Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
171. Cerita Masa Lalu


__ADS_3

"Lyla!!!" teriak Morgan kencang. Suaranya terdengar hingga ke luar dari ruangan tersebut sehingga Robinson berlari menuju ke kamar itu.


"Tolong jangan pergi, aku mohon." Morgan menepuk pipi Lyla. Akan tetapi, wanita itu tidak lantas membuka matanya.


"Cepat bawa dia ke rumah sakit!" seru Robinson.


Morgan menggendong Lyla di depan dan berlari dengan kencang ke arah helikopter berada. Robinson membukakan pintu tersebut dan ikut masuk ke dalamnya. Sementara itu Gerald melihat Morgan yang berlari dari kejauhan dan segera helikopter itu terbang pergi dari sana. Dia hanya menatap helikopter itu hingga kemudian pergi menjauh.


"Awas!"


Suara sebuah tembakan membuat Gerald menolehkan kepalanya, seketika seseorang yang ada di hadapannya ambruk ke lantai dan kemudian tampak genangan darah yang merah membasah di bawahnya.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya pemuda tangan kanan Robinson.


"Aku tidak apa. Ratakan tempat ini!"


Dia hanya mengangguk dan memberi perintah kepada yang lainnya, kemudian pertumpahan darah masih terus berlanjut tanpa mengenal ampun.


Sementara itu di dalam helikopter yang sedang mengudara, Morgan menggenggam tangan Lyla dengan erat. Dia menangis dan sangat ketakutan sekali akan keadaan Lyla.

__ADS_1


"Sayang, bangunlah. Aku mohon!"


Robinson melihat pemandangan yang membuatnya teringat akan masa lalu, tapi kejadian ini bukanlah kenangan dirinya, tapi dia sedang mengingat peristiwa puluhan tahun yang lalu saat ibu Morgan juga menangisi laki-laki laknat itu. Entah apa yang dilihat wanita itu dari pria tersebut, tapi sampai dia mati sekalipun tidak ada bagusnya sama sekali. Cinta memang buta, seperti itu lah yang dia lihat dulu pada diri wanita itu. Padahal jelas ada yang lebih mencintainya, tapi hanya karena pria itu pernah menolongnya, maka menjadikan dia rela bertahan untuknya meski tidak dicintai.


Suara deru helikopter perlahan turun di atas atap rumah sakit. Gegas para petugas kesehatan berlari dengan membawa brankar dan membantu menurunkan Lyla dari helikopter. Mereka berlari menuju lift dan membawanya ke ICU.


"Tenanglah, dia akan baik-baik saja."


Robinson menepuk bahu Morgan dengan pelan, mencoba memberinya semangat.


Morgan mengusap wajahnya kasar, Lyla sudah sangat pucat dan membiru. Dia sangat takut jika Lyla tidak bisa tertolong.


Robinson melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, sudah satu jam berlalu saat dia meninggalkan rumah itu. Seharusnya mereka sudah membuat tempat itu rata, kan?


"Apa kau sudah membereskannya?" tanya Robinson kepada bawahannya dari sambungan telepon.


"Tentu, Tuan. Kami sudah meratakan tempat ini."


"Bagus. Kerahkan orang untuk menjaga rumah sakit."

__ADS_1


"Baik!"


Morgan hanya melirik sang ayah, jika melihat dari perlakuannya, jelas dia bukan orang sembarangan. Robinson menutup panggilannya dan menggerakkan tangannya, menyuruh Morgan untuk duduk di sampingnya.


Tanpa banyak bicara, laki-laki itu duduk menyisakan jarak dua kursi kosong dari Robinson.


"Kau mau tahu bagaimana kami bisa bersama di malam itu?"


Morgan tidak menjawab.


"Sebenernya, malam itu udara sangat dingin. Kami terjebak di sebuah tempat. Kami adalah orang yang sama, yang dicampakkan oleh pasangannya masing-masing. Aku memiliki wanita yang dia cintai, dan dia memiliki wanita baik yang sama sekali tidak pernah diliriknya. Bahkan, aku sendiri iri jika melihat betapa besarnya cinta ibumu padanya." Robinson menghela napasnya pelan, menyandarkan punggungnya dengan nyaman. Sementara Morgan tetap diam mendengarkan.


"Hujan salju sangat deras waktu itu. Musim dingin sedang berada di puncaknya. Kami adalah sekumpulan orang bodoh yang pergi saat badai datang. Itu karena ibumu meminta tolong padaku, dia takut jika suaminya mengalami masalah mengingat waktu itu banyak sekali orang yang menerornya. Apa kau tidak tahu jika pria laknat itu memiliki dunia hitam yang lebih kejam daripada Black Eagle?"


Morgan menatap mata Robinson, dan sesuai dengan yang Robinson duga, Morgan menggelengkan kepalanya pelan.


"Tapi aku senang kau tidak tergabung dalam organisasi itu. Kau tidak bertanya pekerjaan lain ayahmu kepada Stevia? Selvi?"


Lagi-lagi Morgan menggelengkan kepalanya. Pekerjaannya di dunia hitam dia ciptakan sendiri tanpa ada campur tangan atau domplengan dari kuasa ayahnya.

__ADS_1


"Dia juga sama, kau pikir dia belum menikah karena apa? Tangannya sudah kotor karena terlalu banyak darah yang dia ambil."


__ADS_2