Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
145. Kedekatan Uncle dan Keponakan


__ADS_3

"Oke. Kalau begitu, beli semua yang kamu mau. Uang," pinta Alex pada asistennya sambil menadahkan tangan. Laki-laki itu mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada Alex.


Alex menatap uang tersebut dengan satu alis yang terangkat sebelah.


"Tidak akan cukup uang sedikit untuk membeli makanan keponakanku!" bentak Alex pada pria tersebut. "Dompet!" teriaknya lagi. Alex tidak peduli dengan semua orang yang ada di sana menatap ke arah mereka. Mac, asisten Alex segera memberikan dompet miliknya dan hanya tersisa seribu dolar.


"Hanya ini?" tanya Alex menatap uang yang ada di salam sana. Alex akan berbicara, tapi Lyla segera menarik tangan Alex dan menghentikan laki-laki itu agar tidak lagi marah.


"Sudah, Uncle. Jangan marah lagi. Aku tidak butuh uang yang banyak untuk makanan seperti ini. Uang ini juga sudah cukup untukku membeli makanan," ucap Lyla mengambil uang dua lembar seratus dolar di tangan Alex.


"Kau yakin? Apa mungkin itu cukup? Kau harus beli semua yang kau mau. Itu, itu, itu. Semua beli lah!" ucap Alex menunjuk truk makanan yang ada di sana hingga ke ujung.


Lyla menelan ludahnya dengan kasar, jika tahu seperti ini lebih baik dia duduk di rumah dan pesan saja makanan, mungkin Alex tidak akan terlalu bersemangat seperti ini.


"Eh, tidak perlu. Perutku tidak akan muat jika aku membeli semua makanan ini. Ayo, lebih baik kita pergi ke tempat yang aku mau. Aku mau coba yang itu," tunjuk Lyla setelah melihat pada truk es krim yang ada di sana.


Alex dengan sabar menemani Lyla untuk membeli es krim tersebut. Lyla menunggu sambil menikmati Burrito di tangannya yang belum habis.


"Hei, Uncle. Kau tidak mau ini?" tanya Lyla menunjukkan Burrito di tangannya.


"Tidak, itu terlalu berminyak. Aku tidak suka."


"Kalau begitu kau harus beli eskrim."


"Tidak, itu terlalu dingin." Tolak Alex.


"Ya, terlalu dingin. Tapi tidak sedingin sikapmu dan hidupmu yang membosankan." Lyla melirik Alex dan menatapnya dengan sebal. "Paman, aku minta satu lagi eskrim coklat dengan banyak topping di atasnya," pinta Lyla kali ini pada penjual eskrim tersebut.


"Biar hidupmu berwarna," ucap Lyla tersenyum pada sang paman.


Di belakang mereka Mac menahan tawanya sebisa mungkin. Tidak ada yang berani mengatakan itu pada Alex, dan jika ada yang berani pun, Alex pasti akan murka dan menghukumnya.

__ADS_1


"Hei, hidupku tidak membosankan!" protes Alex kemudian hendak pergi, tapi Lyla menangkap lengan Alex dan menahannya di sana.


"Tunggu di sini. Jika kau pergi siapa yang akan memegangi eskrim itu? Tanganku penuh!" ucap Lyla.


"Masih ada tanganmu yang ini," tunjuk Alex pada tangan Lyla yang melingkar di lengannya.


"Tangan yang ini sibuk untuk memegangimu. Aku tidak mau kau sembarangan menunjuk ini dan itu dan membuat perutku meledak. Aku tahu apa yang kau pikirkan, Uncle!" ujar Lyla.


Alex menggaruk alisnya yang tiba-tiba saja gatal. Ya, dia memang berencana untuk memborong satu persatu makanan yang ada di sana untuk Lyla bawa pulang.


"Apa yang ada di pikiranku?"


"Kau bisa melakukan segalanya, dan aku takut jika kau membawa semua truk itu ke rumah untukku," ucap Lyla.


Alex berpikir sebentar. Padahal dia hanya memikirkan membawa makanannya saja. "Ya, jika kau memang mau, aku bisa membuat mereka memasak untukmu setiap hari di rumah," ucap Alex.


Alex menerima es krim tersebut di kedua tangannya. Mereka duduk di bangku yang ada di tepi jalan di dekat truk makanan tersebut. Makan sambil menikmati pemandangan jalanan memang terasa berbeda setelah selama ini dia terkurung dan terpenjara di dalam mansion yang indah.


"Tanganku kesemutan," ucap Alex yang duduk kaku di pinggir jalan sambil memegangi dua eskrim miliknya dan milik Lyla.


"Eskrim bisa membuat ku sakit gigi."


"Sesekali tidak apa-apa, kan? Jangan jadi orang yang terlalu bersih, kau justru bisa mudah sakit karena virus terlalu kuat untuk tubuhmu."


Sekali lagi, Mac menahan geli atas ucapan nona mudanya ini.


"Sini, berikan kepadaku. Buka mulutmu," ujar Lyla, kemudian menyodorkan es krim tersebut ke dekat bibir sang paman. Namun, Alex tetap saja bungkam.


"Ini sudah dibeli, jangan mubazir. Kau tidak tahu bagaimana orang lain susah payah mencari uang, atau bahkan anak yatim piatu menginginkan makanan enak, tapi mereka tidak mampu mendapatkannya."


Alex terpaksa membuka mulutnya dan merasakan kelembutan eskrim tersebut di lidahnya. Enak.

__ADS_1


"Enak kan?" tanya Lyla sambil tersenyum kecil.


"Iya, lumayan." Eskrim milik Lyla dia berikan, Alex menikmati eskrimnya sendiri dan menjilatnya. "Tidak buruk juga. Aku pikir makanan di jalanan tidak seenak ini."


"Hah, kau hanya tahu makanan restoran. Padahal lebih enak makanan di pinggir jalan. Lebih murah dan bisa membuatku kenyang."


Alex tergelak mendengar ucapan keponakannya itu. "Itu karena restoran tidak menyuguhkan quantitas, tapi kwalitas. Mereka menyuguhkan seni di dalam masakan," ucap Alex.


"Iya, aku paham. Tapi untuk kami, kami lebih memikirkan porsi yang banyak demi kenyang. Kami tidak memikirkan rasa, meski hanya menemui nasi satu piring pun tanpa lauk kami sudah sangat bahagia," ujar Lyla.


Tangan besar Alex menyentuh kepala sang keponakan dan menepuknya bak melakukan itu pada anak kecil. "Pasti hidupmu sangat menyedihkan di sana ya? Maaf, karena aku baru bisa menemuimu sekarang. Ayo, kita habiskan makanan ini. Lalu kita pulang. Lusa akan kubawa ke tempat yang menyenangkan."


"Benarkah?" tanya Lyla dengan mata yang berbinar senang.


"Ya, aku tidak berbohong. Dan mulai saat ini, namamu Laura. Lidahku keseleo jika menyebut nama Lyla."


Lyla melirik sebal pada sang paman yang kini melanjutkan makan eskrimnya. "Kau bisa mengucapkannya," gumam Lyla.


"Iya, tapi aku lebih suka dengan nama yang ibumu berikan. Laura. Nama yang cantik," tutur Alex.


Lyla tersenyum senang sambil menikmati eskrim di tangannya. Burrito yang dia makan sudah habis barusan, cukup membuatnya kenyang dan tidak mau menambah makanan yang lain.


Laura. Namaku Laura, gumam Lyla.


Tiba-tiba saja Alex menarik es krim milik Lyla dan langsung melahapnya, membuat Lyla terkejut.


"Eh, itu punyaku!" seru Lyla. Namun, Alex tidak peduli. Dia melahap es krim itu banyak-banyak di mulutnya.


"Kenapa es krim punyamu lebih enak? Tukar!" ucap laki-laki itu.


"Eh!"

__ADS_1


Lyla tidak terima, es krim vanila miliknya ditukar dengan eskrim coklat, tapi dia tidak bisa berbuat banyak saat Alex sudah menjauhkan diri darinya.


"Uncle! Kau menyebalkan!"


__ADS_2