
Mobil melaju dengan kecepatan yang sedang membelah jalanan yang dingin dan bersalju. Lyla menatap ke arah depan dan menikmati perjalanan malam yang jelas saja dia tidak pernah pergi di jam malam semenjak tinggal di rumah Morgan.
Sesekali Morgan melirik menatap Lyla dengan ujung matanya. Dia sangat penasaran sekali dengan wanita ini. Kenapa terlihat berbeda hanya keran pakaian saja? Cantik dan rasanya sulit untuk mengalihkan tatapannya dari wanita ini.
Tampak Lyla membenarkan roknya yang panjang beberapa kali.
"Kenapa? Apa kau tidak nyaman?" tanya Morgan pada Lyla.
"Eh, tidak apa-apa. Ini nyaman, hanya saja aku tidak terlalu biasa dengan pakaian yang seperti ini," jawab Lyla.
"Oh. Haruskan kita ke toko gaun dan menggantinya dengan yang lain?"
"Tidak usah, Tuan. Tak apa aku pakai ini saja. Lagi pula, ini sudah malam dan aku takut jika kau akan terlambat datang ke pesta itu. Aku bisa melakukannya jika hanya sampai tengah malam nanti," ucap Lyla.
"Oke, baiklah."
Kini mereka diam dan tidak berbicara hingga kendaraan mereka tiba di rumah keluarga Maguire.
Mobil berhenti tepat di depan rumah Maguire, seorang pelayan membukakan pintu mobil untuk Lyla dan menunggunya turun sebelum menutup pintunya kembali.
"Terima kasih," ucap Lyla sambil tersenyum pada pelayan tersebut yang membuat laki-laki muda itu tertegun mendengarnya. Jarang sekali dia mendapati ucapan terima kasih seperti ini dari tamu tuannya.
Kunci mobil Morgan serahkan pada pemuda tersebut, kemudian mobil itu pergi untuk diparkirkan bersama dengan mobil-mobil yang lainnya.
"Ayo!" Morgan berkata dan Lyla mengangguk serta mengangkat gaunnya dan masuk ke dalam sana. Lyla tampak sedikit kesulitan untuk menaiki dua anak tangga yang ada di sana.
"Apa kau yakin bisa? Kita masih belum masuk dan bisa mengganti pakaianmu," ucap Morgan.
"Tidak perlu, aku sudah bilang tadi aku bisa melakukannya untuk malam ini. Aku hanya tidak ingin mengecewakan Tante Selvi jika gaun yang indah ini tidak aku pakai," ucap Lyla.
Morgan menghela napasnya dengan sedikit kesal. "Berhenti untuk selalu menyenangkan hati orang lain, sebaiknya kau lebih memikirkan untuk membuat dirimu nyaman saja. Apa gunanya jika kau tidak merasa nyaman?" tukas Morgan.
Lyla melirik Morgan dan melihat wajah laki-laki itu yang sedikit kesal. Dia hanya tertawa kecil dan berkata, "Aku memang merasa tidak enak hati dengan Tante Selvi, tapi aku merasa cantik dengan pakaian ini. Tuan Muda, bisakah kau bantu aku untuk berjalan? Aku yang merasa cantik ini sedikit sulit untuk berjalan," ucap Lyla dengan guyonan.
Morgan akhirnya mengulurkan tangannya dan membantu Lyla untuk berjalan masuk ke dalam rumah itu.
"Ah, ini lebih baik!" ucap Lyla mengembuskan napasnya dengan lega.
"Selamat datang, Tuan," ucap salah seorang pelayan, Morgan memberikan undangan tersebut padanya. "Silakan Anda ikut dengan saya," pintanya setelah melihat nama yang tertera pada undangan tersebut.
Morgan dan Lyla masuk mengikuti pemuda yang barusan. Di dalam sana sudah banyak orang yang tengah menikmati pesta tersebut, lebih banyak yang mengobrol bersama dengan yang lainnya daripada menikmati pesta sebenarnya.
"Eh, banyak juga yang datang kemari. Tuan, apakah semua orang yang ada di sini adalah pebisnis handal?" tanya Lyla berbisik.
"Iya."
"Oh, kalau begitu aku harus bersikap elegan di sini," gumam Lyla seraya mengangkat dagunya.
"Ya, lakukan saja sesukamu," ucap Morgan.
Beberapa orang yang ada di sana melihat Lyla, merasa takjub akan kecantikan wanita muda ini, sedangkan para wanita mengagumi ketampanan Morgan.
Morgan merasa risih dengan tatapan para laki-laki itu terhadapnya, dia melirik ke arah Lyla yang tampak tersenyum, dan menganggukkan kepalanya pada yang lain.
"Bisakah kau tidak tersenyum seperti itu?" tanya Morgan membuat Lyla mengalihkan tatapannya dengan bingung.
"Kenapa?"
"Karena senyummu jelek!"
Lyla mendecih sebal mendengarnya, dia menghentikan senyumnya dan berjalan mengikuti langkah kaki Morgan dengan perasaan yang sebal.
Seorang laki-laki paruh baya tersenyum senang melihat Morgan yang datang dengan seorang wanita, dia secara khusus mendekat dan menyapa Morgan bersama dengan sang istri.
"Tuan Muda Castanov. Senang sekali bisa bertemu dengan Anda," ucap Drew Maguire dengan tersenyum senang. Mendengar nama Castanov disebut, beberapa orang menoleh dan melihat yang mana tuan muda dari keluarga Castanov. Memang banyak yang masih penasaran akan tuan muda yang satu ini sehingga mereka tidak banyak yang tahu dengan Morgan, juga karena laki-laki ini tidak banyak muncul di media massa dan hanya terdengar namanya saja di telinga.
"Aku sangat senang sekali karena kau bisa meluangkan waktu untuk datang kemari," ucap laki-laki itu sambil tersenyum dan menggerakkan tangannya naik dan turun menyalami Morgan. Begitu juga dengan Morgan yang tersenyum dan menerima perlakuan dari laki-laki tersebut.
"Ya, tentu saja tuan Maguire. Aku juga sangat senang sekali bisa datang di pesta kali ini. Semoga Anda dan istri sehat dan semakin bahagia," ucap Morgan.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan Muda. Dan ... siapa ini yang bersama denganmu? Cantik sekali!" ucap Nyonya Maguire.
Lyla terkesiap saat melihat wanita cantik yang ada di hadapannya dengan senyuman yang sangat lebar sekali, dia menerima uluran tangan wanita itu dan tersenyum. Dia baru saja akan menjawab, tapi Morgan lebih dulu menjawab pertanyaan itu. "Dia temanku. Aku mengajaknya kemari," terang Morgan.
"Oh, temanmu? Kenapa tidak jadi seseorang yang spesial saja? Aku pikir kalian akan menjadi pasangan yang serasi," ucap wanita tersebut sambil tertawa kecil, sementara sang suami menyenggol lengannya dan meminta dia untuk diam.
"Ya, terima kasih banyak atas pujian Anda, Nyonya. Tapi, kami hanya berteman saja," ucap Lyla.
Wanita tersebut bertanya hal yang lainnya. "Kau dari keluarga mana? Sepertinya aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," tanyanya. Kali ini Lyla bingung untuk menjawabnya.
"Wajar saja jika Anda tidak pernah melihatnya, dia baru saja datang ke kota ini." Morgan menjawab dengan cepat.
"Oh, ya. Maafkan aku. Aku sedikit sulit mengingat orang, mungkin karena sudah berumur," ucap wanita tersebut.
"Ah, tapi Anda masih terlihat cantik di usia yang sekarang ini. Salon kecantikan mana yang anda datangi?" tanya Lyla. Nyonya Maguire tersenyum senang atas pujian Lyla barusan.
"Aku tidak ke salon, aku hanya sering menjaga pola makan dan berolahraga ringan setiap hari," ucap nyonya Maguire. "Ayo, kita pergi ke sana. Kami memiliki makanan yang sangat enak buatan chef terkenal di kota ini, sambil kita mengobrol santai. Akan aku beritahu olah raga apa yang bisa membuatmu semakin awet muda," ucapnya kemudian membawa Lyla pergi dari sana. Melihat dari raut wajah sang suami, dia tahu ada yang akan suaminya katakan kepada Morgan.
"Eh, aku---"
Lyla melirik ke arah Morgan, tapi laki-laki itu terlihat menganggukkan kepalanya yang berarti jika Lyla boleh ikut dengan wanita itu.
"Oke, baik lah." Lyla kemudian mengikuti langkah wanita tersebut.
"Haha, memang wanita, jika berbicara mengenai kecantikan akan sangat sulit untuk kita pisahkan," ucap Tuan Maguire. Morgan tersenyum dan menganggukkan kepala.
Seorang pelayan melewati mereka dan menawarkan minuman untuk keduanya, baik Tuan Drew dan Morgan mengambil minuman tersebut dan menikmatinya.
"Tuan Castanov, aku pikir Anda akan bersama dengan Renee. Aku dengar dari Louis dia sudah kembali?" tanya Drew.
"Ya, aku juga sudah bertemu dengan dia."
"Apa kabarnya dia? Aku belum bertemu dengan dia, maka dari itu aku tidak bisa mengundangnya secara langsung. Louis juga berkata jika dia tidak tahu di mana tempat tinggalnya. Jadi, aku pikir kau yang akan membawa dia kemari," ucapnya lagi.
Morgan hanya diam, dia tidka tahu harus bicara bagaimana dengan laki-laki ini.
"Ya, aku memang bertemu dengan dia kemarin, tapi sebelum Louis memberikan undangan."
"Tidak. Sayangnya aku tidak memiliki nomor ponselnya, Tuan. Aku lupa menanyakannya."
"Oh," d3sah laki-laki itu kecewa. Renee wanita yang baik, selain dengan Morgan dan Gerald, dia juga teman baik dari putra pertamanya.
"Aku sangat merindukan dia. Aku pikir setelah kemarin Louis bertemu dengan dia kau akan membawanya ke sini."
Morgan tersenyum kecut. "Mohon maafkan aku. Lain kali aku akan membawanya kemari."
Morgan mengedarkan pandangannya ke arah lain, dia tidak melihat seseorang yang dia temukan di sana.
"Mana Leo dan Louis? Aku tidak melihatnya di sini?" tanya Morgan, kemudian menyesap minumannya dengan perlahan.
"Louis masih ada di kamarnya. Leo belum sampai di sini sepertinya," ucap Tuan Drew. Morgan berdecak kesal. Ini adalah pesta kedua orangtuanya, tapi laki-laki itu belum datang juga.
"Kau harus mengeluarkan dia dari kartu keluarga."
Tuan Drew tertawa mendengar ucapan Morgan. "Ya, dia memang anak yang sulit diatur. Aku sangat berharap jika dia mau meneruskan perusahaan, tapi dia bersikeras untuk tetap tinggal di rumah sakit. Aku tidak bisa memberikan kekuasaan pada Louis, karena ya ... kau tahu lah bagaimana dengan anak itu. Dia masih suka tenggelam di dalam dunianya," ucap sang ayah tak bersemangat.
"Ya, kau harus bersabar saja, Tuan. Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Suatu saat mungkin dia akan bisa mengelola perusahaan," doa Morgan. Tuan Drew hanya menganggukkan kepalanya mengamini apa yang Morgan katakan barusan.
"Bagiamana dengan proyek itu? Apa berjalan dengan lancar?" tanya Tuan Drew lagi.
"Ya, sampai sekarng ini proyek berjalan dengan sangat lancar sekali," jawab Morgan.
Tuan Drew menoleh ke kanan dan ke kiri, dia kemudian mendekat pada Morgan. "Kau harus berhati-hati. Aku tahu siapa orang yang ingin menghancurkan bisnismu," bisik Tuan Drew di dekat telinga Morgan dengan suara yang serendah mungkin. Morgan mendengarkan dengan seksama apa yang Tuan Drew katakan. Dia menyesap minumannya tanpa ekspresi dan menatap ke kejauhan sana.
"Kau sudah aku anggap sebagai anakku sendiri, aku harap kau tidak mengambil langkah yang salah," ucap Tuan Drew lagi.
Senyum tipis Morgan perlihatkan, dia menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Ya, aku pasti akan mengawasinya."
Tuan Drew menepuk bahu Morgan dengan pelan. "Nikmati pesta ini. Aku akan mencari istriku," pamitnya yang Morgan jawab dengan anggukkan kepala.
__ADS_1
Morgan hendak pergi dari sana, tapi seseorang menghalangi langkahnya dan berbasa basi dengannya.
"Tuan Morgan? Benarkah Anda Tuan Muda Keluarga Castanov?" tanya seorang wanita muda yang kini mencoba mengobrol dengan Morgan.
...***...
Di sudut ruangan, Lyla masih bersama dengan Nyonya Maguire, dia berbicara banyak sekali tidak memberikan kesempatan untuk Lyla berbicara. Hingga akhirnya Lyla memberanikan diri untuk meminta izin kepada nyonya rumah ini untuk pergi ke toilet.
"Oh, kau bisa pakai toilet yang ada di atas. Sayap kiri," ucap Nyonya Maguire.
"Aku mohon maaf, Nyonya. Bukan maksudku tidak sopan, tapi aku sudah sangat tidak tahan," ucap Lyla.
"Ya, tidak apa-apa. Apakah perlu aku antar?" tanya Nyonya Drew.
"Ah, tidak usah. Anda sedang sangat repot di sini. Aku bisa sendiri," tolak Lyla.
Akhirnya Lyla berjalan dengan sangat cepat naik ke lantai atas sambil bergumam sendiri. "Kenapa harus di lantai atas? Padahal aku yakin jika di lantai bawah juga ada kamar mandi kan?" gumamnya. Akan tetapi, kemudian dia mengerti sesuatu. Di bawah terlalu banyak tamu dan juga maid yang bertugas berlalu lalang dan sepertinya akan sulit untuk ke toilet.
"Ah, aku tidak habis pikir dengan orang kaya, terlalu banyak pintu di sini," ucap Lyla bingung. Akhirnya Lyla melihat seseorang keluar dari dalam ruangan sambil membereskan pakaiannya.
"Oh, mungkin di sana toiletnya." Lyla kemudian menunggu, sehingga dia yakin tidak ada lagi yang keluar dari sana, barulah dia masuk ke dalam ruangan tersebut.
Tidak sampai sepuluh menit, Lyla keluar dari toilet tersebut, dia masih merasakan perutnya sedikit sakit akibat menahan hasr4t buang air tadi. Akhirnya dia memilih untuk menikmati pemandangan saja di luar jendela kaca yang besar di sudut ruangan tersebut.
"Ah, indah sekali di luar sana. Aku pikir aku akan tinggal di sini dulu sebentar. Rasa-rasanya aku masih ingin pergi ke toilet," ucap Lyla.
Louis baru saja keluar dari kamarnya, dia mendapati seseorang dengan gaun indah dan rambut terurai tengah menatap ke arah luar.
"Siapa dia?" Baru saja Louis akan menyapa dan menanyakan keadaan wanita itu, seorang pelayan mendekat dan memanggil namanya.
"Tuan besar mencari Anda, Tuan," ucap pelayan tersebut. Louis mengurungkan niatnya untuk bertanya pada wanita itu dan berjalan dengan cepat turun ke lantai dasar.
Di luar, langit malam sangat indah dengan pemandangan gedung-gedung tinggi yang menjulang di kejauhan sana. Lampu-lampu dari kendaraan yang terlihat juga membuat Lyla betah menatapnya sehingga dia tidak menyangka jika dia sudah berada di lantai atas beberapa saat lamanya.
"Kak Morgan! Akhirnya kau datang juga!" seru Louis saat mendapati Morgan di lantai bawah. Tanpa segan dia memeluk Morgan layaknya sahabat.
"Ya, aku pasti datang."
"Mana Renee? Kau datang bersama dengan dia kan?" tanya Louis.
"Tidak, aku datang dengan yang lain."
"Siapa?" Loius merasa bingung mendengar penuturan Morgan. Siapa wanita yang datang bersama dengannya?
"Teman, hanya teman," jawab Morgan.
"Oh, aku pikir kau punya kekasih baru. Sekarang di mana dia?"
"Entahlah, aku pikir tadi dia bersama dengan ibumu."
Louis mencoba mencari sang ibu, tapi dia hanya mendapati ibunya tengah berbicara dengan wanita seusianya.
"Bukan dia, Louis. Jangan berpikir yang tidak-tidak," ucap Morgan segera sebelum Louis membuka mulutnya. Pemuda tersebut mengatupkan mulutnya yang tadi hendak terbuka.
"Aku akan bertanya dulu pada ibumu. Kau nikmatilah pestanya," ucap Morgan kemudian pergi dari hadapan Louis.
Louis diam terpaku, serasa ada yang salah dengan ucapan Morgan tadi.
Morgan bertanya dan mendapati jawaban jika Lyla ada di lantai atas, dia kemudian menyusul Lyla karena tidak tahan dengan para wanita yang terus-terusan mengajaknya mengobrol. Akan tetapi, setelah sampai di lantai atas, Morgan terpaku melihat Lyla yang berdiri di tepi jendela besar. Cahaya yang berasal dari luar membuatnya melihat sosok Lyla seakan wanita itu adalah dewi bulan.
"Lyla," gumam Morgan.
Lyla yang merasa dipanggil menolehkan kepalanya dan tersenyum.
...***...
...Jeng-jeng!!!...
__ADS_1
...Awas kalau nggak komen! 🏃🤺...