Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
210


__ADS_3

Tubuh Morgan sakit, akibat percintaan dengan istrinya akhir-akhir ini. Sepertinya tidak perlu berolah raga lagi karena setiap malam mereka melakukannya beberapa kali. Lemas sudah pasti, tapi menolak keinginan sang istri, itu berarti jika malam itu dia harus rela tidur terpisah dari istrinya. Suami mana yang akan tahan jika tidak tidur di samping sang istri? Apa lagi tidak ada sesuatu yang bisa dia mainkan di balik pakaian istrinya yang kenyal dan menyenangkan untuk dipegang.


Perut Morgan lapar, tapi dia masih bingung makanan apa yang bisa masuk ke dalam perutnya untuk bisa bertahan hidup. Sedari kemarin hanya minum susu dan sedikit roti saja yang bisa dia makan.


Siang sudah hampir datang, Morgan sudah tidak tahan lagi. Kepalanya pening akibat lapar dan terlalu banyak pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya.


"Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya seorang asisten bernama Takeda, seorang pria keturunan Jepang yang dipercaya oleh Robinson untuk menemani dan menjadi tangan kanan Morgan. Takeda mendekat dan sedikit membungkuk di samping tubuh Morgan saat pria itu mengeluh dan memijat pangkal hidungnya.


"Aku tidak apa-apa."


Tiba-tiba saja, Morgan membayangkan sesuatu di benaknya dan itu membuatnya semakin lapar saja. "Takeda, bagaimana dengan jadwalku hari ini dan dua hari ke depan?"


Takeda membuka note book yang selalu dia bawa dan melihat apa saja jadwal yang tertera di sana, menyebutkan semua jadwal yang ternyata cukup padat. Lagi-lagi Morgan menghela napasnya dalam-dalam.


"Bisa kau hubungi ayahku? Aku akan mengambil libur hingga lusa."


Kening Takeda mengerut mendengar permintaan Morgan yang tiba-tiba. "Apakah ada masalah, Tuan?"

__ADS_1


"Tidak, tapi aku ingin sesuatu. Kita terbang ke Prancis. Aku akan menghubungi istriku."


Takeda bingung, tapi tidak bertanya lagi dan hanya menundukkan tubuhnya sampai beberapa derajat.


"Honey," panggil Morgan saat Lyla baru saja mengangkat panggilannya.


Lyla yang tengah sibuk merangkai bunga menjepit ponselnya di antara bahu dan kepala. "Iya, Sayang? Tidak biasanya kau menghubungiku." Lyla terdiam sejenak, sedikit bingung juga pasalnya Morgan memang tidak pernah menghubunginya di saat jam kerja.


"Apa kau mau ikut denganku?"


"Ikut? Ke mana?"


"Hah? Untuk apa kita ke sana?" tanya Lyla penasaran.


"Aku ingin makan Foie Grass. Sepertinya makanan itu sangat enak," ucap Morgan yang membuat Lyla dan Takeda melongo di tempatnya masing-masing.


"Apa harus ke Prancis? Bukankah di sini juga ada restoran Prancis?" tanya Lyla.

__ADS_1


Morgan berdecak kesal. "Aku tidak mau yang ada di sini. Semua yang ada di sini tidaklah asli."


"Tidak asli bagaimana?"


"Tentu saja tidak asli. Aku ingin menikmatinya sambil kita melihat menara Eiffel, dibuat oleh chef keturunan Prancis murni dan dibuat khusus untukku!"


"Tapi Morgan--"


Panggilan itu telah Morgan hentikan. Dia tidak ingin mendengar penolakan atau alasan apa pun meski itu keluar dari mulut istrinya.


"Siapkan pesawat, aku akan pergi." Morgan telah beranjak dari duduknya dan mengenakan jas mahalnya.


"Tapi, Tuan--"


Morgan menatap Takeda dengan tatapan tajamnya. "Apa kau mau melarangku juga?"


Takeda yang mendapatkan tatapan tajam seperti itu langsung menundukkan kepalanya. "Tidak, Tuan. Hanya saja ... apa tidak lebih baik jika kita mencari restoran yang terbaik saja di negara ini?"

__ADS_1


Morgan menggelengkan kepalanya bak anak kecil. "Tidak. Itu pasti tidak akan sama rasanya. Takeda, lakukan apa yang aku minta. Apa kau mau anakku marah karena permintaan ini tidak dilaksanakan?" ucap Morgan yang menggunakan kekuatan terakhirnya.


Takeda, pria yang tegas dan dingin di luar, tapi berhati lembut bak sutra itu menjadi tidak tega. "Hh, baiklah."


__ADS_2