
Perut Lyla semakin membesar, begitu juga dengan Morgan yang perutnya sama-sama mengembang. Laki-laki itu tetap saja tidak bisa meninggalkan kebiasaan barunya yang senang mengemil semenjak dia bisa menelan makanan.
Alih-alih khawatir dengan keadaannya, Lyla lebih khawatir dengan keadaan Morgan. Pria itu sangat susah untuk diatur. Lihat saja sekarang, laki-laki itu sedang memakan cemilan berat padahal baru satu jam yang lalu dia baru saja makan malam.
“Apa seperti ini kelakuan suamimu setiap malam?” tanya Robinson menatap ngeri ukuran tubuh sang putra.
“Iya, seperti itulah, Ayah.” Lyla hanya menjawab singkat.
“Mengerikan. Bagaimana kau bisa abai dengan tubuhmu sendiri. Lihat bagaimana bentukmu sekarang?” Selvi menatap jijik pada Morgan, tapi pria itu tetap tenang dan tidak peduli dengan cibiran bibinya.
“Aku tidak bisa melarangnya, Mom.” Lyla pasrah, tapi biar pun Morgan menjadi mengerikan dengan bentuk tubuhnya yang seperti ini, dia tidak keberatan asalkan Morgan masih bisa mengontrol kesehatannya.
“Ckckck. Kau seperti seekor kerbau sekarang.” Robinson kini menggelengkan kepalanya. Putranya yang tampan dan memiliki tubuh yang proporsional kini tidak ada lagi. Perutnya mirip seperti istrinya.
“Aku akan diet nanti, setelah anakku lahir beberapa hari lagi,” ucap Morgan dengan tenang. Napsu makannya bertambah beberapa kali lipat dan dia tidak bisa menahannya untuk tidak makan sesuatu sekarang ini.
“Awas saja jika kau tidak bisa menggendong istrimu nanti jika dia akan melahirkan. Perut kalian bisa beradu. Haha!” Robinson tertawa membayangkan hal itu. Morgan pasti kesulitan saat malam hari, membayangkan betapa sulitnya dua orang berperut besar melakukan malam panas bersama.
“Ayah, kau tidak sopan sekali!” Tatapan mata tajam diberikan Morgan ke pada Robinson. “Apa kau seorang pengangguran memikirkan hal itu?”
Robinson tetap saja tertawa, mengabaikan rasa marah yang diberikan dari putranya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja, perut Lyla menjadi tidak nyaman, ada sesuatu yang membuat perut bawahnya terasa sakit sehingga dia meringis kesakitan. Tiga orang yang ada di sana bergerak bersamaan.
“Ada apa?” Selvi lebih dulu bertanya dengan khawatir, di belakangnya Robinson yang juga mendekat dan bertanya apa yang dirasakan Lyla.
“Apa kau akan melahirkan?” Kini Morgan yang bertanya.
Lyla menatap ketiga orang itu bergantian.
“Aku tidak tahu, ada sesuatu yang mencubit perutku, tapi sudah tidak ada lagi,” ucap Lyla, kemudian dia melanjutkan ucapannya. “Tapi, ini sudah sembuh. Sakitnya sudah hilang.”
Wajah-wajah yang khawatir itu menjadi lega, mengambil napas dan menjadi lega.
“Tapi kau tetap harus memeriksakan dirimu ke rumah sakit.” Selvi mengambil inisiatif.
“Dua hari? Dan kau tidak memberitahuku?” Morgan kesal.
“Karena ini memang tidak sakit. Hanya sesekali anakmu sedang mencari perhatian dariku.” Lyla tertawa kecil dan mengelus perutnya dengan lembut. Morgan juga ikut mengelusnya.
Senyum kedua orang itu lebar membuat Selvi menjadi iri. Di dalam hati diam-diam dia juga ingin memiliki keturunan, tapi apakah itu mungkin di usianya yang sekarang ini?
Robinson melirik Selvi yang mendadak diam, tapi masih tidak paham dengan yang wanita itu inginkan. Robinson hanya mengira jika Selvi hanya mengkhawatirkan Lyla.
__ADS_1
"Dia menendang perutmu lagi, Sayang." Morgan berkata dengan tersenyum kecil dan mendapatkan anggukkan kepala dari Lyla. Tidak mereka sangka jika Selvi merasa sedih karena hal itu.
"Apakah kalian tidak mau ke dokter? Aku takut jika itu adalah awal dari sesi melahirkan." Robinson kini bertanya dan Lyla menggelengkan kepalanya.
"Ini masih jauh dari perkiraan dokter, Ayah. Masih sisa dua minggu lagi sebelum hari itu tiba."
"Kalau begitu, kalian istirahat di kamar. Jangan terlalu lelah," titah Robinson yang segera mendapatkan persetujuan dari Morgan dan menarik tangan Lyla ke kamar.
Selvi juga ikut pergi, tapi ke kamarnya sendiri. Robinson hanya mengerutkan keningnya saat tak mendapati sang istri berpamitan seperti biasanya.
"Ada apa?" tanya Robinson bingung. Selvi hanya menggelengkan kepala dan menatap lantai. Matanya memanas dan perlahan air mata mengalir di sudut mata.
"Hei, ada apa? Apa kau sakit?" tanya Robinson saat melihat Selvi kini menutup wajahnya. Tidak biasanya Selvi menangis seperti itu. Robinson segera mendekat dan menarik pelan bahu Selvi agar saling berhadapan. "Ada apa? Apa kau punya masalah?"
Selvi menggelengkan kepala. "Lalu kenapa?" tanyanya lagi.
"Robinson." Panggilan Selvi tidak biasanya seperti itu. "Aku ingin hamil juga."
Robinson tersentak mendengarnya. Mereka sudah pergi ke dokter kandungan terbaik di kota ini dan mereka mengkhawatirkan keadaan Selvi, terutama karena usianya.
"Bisakah kita pergi mendapatkannya?" Selvi menatap penuh permohonan.
__ADS_1
"Tidak mungkin, Sayang. Kau tidak perlu mengambil resiko. Aku tidak apa-apa kau tidak memiliki anak karena aku sudah memili Morgan."
"Kau tidak memikirkan perasaanku!"