Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
197.


__ADS_3

Sama seperti Morgan dan Lyla, di kamar yang lain Gerald dan Lian juga melakukan hal yang sama. Mereka tidak ingin melewatkan momen yang sangat indah ini, apalagi diberikan fasilitas yang sangat baik, dan mereka tidak ingin menyia-nyiakan momen bulan madu di pulau ini.


Pada malam harinya Morgan dan Gerald duduk bersama di tempat terbuka yang ada di dalam area hotel tersebut, sementara kedua istri mereka sedang menikmati sebuah film di bioskop yang ada di dalam sana.


"Bagaimana keadaan rumah tanggamu? Apakah anak itu tidak membuatmu kerepotan?" tanya Morgan kepada sepupunya.


"Tidak sama sekali." Jawaban itu yang diberikan oleh Gerald. Akan tetapi, Morgan tidak merasa yakin sama sekali akan jawaban sepupunya itu.


"Syukurlah kalau begitu. Tapi, aku melihat kenapa tubuhmu sedikit kurus akhir-akhir ini? Bukankah wanita itu bisa memasak makanan yang enak?"


"Apakah aku terlihat berbeda?" Gerald mencoba untuk memperhatikan tubuhnya sendiri. Mungkin memang akhir-akhir ini dia merasakan celananya yang sedikit longgar padahal dia bisa makan lebih banyak daripada biasanya. Masakan Lian memang sangat enak.


"Aku bisa melihat tulang selangka di lehermu dengan sangat jelas sekali," tunjuk Morgan kepada Gerald.


"Entahlah. Aku pikirkan aku terlalu sibuk untuk memegang perusahaan ini sendirian. Kenapa kau tidak punya niat untuk kembali lagi bergabung bersama kami?"


"Tidak. Aku hanya ingin tinggal bersama dengan istriku di tempat yang baru. Kau tahu kan bagaimana ayah Robinson? Telingaku sakit jika mendengar dia banyak berbicara karena aku menolak untuk menerima semua harta kekayaannya."


"Kau benar-benar sangat beruntung, Kawan. Aku sendiri tidak menyangka jika ternyata dia adalah orang tuamu."


"Iya, aku juga tidak tahu jika ternyata dia adalah orang tuaku. Tapi dia adalah pria tua yang menyebalkan."


Gerald tertawa mendengar ucapan dari Morgan. Meskipun dia mendengar kata-kata tersebut dari pria itu, tapi dia yakin jika Morgan tidak bersungguh-sungguh membencinya. Lihat saja bagaimana Morgan menyebut kata menyebalkan yang tertuju kepada Robinson dengan nada yang kesal. Gerald bisa membedakan antara seruan kekesalan dan juga kebencian yang dilontarkan oleh Morgan yang sesungguhnya terhadap orang lain.


"Apa rencanamu setelah kembali ke rumah?" tanya Morgan sekali lagi.

__ADS_1


"Aku akan mengubah suasana kantorku. Ruanganmu selama ini sangat membosankan sekali."


Morgan terkekeh mendengar niatan Gerald.


"Terserah. Lakukan saja sesukamu."


Mereka masih melanjutkan pembicaraan yang tidak ada habisnya mengenai bisnis yang sedang dikelola.


Selama lima hari lamanya mereka berada di pulau itu, puas dengan segala aktivitas yang ada di sana. Berenang di tengah laut, mengunjungi terumbu karang yang sangat indah, makan malam romantis di atas bukit, dan ada banyak hal lagi yang telah mereka lakukan bersama-sama. Morgan berpikir honeymoon kali ini tidak buruk juga dilakukan bersama-sama dengan yang lain, tapi dia masih merencanakan untuk honeymoon berdua bersama dengan Lyla saja.


Akhirnya mereka akan pulang ke tempat masing-masing. Meski sebenarnya Lyla dan Lian masih betah tinggal di pulau tersebut. Akan tetapi, suami-suami mereka bukanlah orang pengangguran yang bisa dengan seenaknya saja mendapati hari liburnya. Meskipun saat ini Morgan sudah tidak memegang perusahaan milik Castanov lagi, tapi dia harus mulai menata dirinya dan memegang beberapa perusahaan milik Robinson yang dialihkan kepadanya.


Perjalanan dari pulau tropis tersebut ke tempat yang baru tidak memakan waktu yang lama seperti saat Morgan dan Lyla datang dari negara asal mereka. Perjalanan ini lebih singkat dan cepat. Untuk kali ini Morgan benar-benar membiarkan Lyla beristirahat dengan baik meskipun dia juga masih belum puas untuk melanjutkan misinya membentuk dan membuahi rahim istrinya.


Lyla lagi-lagi dibuat terpana oleh tempat baru yang dia datangi kali ini. Namun, bukan tempat yang dia datangi untuk pergi lagi, tapi benar-benar tempat yang bisa untuk dia tinggali.


"Selamat datang di rumah. Saya harap anda berdua menyukai rumah ini," ucap salah seorang maid yang diberi kepercayaan oleh Robinson untuk mengurus rumah tersebut.


Lyla menatap kagum rumah yang baru saja dia masuki. Dia benar-benar tidak percaya hidupnya bisa berubah seratus delapan puluh derajat dari kehidupan yang sebelumnya. Di mana dulu dia adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan, sempat putus sekolah dan memutuskan untuk bekerja, dan terakhir adalah peristiwa yang membuatnya tidak bisa melepaskan diri dari Morgan. Memang benar apa yang dikatakan oleh orang lain semua pasti ada hikmah dibalik kesulitan yang terdapat pada diri manusia. Lyla bersyukur karena dia bisa mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan yang bertubi-tubi.


"Ada apa?" Morgan melirik istrinya yang masih terdiam dan tidak menggerakkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah tersebut.


Lyla menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada. Aku hanya sedang merasa senang sekali karena bisa bersamamu ada disini."

__ADS_1


"Ayo kita masuk. Jika memang tidak ada yang berkenan, kau harus bicara kepadaku."


"Iya, tentu saja."


Para pelayan yang ada di rumah tersebut berjajar di kanan dan kiri saat Lyla dan Morgan masuk ke dalam rumah itu. Mereka menaruh hormat yang besar kepada keduanya sebagai putra dan menantu dari tuan Robinson.


Semua kebutuhan mereka ditanggung oleh Robinson saat ini dan seterusnya. Robinson tidak keberatan sama sekali untuk menanggung hidup putra dan menantunya. Harta yang ada sekian banyaknya kepada siapa lagi akan dia berikan jika bukan kepada Morgan dan keluarga kecilnya?


Lyla dan Morgan diarahkan ke kamar utama yang ada di rumah tersebut. Semua kebutuhan mereka sudah dipersiapkan dengan baik termasuk pakaian-pakaian dan juga apapun yang mendukung kehidupan keduanya. Robinson telah banyak membuat Lyla berdecak kagum dan terpana hari ini dan dia bersyukur jantungnya cukup kuat untuk menerima kejutan-kejutan yang lainnya.


"Kau bisa beristirahat terlebih dahulu."


Lyla bingung dengan perintah dari suaminya itu.


"Apa kau akan pergi keluar?"


"Iya. Ayah menyuruhku untuk datang ke kantornya. Kau tidak apa kan aku tinggal di sini sendiri? Jika kau menginginkan sesuatu minta saja kepada maid."


Lyla mengangguk. Kali ini dia tidak takut lagi jika ditinggalkan seperti itu oleh Morgan, karena dia percaya Morgan tidak akan benar-benar meninggalkannya sendirian.


"Baiklah kalau begitu. Segeralah pulang untuk makan malam nanti, aku akan memasak untukmu."


"Okay. Akan aku usahakan pulang sebelum makan malam."


Morgan mendekat dan mencium kening istrinya, kemudian pergi dari kamar utama tersebut. Robinson menyuruhnya untuk pergi ke kantor, entah untuk urusan apa.

__ADS_1


__ADS_2