Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
87. Meminta Janji


__ADS_3

Lyla sudah berkonsentrasi dengan pelajarannya, tapi sesekali dia menoleh lagi dan lagi pada jam dinding besar yang ada di ruangan itu.


Gerald mengerti apa yang Lyla lihat.


"Aku tinggal sebentar, aku haus," ucap Gerald.


"Oh, ya. Silakan."


"Kau mau minum juga?" tanya Gerald menawarkan diri.


"Tidak. Terima kasih," ucap Lyla. Gerald pergi ke arah dapur untuk mengambil minum dan cemilan untuk Lyla juga.


Di dapur, Gerald mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celana. Segera Gerald melakukan panggilan pada Morgan.


***


"Maafkan aku, Morgan. Aku akui jika waktu itu aku egois, tapi aku berpikir jika itu adalah kesempatan yang baik."


"Jadi, apa kau tidak yakin jika aku bisa membantumu menjadi terkenal?" tanya Morgan dengan dingin.


"Tidak, tentu kau bisa. Tapi aku ingin menggapai mimpiku dengan usahaku sendiri."


"Lalu, apa yang kau dapatkan sekarang ini?"


Renee menundukkan kepalanya.


"Tidak ada," ucapnya akhirnya setelah dia memikirkan apa kata Morgan.


Morgan menatap Renee dan memberikan tawa kecil yang nyatanya menusuk ke dalam hati Renee, sakit.


Panggilan dari dalam saku membuat Morgan mengalihkan tatapannya dari wajah cantik Renee yang tengah menyesal. Dia melihat ada nama Gerald di layar ponselnya, juga dengan jam yang ada di layar ponsel tersebut.


"Aku harus pulang, Nona Winston," ucap Morgan seraya berdiri. Renee melihat laki-laki itu dengan tatapan yang tidak percaya, Morgan ingin mengabaikannya.


"Terima kasih karena kau mau datang dan melihat keadaanku," ungkap Morgan membuat Renee tercengang, Laki-laki yang sulit mengucapkan maaf dan kata terima kasih kini dengan ringan dan mudahnya dia bicara seperti itu.


Renee ingin berbicara, tapi Morgan sudah mulai melangkahkan kakinya membuat dia mengatupkan mulut kembali.


"Morgan!" panggil Renee membuat Morgan menghentikan langkah kakinya kemudian membalikkan diri dan menunggu kata dari Renee.


"Apa sudah tidak ada lagi kesempatan untukku?" tanya Renee sedih menatap Morgan. Laki-laki itu hanya mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi.


"Entah," ucap Morgan.


"Berhati-hatilah kau di jalan dan selamat sampai di rumah, Nona," ucap Morgan lagi sebelum kembali berbalik dan pergi dari sana.


Renee sudah benar-benar kehilangan kata untuk bisa menahan Morgan bersamanya.


"Mungkin kau masih marah, Tuan Castanov. Aku yakin jika besok kau akan mencariku. Andai kau tahu apa yang terjadi sebelumnya," gumam Renee pelan dan mengusap air di sudut mata cantiknya. Penyesalan memang tidak pernah akan datang sedari awal. Renee meyakinkan diri dan menghibur dirinya sendiri. Dia harus bisa mengambil kembali hati Morgan dari siapa pun itu yang kini sedang bersama dengannya.


***


Morgan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, salju yang turun malam ini cukup banyak sehingga terdapat banyak peringatan di sudut jalanan untuk selalu berhati-hati.


Di dalam kepalanya, terbayang wajah Renee yang sedih tadi, dia menjadi merasa bersalah kepada wanita itu. Bagaimana pun juga Renee adalah wanita yang pernah mengisi hatinya dulu.


Morgan melirik paper bag yang ada di sampingnya, mencoba mengalihkan pemikirannya dari Renee pada wanita yang kini ada di rumah. Lyla, sedikitnya membuat dia bisa tertawa meski belum sebanyak wanita itu.


Sampai di rumah, Morgan segera berlari masuk ke dalam. Dia mendapati Gerald yang mengajari Lyla di ruang santai. Sedikit ciut hatinya melihat kedekatan sepupu dan Lyla di sana.


"Ah, begitu rupanya," ucap Lyla saat setelah Gerald menjelaskan.


"Kau paham?" tanya Gerald.


"Iya, aku paham." Lyla kembali mengerjakan soal yang diberikan Gerald tadi. Gerald tersenyum karena Lyla tidak sulit untuk menerima pembelajaran darinya.

__ADS_1


"Kau sudah kembali?" tanya Gerald saat melihat Morgan tengah berdiri di ambang pintu. Lyla yang mendengarnya mengangkat kepala dari buku yang ada di tangan, dia tersenyum melihat Morgan di sana.


"Hem," jawab Morgan singkat.


"Baguslah jika kau sudah pulang. Aku menunggumu sedari tadi, kau lama sekali. Apakah kau tertidur di kantor sampai baru pulang di jam malam seperti ini?" tanya Gerald kesal.


Morgan tidak menjawab.


"Bisa kau gantikan mengajari dia? Sebenarnya aku ada urusan di luar," pinta Gerald seraya berdiri. "Kau tidak apa-apa dia menggantikanku, kan? Aku sedikit terlambat untuk pergi," tanya Gerald kini pada Lyla.


"Eh. Anda sangat sibuk ya? Kenapa Anda tidak bilang sebelumnya jika sangat sibuk?" Lyla menjadi tidak enak hati terhadap Gerald.


"Karena aku hanya penasaran seberapa jauh kemampuan belajarmu," ujar Gerald sambil mengacak rambut Lyla bak pada adiknya.


"Hentikan itu, Tuan! Kau membuat berantakan rambutku!" tegas Lyla kesal. Begitu juga dengan Morgan yang melihat perlakuan Gerald terhadap Lyla, sebal rasanya saat Gerald memperlakukan Lyla seperti itu.


Gerald hanya tertawa kecil, kemudian pergi dari hadapan dua orang itu.


"Aku serahkan dia padamu," bisik Gerald. "Ahh, aku sudah terlambat, semoga saja mereka tidak akan marah jika aku sudah sampai di sana," ucap Gerald sambil meracau hingga akhirnya dia tidak terlihat lagi di hadapan keduanya.


Lyla menatap Morgan yang masih berada di sana.


"Aku akan mandi, kau lanjutkan saja dulu sendiri, nanti aku akan datang lagi," ucap Morgan kemudian pergi menuju ke arah kamarnya.


Morgan tidak lama berada di dalam kamar, dia kembali ke dekat Lyla setelah selesai mandi sepuluh menit lamanya, tidak ada alasan berlama-lama mandi karena dia khawatir jika Lyla akan kesulitan dengan pelajarannya.


Lyla tampak serius membaca buku. Morgan mendekat dan menyerahkan paper bag yang tadi dia beli untul Lyla.


"Ini untukmu," ucap Morgan. Lyla mengangkat kepalanya dan terdiam melihat paper bag yang Morgan berikan padanya.


"Eh, untukku? Apa ini?" tanya Lyla menerima benda tersebut.


Morgan tidak menjawab, tapi dia duduk di samping Lyla dan menyandarkan punggungnya pada kursi, buku yang ada di depan meja dia ambil dan baca.


"Ini buatku?" tanya Lyla dengan tidak percaya setelah melihat nama merk hp terkenal di dalamnya.


Lyla mulai mengeluarkan benda tersebut dan hal itu sukses membuat matanya membelalak.


"Ini ... bagus sekali. Serius ini untukku?" tanya Lyla lagi. Dia yakin jika ponsel yang ada di tangannya bukan ponsel kebanyakan orang jika dil;ihat dari bentuknya, sepertinya itu yang ada di tv baru-baru ini, persis.


"Ya, apa kau masih bodoh juga? Padahal aku sudah memasukkanmu ke universitas yang bagus," ucap Morgan dengan cibiran.


Lyla tersenyum malu. "Aku hanya tidak percaya akan punya ponsel lagi," ucap Lyla.


Perlahan namun pasti, takut dia akan membuat lecet benda tersebut, Lyla mengeluarkannya dengan sangat hati-hati sekali sampai-sampai Morgan menjadi kesal menungu ekspresi selanjutnya dari Lyla.


Lama sekali dia! gumamnya di dalam hati masih menatap Lyla dan menunggu dengan tidak sabar.


Mata Lyla terpaku melihat apa yang kini ada di tangannya, dia tidak menyangka jika Morgan akan memberinya ponsel yang sama persis dengan apa yang ada di tv, model dan bentuknya juga sama.


Diam-diam Morgan khawatir dengan Lyla.


Apa dia tidak suka dengan ponselnya? gumam Morgan lagi di dalam hatinya.


"Tuan, sepertinya ini aku kembalikan saja padamu," ucap Lyla seraya menyimpan ponsel tersebut dengan hati-hati di atas kotaknya lagi.


Kening Morgan mengerut melihat apa yang Lyla lakukan.


"Kenapa?" tanya Morgan bingung.


Lyla menundukkan kepalanya. "Aku rasa ini terlalu mahal. Aku takut," ucapnya membuat Morgan semakin bingung.


"Takut kenapa?" Buku yang ada di tangannya dia simpan kembali ke atas meja dan menatap Lyla yang kini tengah memainkan jemarinya.


"Ini terlalu mahal buatku, aku takut jika nanti akan membuatnya rusak," ucap Lyla, kini Morgan mengerti dengan ketakutan Lyla itu. Dia tertawa kecil dan menyilangkan satu kakinya ke atas kaki yang lain.

__ADS_1


"Kau takut aku meminta ganti rugi untuk itu?" tanya Morgan, Lyla menganggukkan kepalanya.


Tiba-tiba saja Morgan tertawa terbahak melihat wajah Lyla yang seperti itu, sementara Lyla menatap Morgan dengan bingung.


"Ya, tentu saja. Sebelumnya kau memintaku untuk membayarnya dengan nilaiku, jika aku tidak bisa memiliki nilai yang bagus, kau akan membuatku bekerja di sini dengan waktu yang tidak sebentar. Aku tidak mau menambah masaku nanti beberapa tahun lagi hanya untuk benda ini, Tuan," ucap Lyla tanpa ragu menyatakan ketakutannya.


Morgan tidak berhenti tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Wanita ini sangat unik sekali, jika mereka yang lain akan senang dibelikan barang-barang yang seperti ini kenapa dia tidak?


"Aku tidak akan menagihnya di masa depan, itu aku berikan sebagai hadiah karena kau sudah menjalani hari pertamamu masuk universitas," ucap Morgan seraya menunjuk benda di atas meja itu.


"Ambillah. Kenapa diam saja?" tanya Morgan saat Lyla hanya diam di tempatnya.


Lyla masih ragu. "Kau yakin tidak akan menagihnya?" Lyla menatap Morgan.


"He-em."


"Sungguh?" Lyla masih tidak percaya.


"Kau ragu?"


"Aku tidak percaya jika kau belum memberikan janji. Mana jari kelingkingmu?" pinta Lyla.


"Untuk apa?" Kening Morga lagi-lagi mengerut atas apa yang dilakukan oleh wanita ini.


Lyla tak sabar, dia mengambil tangan morgan dan mengaitkan jari kelingking mereka. "Ucapkan setelahku!" titah Lyla.


"Kenapa harus seperti anak kecil seperti ini?" tanya Morgan menahan tawa.


"Karena janji adalah utang dan kau tidak boleh mengingkarinya, kau tahu jika kau ingkar nanti?" tanya Lyla dengan menatap mata Morgan.


"Apa?"


"Lidahmu akan bengkok!" ucap Lyla. Morgan tidak tahan sehingga dia menyemburkan tawanya yang lumayan keras, membuat beberapa asisten yang melihat itu takjub dan heran.


"Astaga! Lidah itu tidak bertulang, tentu saja bisa bengkok," ucap Morgan.


"Tuan, kau hanya harus mengatakan 'iya' saja. Apa susahnya!" ucap Lyla kesal.


"Iya, iya. Oke, akan aku lakukan."


"Aku berjanji, katakan!"


"Aku berjanji ...."


Lyla mengucapkan janji mereka dan diikuti oleh Morgan setelah dia selesai mengatakannya.


"Astaga! Kau membuatku seperti anak kecil saja!" ucap Morgan dengan tidak percaya. Akan tetapi, dia tidak keberatan sama sekali dengan hal itu.


"Memangnya kenapa? Janji itu bukan hanya untuk anak kecil saja. Karena kau tau? Justru orang dewasa sering kali lupa dengan janjinya," tunjuk Lyla pada Morgan dengan tanpa takut sama sekali.


Morgan terdiam mendengar itu, memang benar sekali apa yang Lyla katakan. Orang dewasa lebih sering berbohong hanya untuk membuat dirinya aman dan nyaman, hanya untuk membuat dia merasa senang.


Lyla masih ragu mengambil ponsel itu sehingga Morgan berinisiatif untuk mengambilnya dan menyalakan benda tersebut.


"Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu di sini, termasuk nomorku," tunjuk Morgan pada ponsel yang baru saja dia nyalakan. "Mendekatlah kemari," ucap Morgan. Lyla menurut, mendekat pada Morgan dan melihat ponsel miliknya yang sangat bagus.


"Aku yakin kau bisa menggunakan ini kan? Tidak berbeda dengan ponsel milikmu," ucap Morgan. Lyla menganggukkan kepalanya.


"Ini." Ponsel itu kini berpindah tangan pada pemiliknya.


Mata Lyla berbinar menerima ponsel tersebut, dia melihat siapa saja nama kontak yang ada di sana. Namun, hanya ada satu saja.


"Ini nomor ponselmu?" tanya Lyla.


"Hem."

__ADS_1


"Kenapa hanya ada satu nomor? Tidak ada nomor Tuan Gerald di sini?" tanya Lyla membuat Morgan merasa kesal.


"Untuk apa menyimpan nomornya? Tidak cukupkan hanya nomorku yang ada di sana?"


__ADS_2