
"Aku akan kembali lagi ke kantor. Apa kau mau ikut?" tanya Gerald pada Lyla.
Lyla terkejut mendengar ajakan Gerald.
"Eh, aku ikut?"
Gerald menganggukkan kepalanya. "Iya. Jika kau mau," ucap Gerald.
Lyla merasa tertarik dengan penawaran ini.
"Apa tidak masalah aku ikut ke sana?"
"Tidak, aku pikir tidak akan apa-apa. Justru bagus kau akan bisa mencari pengalaman dan belajar di sana," ucap Gerald sekali lagi.
Lyla berpikir sejenak, benar apa kata Gerald. Kapan lagi dia akan tahu pekerjaan kantoran?
"Oke, aku akan ikut. Tapi, aku tidak punya pakaian yang pantas untuk pergi ke kantor," ucap Lyla mengingat pakaian yang ada di lemari.
"Tidak masalah, kau datang bersama denganku. Pakai apa pun juga tidak akan ada yang akan mengkritikmu," ujar Gerald.
Sampai di rumah, Lyla segera berlari untuk masuk ke dalam kamar sementara Gerald duduk dan menunggu Lyla sambil memainkan hp-nya. Tadi dia menghubungi sopir dan menggantikan menjemput Lyla.
"Apa yang akan aku lakukan nanti di sana, ya?" gumam Lyla sambil memilih pakaian yang pantas untuknya, jangan sampai dia membuat malu Gerald di kantor. Dengan cepat Lyla mengenakan pakaian dan merias wajahnya, sangat simpel tanpa riasan berlebihan.
"Ah, kenapa juga dia harus mengajakku dengan mendadak seperti ini?" ucapnya, kemudian dengan cepat turun ke lantai bawah setelah yakin jika tidak ada yang aneh padanya.
"Aku sudah selesai!" seru Lyla setelah sampai di depan Gerald sambil membenarkan sepatu heels dengan tinggi tiga senti.
Gerald mengalihkan tatapannya, menatap heran Lyla yang kini sudah sangat rapi dengan pakaiannya. Sangat cantik sekali sampai-sampai dia tidak percaya itu adalah Lyla.
"Kau kenapa?" tanya Lyla heran. Gerald menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan kesadaran.
"Tidak apa-apa. Aku hanya heran saja. Secepat itu kau mandi?" tanya Gerald melihat jam yang ada di tangan. Baru setengah jam yang lalu mereka sampai dan Lyla sudah mandi serta mengganti pakaian.
"Memangnya kenapa? Apa aku masih terlihat jelek? Apa masih bau? Rasanya aku pakai parfum lebih banyak dari biasanya," ujar Lyla sambil menghirup aroma yang ada di tubuhnya. Tidak ada yang salah. Wangi.
"Tidak, aku hanya heran saja. Wanita biasanya mandi sangat lama. Kau cukup dengan waktu tiga puluh menit untuk mandi dan berdandan?"
"Ah, kenapa kaum laki-laki sangat rumit? Jika kaum wanita mandi lama, kalian akan kesal menunggu dan akhirnya marah-marah. Ayo, apakah kita tidak jadi berangkat?" tanya Lyla.
Gerald memasukkan hp-nya ke dalam saku jas dan berdiri mendahului Lyla berjalan ke arah mobilnya di luar.
Dua orang itu kemudian pergi menuju ke perusahaan.
Orang-orang yang berada di perusahaan itu terheran melihat Gerald yang berjalan dengan seorang wanita cantik. Mereka semua terkagum melihat kecantikan dari Lyla. Juga dengan para karyawan laki-laki yang ada di sana.
"Siapa yang datang dengan Tuan Gerald?" tanya seorang wanita kepada salah satu temannya.
"Aku tidak tahu, mungkin dia salah satu wanita yang diundang untuk menyenangkan Tuan Morgan," jawab yang lainnya sambil menatap Lyla sinis.
Lyla menjadi merasa tidak enak saat mendengar bisik-bisik tentang dirinya dari orang lain, dia menunduk dalam. Hal itu diketahui oleh Gerald dan dia memperlambat laju kakinya mengiringi langkah kaki Lyla.
"Jangan dengarkan mereka, mereka hanyalah orang-orang yang iri." Langkah Gerald sangat tenang, menggenggam tangan Lyla untuk pergi menuju ke arah lift.
__ADS_1
"Aku tahu aku tidak boleh mendengarkan mereka. Tapi aku kecewa karena mereka membicarakan tuan muda seperti itu," ucap Lyla membuat Gerald tertegun. Gerald berpikir, padahal wanita ini menjadi korban keganasan dari Morgan. Akan tetapi, dia masih membelanya juga.
Dua orang itu kini masuk ke dalam lift. Gerald segera menekan angka yang ada di sana. Lift naik menuju ke lantai yang mereka tuju.
Sampai di lantai atas, mereka keluar dari lift dan Lyla terpana dengan pemandangan yang bisa dia lihat dari jendela yang ada di sana. Dia sengaja melangkah dengan pelan dan ingin menikmati pemandangan yang ada di luar.
Gerald sudah melangkah jauh, kini terdiam saat menyadari jika Lyla tidak ada di sampingnya. Dia tersenyum saat melihat wanita itu berdiri diam menatap lurus ke arah luar.
"Kau suka dengan pemandangan di sana?" tanya Gerald membuat Lyla terkejut.
"Aku tidak percaya bisa melihat seluruh kota dari atas ini."
"Memangnya kau belum pernah melihat kota dari ketinggian?"
Lyla menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku terlalu sibuk bekerja sampai-sampai tidak pernah melihat pemandangan yang indah seperti ini," ucap Lyla.
"Kapan-kapan aku akan mengajakmu pergi untuk menikmati kota dari tempat yang lain. Sekarang ayo kita pergi."
Lyla mengangguk dan mengikuti langkah kaki Gerald menuju ke ruangan Morgan.
Sekretaris yang ada di depan ruangan Morgan menatap heran kepada Gerald yang membawa seorang wanita bersamanya. Dia berdiri dan menganggukkan kepalanya seraya memberikan senyum terbaik kepada laki-laki itu.
"Selamat sore, Tuan."
"Apakah Tuan Morgan masih ada di dalam?" tanya Gerard tanpa menjawab sapaan dari wanita itu.
"Ya, Tuan Morgan masih ada di dalam ruangannya," ucap wanita itu menjawab pertanyaan dari Gerald.
Morgan tengah bersiap-siap untuk pergi saat pintu ruangannya terbuka. Dia masih tidak melihat siapa yang masuk ke dalam sana.
"Apa kau sudah siap pergi?" tanya Gerald.
"Ya. Kau segera bersiaplah kita akan pergi," ucap Morgan.
"Kenapa aku harus ikut?"
"Iya, tentu saja kau harus ikut," jawab Morgan masih tanpa mengalihkan tatapannya dari berkas yang ada di tangan.
"Aku pikir hanya kau sendiri nggak akan pergi ke sana. Aku membawa Lyla ke sini," ucap Gerald sambil mengusap tengkuk lehernya yang terasa kaku.
Seketika itu Morgan menghentikan gerak tangannya.
"Lyla di sini?"
"Iya." Gerald membalikkan badannya, tapi dia tidak melihat ada Lyla di sana.
"Lalu ke mana dia sekarang?" tanya Morgan. Tak lama pintu ruangan terbuka dan muncullah Lyla dari luar. Morgan tertegun melihat Lyla dengan pakaian yang rapi seperti itu.
"Maafkan aku. Barusan aku berbicara sebentar dengan sekretaris Anda," ucap Lyla menyadarkan Morgan dari lamunan.
"Kenapa kau mengajaknya kemari?" tanya Morgan membuat Lyla menjadi serba salah.
"Memangnya kenapa? Di sini dia bisa belajar lebih baik daripada di rumah. Bukankah kerja nyata bisa membuat dia menjadi lebih pintar?" ungkap Gerald.
__ADS_1
"Siapa yang akan mengajarinya?"
"Tentu saja aku, siapa lagi? Kau kan akan pergi," ujar Gerald. Lyla menjadi merasa tidak enak hati karena sekarang dua orang itu sedang berdebat. Dia hanya menundukkan kepala dan memainkan jemarinya pada pakaian.
"Kalau kau tidak suka aku ada di sini aku akan pulang saja. Tuan Gerald, tolong antarkan aku pulang," ucap Lyla dengan kecewa.
Morgan menatap Gerald tidak suka.
"Sudahlah, jika kau sudah sampai di sini." Morgan mengambil sesuatu di atas meja dan memberikannya kepada Lyla.
"Ambil ini dan ikutlah denganku."
Lyla tersentak dan mengangkat pandangannya menatap Morgan. "Eh, ikut denganmu ke mana?"
Gerald juga sama terkejutnya dengan Morgan.
"Ikut denganku pergi sekarang."
"Pergi ke mana?" tanya Lyla sekali lagi ingin tahu.
"Bertemu dengan seseorang."
"Lalu bagaimana denganku?" tunjuk Gerald pada dirinya sendiri.
"Kau tinggal di kantor dan lakukan apa tugasmu di sini," jawab Morgan dengan dingin.
"Eh, kenapa aku yang ditinggal?" Gerald mengajukan protes.
"Lalu maksudmu dia yang akan ditinggal di sini? Sendirian?"
"Bukan begitu maksudku. Mungkin kita bisa bertiga pergi bersama-sama," ucap Gerald.
Morgan telah selesai menyiapkan berkas yang akan dia bawa. "Mobilku tidak cukup besar untuk kita bertiga," ucapnya kemudian mulai melangkah melewati Gerald dan Lyla.
"Ayo kita pergi." Morgan tidak menghentikan langkahnya dan terus berjalan menuju ke arah pintu luar.
Gerald tidak terima karena Morgan mengabaikannya begitu saja. Dia menyusul langkah kaki Morgan dan berbicara, "Aku bisa mengikuti kalian dari belakang."
"Tidak perlu. Karena aku sudah tidak membutuhkan bantuanmu. Hei, apa kau akan masih terus berdiri di sana?" tanya Morgan kepada Lyla sebelum membuka pintu. Segera Lyla mengambil catatan yang tadi Morgan berikan kepadanya dan menyusul keberadaan laki-laki itu.
Pintu tertutup membiarkan Gerald tertinggal di dalam ruangan Morgan.
"Tuan, apa tidak sebaiknya Tuan Gerald yang ikut denganmu? Aku tidak bisa membantu apa-apa di sana," ucap Lyla seraya mengikuti langkah kaki Morgan yang lebar.
"Tidak masalah. Kau hanya perlu diam, duduk, memperhatikan, dan juga mencatat. Kau bisa menggantikannya bukan?" tanya Morgan tanpa menatap Lyla.
"I-iya!" jawab Lyla dengan terbata.
Sementara di ruangan Morgan Gerald tertawa puas dengan rencananya yang sukses.
"Haha. Tidak sia-sia aku sengaja mengajaknya kemari. Kau tidak akan bisa bertemu dengan Renee setelah ini," ucap Gerald tertawa keras.
Gerald berjalan menuju ke jendela dan melihat hamparan langit yang sangat cerah hari ini. Dia sangat tahu dengan Morgan, melihatnya tidak mendebar saat dia menyuruhnya untuk bertemu dengan Tuan Vansco membuat Gerald menebak jika Morgan akan pergi menemui Renee.
__ADS_1