Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
58. Gambar Morgan Dan Seorang Wanita


__ADS_3

Morgan menunggu makanan yang dibuat oleh Lian dengan tak sabar, dia sudah sangat lapar sekali dan rasanya perutnya kini sudah tidak tahan lagi. Pagi tadi dia tidak makan, siang berbagi dengan Lyla, dan malam ini dia tidak ingin lagi melewatkan makan malamnya.


Des4ah suara Morgan terdengar jelas di telinga Lyla. Wanita itu melirik ke arah Morgan yang tengah memegang perutnya.


"Apa perutmu sakit lagi?" tanya Lyla, Morgan hanya diam tidak menjawab. Dia sangat kesal dengan sakitnya ini, seakan memperlihatkan kepada dunia jika dia laki-laki yang lemah saja.


"Tidak apa-apa. Aku tidak sakit."


Lyla tidak percaya begitu saja, terlihat jelas di matanya jika Morgan menahan sakit.


"Lian, berapa lama makanan itu jadi?" tanya Lyla pada gadis muda itu.


"Sekitar lima belas menit lagi. Aku harus memasak mie-nya dan juga membuat beberapa bahan yang lain. Bola daging sebentar lagi akan matang," ucap Lian setelah melirik ke arah panci yang sedang merebus bola-bola daging yang tadi sudah dia buat.


"Lebih baik Anda makan yang lain dulu, Tuan. Aku khawatir perutmu tidak akan kuat bertahan lebih lama lagi," ucap Lyla.


Morgan yang mendengar itu menjadi tidak senang. Wanita ini seakan menganggapnya lemah sekarang ini.


"Hanya menunggu lima belas menit saja aku kuat. Apa kau pikir aku selemah itu? Aku tidak akan mati hanya karena lambungku kumat." Morgan mulai kesal. Lyla sadar akan nada tak suka dari lawan bicaranya, sehingga dia hanya bisa menghela napasnya saja.


"Ya sudah jika kau tidak mau menuruti apa kataku. Aku hanya tidak ingin saja kau merasa kesakitan. Kau harus menjaga kesehatanmu dengan baik, Tuan. Banyak orang yang bertumpu ke padamu sekarang ini, di kantor maupun di rumah in

__ADS_1


"Kau tahu, sakit itu tidak enak. Mau makan susah, mau mengerjakan apa pun juga susah. Ya, mungkin kau ada orang lain yang bisa membantumu dalam hal pekerjaan, tapi dalam hal sakit tidak ada orang lain yang turut merasakannya seperti kau rasakan."


"Jika ada yang bilang 'Aku juga bisa merasakannya.'. Atau, 'Aku juga pernah merasakannya.'. Itu dua hal yang berbeda, Mereka hanya mengatakan bisa dan juga pernah, tapi tidak sedang merasakan apa yang kau rasa sekarang ini. Seperti aku, aku hanya bisa melihatmu meringis dan mengasihani dirimu, sedangkan kau sendiri tidak kasihan kepada dirimu. Ooh, astaga!"


Morgan merasa kesal mendengar ceramah Lyla yang panjang lebar seperti itu, sementara Lian melirik dua orang itu dengan diam-diam sambil terus menggerakkan tangannya.


"Huft. Kau cerewet sekali!" ucap Morgan menghentikan ucapan Lyla. "Bisakah kau diam? Ambilkan saja obatku di dalam kamar!" ucap Morgan akhirnya, kepalanya sedikit pusing karena mendengar ceramah dari wanita ini.


"Aku heran dengan wanita. Aku bicara sedikit, kenapa kalimat jawabanmu sangat panjang?" ujar Morgan tak habis pikir. Lian yang mendengar itu menahan tawanya, hampir saja terdengar dan bisa saja jika dia akan mendapatkan tatapan tajam dari majikannya ini. Dia juga baru melihat wajah Morgan yang kesal seperti itu. Lucu menurutnya.


"Hah?" tanya Lyla tidak mengerti.


"Kenapa hanya diam saja? Bukannya barusan aku bilang ambilkan obatku. Aku lelah mendengarmu berbicara terus-menerus," ucap Morgan yang sukses membuat Lian membuka mulutnya. Dia tidak pernah mendengar tuan muda berbicara sepanjang ini.


"Meja di samping ranjang di laci nomor dua."


"Baik akan aku ambilkan," ucap Lyla kemudian bergegas untuk melangkahkan kaki dari sana. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat Morgan menarik tangannya.


"Hanya laci nomor dua. Jangan kau berani membuka yang lainnya!" ucap Morgan dengan telunjuk yang terarah pada wajah Lyla.


Lyla terdiam sejenak, tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Oke. Meja di samping ranjangmu di laci nomor dua. Hanya itu dan tidak membuka yang lainnya," ucap Lyla. Morgan melepaskan tangan Lyla dan membiarkan wanita itu untuk pergi ke arah kamarnya.

__ADS_1


Lagi-lagi Lian terpana dan tidak menyangka jika Morgan membiarkan orang lain masuk ke dalam kamarnya. Biasanya hanya beberapa orang tertentu saja yang bisa masuk ke dalam sana, bahkan dirinya saja tidak pernah masuk meskipun hanya untukmu membersihkan ruangan itu.


"Apa yang kau lihat?" tanya Morgan saat melihat Lian hanya terdiam menatapnya. Gegas gadis kecil itu menundukkan kepala.


"Cepat selesaikan makanannya, aku ingin makan!" tegas laki-laki itu.


"Baik, Tuan." Lian kembali menggerakkan tangannya untuk menyelesaikan masakannya.


Sementara di depan kamar Morgan, Lyla membuka pintu ruangan itu dengan sangat perlahan. Dia melihat kamar-kamar yang sangat rapi sekali. Semuanya tertata dengan rapi dan epic. Dia berhenti untuk sekedar mengagumi dan segera berjalan menuju ke nakas di samping tempat tidur Morgan.


"Laci nomor dua," gumam Lyla pelan kemudian membuka laci tersebut, di dalamnya terdapat beberapa obat dan juga vitamin. Dia membaca bungkus yang ada di sana, tapi tidak tahu mana obat yang dimaksud oleh Morgan. Maka dari itu dia membawa beberapa bungkus obat yang ada di sana untuk diperlihatkan kepada Morgan beserta obat yang lain juga.


Lila terpaku sejenak dengan laci yang sedikit terbuka. Keingintahuannya sangat besar sekali, tapi dia bukan orang yang suka ingkar janji. Dia hanya melirik dan mencoba melihat ke dalam sana tanpa menyentuh laci tersebut.


"Tuan Muda, aku tidak memegangnya loh, ya. Laci ini sudah terbuka dan aku hanya mengintip sedikit saja," ucap Lyla, tapi dia tidak bisa melihat banyak ke dalam laci tersebut. Tampak seperti ada bingkai foto di sana dengan dua orang yang berada di dalam gambar itu, hanya terlihat pakaian dan tasnya saja sedangkan wajahnya Lyla tidak bisa melihatnya. Dia tidak berani untuk membuka laci seperti apa yang tadi Morgan katakan.


"Kenapa juga aku harus berjanji seperti itu tadi? Kan aku jadi penasaran," ucap wanita itu lalu memutuskan untuk berdiri karena dia merasa sudah terlalu lama di dalam kamar itu. Akan tetapi, langkah Lyla terhenti saat melihat di salah satu dinding ada sebuah foto Morgan bersama dengan seorang wanita. Lyla mendekat dan melihat dengan seksama, wajah laki-laki itu berseri dan tampak bahagia dengan senyumnya yang lebar, pun dengan wanita tersebut sehingga dia menebak jika wanita itu bukanlah wanita yang biasa untuk Morgan.


"Apa ini kekasihnya?" gumam Lyla pelan. "Cantik."


Rasanya iri melihat wanita itu, dia tersenyum dan tampak bahagia berada di sisi Morgan. "Tapi, kenapa dia meninggalkan tuan muda? Di sini mereka tampak bahagia sekali," ucapnya sekali lagi. Lyla masih ingin merasa heran, tapi kemudian dia mengingat jika Morgan membutuhkan obatnya. Jadi, dia mengabaikan gambar tersebut meski di dalam kepalanya masih ingin menatap gambar dua orang itu.

__ADS_1


"Sebenarnya dia beruntung jika tetap bersama dengan Tuan Morgan. Dia tampan dan juga kaya, apalagi yang biasanya dicari oleh orang lain, sih? Harusnya dia senang tidak seperti aku. Aku tidak bisa bertemu dengan Denis dalam keadaan yang seperti ini." Kembali Lyla bergumam dengan pelan, dia tidak ingin meratapi nasibnya yang sudah terlanjur seperti ini. Dia juga harus yakin jika suatu saat nanti kebahagiaan pasti akan datang kepadanya.


__ADS_2