang kejam."
Morgan tersadar saat Lyla memanggilnya. Wanita itu telah berada di tepi dinding kaca dan mencoba menyentuh ikan yang ada di luar dinding kaca tersebut.
"Di sini indah."
__ADS_1
Seakan Lyla sudah melupakan ketakutannya, dia tersenyum dan kagum akan ciptaan Tuhan yang sangat indah di sini.
"Iya, di sini sangat indah sekali. Sama sepertimu, bahkan kau berjuta-juta kali lebih indah dari segala yang ada di dunia ini," ucap Morgan sambil memeluk Lyla dari belakang. Morgan mulai mengeluarkan jurus mautnya, bukan hanya sekedar ucapan, tapi perbuatan yang tidak akan bisa ditolak Lyla selama ini. Lagi-lagi proses pembuatan dan pembuahan terjadi di tempat mereka berdiri, dengan view indah ikan-ikan yang berenang ke sana dan kemari. Lyla benar-benar menikmati dan melupakan rasa takutnya. Dia senang membuat embun yang tercipta di dinding kaca itu dengan deruan napasnya.