
Markian tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan jenazah, dia juga tidak bisa menemui Morgan yang tengah dirawat pasca operasi. Markian yang ingin tahu kabar tentang Lyla mencoba untuk menunggu, tapi dia tidak bisa menemukan jawabannya karena perawat yang mengurusi Morgan hanya berkata jika yang ada bersama dengan Morgan saat kecelakaan adalah seorang wanita cantik.
Markian tak habis akal dengan yang ingin dia ketahui, dia pergi ke perusahaan Morgan dan bertemu dengan Gerald. Di sana dia mendapatkan jawaban dan akhirnya Markian meras lega karena wanita yang ada di dalam kecelakaan itu bukanlah Lyla.
"Lalu di mana dia?" tanya Markian pada Gerald.
"Kau tenang saja, dia ada di tempat lain."
"Kenapa dia tidak tinggal saja di sini? Kenapa harus pergi? Bukannya dia sedang belajar?" tanya Markian.
"Dia ada urusan yang harus dikerjakan. Kau hanya harus tahu saja jika dia baik di sana," ucap Gerald.
Markian sudah lega mendengar hal itu, tapi dia masih saja merindukan dan mengkhawatirkan Lyla di sana. Entah di mana karena Gerald menolak untuk memberitahunya.
...***...
Pada keesokan harinya, Lyla dan Eve pergi ke sebuah tempat yang ada di luar kota untuk menemui seseorang yang mungkin tahu akan di mana keberadaan orang tua Lyla selama ini. Akan tetapi, harapan Lyla dan juga Eve sirna saat mereka tidak mendapati wanita yang akan mereka temui. Wanita tua itu baru saja tiada beberapa jam yang lalu dan sudah dimakamkan.
"Itu karena kalian! Jika saja kalian tidak menghubungi nenekku, dia pasti akan masih hidup sekarang ini!" teriak seorang gadis muda kepada Lyla dan juga Eve. Wanita muda itu mendengarkan saat sang nenek menerima panggilan telepon dari mereka berdua dan bertanya tentang keberadaan ayah dan ibu Lyla.
Lyla tersentak saat mendengar ucapan wanita muda tadi, dia tidak menyangka jika hal itu malah membuat seseorang tiada.
"Julia, hentikan. Nenek meninggal karena serangan jantung," ucap sang ibu yang menenangkan putrinya.
"No, Mom! Kau tidak tahu saja bagaimana orang-orang itu datang dan membuat nenek tertekan, itu sebabnya nenek meninggal!" teriak Julia menangis sambil menjerit. Sang ibu terpaksa meminta suaminya untuk membawa gadis muda itu pergi dari sana.
"Maafkan atas sikap putriku, dia sangat menyayangi neneknya dan dia sangat terpukul dengan kepergiannya," ucap ibunya.
"Tidak apa-apa. Kami yang seharusnya minta maaf tentang kejadian ini. Kami tidak tahu jika apa yang kami ingin tahu malah membuatnya meninggal," ucap Lyla dengan tidak enak hati dan sedih di dalam hatinya.
"Apa sebenarnya yang kalian cari sehingga menghubungi ibuku?" tanya wanita itu lagi seraya menatap sedih pada nisan dengan nama sang ibu.
"Kami hanya mencari seseorang. Apa kau tahu tentang Keluarga Gregory?" tanya Eve secara langsung, wanita itu menoleh ke kanan dan ke kiri, raut wajahnya seketika berubah ketakutan.
"Aku tidak mengenal mereka, hanya tahu saja sekilas dari cerita ibuku," ucap wanita itu, kemudian berjongkok di samping nisan sang ibu dan menggerakkan jari telunjuknya di atas tanah yang basah. Eve memperhatikan jejak di tanah yang membentuk angka-angka dan mencoba untuk mengingatnya.
"Lebih baik kalian pergi saja, mereka orang-orang yang tidak bisa kalian gapai," ucap wanita tersebut menghentikan gerakan tangannya di angka terakhir.
"Tapi--"
Eve mengerti sehingga dia menarik tangan Lyla dan menganggukkan kepalanya.
"Kita sudah cukup di sini. Terima kasih Nyonya, maaf kami sudah merepotkan Anda." Eve membungkuk pada wanita tersebut.
"Semoga Anda tenang di surga, Nyonya," ucap Eve berpamitan kepada nisan dingin tersebut.
Eve menarik tangan Lyla untuk menjauh dari sana dan segera mengeluarkan ponselnya untuk mencatat angka-angka yang tadi.
"Eve, apa mungkin orang-orang itu yang melakukannya?" tanya Lyla dengan sendu.
"Entahlah, kita masih belum tahu apa memang mereka atau bukan, mengingat banyak yang kita dengar tentang keluargamu." Eve terdiam fokus dengan jalanan yang ada di depannya. Begitu juga dengan Lyla yang diam dan memikirkan tentang apa yang terjadi pada keluarganya itu.
"Ayo kita pulang dulu. Aku ingin istirahat," ucap Eve. Lyla mengangukkan kepalanya dan hanya mengikuti apa yang Eve katakan.
__ADS_1
...***...
Eve merenung beberapa hari ini, dia menghubungi seseorang yang nomornya wanita itu tuliskan di tanah dan mendapati jika laki-laki itu mempunyai informasi tentang keluarga tersebut, tapi Eve ragu untuk memberitahu pada Lyla.
"Aku harus bertemu dengan dia," ucap Eve kemudian pamit pada Lyla untuk pergi ke luar.
"Kau akan kemana?" tanya Lyla.
"Aku ada pekerjaan. Kau tidak apa 'kan aku tinggal sebentar? Kunci rumah dan berhati-hatilah, jangan bukakan pintu untuk orang asing dan jangan percaya begitu saja dengan orang yang tidak pernah kau lihat sebelumnya," ucap Eve. Lyla mengangguk, dia tidak bisa melarang wanita itu untuk pergi, bagaimana pun juga Eve memiliki kesibukannya sendiri.
Eve pergi dari sana dan menghubungi seseorang temannya untuk membantu mengawasi rumah dengan Lyla yang hanya seorang diri di sana.
Setelah kepergian Eve, Lyla hanya sendiri di rumah itu. Dia hanya bisa menurut pada temannya dan tidak akan membukakan pintu untuk orang lain siapa pun itu. Lyla hanya bisa melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya.
"Kemana Eve pergi? Ini sudah cukup lama," gumam Lyla saat melihat jam yang ada di dinding menuju ke angka enam sore. Eve tidak pernah pergi selama ini, apa lagi dia tidak memberi kabar apa pun sedari tadi. Lyla menunggu dengan hati yang resah.
Dering telepon terdengar dengan sangat jelas di ponsel Lyla, segera dia pergi untuk mengambil ponselnya dan melihat nama Evelyn di sana.
"Eve, kau di mana? Aku sangat mengkhawatirkanmu," ucap Lyla dengan cepat. Akan tetapi, suara yang menjawab di seberang sana bukanlah suara Evelyn, tapi suara laki-laki.
"Maaf, Anda teman nona ini?" tanya laki-laki itu pada Lyla.
"Ya, ini siapa? Kenapa ponsel temanku ada padamu?" tanya Lyla dengan bingung, tiba-tiba saja ada rasa takut yang terpancar di dalam hatinya karena mendengar suara laki-laki ini.
"Temanmu mendapatkan kecelakaan, dia sudah ada di rumah sakit pusat," ucap laki-laki itu membuat Lyla terkejut.
"Apa? Kau bercanda, Tuan? Tidak mungkin!" ucap Lyla pada laki-laki itu.
"Benar, Nona. Aku bicara bersungguh-sungguh. Temanmu ada di rumah sakit dan sekarang dia sudah ditangani oleh dokter."
"Maaf, Tuan. Aku tidak percaya," ucap Lyla. Bisa saja kan memang laki-laki ini adalah orang yang jahat? Akan tetapi, dia sangat mengkhawatirkan Eve.
"Baiklah, Nona. Jika Anda tidak percaya, aku akan mengambil gambar temanmu. Aku bukan orang jahat, hanya sedang ingin membantumu saja. Mobilnya kecelakaan dan aku hanya membantu mencarikan seseorang yang mungkin saudara atau temannya," ucap laki-laki itu lagi.
Panggilan tersebut dia matikan, Lyla menunggu dengan resah. Apa yang harus dia lakukan? Apa benar jika Eve kecelakaan? Eve tadi bilang untuk tidak membukakan pintu dan tidak boleh percaya dengan orang lain, lantas sekarang ini siapa yang harus dia percayai?
Tak lama sebuah notif pesan masuk ke dalam ponselnya, Lyla segera membuka pesan tersebut dalam sebuah gambar. Kedua mata Lyla membulat sempurna melihat jika benar Eve yang ada di atas brankar dan tengah tertidur pulas, selang oksigen dan selang infus terdapat pada tangan dan hidungnya. Eve tampak kacau dengan perban yang melilit di kepala dan juga tangannya.
Lyla segera menghubungi kembali nomor Evelyn dan suara itu masih suara laki-laki yang tadi.
"Di mana dia? Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Lyla dengan khawatir. Entah apa yang telah terjadi pada temannya itu, tapi Lyla yakin jika Eve celaka karena ada hubungan ini dengannya.
"Dia ada di rumah sakit pusat."
"Baik, aku akan datang ke sana sekarang juga!"
Lyla berlari ke kamar untuk mengambil tas dan sejumlah uang, dia memang tidak tahu di mana rumah sakit pusat, maka dari itu dia akan pergi dengan menggunakan taksi saja.
Saat Lyla akan menghentikan taksi, seseorang datang mendekat dan menarik tangan Lyla tiba-tiba, tentu saja Lyla terkejut dan menarik tangannya dari laki-laki bertubuh tinggi tegap itu.
"Siapa kau? Lepaskan aku!" teriak Lyla menolak untuk berjalan bersama dengannya.
"Sshhttt! Jangan berteriak, aku hanya ingin menolongmu saja," ucap laki-laki tersebut tetap menarik tangan Lyla ke arah mobilnya.
__ADS_1
"Apa kau akan menculikku?" tanya Lyla.
"Tidak. Aku hanya seorang teman," ucapnya.
Lyla tidak mengenal laki-laki ini, tentu saja dia menolak untuk dibawa paksa olehnya. Sekeras apa pun usaha Lyla untuk terbebas dari laki-laki ini tetap saja dia tidak bisa melepaskan diri darinya.
"Apa kau tidak bisa diam? Kita jadi pusat perhatian orang lain," ucap laki-laki itu.
"Lepaskan aku, aku tidak mau ikut denganmu!" Pria tersebut tidak juga mau melepaskan Lyla, sehingga terpaksa Lyla mengeluarkan jurus yang dia pelajari dari Eve di saat genting seperti ini.
Pria itu Lyla tarik pada bahunya dan Lyla mengayunkan kakinya dengan keras untuk menendang sel*ngkangan laki-laki itu.
Pria itu tentu saja terkejut dengan apa yang Lyla lakukan, dia tidak menyangka jika wanita ini akan melakukan hal tersebut padanya. Dia ambruk, Lyla hendak lari, tapi tangannya dipegang erat oleh pria tersebut dengan erat dan tidak dia lepaskan sama sekali.
"Jangan pergi. Akh!" Pria itu meringis kesakitan sambil memegangi area yang sakit. Entahlah, dia sedikit ragu akan masa depannya setelah ini, apakan masih aman atau tidak, semoga saja masih bisa digunakan untuk memuaskan beberapa pacarnya.
"Aku diperintahkan untuk menjagamu, Nona. Evelyn yang menyuruhku," ucap laki-laki tersebut. Lyla tidak lantas percaya begitu saja dengan ucapannya. Dia tetap ingin lari.
"Nona, saldoku hanya tinggal lima belas dollar," ucap laki-laki itu yang membuat Lyla kini menghentikan laju kakinya dan tidak lagi berniat untuk pergi.
"Apa?" tanya Lyla, takut jika dia salah mendengar.
"Sisa saldoku lima belas dolar," ucap laki-laki tersebut sekali lagi dengan menahan sakit di bawah sana. Setelah mendengar itu Lyla menjadi percaya jika laki-laki ini adalah orang utusan Eve.
"Apa warna kesukaan Eve?"
"Aku tidak tahu, dia tidak pernah bilang padaku."
"Apa makanan yang dia sukai?" tanya Lyla sekali lagi.
"Entah, dia pemakan segalanya, kecuali cokelat," ujar laki-laki itu yang membuat Lyla menjadi percaya kepadanya.
"Kita ke mobil, cepat!" ucapnya, Lyla segera mengikuti langkah kaki laki-laki itu ke arah mobilnya berada.
Mobil hitam tersebut telah pergi meninggalkan area tersebut, Lyla kini bisa bernapas dengan lega saat bertemu dengannya.
"Kau benar teman Eve?" tanya Lyla.
"Kau pikir aku siapa? Aku bukan hanya temannya saja, aku bahkan pernah hampir tidur dengannya andai dia tidak menodongkan pistolnya di kepalaku," ucap laki-laki itu masih menahan sakit.
"Kenapa dia keterlaluan sekali mengajarimu hal yang tidak baik? Apa kau tidak tahu jika ini adalah aset berharga untuk para laki-laki?" tanyanya.
"Oh, maaf. Aku hanya terkejut dan tidak sengaja melakukannya," ujar Lyla, dia menatap pada tangan laki-laki itu yang memegangi miliknya, sedikit berharap dia bisa menembusnya dan melihat jika keadaan di sana baik-baik saja.
"Tidak sengaja? Justru yang aku lihat kau sangat berniat sekali melakukannya," ucapnya sebal, Lyla hanya tersenyum meringis dengan malu.
"Ah, kau bisa mengantarku pergi ke rumah sakit pusat? Aku khawatir dengan Eve," ucap Lyla padanya.
"Aku tahu. Kita pergi," ucapnya. Akan tetapi, Lyla terheran saat dia mendapati jika dirinya dibawa sangat jauh sekali dan rasanya dia tidak sampai-sampai di rumah sakit.
Lyla menjadi takut seketika. Ini sudah hampir dua jam mereka berkendara, apa lagi saat mobil sudah memasuki area yang aneh, seperti keluar dari kota.
"Kau akan membawaku kemana?" tanya Lyla takut menatap pria tersebut yang masih sangat tenang membawa mobilnya.
__ADS_1
"Kau tenang saja, Nona. Aku hanya akan membawamu sedikit jauh."