Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
115. Apa Yang Hilang?


__ADS_3

Sementara itu di rumah sakit Morgan masih berada di dalam masa pemulihan. Dia harus benar-benar beristirahat agar tubuhnya kembali sehat lagi seperti sedia kala.


Beberapa hari di rumah sakit Morgan sudah bisa duduk dan juga makan sendiri. Pemulihannya terhitung cepat menurut para dokter yang tengah menanganinya. Selvi dan Gerald yang sering menjenguk dan juga menunggunya di luar dari jam kerja mereka yang sangat padat. Begitulah mereka merawat Morgan hanya berdua karena anggota keluarga yang lain tidak tulus untuk menjenguk keponakannya itu. Mereka hanya datang dan melakukan penawaran ini dan itu sehingga membuat Selvi khawatir kepada keadaan keponakannya itu.


Morgan termenung menatap langit-langit kamarnya. Dia merasa bosan beberapa hari ini hanya diam di kamar saja, inginnya dia pergi keluar untuk mencari suasana yang lain.


"Kau kenapa?" tanya Selvi menatap Morgan yang sedari tadi hanya diam saja dan terdengar helaan nafasnya yang cukup kasar. Selvi mengenyahkan berkas-berkas dari pangkuannya dan menyimpannya ke atas nakas. Selain dia mengurusi soal rumah sakit dia juga ikut turun tangan dengan perusahaan dan harus menggantikan Morgan karena dia tidak mungkin untuk melimpahkan semua pekerjaannya kepada Gerald.


"Aku hanya bosan setiap hari hanya tinggal di kamar ini. Tante bisakah kau membawaku untuk jalan-jalan keluar?" tanya Morgan kepada Selvi.


"Tentu saja aku bisa membawamu. Kita ke taman saja bagaimana?" tanya wanita itu yang sudah tidak muda lagi.


"Terserah kau saja yang terpenting aku bisa keluar dari kamar ini," ucap Morgan. Selvi tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dia kemudian mengambil kursi roda yang ada di sudut ruangan tersebut dan membantu Morgan untuk beralih dari brankar ke kursi roda tersebut.


"Hati-hati," ucap wanita itu.


Selvi membawa Morgan pergi ke luar ruangan setelah dia juga memberitahu dokter yang menangani keponakannya.


"Bagaimana? Apa kau merasa senang?" tanya wanita tersebut kepada Morgan.


"Iya tidak buruk juga ada di sini. Terima kasih karena kau sudah membawaku kemari," ucap Morgan membuat Selvi terdiam dengan perkataan keponakannya itu. Dia tidak menyangka dengan ucapan terima kasih yang dia sebutkan. Betapa Lyla sudah membawa pengaruh yang baik kepada Morgan.


Morgan kini hanya diam duduk di atas kursi rodanya menghadap pada sekelompok orang yang tengah bermain-main di tengah lapangan. Mereka terlihat sangat bahagia sekali bersama dengan keluarga besarnya mungkin. Setidaknya itulah yang dia lihat di sana ada beberapa orang dewasa dan juga ada beberapa anak kecil, mereka tertawa dan bersenang-senang membuat si yang sakit tertawa dengan bahagia.


"Apakah kita tidak mempunyai keluarga yang bahagia seperti itu?" celetuk Morgan tiba-tiba membuat Selvi yang tengah sibuk dengan laptopnya mengangkat kepala dan menatap keponakannya tersebut.


"Jangan mengharapkan hal yang seperti itu Morgan. Kau tahu jika keluarga kita sedikit sulit untuk melakukan hal-hal menyenangkan bersama, kecuali jika mereka ingin menjatuhkan seseorang barulah mereka akan bekerjasama dan bersenang-senang," ucap Selvi yang merasa malas menyebutkan saudara-saudaranya tersebut.


Morgan menghela nafasnya dengan sedikit kasar. "Kenapa kita tidak memiliki keluarga yang menyenangkan seperti mereka?" gumam laki-laki itu.


"Entahlah, jangan tanyakan itu padaku aku juga tidak paham dengan mereka," ucap Selvi menghindari pertanyaan dari keponakannya tersebut. Morgan kini benar-benar menutup mulutnya karena ucapan dari Selvi barusan.


"Tapi aku pikir mereka adalah orang-orang yang baik."

__ADS_1


"Siapa?" tanya Selvi seraya mengerutkan keningnya.


"Keluarga kita."


"Kau kehilangan ingatan, jika kau mengingat semuanya aku yakin kau akan membenci mereka atas apa yang telah mereka lakukan terhadap kita."


"Benarkah? Apa yang telah mereka lakukan?" tanya Morgan ingin tahu.


"Kau janji tidak akan marah aku menceritakannya?"


"Tentu saja aku tidak akan marah."


Selvi terdiam. Dia tampak ragu untuk menceritakan keluarga mereka tersebut.


"Jangan khawatir dengan sakitku, aku yakin bisa hidup sampai sekarang ini karena aku adalah laki-laki yang kuat," ujar Morgan.


Akhirnya Selvi menceritakan apa yang terjadi dengan keluarga mereka. Bagaimana bisa mereka terpecah belah hanya karena urusan harta saja. Mereka menginginkan kedudukan yang tinggi dengan cara yang instan. Termasuk dengan kecelakaan kedua orang tua Morgan.


Morgan mengepalkan tangannya merasa marah dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Selvi.


"Iya, kau bisa mencari tahu catatan mereka di kepolisian dan apa saja kasus yang mereka lakukan dulu. Mereka sudah aku laporkan ke polisi dan juga sudah dijebloskan ke penjara, tapi tidak ada yang bertahan lama di tempat terkutuk itu. Mereka malah membuat dosa mereka bertambah banyak dengan kejahatan-kejahatan lain yang mereka lakukan. Jangan sampai kau terlena dengan ucapan mereka yang sangat manis." Selvi berbicara panjang lebar, dia hanya ingin membuat Morgan waspada saja dengan saudara-saudaranya itu.


Selvi hendak berbicara lagi, tapi sebuah panggilan datang ke dalam hp-nya. Dia segera mengangkat panggilan tersebut yang ternyata memang mengharuskannya untuk pergi ke ruangannya.


"Ayo kita kembali ke dalam ruangan mu. Aku harus kembali bekerja," ucap wanita itu. Akan tetapi, Morgan menolaknya. Dia masih ingin berada di sini.


"Aku khawatir jika kau sendirian saja."


"Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja di sini. Jika kau memang masih ada pekerjaan maka kembalilah ke ruanganmu," ucap Morgan. Selvi akhirnya pergi ke ruangannya sementara Morgan masih tinggal di taman tersebut.


Morgan termenung memikirkan apa yang terjadi kepada dirinya. Dia tidak mengingat apapun selain saat bangun kemarin di atas tempat tidur. Dia sedikit merasa kesal karena tidak mengingat apapun sebelum itu.


"Apa benar aku hanya kecelakaan saja?" gumam Morgan. itu yang dikatakan oleh Selvi dan juga Gerald kepadanya kemarin, tapi kenapa rasa-rasanya dia tidak percaya dengan ucapan dua orang itu. Rasanya ada yang aneh yang terjadi kepada dirinya.

__ADS_1


Morgan sudah merasa cukup berada di taman dia memanggil seorang perawat yang kebetulan saja melewati tempat itu.


"Bisakah kau tolong aku untuk kembali ke dalam kamar?" tanya Morgan kepada wanita itu dan segera diangguki olehnya. Dia membawa Morgan kembali ke kamarnya.


"Tolong berhati-hati," ucap perawat tersebut membantu menaikkan Morgan ke atas brankar.


Morgan ingat dengan perawat tersebut yang kemarin membantunya. Dia memanggil wanita itu dan bertanya kepadanya.


"Suster apa luka tusukan yang ada di perutku sudah sembuh?" tanya Morgan kepada wanita itu.


"Ya tentu saja Tuan, luka yang ada di perut anda sudah akan sembuh sebentar lagi. Hanya tinggal tunggu kering dan anda sudah bisa melakukan kegiatan seperti biasanya," ucap perawat tersebut.


"Oh ya aku ingin tahu, apakah luka tusukan di perut ini sangat dalam? Apa organ dalam ku terkena juga?" tanya Morgan sekali lagi.


"Tidak terlalu dalam Tuan, tusukan itu tidak sampai mengenai hati. Anda beruntung karena masih selamat dari peristiwa penusukan itu. Anda seperti kucing yang memiliki nyawa 9," ucap wanita itu kemudian pamit pergi dari hadapan Morgan.


Morgan sedikit kecewa dengan pernyataan wanita barusan, tapi bukan kepadanya dia kecewa melainkan kepada Selvi dan juga Gerald. Mereka hanya mengatakan jika dirinya hanya kecelakaan saja, tapi beberapa hari yang lalu perawat tersebut mengatakan jika luka tusukan yang ada di perutnya sudah hampir mengering. Jadi siapa yang bisa dia percayai?


Beberapa hari berlalu akhirnya Morgan diizinkan untuk pulang. Ada perasaan senang di dalam hatinya karena dia sudah tidak harus lagi berada di rumah sakit, tapi ada juga rasa yang aneh yang menyelusup ke dalam hatinya. Morgan mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat yang bisa dijangkau oleh pandangannya. Dia masih merasa asing dengan rumah ini dan juga dengan orang-orang yang menyambutnya setelah masuk ke dalam rumah itu. Para pelayan berjajar dengan sangat rapi dan menundukkan kepalanya saat dia masuk ke dalam rumah.


"Selamat datang ke rumah, Tuan. Selamat kembali," ucap semua orang dengan serentak.


Morgan tidak menjawab hanya melangkahkan kakinya masuk lebih dalam lagi ke sana. Dia berjalan seraya memperhatikan satu persatu pelayan yang ada di rumah tersebut. Salah satunya adalah Lian, pelayan yang paling muda yang ada di rumah ini.


"Berapa usiamu? Kenapa kau sudah bekerja di rumah ini?" tanya laki-laki itu kepada Lian.


"Usiaku delapan belas tahun. Aku di sini karena ibuku adalah kepala pelayan di rumah ini," ucap anak itu sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap Morgan karena takut jika dia akan dimarahi lagi seperti biasanya. Akan tetapi, ternyata dia tidak mendapatkan kemarahan Morgan seperti biasa. Laki-laki itu berjalan sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Apakah di sini ada pelayan yang lain lagi?" tanya Morgan kepada mereka.masih mengedarkan pandangannya ke arah lain.


"Tidak ada, Tuan. Tidak ada orang lain lagi selain kami di sini," ucap ibu Lian maju sartu langkah. Semua yang ada di sana saling berpandangan satu sama lain. Sudah pasti yang Morgan maksud adalah Lyla. Memang jika dihitung dengan Lyla, mereka kekurangan satu orang lagi.


"Oh, aku pikir masih ada satu orang yang tidak ada."

__ADS_1


Morgan tidak banyak bicara, dia kemudian pergi ke kamarnya. Dia berjalan dengan tanpa ragu sama sekali, karena tidak semua ingatannya menghilang dari dalam kepala. Hanya beberapa momen yang dia lupakan.


"Kenapa aku masih merasa ada yang hilang di sini?" ujar laki-laki itu.


__ADS_2