Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
11. Merasa Terganggu


__ADS_3

Suara sirene terdengar di jalanan yang sepi, kendaraan tersebut berjalan dengan kecepatan tinggi membelah dinginnya malam kota London.


Udara sudah mulai dingin beberapa hari ini, tanda untuk menyambut kedatangan musim salju yang biasanya ditunggu oleh banyak orang. Di belakang ambulans itu mengikuti dua buah mobil berwarna hitam berlari dengan sama kencangnya.


"Apa yang akan terjadi dengan dia? Apakah dia akan mati?" tanyanya kepada perawat.


"Anda harap tenang, kami akan menanganinya dengan sangat baik?" ucap seorang perawat yang tengah membantu menekan luka korban agar tidak mengeluarkan darah yang cukup banyak. Sesekali dokter mengecek cairan infus yang ada di dekatnya, lalu kembali pada sosok yang tengah terbaring tak berdaya.


Dia menyandarkan dirinya pada badan mobil yang kini berjalan dengan kecepatan tinggi, guncangan cukup kencang, tapi tak lantas membuat dia menahan pikirannya untuk tidak pergi dari tempat itu. Darah yang menempel pada kemeja putihnya sangat banyak dan membuat Morgan tidak menyangka dengan apa yang telah terjadi.


Bagaimana bisa dia melakukan hal itu? Apa dia gila? Dasar bodoh! batinnya sambil menatap Lyla yang kini ada di hadapannya. Morgan menatap tangannya yang terdapat darah, pikirannya kini kembali pergi ke masa-masa dulu dan mengingatkannya pada hal yang mengerikan.


"Bu," lirih Lyla memanggil seseorang di dalam tidurnya. Sudut mata wanita itu mengeluarkan sebulir air bening yang turun hingga membasah ke rambutnya. Mulutnya terbuka sedikit, terdengar nada suaranya yang lirih meski tidak jelas dia berbicara apa.


"Apa dia akan baik saja?" tanya Morgan sekali lagi. Tampak wajah itu sangat khawatir.


Dokter tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Lukanya kecil, tapi cukup dalam. Dengan melakukan operasi kecil, kami yakin akan bisa menyambung saraf dan tendon yang terputus. Anda jangan khawatir, Pak," ucap dokter tersebut menenangkan Morgan yang terlihat khawatir.


Meski dokter mengatakan hal tersebut, tetap saja Morgan rasanya tidak tenang sebelum melihat wanita itu bangun lagi.


...***...


Pintu ruangan tertutup, lampu yang ada di dalam ruangan masih menyala, menandakan jika operasi tengah dilakukan di sana.


Morgan duduk termenung menatap kedua tangannya yang berlumuran dengan darah, sedikit bergetar tangan itu. Jika saja dia bisa lebih cepat mengambil pecahan piring tersebut dari tangan Lyla, pastilah dia tidak akan terluka. Terlambat. Dia tidak menyangka jika wanita itu akan melukai dirinya sendiri.

__ADS_1


"Apakah kita akan pulang, Tuan?" tanya Gerald mendekat dari samping tuannya. Akan tetapi, laki-laki itu hanya diam dan masih menatap tangannya yang berlumuran darah.


"Apa aku laki-laki yang brengsek?" tanya Morgan pada sang asisten. Gerald mengerutkan keningnya. Jika boleh jujur dia akan mengatakan 'iya'.


"Tidak, Tuan."


"Apa aku keterlaluan?" tanya Morgan lagi. Gerald kali ini tidak menjawab, sebenarnya tanpa dia harus menjawab pun Morgan sudah tahu bagaimana jawabannya.


"Jawab!" teriak Morgan dengan keras sehingga membuat Gerald menelan ludahnya sudah payah.


"Sebagai bawahanmu, aku akan menjawab 'tidak'. Tapi sebagai sepupumu, aku akan menjawab 'iya'." Akhirnya Gerald memilih untuk bicara. Entah apakah jawaban itu yang diinginkan oleh Morgan atau bukan, yang terpenting dia sudah menjawab.


Morgan kini menyandarkan punggungnya, tangisan Lyla, teriakan Lyla, kemarahan Lyla, dan senyum mengerikan itu, pertanda jika wanita itu sangat putus asa.


Morgan berdiri dan berteriak, menendang tong sampah yang ada di dekatnya hingga terguling dan menggelinding ke tempat lain. Saking kesalnya, Morgan tidak peduli di mana kini dia berada. Perawat yang ada di ujung lorong, enggan untuk memberi peringatan. Gawat saja jika orang yang paling berpengaruh di kota ini marah dan akan menuntutnya.


"Apa yang spesial dari dia?" gumam Morgan tak habis pikir. Dia baru bertemu dengan gadis itu, kemudian semua hal yang tengah dia lakukan terdapat Lyla yang terus saja mengganggu dirinya.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" tanya Morgan kepada dirinya sendiri.


Gerald yang melihat kelakuan Morgan hanya diam, dan menghela napasnya dengan sedikit keras. Aneh. Baru kali ini dia melihat Morgan yang bergerak sendiri tanpa bantuan orang lain. Bahkan, saat Lyla tergeletak di lantai dia sendiri yang mengangkat gadis itu dengan tangannya sendiri. Padahal biasanya dia selalu melibatkan orang lain dengan semua urusannya.


Apakah dia jatuh cinta pada gadis itu? batin Gerald menatap atasan sekaligus sepupunya.


Dia terus saja memerhatikan, tapi dia detik kemudian dia bermonolog sendiri di dalam diamnya. "Sepertinya tidak mungkin. Dia jauh lebih cantik dari gadis ini," gumam Gerald pelan.

__ADS_1


"Pulang lah." Titah Morgan pada Gerald. Laki-laki itu tidak menolak, menundukkan sedikit tubuhnya dan pergi dari hadapan Morgan.


Beberapa langkah Gerald berhenti dan menoleh ke belakang, tampak Morgan duduk kembali di tempatnya semula. Sejenak dia memperhatikan, lalu kembali pergi dari sana.


Pintu ruangan itu tidak juga terbuka, Morgan sudah beberapa kali menatap jam yang ada di pergelangan tangannya, dia menjadi kesal karena dokter sudah membohonginya.


"Sial! Berapa lama lagi dia akan ada di dalam sana?" ucap Morgan dengan marah. Mendapati hal yang seperti ini membuat Morgan tidak merasa nyaman, dia ingin pergi, tapi entah apa yang membuatnya masih bertahan di sini.


"Apa yang terjadi?" Suara seseorang terdengar dengan jelas membuat Morgan mengalihkan tatapannya ke arah lain. Seorang wanita berjalan dengan langkahnya yang tenang mendekat ke arah Morgan dan menatap keponakannya tajam.


Morgan kemudian mengalihkan tatapannya kembali menghindari netra adik dari sang ayah.


"Ada apa kau kemari?" tanya Morgan dengan angkuh. Wanita yang berusia hampir empat puluh tahun itu tertawa mendecih tanda tak suka.


"Aku hanya ingin tahu kabar keponakanku, apa tidak boleh?" tanya wanita itu, lalu duduk di samping Morgan.


"Tidak aku sangka ternyata ada seseorang yang hampir mati karena mu, dan itu adalah seorang gadis yang tidak bersalah," ucap Selvi dengan menyilangkan satu kakinya di atas kaki yang lain.


"Bukan urusanmu!"


"Semenjak ayahmu berkata menyerahkan tanggungjawab atas mu kepadaku," tukas Selvi seraya menunjuk tepat ke arah wajah Morgan.


Morgan kini bangkit, malas saja jika sudah ada yang ikut campur dengan masalahnya. Dia sangat tahu sekali bagaimana sifat Selvi jika sudah seperti ini. Selalu ingin membantunya, tapi sering kali pikiran wanita itu tidak sama sejalan.


"Urus urusanmu sendiri. Jangan ikut campur." Morgan lalu meninggalkan wanita itu di sana.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa dukungannya ya, like, vote, dan hadiah 🤭


__ADS_2