Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
9. Ciuman Panas


__ADS_3

"Aku mencintaimu," ucap Margareth sambil menumpukan tubuhnya pada ujung kaki. Dia kembali mendekatkan diri dan mencium lembut bibir Morgan. Tidak ada lagi kata malu yang ada pada dirinya. Morgan adalah laki-laki yang diinginkannya selama ini, dan dia ingin mendapatkan laki-laki ini untuk menjadi suaminya.


Morgan hanya diam menerima perlakuan lembut dari Margareth. Dia tidak bereaksi apa-apa. Hanya merasakan bibirnya yang hangat atas perlakuan wanita itu, sedangkan Margareth masih saja berusaha untuk menaklukkan laki-laki itu.


"Hentikan!" Tiba-tiba saja Morgan mendorong Margareth ke belakang, membuat dia mendapatkan tatapan heran dari Margareth. "Jangan lakukan itu lagi."


"Kenapa?" tanya Margareth dengan nada yang bingung laki-laki ini padahal Morgan tadi diam saja dan menikmati ciumannya.


"Ini sudah malam. Aku antar kau pulang." Hanya itu jawaban Morgan yang membuat Margareth ingin melayangkan protes. Akan tetapi, dia sadar jika melakukan hal itu hanya akan membuat Morgan tidak lagi menganggapnya.


"Baiklah," jawab Margaret sambil berjalan mendahului Morgan. Meski rasanya sangat kesal sekali dan juga kecewa karena laki-laki itu tadi menolaknya, tapi dia harus bersabar karena tidak mudah untuk mendekati tuan muda dari keluarga Castanov ini.


Morgan membukakan pintu mobil untuk Margaret, segera wanita itu duduk dan memasang sabuk pengamannya. Dia memperhatikan sosok organ yang kini tengah berjalan memutar ke arah yang lain.


"Soal yang tadi aku mau minta maaf," ucap Margareth saat Morgan telah duduk di kursinya.


Pria itu mengalihkan tatapannya kepada Margareth. "Tidak apa-apa. Aku juga tidak terlalu menganggapnya," ucap laki-laki itu.


Ada sedikit rasa kesal di dalam hati Margareth mendengar Morgan berkata seperti itu, tapi dia hanya bisa sabar dan juga pasrah. Morgan memang bukan laki-laki yang mudah untuk didekati dan hal itu lah yang membuatnya tertantang untuk mendapatkan perhatian dari laki-laki itu.

__ADS_1


Kendaraan kini mulai melaju di jalanan yang mulai sepi. Tentu saja karena malam sudah beranjak sangat larut sekali sehingga kebanyakan orang memilih untuk berkutat di dalam selimutnya yang hangat. Musim dingin sebentar lagi akan datang, udara mulai berubah dan membuat orang lain malas untuk keluar rumah, tetapi tidak dengan dua orang muda ini. Mereka berdua kini berjalan menuju ke tempat kediaman Margareth.


Margareth melirik ke arah Morgan, tampak pria itu sangat tampan jika diperhatikan dari samping seperti itu. Semakin bertambah rasa kagum Margareth padanya.


"Apa ada yang salah?" tanya Morgan sadar dengan tatapan Margareth.


"Tidak. Tidak ada yang salah. Hanya saja kau terlalu tampan untuk aku lewatkan." Margareth menutup mulutnya, terlalu lancang dia berbicara seperti itu terhadap teman kakaknya ini.


Bukannya marah, Morgan malah tertawa kecil. "Aku memang sedari dulu tampan. Apa kau baru sadari itu?" tanya Morgan cuek.


"Aku sangat sadar sedari dulu. Kau tahu, jujur saja aku sudah menyukaimu semenjak lama. Aku ...." Margareth terdiam, mengalihkan tatapannya ke arah lain, tapi dua detik kemudian apa yang dia lakukan membuat Morgan menghentikan laju mobilnya mendadak.


Margareth tiba-tiba saja melompat ke atas pangkuan Morgan dan menciumnya kembali. Bahkan dia tidak peduli jika mobil yang mereka tumpangi menabrak kendaraan lainnya.


Morgan terkejut dengan apa yang dilakukan gadis kecil ini terhadapnya, terlalu berani sampai-sampai dia tidak peduli di mana kini mereka berada. Beruntung jalanan telah sepi sehingga tak ada kendaraan yang melintas di dekat mereka.


Morgan mendorong bahu Margareth, membuat wanita itu kecewa.


"Apa yang kau lakukan, Gadis Kecil? Kau tahu ini bahaya? Kita bisa kecelakaan dan aku juga bisa menerkammu dengan beringas," ucap Morgan sambil tertawa menyeringai. Margareth menatap Morgan dengan tatapan menantang.

__ADS_1


"Aku tidak peduli. Jika memang itu bisa membuat kita bersama, aku akan pasrah," ucap Margareth, lalu kembali melakukan apa yang tadi tertunda.


Ciuman lembut wanita itu berikan di bibir Morgan, bahkan kini dengan berani menjulurkan lidahnya dan merangsek ke dalam mulut laki-laki itu, satu tangannya melingkar ke belakang leher Morgan dan satu tangan yang lain bergerak membuka kancing dan masuk ke dalam pakaiannya. Mencari sesuatu yang kemudian sedikit mengeras di saat Margareth mengusap dadanya dan memainkan tojolan tersebut dengan lembut.


"Ah ...." Bukan rintih kesakitan, tapi merupakan sebuah des*han yang keluar dari bibir laki-laki itu.


Morgan terbuai dengan apa yang Margareth lakukan terhadapnya, gadis kecil yang dulu cengeng kini berubah menjadi seorang gadis yang ternyata pintar merayu.


Dari mulut, turun ke leher. Ciuman Margareth membuat sesuatu yang ada pada tubuh Morgan kini hampir sulit untuk dikendalikan. Terlalu menikmati perlakuan itu sehingga Morgan menyerah dan membiarkan Margareth melakukan apa yang ingin wanita itu lakukan.


Margareth tersenyum di antara kegiatannya, mendengar suara dari laki-laki itu bagai menjadi candu dan penyemangat agar dirinya lebih baik dan baik lagi dalam memuaskan laki-laki itu.


Beberapa kancing pakaiannya telah terbuka, membuat Margareth leluasa melakukan apa yang dia mau, apa lagi Morgan tidak menolaknya sama sekali. Beberapa warna merah telah tercipta di dada putih laki-laki itu.


Morgan sudah tidak tahan lagi, apa yang Margareth lakukan adalah hal yang membuatnya menjadi seekor singa yang kelaparan, apa lagi saat percintaannya tadi dengan wanita malam itu sama sekali tidak membuatnya terpuaskan. Margareth dia tarik dan dia dorong ke kursinya, menindih wanita itu sehingga ada di bawah tubuh kekar Morgan dengan otot yang seksi. Suara napas berat Margareth terdengar sangat jelas terasa pada wajah Morgan.


"Kau membuat aku menjadi lapar," ucap Morgan menatap Margareth dengan penuh minat. Begitu juga Margareth yang menatap Morgan tanpa takut sama sekali.


"Kalau begitu lakukan!"

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa dukungannya ya, like, vote, dan hadiah 🤭


__ADS_2