Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
52. Hal Yang Tidak Disangka


__ADS_3

Gerald baru saja menyelesaikan pertemuannya bersama Tuan Harvey. Segera setelah itu dia membelikan pakaian baru untuk Morgan, dan melajukan kendaraannya ke arah rumah sakit berada.


"Ah, kenapa dia tidak menjawab panggilanku?" gumam Gerald kesal. Di saat dia membutuhkan, laki-laki itu tidak bisa dihubungi sama sekali. Akhirnya dia menghubungi Selvi saja dan menanyakan di mana letak kamar Lyla. Tak lama, tidak sampai dua menit panggilan itu terputus karena Gerald sudah tahu di mana kamar wanita itu.


"Hem ... aneh. Sungguh aneh. Kenapa wanita itu ada di kamar milik keluarga Castanov?" gumam Gerald sambil mengusap dagunya.


Hampir satu jam perjalanan menembus hujan salju, akhirnya Gerald telah sampai di rumah sakit. Dia segera berjalan menuju kamar di mana Lyla berada.


Tak sabar rasanya melihat keadaan wanita itu mengingat Morgan sangat peduli kepadanya. Dia memang wanita yang sangat baik, jadi pantas untuknya memberikan rasa khawatir pada wanita itu.


"Apa demamnya masih tinggi?" gumam Gerald sambil terus berjalan.


Dering telepon terdengar dengan sangat nyaring, dia mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut yang berasal dari sekretaris Morgan.


"Tidak. Aku tidak akan kembali dalam waktu satu jam ini. Kau sampaikan saja pada mereka untuk menunda rapat direksi karena Tuan Muda juga sulit untuk dihubungi. Katakan saja jika dia sedang berada di rumah sakit," ucap Gerald, kemudian tanpa menunggu jawaban dari wanita itu dia menutup panggilannya sepihak.


Sampai di depan kamar Lyla, Gerald merapikan dulu dasinya yang terasa longgar, dia juga mengatur suaranya yang tiba-tiba saja serasa gatal di tenggorokan. Tak mau jika saat menyapa suaranya akan terdengar aneh oleh wanita itu.


"Apa dia akan suka ini?" gumam Gerald menatap sebungkus cokelat yang ada di dalam tas karton bersamaan dengan pakaian Morgan. "Ah, tapi siapa wanita yang tidak suka dengan coklat, 'kan?" gumamnya lagi, lalu bersiap untuk mendorong pintu tersebut. Tak lupa dengan senyuman yang lebar agar wanita itu melihatnya.


Langkah kaki Gerald tertahan setelah berhasil membuka pintu. Dia urung masuk saat melihat sesuatu yang sangat mengganggu pandangannya.


"Ah, sshhh. Jangan .... jangan seperti itu. Itu sakit," ucap Lyla dengan suara yang parau, sedangkan tak lama dia mendengar suara Morgan yang bergumam tidak jelas.


Gerald melihat Lyla bergerak lagi, menggeliat bak cacing yang ada di atas tanah.

__ADS_1


"Iya, begitu. Itu lebih baik. Morgan, tidak. Jangan terlalu keras. Lakukan dengan lembut. Aww, Morgan! Kau menyebalkan. Kau membuatku sakit!" teriaknya dengan sedikit keras. Dada Gerald bergemuruh melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana. Tampak Lyla tengah duduk tak nyaman dengan Morgan yang berjongkok di hadapan wanita itu, hanya terlihat lututnya yang bersimpuh di lantai karena posisinya membelakangi pintu.


Dia tak tahan dengan apa yang baru saja dilihat. Jadi, dia kembali menutup pintu tersebut dan mengatur napasnya tadi sempat terhenti.


Bisa-bisanya mereka melakukan itu di dalam area rumah sakit! Astaga, haruskan aku menggerebek mereka? gumam Gerald sambil menggelengkan kepalanya dan kembali melonggarkan dasi, benda itu tiba-tiba saja mencekik lehernya.


Seorang perawat mendekat dan menganggukkan kepala, tampak wanita itu hendak membuka pintu tersebut. Namun, Gerald menahan tangan wanita tersebut.


"Jangan masuk!" ucap Gerald dengan cepat.


"Eh, saya ingin memeriksa keadaan pasien," ucap wanita tersebut tampak bingung.


"Aku sudah dari dalam dan dia terlihat baik-baik saja. Pergilah."


"Aku bilang pergi!" bentak Gerald. Wanita tersebut merasa takut melihat Gerald yang melotot seperti itu dan kemudian pamit dari sana. Tahu akan siapa laki-laki tersebut dan bisa saja dirinya akan dipecat jika tidak patuh terhadap perintahnya.


"Hufft ...." Gerald mengembuskan napasnya yang terasa berat. "Astaga. Di saat aku sedang sibuk menggantikannya bekerja, dia malah enak-enakan bercinta dengan wanita," ucap Gerald kemudian pergi dari depan ruangan itu untuk menenangkan suasana hatinya yang kini menjadi tak karuan.


"Ah, sial!"


Gerald memilih pergi ke tempat lain, biarkan saja laki-laki itu dengan pakaiannya sekarang ini. Bahkan sepertinya dia tidak terlalu membutuhkan pakaian jika sedang sibuk dengan 'hal lain'.


"Kau benar-benar racun, Morgan!" sesalnya.


Gerald memilih untuk pergi ke tempat lain demi kesehatan pikirannya. Saat dia berjalan, dia berpapasan dengan Selvi, sepertinya hendak pergi ke ruangan Lyla karena lorong ini bukanlah kawasannya.

__ADS_1


"Tante. Apa kau mau menemui Lyla?" tanya Gerald membuat Selvi yang tengah memainkan ponselnya berhenti berjalan dan mengangkat kepala.


"Eh, kau sudah sampai?"


"Iya, aku sudah sampai beberapa menit yang lalu. Kau akan pergi ke sana?" tanya Gerald lagi.


"Iya. Aku ada urusan dengan Morgan.


"Aaa ... bisakah kau ikut dulu denganku?" tanya Gerald.


"Untuk?"


Gerald mencoba mencari alasan.


"Aku ... soal Tuan Harvey. Aku ingin bertanya soal Tuan Harvey. Dia salah seorang temanmu, bukan?" tanya Gerald yang tiba-tiba saja terpikirkan kepada laki-laki yang tadi dia temui.


"Iya. Ada apa? Apa kalian ada masalah dengan dia?" tanya Selvi bingung.


"Sebenarnya tidak. Tapi mungkin akan jadi masalah karena kami tidak begitu mengenal Tuan Harvey. Bisa kau beritahu aku apa yang dia sukai dan tidak dia sukai? Urusanmu dengan Morgan bisa kau tahan sebentar, kan?" tanya Gerald dengan cepat.


Selvi berpikir sebentar, hingga akhirnya dia menganggukkan kepalanya. "Oke. Ayo kita bicara di kantin."


Selvi memutar langkahnya dan meninggalkan Gerald yang kini menghela napasnya dengan lega.


"Aku harus menahannya, setidaknya tiga puluh menit," ucap Gerald. Awas saja jika kau lebih lama dari itu, Morgan!" geramnya kesal.

__ADS_1


__ADS_2