
"Hentikan, Tuan!" Morgan menghempaskan tangan pria tersebut ke samping, tubuh pria itu lebih kecil dari Morgan sehingga hampir saja terhempas ke dinding.
Rachel yang tadi refleks menghalangi wajahnya dengan tangan kiri menatap Morgan yang ada di sebelahnya.
"Apa kau tidak tahu jika kelamin anakmu ditentukan oleh ****** pria? Jadi jangan salahkan istrimu jika dia melahirkan anak perempuan, tapi kaulah yang harus disalahkan!" ujar Morgan kepada pria itu.
"Siapa kau? Jangan ikut campur dengan kehidupan kami. Kau tidak berhak mengatur kami!" tunjuk pria itu kepada Morgan. Keinginan keluarganya adalah memiliki keturunan laki-laki yang bisa memimpin perusahaan kelak. Dua anak dari kakaknya adalah perempuan dan dia tidak mau jika anaknya memiliki nasib yang sama seperti mereka dan tidak mendapatkan hak waris dari kakek dan neneknya.
"Aku juga calon ayah. Kau tidak bisa berkata kasar seperti itu kepada anakmu bahkan sebelum dia dilahirkan!"
"Kenapa tidak bisa, huh? Dia anakku, kau tidak berhak untuk melarangku, Bung!" Pria itu mendorong dada Morgan dengan berani sehingga Morgan mundur satu langkah.
"Ya, benar sekali. Mereka adalah milikmu, tapi membunuh darah dagingmu sendiri, kau tidak memiliki haknya sama sekali! Apa kau tidak melihat apa yang istrimu alami selama mengandung? Dia susah payah menahan beban di perutnya dan susah payah menahan sakit saat mengandung anakmu. Kau tidak pernah merasakan setiap pagi istrimu yang harus mual muntah dan tidak bisa makan. Kau tidak merasakan sulitnya tidur di malam hari karena rasa yang tidak menyenangkan yang dia rasakan, kan? Jawab aku jika kau ikut merasakannya!" bentak Morgan pada pria itu.
"Apa pedulimu. Biarkan saja jika anak itu mati, toh kau tidak tahu apa yang terjadi kepadanya jika dia lahir. Dia tidak akan bisa menjadi yang aku mau. Dia hanya akan menjadi seorang anak yang bisanya merengek kepada orang tuanya, dan istri dan tugasnya hanya melayani orang lain saja. Aku tidak butuh anak perempuan yang hanya menjadi beban keluarga--"
Bugh!
Morgan meninju rahang pria tersebut dengan keras sehingga pria itu terjengkang ke belakang dan membuat ranjang sang istri sedikit terdorong. Mulutnya berdarah, terasa perih.
"Kau ... kau berani memukulku?" geram pria itu setelah mengetahui jika bibirnya sobek dan mengeluarkan darah.
"Itu memang pantas untukmu." Morgan tertawa kecil, mengusap tulang jemarinya yang sedikit sakit.
"Morgan, sudah." Rachel terkejut atas tindakan Morgan dan menahan tangan Morgan yang sepertinya hendak memukul pria itu lagi.
"Akan aku adukan kau kepada pemilik rumah sakit ini! Awas saja kau!" tunjuk pria itu lagi kepada Morgan tepat di depan wajahnya. Laki-laki tersebut tetap tidak terima apa yang Morgan katakan, sehingga dia menendang kursi yang tadi dia duduki dan berbalik pada istrinya. "Pulang!" seru pria itu menarik tangan sang istri dan memaksanya turun dari brankar.
"Ah, pelan-pelan," rintih wanita hamil itu kesakitan saat suaminya menarik tangannya untuk pergi dari sana. Namun, suaminya tidak mendengarkan dan tetap menarik tangannya keras.
"Tuan, jangan kau tarik tangannya. Itu--"
"Apa pedulimu?" bentaknya kepada Rachel. "Ayo kita pulang. Dasar wanita tidak berguna!"
Rachel yang mendengar ucapan dari pria tersebut menjadi emosi. Sepanjang karirnya sebagai dokter kandungan, dia melihat banyak hal yang terjadi kepada para wanita yang sedang berjuang menjalani kehamilannya. Seringkali dia mendengar dari mereka bahwa kehamilan membuat mereka kesulitan, tapi senyum bahagia terpancar dari wajah-wajah lelah dan kesakitan itu.
"Tunggu! Kau tidak bisa memperlakukan istrimu seperti itu, Tuan," cegah Rachel menarik tangan laki-laki tersebut.
Tatapan marah darinya terlihat semakin ganas bak seekor harimau yang akan menerkam mangsanya. "Sudah aku bilang, kau tidak perlu peduli. Dia istriku, aku berhak melakukan apa pun kepadanya. Kalian--"
Rachel yang sudah sangat geram melayangkan kepalan tangannya pada pria tersebut. Tak disangka amarah seorang wanita lebih menyeramkan dari seorang pria. Laki-laki tersebut terjengkang akibat pukulan Rachel yang dia kerahkan dari setengah kekuatannya. Darah kini mengalir di hidung pria tersebut.
"Kalian--" Pria itu bangkit dari lantai sambil mengusap darah dari hidungnya yang mungkin saja patah. "Aku akan melaporkan apa yang kalian lakukan kepadaku!" Tunjuknya dengan tangan yang lain.
__ADS_1
"Laporkan saja!"
Dia kesal, matanya masih menyala-nyala penuh kobaran api. Tangannya hendak menarik tangan sang istri, tapi Rachel menghalangi dengan tubuhnya yang menjadi tameng di depan tubuh pasiennya.
"Aku adalah dokternya. Kau pergi. Dia tinggal di sini!" ucap Rachel tegas.
Laki-laki itu hendak melawan Rachel, tapi Morgan beralih berdiri di depan Rachel.
"Awas saja kalian, tunggu saja pembalasanku! Aku akan menceraikanmu!" Tidak ingin mendapatkan pukulan lagi, pria itu pergi setelah mengatakan hal tersebut kepada istrinya.
Di belakang Rachel dan Morgan, wanita hamil itu jatuh terduduk lemas sambil memegangi brankar, menangis tersedu sehingga Rachel menjadi khawatir.
"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, Nyonya."
"Apa yang akan terjadi dengan keluargaku?" ucap wanita tersebut dengan isak tangis tersedu-sedu.
Morgan menatap iba kepada wanita itu saat mendapati cerita memilukan darinya. Semua orang punya cerita, begitu juga dengan wanita ini yang tak kalah menyedihkannya dengan Lyla.
...***...
Morgan memikirkan apa yang terjadi di rumah sakit tadi. Bayangannya kini tertuju kepada Lyla dan dia tidak bisa melanjutkan perjalanannya ke kantor sang ayah.
"Putar balik," perintah Morgan kepada Takeda.
Takeda merasa bingung, tapi perintah itu dia laksanakan juga.
"Morgan. Apa ada yang tertinggal?" tanya Lyla saat Morgan menutup pintu kamarnya.
Morgan tidak menjawab, hanya membaringkan tubuhnya dengan paha sang istri yang menjadi alas kepalanya.
"Hei, kenapa?" Lyla khawatir melihat Morgan yang seperti itu. "Morgan, ada apa denganmu?" tanya Lyla lagi tidak sabar.
"Aku ... tidak apa-apa." Morgan tersenyum kecil sambil menatap istrinya. Melihat kejadian tadi di rumah sakit dan mendengar cerita menyedihkan wanita itu, membuat mood Morgan turun drastis. Tidak ada yang boleh memperlakukan wanita seperti itu. Bagaimana pun juga, manusia tidak terlahir dari batu, melainkan dari seorang wanita yang telah berjuang dengan susah payah mengandung selama sembilan bulan lamanya. Semua orang yang terlahir pasti akan memiliki makna dan tujuannya masing-masing.
Morgan pernah menjadi pria yang tidak baik, tapi mendengar seorang calon ayah yang berkata buruk tentang putrinya yang masih belum lahir membuatnya murka. Bayangkan saja andai tidak ada wanita di dunia ini, tidak akan ada juga kehidupan selanjutnya.
"Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Lyla lagi.
"Iya. Aku hanya ingin memelukmu saja." Morgan berbalik sehingga matanya lurus dengan perut istrinya yang masih rata, menciuminya dan berjanji di dalam hati jika dia tidak akan membedakan antara laki-laki dan perempuan dan tidak akan berkata kasar kepada Lyla.
Lyla tidak ingin bertanya lagi, Morgan tidak akan membuka mulutnya dan mengatakan apa yang terjadi kepadanya. Biar dia mencari tahu saja kepada Takeda. Pria Jepang itu pasti tahu apa yang sedang terjadi.
...***...
__ADS_1
Malam sangat cerah di langit New York malam ini, tapi tidak ada satupun bintang yang terlihat di langit sana karena lampu terang dari kota tersebut yang seakan tidak ada matinya itu. Di balkon kamarnya, Rachel sedang berdiri dan menatap langit dengan bulan yang bersinar indah, tapi tidak begitu dengan hatinya yang sedang muram.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Rachel terkejut karena mendengar suara Robinson di belakangnya. Dia memang sedang melamun, tapi penuh keawasan karena hidupnya bersama dengan Robinson harus tetap dalam keadaan siaga.
"Ayah? Maaf, aku tidak mengetahui kedatanganmu," ucap Rachel menundukkan kepalanya hormat.
"Tidak apa-apa. Apa kau sedang memikirkan yang terjadi di rumah sakit tadi?"
Rachel sudah mengiranya, Robinson tidak mudah untuk dia temui karena kesibukannya. Akan tetapi, pria lanjut usia itu akan datang jika ada sesuatu yang menimpanya. Perhatian pria itu penuh meski tidak ada di sampingnya.
"Iya, Ayah."
"Tidak perlu khawatir, aku sudah menanganinya dengan baik."
Rachel tersenyum dan menundukkan sedikit tubuhnya. "Terima kasih, Ayah. Kau memang ayah yang terbaik," ucap Rachel senang.
"Tidurlah, kau pasti lelah setelah seharian bekerja."
"Baik, Ayah."
Robinson melirik putri asuhnya. "Apa kau tidak ingin aku berikan perusahaanku? Mungkin itu akan lebih baik daripada kau terus mendapati pasien atau keluarganya yang membuat stress."
Rachel tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Maaf jika aku mengecewakanmu, Ayah. Tapi, aku tidak sanggup untuk menerimanya. Aku tidak cukup kuat dan aku tidak cukup hebat untuk menerima kekuasaan Ayah yang begitu besar. Morgan sudah ada di sini, dia lebih berhak untuk menerima semua yang Ayah miliki."
"Kau yakin?"
"Iya. Aku hanya tidak ingin mengecewakanmu lagi. Memegang tampuk kekuasaan yang kau berikan, aku tidak sanggup dengan tubuhku yang sudah lemah."
Robinson menghela napasnya, menatap sang putri dengan tatapan iba. "Kau masih meminum obatmu, kan?"
Rachel mengangguk lagi. Sebuah racun yang tidak diketahui kandungannya, telah disuntikkan oleh musuh Rachel yang juga putri dari musuh Robinson ke dalam tubuh Rachel saat wanita itu diculik sebelum acara kelulusan sekolahnya. Seorang teman yang tidak menyukai Rachel karena segudang prestasinya, menculik wanita muda itu dan menyuntiknya tanpa perasaan.
Rachel berhasil diselamatkan karena Robinson mengerahkan tenaga medis ahli untuk menolong putri angkatnya ini. Para dokter telah mengembangkan sebuah penawar racun dan selama itu Rachel tidak sadarkan diri. Rachel sembuh, tapi efek dari racun tersebut telah berpengaruh kepada jantungnya. Kabar terburuk, jika racun itu menyentuh otak dan sayarafnya, sudah dipastikan jika Rachel bisa mati otak dan bisa saja tidak selamat.
"Aku masih meminumnya. Ayah jangan khawatir."
Robinson mendekat dan mengusap kepala Rachel dengan sayang. Baginya, Rachel adalah seorang anak yang membuatnya bisa merasakan menjadi seorang ayah yang sesungguhnya sebelum bertemu dengan Morgan.
"Aku akan kembali ke rumah utama. Sesekali pulanglah ke rumah, Mom mengundangmu untuk makan malam."
"Baik, Ayah."
__ADS_1
Robinson pergi, Rachel mengantarnya ke luar hingga sampai pintu utama.
Bagi Rachel, Robinson adalah penyelamat, ayah, serta pahlawannya. Andai malam saat hujan deras itu dia tidak bertemu dengan Robinson, hidupnya pasti akan berakhir saat itu. Mati mengenaskan di jalanan yang keras. Sayang, adik Rachel sudah berpulang lebih dahulu sehingga dia tidak bisa membawanya serta ke rumah ini.