
"Awas saja jika kita bertemu lagi, akan aku pastikan kau akan membayarnya tiga kali lipat," ucap pemuda itu lalu mengeluarkan ponselnya yang lain dan menghubungi seseorang.
Lian dan Lyla tertawa keras saat mereka sudah masuk ke dalam mobil dan kendaraan itu telah melaju meninggalkan parkiran supermarket. Berbeda dengan sang ibu yang merasa bersalah karena kejadian tadi.
"Kau berani sekali, Kak." Lian tertawa lebih keras, mengingat wajah laki-laki tadi yang meringis kesakitan setelah mendapatkan hadiah dari Lyla. Tidak dia sangka jika wanita yang dia kira kalem itu ternyata pemberani juga.
"Dia itu penipu. Kau tahu kan tadi dia ingin apa? Dia hanya ingin memeras kita saja," ucap Lyla.
Sampai di rumah, Lyla juga membantu merapikan semua belanjaan yang telah mereka beli tadi, hanya sayuran, bumbu, dan daging saja, belum belanja kebutuhan rumah dan sebagainya karena ibu Lian hanya membeli bahan masakan saja.
Lian melihat Lyla yang meringis kesakitan saat menata semuanya di dalam kulkas.
"Apa tanganmu sakit?" tanya Lian saat Lyla memegangi pergelangan tangan kirinya yang masih dibalut perban.
"Sedikit. Mungkin saat tadi aku merebut kalungku. Aku refleks menggunakan tangan kiri. Lupa," ucap Lyla sambil tersenyum, berharap jika gadis ini tidak lagi khawatir kepadanya.
"Apa benaran sakit? Perlu aku hubungi Tuan Gerald untuk membawamu ke rumah sakit?" Lian mulai khawatir.
"Eh, tidak usah. Ini hanya sedikit saja. Tidak terlalu sakit. Istirahat sebentar juga akan sembuh."
"Kau yakin?" tanya Lian yang tidak begitu saja percaya.
"Hem. Ya. Tidak apa-apa. Aku akan kembali saja ke kamar. Tidak apa aku tidak membantu lagi?" tanya Lyla.
"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa melakukan ini sendiri," ucap Lian.
Lyla baru saja akan pergi dari sana, tapi langkah kakinya terhenti saat Lian kembali lagi berbicara, "Kakak. Jika butuh bantuanku, bilang saja ya."
"Oke."
Lyla kembali ke dalam kamarnya di lantai atas, tangannya terasa sakit sekali, tapi dia berusaha untuk menahannya karena dia tidak mau membuat yang lain menjadi khawatir terhadapnya.
Perban itu dia buka, tampak sedikit berdarah dari bekas luka jahitannya.
"Ah," lirih Lyla meringis saat membuka perban dengan perlahan. Dia hanya ingin melihat luka itu. Seharusnya luka itu sudah mengering 'kan?
Apa karena tadi terlalu keras? ucap Lyla. Dia mengambil obat luka yang diberikan oleh dokter beberapa hari yang lalu, kemudian membersihkan luka itu dengan perlahan.
Selesai membersihkan luka, Lyla mengambil kalung yang sudah rusak, patah karena ditarik paksa oleh pemuda tadi. Beruntung dia bisa mengambil lagi kalung tersebut. Memang bukan kalung yang mahal, tapi dia menganggap benda itu berharga karena seseorang di masa lalu memberikan benda itu kepadanya.
"Patah!" keluhnya. Lyla kemudian menyimpan benda tersebut di dalam laci nakasnya bersamaan dengan beberapa obat yang diberikan oleh dokter kepadanya kemarin. Dia berpikir setelah keluar dari rumah ini dia akan mencari seseorang yang akan bisa memperbaiki kalung tersebut.
__ADS_1
...***...
Matahari telah bergeser ke ufuk barat, menandakan semua orang yang telah bekerja harus segera pulang. Akan tetapi, tidak begitu dengan Morgan. Laki-laki itu masih saja berkutat dengan pekerjaannya.
Pintu ruangan itu terbuka, tampak Gerald masuk dan telah bersiap untuk pulang. Keningnya mengerut melihat Morgan yang masih betah duduk di singgasananya.
"Kau tidak akan pulang?" tanya Gerald mendekat.
"Aku malas pulang," jawab Morgan singkat.
"Malas? Gadis itu?"
"Bukan. Hanya malas saja."
Gerald menahan tawanya. Laki-laki arogan seperti Morgan ternyata bisa menggemaskan juga, padahal sebelumnya laki-laki ini tidak pernah kalah dalam hal apapun.
"Apa aku harus di sini dan menemanimu?"
"Tidak. Pulang saja. Aku hanya sebentar."
"Kau yakin?"
"Kau tidak percaya aku mampu?" tanya Morgan mulai kesal. Gerald hanya mengangguk meski Morgan tidak menoleh ke arahnya sama sekali.
"Hem!" jawab Morgan dengan deheman.
Akhirnya Gerald hanya pulang sendirian saja. Hanya dengan waktu kurang dari satu jam, Gerald sudah sampai di rumah. Dia cukup lelah karena semalam tidak cukup tidurnya. Mungkin malam ini dia akan cepat tidur saja. Tentunya jika sang atasan tidak menghubungi dan menyuruhnya untuk kembali ke kantor lagi.
"Anda hanya pulang sendiri?" tanya ibu Lian menyambut kedatangan Gerald.
"Iya. Tuan muda akan pulang sebentar lagi," jawab Gerald sambil melewati wanita itu.
Lyla yang ada di dapur hanya melihat laki-laki itu pulang sendirian. Rasanya aneh karena tidak biasanya, selama dirinya di sana Gerald hanya pulang seorang diri. Begitu pun sampai makan malam, ternyata Morgan belum kembali juga.
"Aku akan menyusul tuan muda ke kantor," ucap Gerald saat melihat di jam delapan malam Morgan belum juga kembali.
"Apa mungkin tuan muda sakit lagi?" tanya ibu Lian dengan khawatir.
"Entah lah. Aku harap dia baik-baik saja."
Gerald hendak pergi, tapi suara gaduh di belakang membuatnya urung melangkah.
__ADS_1
Dia mendekat ke arah asal suara dan melihat Lyla dan Lian berjongkok di lantai. Kuah sup daging berantakan ke segala arah di permukaan lantai, juga dengan mangkok kaca yang telah pecah.
"Tuan, maafkan aku. Aku salah. Aku akan membereskannya," ucap Lian dengan takut saat melihat Gerald ada di sana. Sontak Lyla mengalihkan tatapannya dan melihat laki-laki itu hanya diam saja.
"Aku yang salah, aku yang memaksa membantu, tapi tanganku tidak kuat," ucap Lyla mengatakan yang sesungguhnya. Niat membantu malah menjadi mala petaka dan membuat berantakan di dapur. Sayang sekali sup daging yang lezat kini telah terbuang dan tidak bisa dimakan lagi.
"Apa kalian terluka?" tanya Gerald yang tidak disangka oleh kedua gadis itu.
"Tidak ada, tapi tangan Kak Lyla bengkak," terang Lian sebelum Lyla membuka suara.
"Mana tanganmu?" tanya Gerald.
Lyla menyembunyikan tangannya di belakang tubuh. "Tanganku tidak apa-apa," jawab Lyla sungkan. Akan tetapi, Gerald menadahkan tangannya dan menggerakkan dagunya, memberikan isyarat jika dia ingin melihat keadaan tangan Lyla.
"Tidak usah. Aku akan mengompresnya setelah ini," ucap Lyla lagi.
"Aku akan membereskan ini." Lian berseru dari belakang Lyla dan pergi ke arah belakang untuk mengambil alat pembersih.
"Ikut denganku." Gerald menarik tangan Lyla yang tak sakit, memaksa wanita itu untuk duduk di kursi di ruangan makan. Pun juga Gerald yang duduk di hadapan Lyla dan memegang tangan wanita itu dengan hati-hati. Tampak bekas jahitannya masih jelas terlihat.
"Apa ini sakit? Perlu aku bawa ke rumah sakit?" tanya Gerald khawatir. Lyla menggelengkan kepalanya dan menahan napas karena jarak dia dan laki-laki ini lumayan dekat.
"Tidak perlu, ini tidak terlalu sakit. Aku hanya perlu meminum obat anti nyeri yang dokter berikan," ujar Lyla.
"Kau yakin?" tanya Gerald sekali lagi yang mendapatkan anggukkan kepala dari Lyla.
"Iya, aku tidak apa-apa."
Gerald tidak percaya begitu saja, seharusnya luka ini sudah tidak akan bengkak lagi.
"Kau bilang ini tidak apa-apa? Lihat tanganmu yang bengkak seperti kaki gajah dan kau bilang tidak apa-apa?" tanya Gerald. Mendengar ucapan dari Gerald sontak membuat Lyla tertawa, lucu juga tangannya yang tidak terlalu besar kini dibandingkan dengan gajah. Terutama karena Lyla tidak mengira jika laki-laki ini ternyata bisa melucu juga.
"Apa tanganku benar seperti kaki gajah?"
"Tidak, tapi sebentar lagi akan berubah menjadi kaki gajah bengkak." Gerald tertawa melihat Lyla dengan wajah yang seperti itu. Sangat jarang sekali melihatnya, dan itu terlihat manis sekali di matanya.
"Tidak akan, tanganku terlalu cantik untuk mirip menjadi kaki gajah."
Lyla tidak mungkin akan mengatakan jika dia telah menganiaya satu pemuda tadi siang. Jadi, dia hanya menggelengkan kepala saja.
Tanpa kedua orang itu ketahui, di belakang mereka seseorang melihat kedekatan keduanya dan berdecak kesal.
__ADS_1
...****************...
Jempolnya masih sepi. Like dong, hadiah, vote, apalah biar semangat nulis, (menatap dengan puppy eyes 🥺)