Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
206


__ADS_3

Alex bukan pemuda polos yang baru menemukan hal seperti ini. Berbagai wanita telah dia temui sepanjang usianya, tapi dia tidak pernah bermain-main dengan wanita apa lagi sampai menebar benih sembarangan. Cintanya kepada Theresia telah membuatnya menutup hati pada wanita lain. Apalagi ambisinya untuk menemukan sang kakak. Alex tidak memiliki waktu untuk bermain-main dengan wanita lain. Akan tetapi, kali ini dia dihadapkan dengan seorang wanita asing yang telah menjadi istrinya.


"Ah, sial!"


Alex sadar jika ada yang meronta di dalam celananya, rasanya sakit dan ngilu. Air dingin yang mengucur dari kran tidak serta merta membuatnya mereda. Lagi-lagi bayangan tubuh mulus Jane menari-nari di dalam kepalanya dan membuatnya memikirkan hal yang kotor.


"Akh," lenguh pria itu. Terpaksa sabun menjadi temannya malam ini dengan Jane yang menjadi fantasinya.


Alex telah selesai mandi, terpaksa dia memakai kembali celananya yang tadi. Tidak ada pakaian di dalam kamar itu, yang ada hanyalah lingerie super tipis dan seksi berbagai warna milik Jane.


Huh, pria tua itu benar-benar ingin kami telanj∆ng!


Alex menutup pintu lemari setelah mengambil selimut yang lain di sana. Dia mengambil tempat Jane di sofa dan tidur. Setelah mandi, pikiran dan tubuhnya sedikit dingin daripada yang tadi.


Tubuhnya yang besar tidak cukup untuk tidur di sofa itu, tapi Alex tidak ada pilihan lain. Dia takut khilaf jika tidur di ranjang yang sama dengan Jane.


Satu jam, Alex masih belum bisa memejamkan matanya. Tubuhnya bergerak ke sana kemari dan berguling untuk mencari posisi yang nyaman.


"Apakah aku harus tidur di lantai? Tidak. Lantai terlalu dingin untuk ditiduri." Alex menggelengkan kepalanya saat lagi-lagi pikiran kotor itu datang. Pikiran kotor tentang meniduri seseorang yang berada di dalam ruangan yang sama.


"Ah, aku tidak boleh memikirkannya. Menyingkir kalian dari sana!" Bayangan mesum itu dihempaskan Alex, kemudian dia menutupi tubuhnya dengan selimut dan berusaha tidur.


...***...


Sinar matahari pagi masuk ke celah-celah di jendela kaca. Hangatnya menyembur ke wajah Jane yang terlihat masih tidur dalam balutan kenyamanan. Berbeda dengan Alex, tidur dengan wajah yang berkerut. Tempat sempit telah membuatnya bermimpi buruk.


Jane terbangun saat cahaya itu menjadi panas. Dia terdiam melihat Alex yang tidur di sofa. Tampak tidak nyaman karena kaki pria itu yang melipat ke dalam.


"Eh, bukankah semalam aku yang tidur di sana?" gumam Jane masih mengingat soal semalam. Alex tidak ada, dan dia memilih tidur di sofa. Apa yang terjadi sebenarnya?


Perlahan, Jane bangkit dari ranjang dan berjalan berjinjit ke dekat Alex. Suara halus napas pria itu menandakan jika Alex sedang tertidur nyenyak, padahal baru dua jam saja dia bisa tidur karena saking lelahnya.


Diperhatikannya wajah Alex dengan seksama. Sangat tampan sekali daripada pria yang dia taksir dulu.


Tak sadar, Jane mengulurkan tangan, tapi dia tarik kembali. Hampir saja tangan itu mengelus hidung mancung Alex.


Ish, apa yang aku lakukan? Jane menepuk tangannya sendiri yang bisa saja membangunkan pria itu. Apa yang akan dia katakan jika ketahuan menyentuhnya tanpa izin?


Akan tetapi, Jane tidak juga pergi dari sana. Wajah lelap itu terlihat imut di mata Jane. Wajah tegas dan menakutkan yang selama ini dia lihat, tak ubahnya seperti anak kecil yang tengah kelelahan dengan napas halus dan dada yang naik turun.


"Ternyata dia tampan juga," gumam Jane tanpa sadar. Dia seakan tidak bisa mengalihkan tatapannya dari sana.


Tiba-tiba saja Alex membuka matanya dan melihat senyum Jane yang sangat dekat sekali. Sontak Jane menjadi terkejut saat itu, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak sehingga dia tidak bisa mundur. Tatapan mereka beradu. Dada Jane berdebar cukup kencang melihat sorot lembut dari mata Alex yang baru pertama kali dia lihat.


"Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau ingin melecehkanku?"


Sorot mata yang lembut itu hilang, berganti dengan tatapan tajam setajam pedang yang baru saja diasah. Barulah Jane bisa bergerak dan menegakkan tubuhnya. Pertanyaan Alex itu membuatnya sebal.


"Siapa yang akan melecehkanmu? Tentu saja tidak! Aku hanya ... hanya ingin menaikkan selimutmu saja!" tandas Jane beralasan.


Alex melihat selimutnya yang memang melorot.

__ADS_1


"Oh. Benarkah?" Alex bangkit, masih memeluk selimutnya. Kantuknya telah hilang melihat Jane tadi.


"Umm, ya. Aku hanya ingin menaikkan selimutmu saja. Tapi kau malah bangun tiba-tiba." Jane menjadi salah tingkah ditatap seperti itu oleh Alex.


Sinar matahari yang menyorot ke dalam kamar itu sangat lembut, sehingga membuat Alex tidak ingin mengalihkan tatapannya dari tubuh Jane yang menggiurkan. Terlihat seksi sekali dengan kemeja putih miliknya itu. Dada yang membusung, paha yang terlihat banyak ... Lagi-lagi membuat Alex sulit menelan salivanya.


Oh, Tuhan. Kuatkan imanku!


"Kau bisa menjauh dariku?"


"Hah?" Kening Jane mengerut mendengar pengusiran Alex. Dia menatap Alex seakan meminta penjelasan lebih. Namun, Alex malah bangun dan melemparkan selimut ke wajahnya.


"Tolong lain kali jangan berpakaian seperti ini di hadapanku."


"Memangnya kenapa?" tanya Jane setelah menyingkirkan selimut dari wajahnya. Rambut panjangnya dia singkirkan dengan tangannya.


Hal itu membuat Alex memandang wanita ini dengan cara lain.


Imut!


Pangkal hidung Alex terasa panas, apa lagi matanya nakal memandangi tonjolan di dada Jane. Rasa panas itu kian menjadi saat pikirannya kembali kurang ajar pada adegan dewasa yang tidak mungkin dia lakukan dengan wanita ini.


"Ah, Tuan. Kau berdarah."


Alex bingung saat Jane berseru.


"Tuan, hidungmu!"


"Kau mimisan, Tuan. Apa kau sakit?"


Jane mendorong Alex untuk duduk dan memintanya mendongakkan kepala. Tanpa menolak, Alex melakukan perintah istrinya. Jane segera mengambil tisu dan menyumpalkannya di hidung Alex serta membersihkan wajah Alex dari darah.


"Aduh, apa kau sedang sakit?"


Alex menggelengkan kepalanya.


"Lalu? Apa ini biasa terjadi?"


Alex juga menggeleng lagi.


"Kenapa bisa mimisan seperti ini?


Alex malah menjadi tidak tenang. Dada Jane terlihat jelas dan sangat dekat sekali dengan matanya sehingga sesuatu kembali bereaksi lagi seperti semalam.


"Sudah. Aku bisa melakukannya sendiri." Tangan Jane dia tepiskan, mengambil alih tisu dari Jane. "Maaf. Bukan bermaksud apa-apa, tapi aku tidak sengaja melihat dadamu dan aku adalah pria normal."


Jane terdiam dan menunduk, dia terkejut. Baru dia sadari jika kancing pakaiannya terlepas satu sehingga menampakkan buah dadanya yang hampir menyembul keluar.


"Ah. Maaf." Refleks Jane mengambil selimut yang tadi jatuh ke lantai dan membungkus tubuhnya. Jane menjadi salah tingkah, begitu juga dengan Alex.


"Lain kali, tolong pakai pakaian yang benar. Aku memang tidak ada rasa kepadamu, tapi aku takut khilaf."

__ADS_1


Wajah Jane memerah mendengar ucapan Alex. Ya, Alex memang seorang pria dewasa. Bisa saja dia terpancing dan tidak bisa menahan diri. Jane jadi berpikir tentang semalam. Jangan-jangan dia telah mengganggu Alex tanpa sadar!


"Baiklah, aku minta maaf. Lain kali aku akan berpakaian seperti biasanya. Kau tidak perlu khawatir, Tuan. Ini ... hanya karena aku tidak menemukan pakaianku saja."


Di dalam hati Jane merutuki kakeknya. Bisa-bisanya laki-laki tua itu tidak memberikan pakaian yang layak untuk dia pakai.


"Aku akan meminta kakek untuk membawakan pakaianku."


"Hem. Ya."


Mereka terdiam saling membelakangi.


"Apa kau sudah baik-baik saja?"


Alex mengambil tisu yang telah berubah warna merah. "Ya. Aku tidak apa."


"Kenapa kau bisa mimisan? Apa kau punya penyakit yang gawat?" tanya Jane penasaran, yang ada di dalam pemikirannya sekarang adalah Alex memiliki penyakit berat yang membuat dia mimisan, misalnya kanker? memikirkan hal itu, dia jadi ngeri. Kanker jahat yang menyerang otaknya dan Alex hanya memiliki waktu sebentar untuk menikmati hidupnya di dunia ini.


"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah memeriksakannya."


Jane menjadi yakin. biasanya orang yang sedang sakit enggan untuk pergi memeriksakan diri karena takut terlebih dahulu. Tiba-tiba saja Jane ragu untuk berpisah dari pria ini. Mungkin dia bisa membayar jasa Alex karena telah mempertemukan dirinya dengan sang kakek.


"Ah, Tuan Alex—"


"Panggil aku Alex saja. Akan aneh terdengar oleh orang lain jika istri memanggil suaminya dengan sebutan tuan."


"Benar juga. Tuan ... eh, Alex. Aku lapar, bagaimana denganmu? Apa kau lapar?" tanya Jane.


Alex akan berkata tidak, tapi perutnya sudah berbunyi duluan.


"Iya, aku lapar."


Jane berdiri masih dengan selimut yang membungkus tubuhnya.


"Aku akan meminta sarapan. Kau tunggulah di sini ya."


"Baik. Jane," panggil Alex saat Jane akan pergi.


"Ya?"


"Jangan buka selimutmu di hadapan orang lain."


"Kenapa?" tanya Jane bingung.


"Aku tidak ingin tubuhmu dilihat oleh para penjaga itu."


Jane tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Baik. Tentu saja tidak akan."


Dengan selimut yang terseret di lantai, Jane membuka pintu kamar dan menemukan banyak penjaga di depan kamar tersebut yang sedang bermain kartu, termasuk kakeknya.

__ADS_1


"Hai, cucuku. Kau sudah bangun rupanya! Bagaimana malam pertamamu?" Tuan Pierre langsung bangkit dari lantai dan bertopang pada tongkatnya. Senyumnya merekah riang dengan wajah yang terlihat bahagia.


__ADS_2