Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
72. Wanita Berjubah Merah


__ADS_3

Morgan berdiri dari duduknya, dia menyimpan mangkuk es krim tersebut di meja dan lantas berlari keluar dengan langkah kaki yang cepat. Lyla terkejut melihat Morgan yang tiba-tiba saja berlari. Dia sampai berdiri untuk melihat kemana laki-laki itu pergi.


"Ada apa dengan dia?" tanya Lila di dalam hatinya. Dia memperhatikan Morgan dari jendela dan melihat laki-laki itu menyeberang jalan. Tampak Morgan berhenti di seberang dan berputar-putar mencari-cari sesuatu.


"Apakah dia melihat seseorang?" gumam Lyla lagi, kemudian dia memutuskan untuk mengikuti Morgan.


Morgan sampai di ujung jalan, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari-cari wanita dengan jubah merah tersebut. Dia yakin jika itu adalah Renee. Sangat yakin sekali karena dia yang membelikan jubah merah itu.


"Renee, apakah kau di sini?" gumam Morgan sambil terus mencari, tapi sejauh matanya memandang dia tidak melihat siapapun dengan jubah merah juga payung merah itu.


Nafas yang berhembus dari mulut Morgan terlihat sangat jelas beradu dengan udara dingin yang ada di sana. Salju yang turun dari langit dia abaikan saja. Hanya Renee yang menjadi fokusnya sekarang ini.


"Aku tidak mungkin salah melihat. Aku yakin jika itu dia," ucap Morgan lagi, kemudian saat dia akan kembali pergi, sebuah tangan menariknya dan saat dia berbalik dia mendapati jika Lyla ada di sana.


"Tuan, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Lyla kini menyadarkan Morgan. Dia lupa jika tadi datang ke sini bersama dengan wanita ini.


"Aku ...." Morgan kembali mengedarkan pandangannya. Berharap jika dia melihat wanita itu lagi.


"Siapa yang sedang kau cari?" tanya Lyla dengan penasaran. Akhirnya Morgan menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada. Bisakah kita pulang sekarang?" pinta Morgan. Lyla melihat keresahan yang ada di wajah laki-laki itu.


"Tentu saja, ayo kita pulang," ucap Lyla. Morgan dengan langkah kakinya yang lebar berjalan mendahului. Dia ingin segera berkendara agar bisa menyusul wanita tadi.


"Tuan, bisakah kau tunggu aku?" tanya Lyla berjalan dengan terseok-seok, apalagi jalanan yang licin membuatnya sedikit sulit bergerak. Akan tetapi, Morgan tidak mendengarkannya.


"Akh!" Lyla berjalan dengan tidak hati-hati sehingga dia terpeleset dan jatuh ke jalanan yang licin. Sebuah mobil mengerem dari kejauhan sehingga berhenti beberapa meter di hadapan Lyla. Beruntung dia bisa membuat kendaraan itu sedikit berbelok dan tidak mengenai gadis tersebut. Jalanan di saat hujan salju memang sedikit berbahaya.


Morgan menoleh ke arah Lyla yang kini berusaha untuk bangun, melihat mobil yang ada di depannya dia merasa khawatir atas apa yang terjadi kepada wanita itu. Segera Morgan sedikit berlari mendekat.


"Hei, apa kau bisa menggunakan matamu dengan baik?" tunjuk Morgan dengan marah ke arah pengendara mobil. Dia mengira jika Lyla jatuh karena tertabrak mobil tersebut.


Si pengendara mobil tidak terima dengan apa yang Morgan tuduhkan, seakan dia lah yang menabrak wanita itu hingga terjatuh.


"Apa maksudmu, Tuan? Apakah kau mengira aku yang menabraknya? Dia jatuh sendiri!" seru laki-laki itu tidak terima.


Lyla yang menangkap maksud Morgan menahan tangannya, dua laki-laki itu sudah di lingkupi rasa emosi.

__ADS_1


"Tuan, aku yang salah. Aku terjatuh dan mobil itu berusaha untuk menghindar. Bukan dia yang menabrakku, aku jatuh tersendiri," ucap Lyla mencoba untuk menjelaskan. Dia menarik tangan Morgan dan mengucapkan kata maaf kepada pengendara tersebut.


"apa kau tidak apa-apa?" tanya Morgan saat mereka telah sampai di mobil.


"Iya, aku tidak apa-apa. Tadi aku mencoba menyusulmu, tapi ternyata aku terpeleset. Aku tidak berhati-hati."


"Apakah ada yang sakit? Haruskah kita pergi ke rumah sakit?" tanya Morgan lagi.


"Tidak perlu, aku tidak apa-apa. Tidak terluka sama sekali," ucap Lyla lagi menerangkan.


Morgan menyalakan mobilnya dan meninggalkan kedai es krim tersebut, dia ingin melaju dengan cepat tapi sadar jika jalanan sedikit berbahaya di dalam hujan salju yang semakin deras.


"Kenapa tadi kau berlari keluar? Apakah kau melihat sesuatu?" tanya Lyla kepada Morgan.


"Tidak ada aku hanya salah melihat saja."


"Oh. Begitu rupanya. Aku pikir kau melihat sesuatu," ucap Lyla.


Mereka kini pulang dengan tanpa bicara sepatah kata pun. Lyla tidak tahan dengan kesunyian ini, tapi dia melirik Morgan dan melihat wajah itu tidak seperti biasanya, seakan dia melihat wajah Morgan yang dulu lagi, datar dan tanpa ekspresi.


Mobil yang mereka kendarai kini sampai di rumah. Morgan tidak banyak bicara, dia masuk ke rumah dengan tanpa bersemangat sama sekali.


Lyla yang melihat itu berjalan mengimbangi langkah kaki Morgan dan bertanya, "Tuan, apakah kau tidak apa-apa? Kau tampak tidak baik-baik saja."


"Aku akan beristirahat dulu. Bisakah kau hubungi Gerald untuk menyelesaikan pekerjaanku?" pinta Morgan.


"Oke, mana ponselmu, aku akan bantu hubungi dia untukmu," ucap Lyla seraya menadahkan tangannya meminta. Morgan menghentikan langkah kakinya dan menatap Lyla dengan heran.


"Kau hubungi dengan ponselmu."


"Aku tidak punya ponsel, Tuan," ucap wanita itu membuat Morgan tertegun.


"Aku tidak tahu di mana ponselku, tidak ada yang memberikannya padaku. Katanya sudah kau hancurkan, bukan?" ucap Lyla pelan dengan nada yang kesal.


Morgan mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Lyla. "Tolong hubungi dia. Aku akan beristirahat untuk hari ini," ucapnya, kemudian melangkah pergi dari tempat itu.


Lyla menjadi bingung karena dia tidak tahu kunci pada layar ponsel tersebut, sehingga lagi-lagi dia menyusul Morgan hingga ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Tuan."


Morgan yang hendak membuka pakaiannya berhenti sejenak saat melihat Lyla yang berhenti di depannya.


"Apa lagi?"


"Aku tidak tahu kode ponselmu, ini dikunci," ucap Lyla menyodorkan hp tersebut. Tanpa mengambilnya Morgan memberitahu Lyla bagaimana cara membuka ponsel tersebut.


"Sudah, kau hubungi dia, aku akan mandi dulu," ucap Morgan lalu pergi ke kamar mandi.


Lyla manggut-manggut saat ponsel itu kini sudah bisa dia operasikan.


"Oh, begitu rupanya. Eh?" Dia kini menjadi bingung.


Bukankah biasanya seseorang mengunci layar ponselnya karena sebuah privasi, agar jangan diketahui oleh yang lainnya? Kenapa dia memberitahuku kuncinya? batin Lyla. Dia sungguh bingung, tapi tak ambil pusing karena dia harus menghubungi Gerald untuk sekarang ini.


...*...


Dering telepon terdengar dengan sangat nyaring saat Gerald tengah memimpin rapat. Gerald melihat nama yang tertera di sana dan meminta izin kepada yang lainnya untuk mengangkat panggilan dari Morgan.


Di sudut ruangan pria itu mengangkat panggilannya setengah berbisik.


"Kemana saja kau? Kenapa lama sekali? Semua sudah menunggu di sini," ucap Gerald dengan kesal. Sedari tadi dia menghadapi banyak pertanyaan dari para direksi dan membuatnya pusing karena proyek yang baru saja mereka kerjakan.


"Tuan, ini aku, Lyla." Gerald bingung dengan suara yang dia dengar.


"Eh, kenapa kau yang menghubungiku? Kalian tidak sedang dalam masalah, kan?" tanya Gerald kini menjadi khawatir. Tidak biasanya Morgan membiarkan orang lain memegang ponselnya.


"Tidak ada. Kami baik-baik saja."


"Lalu, kemana Morgan?"


"Dia sedang mandi."


Gerald terkejut mendengar penuturan dari Lyla. "Sedang mandi? Apakah kalian ada di dalam kamar?"


"Iya, kami baru saja selesai dan dia sedang mandi sekarang ini. Dia merasa lelah setelah aktivitas kami barusan. Dia menyuruhku untuk menghubungimu dan berkata setelah ini akan beristirahat, tidak pergi ke kantor. Kau bisa membantunya, kan? Dia sangat kelelahan, aku kasihan kepadanya," ucap Lyla.

__ADS_1


Gerald menelan ludahnya dengan kasar. Sialan kau, Morgan. Di saat aku sedang sibuk dengan pekerjaanmu, rupanya kau sedang bersenang-senang dengan wanita!


"Tuan. Hanya itu yang aku ingin sampaikan. Aku sudahi dulu, ya. Bye!" pamit Lyla kemudian panggilan itu dimatikan olehnya. Gerald yang berdiri di tepi jendela menatap kesal ke arah lain, dia ingin pulang sekarang ini dan berbaring saja. Sedari pagi pikirannya sudah terganggu oleh ulah Lian dan sekarang Morgan.


__ADS_2