Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
15. Gadis Manis Ingin Berteman


__ADS_3

Sudah tiga hari Lyla ada di rumah Morgan, yang dia lakukan masih sama hanya diam di dalam kamar dari pagi hingga petang, tak nampak wanita itu keluar dari dalam kamarnya. Bibi dan para pelayan seringkali merasa resah karena tidak melihat gadis itu. Takut jika sesuatu terjadi kepadanya. Mereka mencoba mencari banyak cara agar bisa masuk sesering mungkin ke dalam kamar tersebut dan mengecek keadaannya. Atau, hanya sekedar mengetuk pintu dan bertanya jika gadis itu membutuhkan sesuatu. Semua benda yang membahayakan disingkirkan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Dokter berkata jika korban bunuh diri suatu saat bisa saja akan melakukan hal yang sama.


Tok. Tok. Tok.


Suara ketukan di pintu terdengar nyaring beberapa kali, lalu disusul dengan suara seorang wanita yang meminta izin untuk masuk ke dalam kamar tersebut.


"Nona, apakah aku boleh masuk?" Suara itu terdengar ceria. "Aku ingin membawa piring bekas Nona makan," sambungnya lagi.


Lyla yang duduk di atas kasurnya sambil memeluk lutut kini turun dari atas ranjang. Dia mengambil nampan berisi piring yang dibawakan untuk sarapannya tadi. Pintu tidak dia buka banyak-banyak, hanya selebar nampan itu agar bisa keluar dari sana.


Gadis manis bertubuh mungil dengan mata besar itu tersenyum ke arahnya sambil menerima benda yang disodorkan Lyla, dia juga melirik kamar tersebut yang gelap. "Anda tidak menghabiskan sarapan lagi, ya? Padahal ini makanan yang sangat lezat," ucap gadis itu menyayangkan. Akan tetapi, lagi-lagi Lyla tidak berbicara hanya menutup pintunya segera.


Gadis manis itu sedikit kecewa, dia sudah senang saat beberapa hari yang lalu tuannya membawa Lyla ke dalam rumah ini. Bosan rasanya bergaul dengan para pelayan di sini yang berpikiran kolot, bahkan wanita yang hanya berbeda empat tahun darinya terlalu kaku untuk diajak berbicara. Dia kesepian di rumah sebesar ini, padahal banyak pelayan hanya saja tidak bisa dia ajak berbicara santai.


"Oh ya, Nona. Apa aku boleh minta tolong sedikit. Aku mohon!" teriak gadis itu dari luar kamar saat Lyla hendak melangkah meninggalkan pintu.


"Sebenarnya, aku malu untuk meminta tolong kepada yang lainnya, tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri," ucap gadis itu lagi.


"Sebentar, aku akan bawa ke sini jika Nona tidak berkenan keluar dari dalam kamar!" teriak gadis itu lagi, lalu segera berlari ke lantai bawah untuk menyimpan piring kotor ke dapur dan memberikan benda tersebut kepada ibunya yang juga merupakan pelayan di rumah tersebut.


"Dia tidak menghabiskan makanan lagi?" ucap sang ibu dengan lelah, jika seperti ini maka Tuan Gerald akan memarahinya juga.


"Iya, Bu. Sepertinya dia memang belum ingin makan," ucap gadis itu.


"Bu, apakah aku boleh berteman dengan dia?" tanya Lian dengan penuh harap. "Aku tidak punya teman di sini, semua sangat kaku dan sepertinya sedang sariawan."

__ADS_1


Sang ibu melotot dan menempelkan jari telunjuknya di depan mulut. "Jaga bicaramu. Jangan membuat sakit hati orang lain. Mereka di sini bekerja. Kau tahu bagaimana Tuan Morgan, tidak suka jika para pekerjanya banyak bicara," ucap sang ibu memberi peringatan.


Lian mengerucutkan bibirnya. Pupus sudah keinginannya memilik seorang teman di rumah ini.


"Huh, harusnya Tuan Morgan menerima gadis muda dan menyenangkan untuk rumah ini, terlalu sepi. Seperti kuburan," ujar Lian kesal sambil melengos dari hadapan ibunya. Sang ibu hanya menggelengkan kepala melihat putrinya yang merajuk.


Lian pergi dari dapur dengan langkah yang kesal, bergumam tak jelas dan pergi menuju ke arah luar dan mengambil sapu yang tergeletak di lantai.


Sebuah mobil masuk ke dalam garasi, Gerald turun dari mobil tersebut, hendak mengambil sesuatu yang tertinggal di dalam ruangan Morgan.


Melihat asisten tuannya turun, Lian tersenyum saat tercetus sebuah ide. Apa salahnya, dan kita tidak tahu jika tidak dicoba, kan?


"Tuan. Tuan! Tunggu sebentar!" teriak Lian berlari kecil menyusul Gerald. Pria itu berhenti dan berbalik, melihat gadis kecil mendekat ke arahnya.


"Ya? Kamu tidak sekolah?" tanya Gerald dengan kening yang mengerut.


"Kami baru saja selesai ujian, dan hari ini diberi kesempatan untuk bebas. Jadi aku ambil libur saja," ucap gadis itu.


"Oh, kau yakin? Tidak bohong padaku?" tanya Gerald dengan nada menuduh.


"Tidak! Tentu tidak!" Lian menggerakkan kedua tangannya di depan dada dengan gerakan cepat. "Itu benar, Anda bisa telepon guruku dan bertanya. Potong saja rambutku kalau aku berbohong," ucap Lian sambil menyodorkan rambut panjangnya yang terjalin kepangan.


"Ada apa" tanya Gerald akhirnya.


"Anu ... itu. Aku ingin—"

__ADS_1


"Cepatlah bicara. Aku tidak punya banyak waktu!" bentak Gerald sedikit membuat Lian terjengkit takut.


"Aku hanya ingin meminta izin kepada Tuan, bolehkah aku berteman dengan nona yang ada di dalam kamar?" tanya Lian dengan cepat. Dia tidak berani mengangkat kepalanya hanya untuk sekedar menatap Gerald. Takut sekali jika laki-laki itu marah.


"Maaf, aku hanya kasihan melihat dia di dalam kamar terus. Yang aku baca di buku, seorang yang sedang sedih dan haruslah dihibur. Bolehkah aku berteman dengan dia?" tanya Lian pelan.


Gerald tersenyum tipis, melihat lutut gadis kecil ini yang bergetar. Lucu sekali.


"Ya, tentu saja. Lakukan sesukamu," ucap Gerald.


"Benarkah? Boleh?" tanya Lian senang mengambil tangan Gerald dan melompat bak anak kecil. Gerald sedikit terkejut karena perlakuan anak kecil ini.


"Terima kasih, Tuan! Terima kasih." Lian masih belum sadar dengan apa yang dia lakukan, terlalu senang sampai lupa jika laki-laki ini tak mudah disentuh orang lain apa lagi wanita.


"Bisa lepaskan tanganku?" tanya Gerald, sejenak Lian berhenti melompat dan menatap tangannya yang telah kurang ajar. Dia melepaskan tangan itu dengan cepat.


"Eh, maaf. Aku tidak sengaja. Terlalu senang, " ucap Lian. "Terima kasih Anda telah memberi izin kepadaku."


Gerald hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah unik anak yang satu ini. Tanpa banyak bicara, dia pergi ke dalam rumah dan menuju ke ruang kerja Morgan.


"Akhirnya aku punya teman!" ucap Lian senang. "Tuan Gerald memang terbaik!" sambungnya lagi sambil menggenggam tangan satu sama lain di depan dagunya.


Gerald telah keluar dari ruangan kerja Morgan dengan membawa berkas penting, seorang pelayan mendekat dan menunduk dalam.


"Ada apa?" tanya Gerald.

__ADS_1


"Nona Lyla, tidak menyentuh makanannya lagi untuk hari ini. Saya khawatir kalau dia akan bertambah sakit," ucap pelayan tersebut tampak takut dan juga khawatir.


__ADS_2