Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
48. Aku Bukan Pasien


__ADS_3

Lyla menunggu, tapi Morgan tidak juga berbicara. Laki-laki itu menyandarkan diri pada kursi dengan kepala yang menengadah menatap langit-langit yang berwarna putih.


"Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?" tanya Lyla, Morgan masih terdiam.


"Tidak ada." Kemudian dia berdiri dari duduknya itu. "Aku akan keluar sebentar. Kau lanjut saja beristirahat," ucapnya kemudian pergi dari ruangan itu.


Lyla yang kini duduk sendirian di sana menatap bingung ke arah pintu yang kini telah tertutup.


Laki-laki yang aneh, gumam Lyla kemudian dia pun kembali berbaring di ranjangnya.


"Sebenarnya apa yang dimau oleh laki-laki itu. Tadi dia bilang aku duduk di sampingnya, tapi kemudian dia juga yang pergi," ucap Lyla dengan terheran.


Morgan berjalan keluar dari ruangan Lyla, dia lapar dan kini pergi untuk mencari makanan. Tidak mungkin rasanya menyuruh Gerald untuk datang dan membawakan dia makanan, laki-laki itu tengah ada pertemuan sekarang ini dan tidak tahu akan kembali kapan.


Orang-orang yang juga berjalan di sana menatap heran pada Morgan, laki-laki itu sangat tampan, tapi juga imut karena pakaiannya yang kekecilan. Tidak tampak jika dia tengah sakit, tubuhnya terlihat segar, tidak pucat sama sekali.


Morgan berjalan dengan sangat santai sekali, tidak peduli meski dia tahu orang lain menatap ke arahnya.


Sampai di kantin, Morgan segera memesan makanan yang dia lihat ada di menu. Seharusnya dia bisa memesan kepada sopirnya, tapi dia salah malah memanggil Lyla dan nyatanya tidak kuat berada di dekat wanita itu. Serasa tiba-tiba saja kacau dan ingin menjauh tanpa sebab.


"Maaf, tapi menu itu tidak diperuntukkan untuk pasien," ucap salah seorang penjaga di kantin tersebut, menolak membuatkan makanan yang Morgan inginkan barusan.


"Aku bukan orang sakit," ujar Morgan. Wanita itu menatap Morgan dari atas hingga ke bawah. Dari wajah dan tubuhnya memang tampak segar, tapi pakaiannya ....


Sadar kemana tatapan dari wanita itu membuat Morgan kembali berbicara, "Aku hanya memakainya. Bukan berarti jika aku adalah pasien di sini." Akan tetapi, wanita itu tidak percaya begitu saja. Ada banyak pasien yang juga mengaku jika mereka sudah sembuh dan bebas memakan apa pun yang mereka mau. Akibatnya, dokter atau perawat memberikan peringatan kepada mereka.


"Maaf, tapi kami tidak menyajikan itu sekarang ini," ucap sang wanita dengan senyum ramahnya.


Morgan merasa kesal, dia mengedarkan tatapannya ke arah lain dan mendapati jika beberapa orang memakannya. "Itu apa?" tunjuk Morgan pada meja yang ada tepat di belakangnya.


"Itu, sudah habis. Bahannya sudah tidak ada lagi," ucap wanita itu berusaha untuk berdusta.


Morgan tidak percaya sama sekali. Beraninya wanita ini menolak keinginannya, padahal dia tahu jika stok makanan di dalam kantin ini selalu tersedia.

__ADS_1


Perdebatan terjadi di antara Morgan dan penjaga kantin tersebut. Morgan ingin makanan itu, tapi wanita itu juga tidak mau disalahkan oleh dokter jika pasien kumat gara-gara apa yang dimakannya.


"Ada apa ini?"


Semua orang yang ada di sana mengalihkan tatapan pada Edward yang kebetulan berada di sana untuk memesan makanan tambahan. Tadi, saat dia bersama dengan Selvi, dia belum kenyang dan meninggalkan makan siangnya yang masih tersisa banyak.


"Dekter Edward, pasien ini ingin makanan, tapi saya takut jika dokternya melarang," ucap wanita muda itu dengan cepat. Edward menatap Morgan dengan bingung, tepatnya pada pakaian yang dikenakan oleh laki-laki itu.


"Kau ... apa yang kau pakai?" tunjuk Edward pada pakaian Morgan.


"Aku hanya pakai baju ini saja, bajuku basah. Bisakah kau bilang padanya jika aku tidak sakit? Suruh dia buatkan makanan. Aku bukan pasien di sini," tunjuk Morgan pada wanita yang telah menolaknya tadi. Seketika wanita itu menunduk takut. Edward adalah salah satu dokter yang disegani di rumah sakit ini, tapi pemuda ini dengan mudahnya main tunjuk dan perintah saja.


"Buatkan dia makanan, dia memang tidak sakit," ujar Edward.


"Baik, Tuan." Segera wanita tersebut pergi ke arah belakang untuk membuat pesanan Morgan.


"Apa yang kau lakukan dengan pakaian ini?" tanya Edward saat keduanya duduk di kursi yang kosong.


"Basah kenapa? Tidak ada hujan hari ini." Edward menatap ke arah luar, meski hujan salju dengan curahnya yang banyak sekali pun tidak akan sampai membuat baju seseorang menjadi basah.


"Rumah sakit ini jelek sekali!" ujar Morgan.


"Jelek? Maksudmu?"


"Kamar mandi di kamar Lyla, krannya rusak. Tidak pantas sekali rumah sakit terkenal dan ternama seperti ini memiliki hal yang buruk di dalamnya. Membuat malu saja!" Barulah Edward mengerti, menganggukkan kepalanya sambil memegangi dagu.


"Akan aku suruh seseorang memperbaikinya. Tapi kenapa kau pakai baju ini? Apa tidak ada baju yang lain? Atau, yang seukuran denganmu?"


"Jika ada aku tentu tidak akan pakai ini. Gerald sedang meeting, tidak bisa mengantarkan aku pakaian."


Sekali lagi Edward menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Dia berusaha agar tidak tertawa, melihat Morgan yang seperti ini membuatnya terlihat lucu.


"Oh, jika tidak salah di kantorku ada pakaian. Jika kau mau, aku akan bawakan," tawar Edward.

__ADS_1


"Tidak usah. Biar nanti aku akan membelinya di luar," tolak Morgan, memperhatikan tubuh Edward yang lebih kecil darinya dan membuat dia berpikir ulang untuk menerima tawaran itu. Sudah sedikit nyaman menggunakan pakaian ini, tidak terlalu sempit di bagian b*k*ngnya, tidak juga akan membuat miliknya sakit. Bahkan, bergerak bagaimana pun juga dia sangat nyaman dengan apa yang dipakainya sekarang. Tidak ada salahnya memakai ini untuk beberapa saat lamanya.


Pesanan Morgan kini telah selesai, dia dan Edward bersamaan pergi ke meja kasir untuk membayarnya. Tampak Morgan mencari-cari sesuatu di dalam sakunya dan dia ingat jika dompet ada di celana yang basah.


"Sial!" racau laki-laki itu.


"Kau tidak bawa uang?" tanya Edward dan Morgan hanya menjawabnya dengan lirikan dingin.


"Apa bisa aku bayar dengan yang lain? Aku akan transfer," tanya Morgan tanpa menjawab pertanyaan dari laki-laki ini.


"Biar aku yang akan membayarnya. Hitung sekalian dengan milikku." Edward memberikan penawaran dan langsung menyerahkan sejumlah uang seharga yang disebutkan oleh wanita itu.


"Aku akan menggantinya nanti," ucap Morgan, tapi belum juga Edward menjawabnya, dia sudah pergi meninggalkan laki-laki itu.


"Tuan, apa dia benar bukan pasien? Anda sepertinya sangat takut sekali dengan dia?" tanya wanita tersebut seraya menyerahkan makanan kepada Edward.


"Dia adalah Morgan Castanov."


Wajah wanita itu tiba-tiba berubah pucat.


"Hah? Pemilik rumah sakit ini?"


Edward menganggukkan kepalanya.


...****************...


Masih bingung sama Morgan, tapi bingung nggak tau mau diapain dia🤔


...****************...


Mampir sini yuk ....


__ADS_1


__ADS_2