Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
143. Sebuah Mimpi


__ADS_3

"Aku kecewa kau meninggalkannya di sana."


"Maaf. Aku lupa mengambilnya. Kalung itu juga putus."


"Putus?"


"Seseorang mengambilnya paksa, dan putus. Aku masih belum bisa memperbaikinya," ujar Lyla menyesal akan kejadian waktu itu yang menimpa kalungnya.


Alex menghela napasnya dengan kecewa. Akan tetapi, dia tersenyum dan kembali mengacak rambut sang keponakan dengan lembut.


"Tidak apa-apa. Aku yakin Morgan akan menyimpannya dengan baik." Alex berbalik dan melanjutkan perjalanan. "Bagaimana hubunganmu dengan Morgan?" tanya Alex lagi. Lyla menunduk dan berjalan pelan.


"Aku tak tahu."


"Kenapa?"


Lyla terdiam, dia rasanya tidak ingin membicarakan apa yang telah terjadi kepada Morgan sekarang ini. Lagi pula, entah kapan Morgan akan bisa kembali ingat dengan dirinya.


"Tidak apa-apa. Aku meninggalkannya untuk mencari kedua orang tuaku," ujar Lyla. Bukan suatu kebohongan, ini adalah kenyataannya. Dia pergi saat Morgan dinyatakan lupa ingatan dan Selvi serta Gerald pun setuju untuknya pergi di saat yang seperti itu.


Alex tersenyum, dia salut dengan gadis ini yang mengambil keputusan baik untuk mencari anggota keluarganya.


"Tidak apa-apa. Kau akan mendapatkan yang lebih baik dari dia di sini. Aku tahu seseorang yang bisa membuatmu melupakan dia," ucap Alex.


"Tidak perlu, Paman. Untuk saat ini aku hanya ingin sendirian saja dan fokus mencari kedua orang tuaku."


Mereka telah sampai di suatu ruangan, Alex membukanya dan nampaklah sebuah ruangan yang sangat indah yang membaut Lyla terpana.


"Ini kamarmu. Kau bisa gunakan untuk istirahat."


Mata Lyla berbinar, melihat ke kedalaman ruang tidur dengan nuansa mewah. Ranjang besar seperti di kediaman Morgan, juga ada lampu hias besar yang menggantung di atas sana. Tirai-tirainya bergantung menutupi jendela kaca transparan yang menjulang tinggi.


"Selamat beristirahat. Aku akan berada di kamarku. Kau istirahat saja, besok aku mau mengajakmu ke suatu tempat." Alex mempersilakan Lyla untuk masuk.


"Eh, besok kita akan ke mana?" tanya Lyla penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Ke mana saja, selain kita memancing, kita juga bisa bersenang-senang dengan mereka!" Alex menepuk puncak kepala Lyla dan meninggalkannya di sana.


Seorang maid datang mendekat, menundukkan kepala sedikit dan berbicara, "Jika ada yang Nona inginkan, panggil saja saya."


"Eh, Aku tidak mau apa-apa. Aku hanya ingin beristirahat sja," ucap Lyla. Maid tersebut undur diri dan berjalan mundur hingga sampai pintu kemudian menutup pintu tersebut dengan pelan.


Lyla maju dan duduk di tempat tidur dengan ukuran besar tersebut. Dia mencoba membaringkan tubuhnya yang sedikit lelah akibat perjalanan mereka tadi. Entah Alex akan membawanya kemana besok hari, yang pasti dia harus bersiap untuk itu.


"Ah, hidupku kenapa rumit sekali?" gumam Lyla, kemudian tertidur karena lelah berpikir sedari kemarin.


...***...


Aku senang kamu ada di sini, Laura. Jangan pergi lagi. Tetaplah di dekat Alex.


Lyla terhenyak, bangun dan menatap ke sekeliling. Matanya masih berat karena mengantuk, dia juga merasa bingung karena mendengar suara wanita yang tadi masuk ke pendengarannya.


Mimpinya terasa aneh, yang mana di dalam mimpi itu, Lyla sedang berada di sebuah kastil dan tengah menatap cermin besar seukuran dirinya, tapi yang dia lihat di dalam sana adalah orang lain dengan wajah sama. Ya, dia yakin itu, wajah mereka mirip, tapi pakaian mereka berbeda. Dia lebih cantik dan lebih elegan dibanding dengan dirinya.


Keringat membanjiri kening Lyla, dia usap dengan punggung tangannya. Lalu, sebuah ketukan di pintu terdengar degan cukup keras.


Lyla membuka pintu dan melihat maid yang tadi di depan sana.


"Tuan Alex sudah menunggu di ruang makan."


"Iya, aku akan segera pergi ke sana. Aku akan membersihkan diriku terlebih dahulu," ucap Lyla.


"Anda butuh bantuan kami?" tanya wanita muda itu lagi.


"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri," tolak Lyla kemudian pergi ke arah pintu yang dia yakini itu adalah sebuah kamar mandi. Kembali Lyla dibuat terpana dengan keadaan di dalam kamar mandi tersebut. Lantai marmer dengan corak yang indah, sebuah pancuran berwarna emas dan bathub yang juga berwarna emas. Wastafel dan yang lainnya. Seakan memang tempat tersebut dibuat dari emas asli untuk membuat pemiliknya puas.


"Aku harus cepat. Jangan terpana," ucap Lyla. Saat membuka kran air, dia sempat berpikir apakah mungkin jika air yang keluar dari sana juga berwarna emas atua bahkan emas asli?


Lyla tersenyum geli atas pemikirannya, jelas yang dia lihat di sana adalah air sungguhan, bukan emas.


"Astaga! Apa yang aku pikirkan?" lyla tertawa geli sendiri, kemudian segera mandi dengan cepat meski rasanya dia ingin merasakan berendam di dalam bathub berwarna emas itu.

__ADS_1


...*...


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ucap Lyla yang baru saja datang bersama dengan maid di belakangnya.


Alex terpaku menatap Lyla dengan gaun setinggi lutut, gaun berwarna biru muda dengan dada terbuka dan ada renda di tepiannya, rok mengembang membuat tampilan Lyla seperti wanita Eropa di masa lalu. Meski mereka sekarang tinggal di Amerika, tapi Theresia, ibu dari Lyla menyukai hal berbau Eropa karena David adalah warga Keturunan Eropa.


"Kau cantik seperti ibumu," ucap Alex menatap Lyla dari atas hingga ke bawah dan sebaliknya.


"Benarkah?" Lyla menatap kagum pakaian ini, meski dia tahu itu bukan model kekinian, tapi dia suka memakainya.


"Ya, itu adalah pakaiannya saat dia muda dulu. Ibuku yang memberitahuku setelah Theresia pergi."


"Apa Theresia nama ibuku?" tanya Lyla.


"Iya, dan ayahmu David."


Lyla segera duduk di kursi yang telah disediakan dan menopang kedua tangannya di atas meja.


"Kau bisa ceritakan sedikit tentang mereka? Kau punya foto mereka?" tanya Lyla mulai bersemangat.


"Sayangnya aku tidak punya. Dan saat ini lebih baik kita makan. Aku yakin kau lapar setelah kepulangan kita kemari," ucap Alex.


Lyla merasa sebal, tapi dia setuju saja dengan apa yang Alex katakan. Dia memang sangat lapar apalagi setelah mandi tadi.


Beberapa hidangan telah tersedia di atas meja, hidangan yang selalu mewah yang Lyla rasakan sehingga dia merasa bosan.


"Kenapa?" tanya Alex saat melihat Lyla yang tak kunjung mengambil makanan.


"Aku bosan. Apakah tidak ada hidangan lain? Maaf kalau aku rewel, tapi hidup denganmu sudah membuat ususku sangat sehat sekarang dan ingin makan yang lain," ucap Lyla.


Kening Alex mengerut. "Apa yang ingin kau makan? Koki bisa membuatkannya." Namun, Lyla menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mau masakan rumah. Boleh kita pergi ke luar? Atau, kita pesan saja?" tanya Lyla dengan tatapan memohon. Alex tidak bisa menolak keinginan gadis muda ini, keponakannya terlalu menggemaskan.


"Baiklah. Kita akan keluar."

__ADS_1


"Yeaaaay!"


__ADS_2