
Malam ini Morgan telah siap dengan pakaian santainya, dia akan menjemput Margareth setelah ini.
"Sempurna," ucapnya sambil tersenyum menatap dirinya di cermin. Tak lupa dengan rambutnya yang dia acak hingga berantakan, tapi masih terlihat menarik untuk seorang Morgan Castanov.
"Apakah dia akan terpesona denganku?" tanya laki-laki itu menatap kagum akan dirinya sendiri.
"Ya, dia akan terpesona."
Morgan bersiap untuk pergi, turun dengan langkah yang riang ke lantai bawah. Gerald ada di ruang tengah, sedang sibuk dengan laptopnya, terheran saat melihat laki-laki itu yang tampak sumringah.
"Ckckck, apa aku harus memukul kepalanya agar dia kembali menjadi Frozen Man? Dia memang menyebalkan, tapi sekarang ini semakin menyebalkan," ujar Gerald kembali menatap laptopnya.
Gerald tengah fokus dengan pekerjaannya. "Sshttt. Hei, Gerald!" panggil Morgan membuat Gerald mengalihkan tatapan dari laptop di pangkuannya.
"Hem? Kau belum pergi? Aku kira kau sudah terbang menuju rumah wanita ulat itu," ucap Gerald sinis. Morgan mendekat ke arah Gerald, berjalan dengan gaya bak seorang model peraga busana.
"Bagaimana penampilanku? Apa sudah bagus?" tanya Morgan sambil berputar ala Michael Jackson. Gerald memutar bola matanya malas.
"Kau mengerikan," jawab Gerald sambil bergidik ngeri.
Ya, benar. Besok aku harus membawa dia ke tempat reparasi manusia untuk memperbaiki otaknya. Jika bisa, aku yang akan memegang palu besar untuk memukul kepalanya, gumam Gerald di dalam hati.
"Terima kasih, Sayang. Jawabanmu sangat memuaskan!" ucap Morgan kemudian pergi dengan langkah yang riang bak anak kecil yang akan menjemput mainannya.
"Astaga! Dia sudah gila. Aku harus segera membawa Lyla kembali ke rumah ini," gumam Gerald menatap Morgan hingga laki-laki itu menghilang di balik pintu.
...***...
Suara bel terdengar dengan nyaring di pintu, Margareth yang berada di kamarnya mendengar, tersenyum senang. Morgan sudah mengiriminya pesan jika dia sudah tadi berangkat dari kediamannya. Cepat wanita itu memakai antingnya dan juga high heels sambil berjalan, hampir saja dia terjatuh karena apa yang dia lakukan. Tak sabar ingin bertemu dengan Morgan malam ini.
__ADS_1
"Aku datang!" teriak wanita itu sambil berlari menuruni anak tangga. Fredy yang ada di lantai bawah menatap heran pada adiknya.
"Mau kemana kau?" tanya sang kakak mengabaikan panggilan telepon dari kekasihnya.
"Morgan akan mengajakku makan malam!" seru Margareth tak menghentikan laju langkah kakinya. Fredy mengerutkan keningnya, sedang berpikir jika tidak biasanya Morgan mengajak adiknya untuk pergi ke luar. Margareth sudah menghilang dari pandangannya dengan cepat.
Pintu besar itu dia buka, Margareth tersenyum dengan sangat lebar melihat Morgan yang sangat tampan, tidak biasanya dia melihat Morgan yang berpakaian santai seperti itu. Dia terheran karena baru kali ini melihat Morgan tanpa mengenakan jas.
Ah, mungkin dia ingin hal yang berbeda.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Morgan saat Margareth tidak juga berkedip menatapnya. Margareth menggelengkan kepala.
"Ah, tidak apa-apa. Kau sangat tampan dan sangat berbeda," ucap Margareth.
"Benarkah? Apa ini buruk?" tanya Morgan sekali lagi menatap pakaiannya yang hanya mengenakan celana jeans biru dan kemeja yang dia gulung hingga sampai ke siku.
"Tidak, kau tidak pernah buruk di mataku. Kau selalu tampan dan aku rasa gaya seperti ini juga sangat cocok denganmu. Apa pun yang kau pakai, aku suka," ucap Margareth menimbulkan senyuman di bibir Morgan.
Margareth tersipu malu mendengar pujian dari Morgan, hal yang dulu sangat tidak pernah dilakukan oleh pria ini.
"Ayo kita berangkat, aku menyetir sendiri," ucap Morgan lalu mengulurkan tangannya untuk Margareth. Margareth memegang erat tangan Morgan dengan senang dan mengikuti langkah kakinya dengan hati-hati, gaun yang dia pakai diangkat sedikit agar tidak menghalangi jalannya.
Perjalanan mereka tempuh tanpa berbicara sepatah kata pun, Margareth sangat canggung sekali dengan adanya Morgan di sisinya, jantungnya berdegup dengan sangat kencang berada di samping laki-laki yang sedari dulu sangat dia sukai.
Kemana dia akan membawaku pergi? Apakah dia akan membawaku ke tempat kesukaanku? gumam Margareth di dalam hatinya. Sementara Morgan menyetir dengan santai dan fokus pada jalanan yang ada di depannya.
"Kenapa kau hanya diam saja?" tanya Morgan melirik pada Margareth.
"Eh, tidak apa-apa. Aku hanya sedang senang saja bisa pergi malam ini denganmu."
__ADS_1
"Oh, ternyata begitu. Aku pikir kau tidak berbicara karena sariawan, haha."
Entah kenapa Margareth lebih suka dengan Morgan yang sekarang, bahkan Morgan yang dulu juga tidak seperti ini. Masih bisa dia nilai sebagai laki-laki yang dingin, tapi kali ini Margareth ingin selalu melihat Morgan yang ceria seperti ini.
Mobil mulai melaju dengan kecepatan yang sedang, kemudian berhenti di tepi jalanan membuat Margareth kebingungan. Tidak ada restoran Jepang kesukaannya, atau restoran bintang lima yang dia bayangkan.
"Morgan, di mana kita? Apa yang kita lakukan di sini?" tanya Margareth saat melihat Morgan yang tengah melepas seat belt-nya.
"Kita akan makan di sini."
"Hah? Di-di sini?" tanya Margareth tidak percaya. Ini hanyalah kedai biasa yang sangat kecil, bahkan mungkin tidak akan cukup untuk dua puluh orang di dalam sana.
"Iya. Di sini. Sedari kemarin aku melihat tempat ini sangat ramai di siang hari, orang-orang menyebut mie yang dibuat di sini sangat enak. Aku jadi ingin mencicipinya," ucap Morgan.
Margareth tiba-tiba menjadi tidak bersemangat, bayangan Morgan akan membawanya ke restoran ternama dan terkenal dengan suasana yang romantis kini hilang sudah dari kepalanya. Menyesal rasanya dia sudah susah payah membeli gaun indah dengan harga yang mahal dan juga pergi ke salon terkenal demi acara malam ini.
"Apa kau keberatan?" tanya Morgan mengalihkan tatapan Margareth atas kedai mie yang sangat tidak etis menurutnya.
"Eh, tidak. Aku tidak keberatan," ucap Margareth dengan cepat seraya menggelengkan kepalanya.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Aku senang jika kau mau bersama denganku makan di sana. Sebenarnya aku sudah cukup lama ingin pergi ke tempat ini, tapi tidak ada teman untuk pergi. Ayo!" Morgan lebih dulu turun dari mobil, sementara Margareth berdecak kesal di dalam sana.
"Ah, sial! Seharusnya aku tidak terlalu berharap banyak!" gumam Margareth kesal.
Satu hal yang membuat Margareth ingin menangis sekarang adalah tatapan dari para pengunjung yang ada di sana saat dia baru saja beberapa langkah masuk ke dalam tempat itu. Ya bagaimana tidak? Hanya dia sendiri yang memakai gaun indah hanya untuk duduk dan menikmati makanan yang tidak enak sama sekali.
Seorang pelayan datang mendekat pada Morgan dan Margareth, bertanya pesanan mereka.
"Aku dengar ada mie yang sangat enak di sini. Aku pesan satu. Kau mau apa, Margie?" tanya Morgan.
__ADS_1
"Apa saja. Aku tidak memilih makanan," ucap wanita itu. Morgan tersenyum dan melakukan pemesanan untuk mereka berdua.