
"Biar aku yang akan urus." Gerald kemudian kembali ke lantai atas, sedangkan pelayan tersebut kembali ke dapur.
Pintu kamar dibuka, tapi terkunci dari dalam kamar. Gerald mengetuk pintunya beberapa kali membuat Lyla yang sedang melamun tersentak.
"Bisakah kita bicara?" tanya Gerald. Lyla tahu siapa yang berbicara di luaran sana. Bukan laki-laki itu.
"Bicara apa?" tanya Lyla dari dalam kamar.
"Hanya bicara biasa saja. Sebagai seorang teman," bujuk Gerald. Lyla terdiam sejenak, tapi tak urung dia berjalan ke arah pintu dan menunggu Gerald berbicara lagi.
"Aku mendengarkan," ucap Lyla dari balik pintu kamarnya. Gerald mengembuskan napasnya, sedikit lelah dengan sikap gadis ini. Keras kepala sekali.
"Aku hanya ingin bilang, setidaknya jika kau marah pada satu orang saja. Jangan membuat yang lain ikut khawatir dengan perilakumu! Apa kau tau, seseorang telah bersedih karena kau tak menghabiskan makanan yang telah susah payah dia buat?" ucap Gerald akhirnya.
"Terserah jika kau tidak mau makan, tapi jangan kau pikir dengan hal itu akan membuat tuan muda bisa melepaskanmu dengan mudah," ucap Gerald lalu pergi dari depan ruangan itu. Sudah cukup apa yang dia katakan, Lyla juga pastinya mengerti apa yang dimaksud.
Lyla hanya mendengar suara langkah kaki yang mulai menjauh. Dia tidak beranjak dari sana, sampai beberapa saat.
...***...
Di sebuah perusahaan yang besar, Morgan tengah duduk sambil melamun menatap ke arah jendela besar. Banyaknya pekerjaan yang ada tidak membuat dia bangun dari lamunannya. Langit yang mendung, dengan beberapa burung terlihat terbang di atas sana, tanpa peduli jika bisa saja petir menyambar dan membuat mereka mati sekalipun.
Pintu terbuka, Gerald masuk ke dalam ruangan itu dan menyimpan berkas di atas meja.
__ADS_1
"Anda masih melamun?" tanya Gerald kesal, yang dia lihat sedari kemarin dari laki-laki ini hanya melamun dan juga melamun saja.
Helaan napas kasar terdengar dari mulut Morgan. "Siapa yang melamun? Aku hanya sedang berpikir sesuatu," ucap Morgan mengelak. Gerald hanya mendecih sebal mendengarnya.
"Maaf, Tuan Muda. Tapi, aku tidak akan mengizinkanmu untuk terus meratapi masa lalu. Tidak bisakah Anda berpikir ke depannya nanti? Pekerjaan sangat banyak sekali, Anda tidak bisa hanya berdiam diri seperti ini terus," ucap Gerald akhirnya.
Morgan melirik Gerald tak suka, laki-laki pendiam ini akan berubah menjadi cerewet jika sudha seperti ini.
"Iya, iya. Jangan berisik. Aku akan kembali bekerja," ucap Morgan mengalah, lalu mengambil pekerjaannya dan memulai untuk membaca apa yang harus dia selesaikan untuk hari ini.
"Em ... Tuan. Sepertinya Anda harus berbicara dengan Nona Lyla. Dia terus mengurung dirinya di kamar dan tidak menghabiskan makanannya," ucap Gerald memberanikan diri.
"Untuk apa? Biarkan saja wanita keras kepala seperti dia kelaparan. Yang terpenting aku sudah berusaha untuk bertanggung jawab sampai dia sembuh. Jika dia sembuh berikan uang yang banyak untuknya sebagai ganti rugi apa yang telah terjadi sebelum ini," ucap Morgan dengan angkuhnya. Gerald sudah letih untuk berbicara dan berusaha membuat laki-laki ini mengerti, dia hanya bisa menarik napas dan menghelanya dengan kasar.
"Jika ada yang Anda butuhkan, aku akan ada di ruanganku," ucap Gerald, lalu menyingkir dari hadapan Morgan untuk kembali bekerja. Lelah rasanya dia berada di sisi Morgan. Akan tetapi, janji yang telah dia ucapkan kepada mendiang Tuan Castanov masih harus dia selesaikan. Setidaknya hingga Morgan menemukan wanita yang bisa membuat laki-laki itu tersenyum kembali.
Di dalam ruangannya Morgan berusaha untuk kembali bekerja. Akan tetapi, dia tidak bisa berfikir lagi. Namun, kali ini bukan memikirkan Renee, tapi wanita yang lain.
"Argh. Sial!" rutuknya kesal. Morgan sampai menggebrak meja karena kesal, jelas perkataan Gerald tadi telah mengganggu konsentrasinya.
...***...
Semenjak kepergian Gerald tadi, Lyla menjadi berpikir, apakah dia sudah keterlaluan dengan apa yang dia lakukan? Dia hanya ingin tenang dan juga menghindar, bisa saja orang jahat itu berbuat sesuka hatinya lagi, apalagi ini adalah rumahnya sendiri.
__ADS_1
Lyla kini berdiri di depan jendela, memperhatikan seorang gadis kecil yang tengah menyapu halaman. Dia yang katanya ingin meminta bantuan, tapi tidak kembali lagi.
Apakah dia juga kecewa? batin Lyla. Tiba-tiba saja dia merasa sedih, dia ingat dengan ibu pantinya yang juga akan berwajah sedih jika ada anak panti yang tidak memakan masakannya.
Lyla iri dengan gadis itu, tampak ceria sehingga menyapu dengan berbagai gaya, tampak riang sekali dan lincah gerakan kakinya yang melompat dan menari-nari lucu. Sesekali menggenggam gagang sapu yang ujungnya dia dekatkan pada mulut seakan dia tengah menjadikannya sebagai mic. Untuk kali pertama setelah beberapa hari, dia tersenyum.
Tok-tok-tok.
Suara sebuah ketukan di pintu terdengar nyaring, lanjut terdengar suara seseorang dari luar sana.
"Apakah aku boleh masuk?" tanya seorang wanita dari luar kamar Lyla. Lyla hapal suara itu meski baru dua kali bertemu. Meski enggan, tapi tak urung Lyla buka juga pintu yang terkunci itu.
"Hai, apa kabarmu hari ini?" tanya wanita tersebut dengan senyuman ramah di bibirnya. Lyla tidak menjawab, masih sangat enggan untuk berbicara pada semua orang. Dokter tersebut menyimpan sebuah paper bag di atas nakas dan duduk di samping Lyla di tepi kasur. Melihat banyak sisa obat yang ada di atas nakas membuat dokter tersebut menarik napasnya kasar. Gadis ini sepertinya tidak ingin sembuh sama sekali!
"Aku belikan kau sesuatu. Ingat dengan putri kecilku, jadi aku beli dua. Satu untukmu," ucap dokter tersebut sambil tersenyum kecil dan menepuk lengan Lyla dengan pelan.
Lyla hanya melirik dengan ujung mata, tidak ada niatan sama sekali untuk membuka paper bag tersebut dan melihat isi yang ada di dalamnya. Dia hanya pasrah saat dokter mulai memeriksa dan mengganti perban di tangannya.
"Nona, apa kau tidak ingin cepat sembuh? Bukankah Dokter Edward sudah menyuruhmu untuk memakan habis obatmu?" tanya Dokter tersebut dengan santai sambil membalut kembali luka bekas operasi di pergelangan tangan Lyla dengan perban.
"Apa kau yakin untuk tinggal lebih lama di sini?" Lyla terdiam mendengar ucapan sang dokter.
Tentu saja dia tidak ingin!
__ADS_1
Dokter telah selesai dengan pekerjaannya, dia berdiri dan merapikan semua alat yang telah dia keluarkan ke dalam tasnya kembali.
"Untuk selanjutnya, aku akan datang tiga hari lagi, pastikan kau menghabiskan obatmu dan sedikit demi sedikit mulai lah belajar untuk menggerakkan jarimu. Otot tanganmu hampir putus dan membuat gerakan tanganmu melemah. Kau tidak ingin seumur hidup tidak bisa menggunakan tangan kirimu, kan?" ucap sang dokter dengan tenang, tapi diam-diam melirik ke arah raut wajah Lyla yang berubah muram.