
Morgan harus setuju dengan apa yang Alex katakan. Morgan sudah mengetahui apa saja yang terjadi di sana sehingga Alex masih belum mengantarkan Lyla ke sisinya lagi.
"Aku harap kau berjaga untuk hal yang tidak terduga," ucap Alex saat itu.
Morgan yang pada awalnya ingin bertemu dengan Lyla dan membawanya pulang, kini harus mengulur waktu hingga beberapa saat lamanya. Dia harus percayakan ini pada Alex sehingga semuanya akan menjadi jelas untuk Lyla dan dirinya. Orang tua Lyla berada di satu tempat dan Alex sedang mengupayakan pencarian mereka. Tujuan Alex membawa Lyla ke pesta malam ini adalah untuk memancing agar seseorang keluar dari tempat persembunyiannya.
...***...
"Aku harus memakai ini?" tanya Lyla sambil menempelkan gaun berwarna gold di tubuhnya. Gaun itu tampak sangat indah sekali, panjang menutupi kaki dengan punggungnya yang terbuka lebar. Bagian lengan panjang, dengan potongan bagian dada sedikit rendah tapi tidak sampai memperlihatkan belahan dada.
"Apa aku tidak akan masuk angin memakai ini?" tanya Lyla ngeri. Sampai saat ini, dia tidak pernah memakai gaun terbuka seperti ini.
"Kau hanya perlu memakai koyo hangat jika masuk angin, Keponakanku," ujar Alex, ingin tertawa, tapi dia menahannya saja. Keponakannya ini benar-benar sangat unik dan ketinggalan zaman untuk usianya yang sekarang ini dan tidak pernah memakai gaun terbuka di bagian punggung.
"Apa tidak ada gaun yang lain?" tawarnya.
"Tidak. Aku ingin kau menjadi sorotan di pesta itu, jika bisa kau yang harus menggantikan pelakon utama di sana," ucap Alex penuh ambisi.
Lyla menjadi takut dengan ucapan sang paman yang seperti itu.
"Uncle, boleh aku tahu kita sedang berhadapan dengan siapa? Siapa yang ingin kau pancing untuk keluar? Dan untuk apa?" tanya Lyla benar-benar ingin tahu. Dia duduk, menghadap ke arah Alex, dan menatapnya dengan tajam.
"Tujuan kita adalah untuk membuat seseorang yang berhubungan dengan ayah dan ibumu keluar."
__ADS_1
"Apa jika aku berhasil, kita akan menemukan orang tuaku?" tanya Lyla.
"Bisa jadi. Dia adalah orang yang sangat menyebalkan, musuh dari keluarga kita. Maka dari itu, aku ingin kau tetap waspada dan selalu berada dekat denganku."
Lyla menjadi tegang sendiri. Apa yang akan terjadi nanti?
"Apakah akan ada peperangan lagi seperti waktu itu?" tanya Lyla lagi.
"Mungin."
"Aku tidak mau," ucap Lyla menyimpan gaun indah tersebut di atas kasur.
Kening Alex mengerut mendengar penolakan dari Lyla.
"Kenapa?" tanyanya.
Alex menghela napasnya dan menatap sang keponakan dengan lamat.
"Dengar, meski kau mundur pun, keadaan kita tidak akan pernah bisa membaik. Akan tetap ada pertumpahan darah. Aku hanya ingin menggunakanu untuk memancingnya keluar, kemudian aku akan menghukumnya dengan tanganku sendiri, karena dia sudah membunuh ayahmu dan membuat kakak sepupuku tersiksa," ujar Alex.
Air mata Lyla menetes mendengar kabar tentang ayahnya yang baru saja dia dengar hari ini dari Alex.
"Tidak mungkin. Ayahku sudah tiada?" ujar Lyla, air matanya masih menetes melewati pipi.
__ADS_1
Alex menganggukkan kepalanya, memperlihatkan sebuah foto dari ponselnya, seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluhan yang cukup tampan meski tidak setampan Alex.
Lyla menerima ponsel tersebut dan menatap gambar seseorang yang ada di sana. Seketika dia mengingat waktu itu di desa, saat dia melihat seorang laki-laki muda tersenyum dan menyuruhnya untuk ikut dengan Alex. Pemuda yang dia kira itu adalah pengawal Alex. Namun, saat dia ingin menanyakan lebih lanjut tentang ucapannya, pemuda itu menghilang di balik pohon.
Apakah yang aku lihat waktu itu adalah arwah ayahku? Apakah itu dia? Bagaimana bisa ...?
Lyla menutup mulutnya dengan satu tangan, dia tidak bisa percaya dengan apa yang dia alami selama ini. Hal mistis yang tidak pernah dia temui sama sekali.
"Maaf aku tidak pernah mengatakannya, Laura. Aku hanya tidak ingin melihatmu sedih," ucap Alex.
Alex kemudian berdiri. "Aku paham jika kau tidak akan pergi. Aku akan berangkat tiga puluh menit lagi," ucap Alex kemudian pergi dari sana.
Lyla menatap kepergian Alex dari kamar itu dan dia duduk di tepi ranjang. Tangisnya berderai membasah pakaian yang dia kenakan.
Alex sengaja, tidak memberi tahu jika Morgan juga akan ada di sana malam ini, jika Lyla tidak mau pergi, maka dia akan datang bersama dengan Morgan dan mencari tahu tentang seseorang dan mencoba untuk memancingnya dengan cara yang lain.
Alex masih duduk dan menikmati minuman hangatnya sebelum pergi. Dia tidak terlalu terburu-buru karena pesta yang diadakan oleh perusahaan Rosemburg adalah pesta besar yang tidak akan dilewatkan oleh para pebisnis yang ada di negara ini, juga mengundang pebisnis handal dari negara-negara sekitarnya.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh tepat, Mac mendekat pada Alex dan mengingatkan tentang waktu keberangkatan mereka. Alex mematikan puntung rokok yang ada di tangannya dan berdiri. "Ayo," ucapnya.
Baru saja Alex akan melangkahkan kakinya. Lyla datang setelah siap memakai gaunnya tadi.
"Aku ikut," ucap Lyla membuat Alex dan Mac menolehkan kepalanya. Alex memiringkan kepalanya, melihat Lyla dengan seksama.
__ADS_1
Mereka terdiam melihat betapa cantiknya Lyla di dalam balutan busana mewah seperti itu dengan make up yang tidak berlebihan. Rambutnya diikat di belakang kepala, anting-anting panjang menghiasi kedua telinganya. Tak lupa dengan kalung mewah dengan berlian berwarna biru yang indah menghiasi leher jenjang Lyla.
"Aku ikut. Mari kita berburu!" ucap Lyla kemudian mendahului dua laki-laki itu untuk keluar dari ruangan indah tersebut.