
"Tuan--"
Tubuh Jane menegang, apa yang Alex lakukan kepadanya membuat dia mendadak menjadi orang yang bodoh. Jangankan bergerak, bicara pun dia tidak bisa.
"Eumhh." Bibir Jane melenguh, matanya tertutup. Desir darahnya mengalir dengan cukup kencang dan dada yang berdebar hingga ingin meledak. Apa yang Alex lakukan tidak bisa dia prediksi sebelumnya.
Aneh, ciuman dan gigitan Alex pada lehernya terasa sakit, tapi juga ada rasa yang lain. Otak dan tubuhnya tidak bisa sinkron. Otaknya menolak, tapi tubuhnya menerima.
'Apa ini? Apa yang terjadi?' batin Jane. Otaknya menolak, tubuhnya menikmati, desir darahnya cepat hingga sesuatu berputar di perutnya dan memuat sesuatu terasa basah. Lutut Jane kini terasa lemas.
Beberapa menit Alex memperlakukannya seperti itu, rasanya Jane ingin pingsan saja.
"Maaf," ucap Alex setelah menjauh dari leher Jane.
Jane membuka matanya dan melihat wajah Alex yang sangat merah bak kepiting rebus.
"Akan sangat aneh jika tidak ada tanda apa pun di tubuhmu."
Jane langsung menyentuh lehernya yang masih sakit. "Apa maksudmu?"
"Kakekmu dan keluargamu ada di sini. Bukankah mereka menunggu sesuatu?"
"Sesuatu apa?" Jane benar-benar bingung sekarang.
"Tanda percintaan kita. Aku yakin mereka menunggu tanda itu."
"Hah? Ada ya yang seperti itu?"
Alex sendiri tidak yakin juga, tapi itu yang sedang dia pikirkan sekarang ini. Apa yang dilakukan si tua itu dan keluarga besarnya di sini jika bukan ingin melihat tanda di tubuh Jane.
"Iya, kau pikir mereka di sini untuk apa?"
Jane berpikir sebentar dan membenarkan apa yang dikatakan Alex.
"Tuan. Bisakah kau memberikannya lagi di sini?" tunjuk Jane meski lututnya masih gemetaran karena apa yang Alex lakukan tadi.
Alex menelan salivanya dengan susah payah, melihat arah yang ditunjuk oleh Jane adalah bagian dada kenyal.
"Aku hanya tidak ingin mereka mengganggu lagi, mungkin jika melihat ada banyak tanda merah, mereka akan melepaskan kita, kan?"
Jane menarik tangan Alex ke samping ranjang dan membuka jas yang tadi Alex pasangkan.
__ADS_1
"Aku mohon, aku tidak akan tahan jika mereka mengganggu ketenanganku."
Melihat Jane yang menatap dan memohon seperti itu membuat Alex tidak tega juga. Dia juga tidak ingin diganggu oleh si tua itu. Alex tahu jika Tuan Pierre bukan pria pengertian yang bisa melepaskan mangsanya begitu saja. Harus ada bukti nyata untuk bisa lepas dari orang itu.
Perlahan Alex mendekat, jika tadi tanpa ragu untuk melakukannya, kali ini dia sedikit ragu, pasalnya itu adalah bagian sensitif wanita yang bisa saja membuat adik kecilnya juga ikut bereaksi.
"Ahh. Eummhh." Jane tidak bisa menahan suaranya. Tangannya menggenggam kuat seprai dan membuatnya kusut. Pikirannya menjadi liar, rasanya menyenangkan sekali dan lama-lama membuatnya rileks. Desir darah yang mengalir menghantarkan panas, membuat tubuhnya tidak bisa diam.
Alex juga ikut terbawa suasana. Tidak mudah baginya untuk menjadi pria yang baik di situasi sekarang ini. Bukan hanya di satu tempat yang ditunjuk oleh Jane, tapi di sebelahnya lagi dan sebelahnya lagi. Tangannya sudah menggenggam tonjolan di dada Jane, memperlakukannya seperti squishy tanpa dia sadari, dan wanita itu juga tidak menolak sama sekali. Jane terhanyut dalam gelombang kenikmatan yang baru sekali ini dia rasakan. Beberapa kali mulutnya mengeluarkan suara lenguhan seksi dan tubuhnya berkali-kali meremang.
Suara yang Alex dengar membuat dia hilang akal. Semangatnya tersulut dan tangannya tidak dia sadari sudah masuk ke dalam pakaian Jane, menyentuh, mengusap, memainkan tonjolan yang sudah tidak terhalang kain di dalam sana. Ujung dada itu menjadi keras dan Jane melenguh lagi tanda keenakan. Hidup menjomlo selama dua puluh tahun lebih membuat Jane merasakan hal aneh menyenangkan yang tidak bisa dia tolak.
Saat Jane merasakan aneh di perutnya, Alex tiba-tiba saja menjauhkan dirinya.
"Maaf. Maafkan aku." Alex merasa bersalah. Jane menyuruhnya menandai satu saja, tapi dia terlalu banyak memberikan tanda merah itu di dada dan leher Jane. Keduanya menjadi salah tingkah dan saling menjauhkan diri satu sama lain.
Jane juga tidak menyangka, seharusnya dia tidak terbawa arus terlalu jauh. Bagaimana jika dia tenggelam terlalu dalam tadi?
"Aku juga minta maaf. Kau tidak salah."
'Ah, apa yang tadi aku lakukan?' Jane dan Alex sama-sama membatin di dalam hatinya. Mereka merutuki apa yang terjadi. Tidak akan terjadi hal seperti ini jika keduanya sadar dan bisa berpikiran jernih.
Saat kedua orang itu berada di dalam kecanggungan, ketukan di pintu menyelamatkan mereka.
"I-Iya, Bu. Kami akan keluar!" Jane balas berteriak.
"Ayo kita keluar."
Dua orang itu berbicara bersamaan. Sadar jika berbicara serempak membuat Alex dan Jane membuang wajah ke samping.
"Rapikan dulu rambutmu, Jane."
"Oh, iya." Jane segera mengambil sisir dan merapikan rambutnya dengan segera, sementara itu Alex mengambil jas yang tadi Jane lepas dan memasangkannya lagi.
"Terima kasih," ucap Jane. Alex tersenyum saja dan menggandeng tangan Jane untuk keluar dari kamar itu.
Seperti yang mereka duga, beberapa orang telah menunggu mereka di ruang makan. Terlihat wajah-wajah bosan menunggu dari sepupu Jane.
"Jane, ingat. Kau harus berjalan perlahan dan bersikap seakan semalam kita sudah bercinta," bisik Alex.
"Baik."
__ADS_1
Jane akhirnya berjalan dengan sangat pelan sekali mendekati meja makan yang sangat panjang.
"Aku kira kalian sarapan hanya berdua di dalam kamar. Aaww!" pekik saudara sepupu Jane yang wanita saat perutnya disikut oleh ibunya. "Sakit, Mom!" protes wanita itu.
"Kau juga sama dulu, kalian membuat kami kelaparan hingga siang hari!"
Jane kini mengerti, bukan hanya dirinya saja rupanya yang mendapatkan perlakuan aneh saat hari pertama menikah. Pantas saja jika kakeknya menyuruh dia pergi ke villa ini. Rupanya agar yang lain juga bisa ikut berkumpul bersama dengannya.
"Maaf. Ada sedikit masalah tadi. Apa kalian sudah lama menunggu?" Jane merasa bersalah, entah mereka telah menghabiskan waktu berapa lama saat melakukan pewarnaan di kulit.
"Ah, tidak masalah. Selama apa pun kalian di dalam, kami akan menunggu untuk makan bersama. Ayo duduklah, kita mulai sarapan bersama," ucap Tuan Pierre sebagai orang yang tertua di keluarga itu.
Tuan Pierre menyelidik cucunya, mencari sebuah tanda dan dia bernapas lega saat melihat beberapa tanda di dada dan leher Jane. Begitu juga dengan yang lain, melihat tanda merah di tubuh Jane membuatnya lega. Anggota keluarganya itu telah menghabiskan malam pengantinnya dengan benar.
Jane sadar jika semua orang menatapnya, tubuhnya bergetar dan ingin sekali pergi dari ruangan itu.
Melihat Jane yang duduk dengan tidak nyaman, Alex menggenggam tangan istrinya dan tersenyum. Jane menjadi tenang saat melihat senyuman dari suaminya itu.
Acara sarapan telah selesai, tapi tidak ada satupun dari mereka yang beranjak dari sana karena Tuan Pierre sendiri belum berdiri dan masih menikmati makanan penutupnya.
"Apa kalian menikmati malam pertama kalian?" Pertanyaan Tuan Pierre membuat semua orang terdiam. Alex yang sedang minum sampai tersedak karena pertanyaan itu.
Semua orang terdiam, menatap pengantin baru yang hari kemarin baru saja mengucap janji suci pernikahan. Sedangkan Jane semakin menunduk dan tidak berani untuk menatap semua orang yang ada di sana.
"Ayah, kenapa kau bertanya seperti ini? Ini adalah pembahasan pribadi, kan?" Ibu Jane berbicara, sama malunya karena sadar jika hal ini adalah hal pribadi. Akan tetapi, memang ayahnya juga seperti ini di hari pertama kedua kakaknya menikah.
"Ah, memangnya kenapa? Toh, ini adalah hal yang wajar. Aku hanya bertanya apakah mereka menikmati atau tidak? Aku akan melakukan apa pun agar mereka bisa cepat memberikan aku cicit."
Gelak tawa terdengar dari yang lainnya. Jane yang merupakan cucu termuda di keluarga itu menjadi tidak nyaman. Apa lagi orang-orang yang ada di sini juga merupakan ipar-iparnya. Suami dan istri dari saudara-saudaranya hadir. Juga suami dan istri dari kakak ibunya juga ada.
"Seharusnya kau menghamili cucuku sebelum menikah, jadi aku tidak perlu waktu lama untuk menunggunya hadir bersama di keluarga ini. Kau laki-laki yang payah!"
Alex malu bukan kepalang mendengar ucapan dari Tuan Pierre, tapi ia hanya tersenyum saja.
Jane melirik ke arah suaminya, ucapan sang kakek sudah keterlaluan.
"Karena kami memiliki komitmen, Kakek. Kami hanya akan melakukannya setelah menikah. Itu lah yang membuat aku takjub dan jatuh cinta dengan Jane. Dia hanya akan memberikannya kepada pria yang mencintainya dengan setulus hati."
Hati Jane menghangat setelah mendengar ucapan Alex. Tidak ada yang salah dengan pernyataan itu, memang benar demikian jika Jane akan memberikannya kepada pria yang mencintainya dan kelak menjadi suaminya.
"Ah, pemikiran yang kolot. Tapi sudahlah. Aku harap jika di tahun ini akan mendapatkan kabar baik dan aku akan bicara dengan dokter agar memanjangkan usiaku sampai seribu tahun untuk melihat anak, cucu, dan cicitku sampai bahagia."
__ADS_1
Alex memang terganggu dengan sikap orang-orang ini, tapi dia merasa senang karena akhirnya ada yang lain lagi yang bisa memperhatikan kebahagiaannya, meskipun suatu saat dia harus melepaskan Jane pergi.