
Lyla menatap rumah tersebut yang memiliki desain bergaya Eropa. Rumah itu terbuat dari bahan kayu dan juga batuan alam. Kedua bahan alam tersebut digunakan untuk pembuatan dinding dan lantai rumah membuat kesan yang ada pada tempat itu menjadi hangat dan nyaman untuk orang yang tinggal di dalamnya.
Beberapa undakan tangga terdapat di bagian depan rumah itu untuk mencapai teras kecil dan juga pintu masuk. Catnya putih sedikit pudar, ada beberapa bagian yang kotor terdapat di dinding atas rumah tersebut.
Lyla menatapnya dan merasa sedikit takut. Akan tetapi, tidak seperti itu dengan Alex. Pria itu mulai membuka pintu rumah tersebut hingga terdengar suara berderit.
"Ayo masuklah," ucap Alex saat Lyla mengedarkan pandangannya ke samping rumah. Terdapat sebuah halaman dengan rumput yang hijau tertata rapi di sana. Sepertinya rumah ini ada yang menghuni untuk menjaganya. Terbukti dengan adanya bunga yang ada di dalam pot tumbuh dengan indah dan juga cantik.
"Apa kau mau terus berada di luar? Sebentar lagi hujan akan turun," ujar laki-laki itu. Lyla menganggukkan kepalanya dan menaiki anak tangga satu.
Langkah kakinya terhenti saat dia telah memasuki rumah itu. Berbeda dengan di luar yang tampak kusam dan tidak tersentuh perawatan, di dalam sini ruangan tertata dengan sangat rapi dan tidak ada cacat cela di dindingnya. Beberapa lukisan menggantung pada dinding yang Lyla kira itu bukanlah lukisan biasa. Dari gambar yang ada di sana terlihat sangat berkelas sekali.
__ADS_1
"Tenang saja, meski di luar terlihat buruk, tapi di dalam sini terawat dengan baik bukan?" ujar Alex seakan bisa membaca apa yang Lyla pikirkan.
"Aku tidak bilang jika rumah ini buruk," ujar Lyla.
"Kau memang tidak pernah mengatakan rumah ini buruk, tapi ekspresi wajahmu yang mengatakannya!"
Lyla berdecak kesal, dia tidak bisa mengelak akan ucapan dari Alex yang memang benar adanya.
"Kamarmu di sana, kau bisa segera beristirahat." Tunjuk Alex pada salah satu pintu berwarna coklat yang ada di dekat ruangan itu.
Alex tergelap mendengar pertanyaan dari wanita yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Kau pikir untuk apa aku membawamu kemari? Jika hanya untuk melecehkan mu kenapa tidak di rumahku saja?" ujar pria itu.
"Ya siapa tahu kan, setelah melakukan hal yang buruk kepadaku kau akan meninggalkanku di suatu tempat terpencil? Atau membuangku ke hutan?"
Alex tidak habis pikir dengan wanita ini. Dia mengulum senyumnya sehingga kedua bahunya bergerak naik dan turun. Langkah kakinya yang panjang mendekat pada Lyla dan membuat wanita itu semakin mundur hingga tubuhnya terperangkap di antara Alex dan juga dinding. Kedua tangan Alex yang menjaga di kanan dan kiri tubuh Lyla, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali. Juga tatapan dari pria itu yang seakan-akan tengah menguncinya.
"Dengar Laura, Aku tidak suka dengan wanita yang datar."
Satu detik Lyla terdiam kemudian dia membulatkan matanya dengan marah.
'Jadi maksudnya aku bukan tipenya? Dan apa itu tadi? Dia bilang datar? Aku?' batinnya berucap dengan marah. Namun, sebelum dia bisa mengatakan sumpah serapah kepada pria itu, Alex segera menarik dirinya dan pergi dari sana. Terdengar tawa saat laki-laki itu masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Terlalu sekali dia. Dia bilang aku rata?" Lyla menatap tubuhnya dan memegang bagian yang menonjol, rupanya hanya sedikit, tapi bukan berarti itu rata kan?
"hah, kurang ajar sekali dia!"