
Lyla baru saja mematikan panggilan tersebut dan menyimpan ponsel milik Morgan di atas nakas. Dia mendekat ke arah kamar mandi dan mengetuk pintunya perlahan.
"Tuan, aku sudah menghubungi Tuan gerald untukmu. Aku akan kembali ke kamarku, ya?" pamit Lyla. Dari dalam sana tidak terdengar suara apa-apa, Lyla menganggap jika dia juga tidak perlu mendapatkan jawaban dari Morgan untuk pergi dari sana.
Di dalam kamarnya, Lyla bergegas untuk mandi, dia ingin berbaring dulu sebelum nanti akan membantu yang lainnya di rumah ini. Meski Morgan tidak menyuruhnya untuk membantu yang lain, tapi dia harus tahu diri karena sudah ditampung dan disekolahkan di sini. Lagi pula, tangannya juga harus sering bergerak agar bisa lebih kuat lagi seperti semula.
Lyla mengangkat tangan dan melihat pergelangannya, ada bekas jahitan yang terlihat jelas di sana. Sekarang dia menyesal dengan apa yang dia lakukan waktu itu. Andai, dulu dia tidak melakukan ini pastilah saat ini dia akan bisa melakukan banyak hal untuk dikerjakan.
"Ah, aku bodoh waktu itu. Memangnya jika aku mati, aku akan bisa bahagia?" gumamnya pelan, dia tidak sedih, tapi malah tertawa mengingat kebodohannya itu.
...*...
Air yang keluar dari shower terus mengguyur tiada henti. Rambut dan tubuh itu sudah basah, tapi Morgan seperti tidak ingin keluar dari air itu sekarang ini. Dia sedang menikmati guyuran air dan mencoba untuk melupakan wanita itu.
Mungkin aku salah melihat. Dia tidak mungkin kembali lagi, kan? Apa itu benar dia? gumam Morgan di dalam hatinya. Dia menunduk, membiarkan air mengucur dari ujung hidungnya.
Hatinya terasa sakit dan sulit untuk kembali bisa seperti dulu, itu karena Renee. Akan tetapi, apa yang membuat wanita itu pergi darinya, dia tidak bisa mengerti alasannya.
...*...
Setelah berbaring sebentar Lyla turun ke bawah, sudah waktunya makan siang dan koki sudah selesai membuat makan siang untuk Morgan.
"Apakah Tuan muda belum keluar dari dalam kamarnya?" tanya Lyla pada ibu Lian.
"Belum, Nona. Saya sudah mengetuk pintunya dan memanggilnya untuk makan siang," ucap wanita itu.
"Oh, aku akan coba panggil dia."
Lyla pergi ke kamar Morgan dan mengetuk pintunya, tapi tidak terdengar satu suara pun dari dalan sana, sehingga Lyla memutuskan untuk membuka pintunya. Siapa tahu saja Morgan sedang melamun, kan? Ya, bisa saja laki-laki itu melamun karena tadi saja saat mengemudi sorot mata Morgan seperti tidak bercahaya.
"Tuan!" panggil Lyla, tapi Morgan tidak menjawab juga. Lyla melihat jika laki-laki itu sedang berbaring di atas ranjang king size-nya.
"Apa kau tidur?" Lyla masuk untuk memastikannya. Dia harus makan siang agar tidak mengalami sakit lambung lagi.
Perlahan Lyla masuk dan mendapati Morgan di tempat tidurnya dengan menutup mata. Tampan wajah itu dan tenang sekali sehingga Lyla tersenyum melihatnya. Morgan yang tertidur dengan tenang seperti ini membuat laki-laki itu tidak tampak dingin lagi menurutnya.
"Tuan, sudah waktunya makan siang. Bangunlah dulu, nanti kau bisa melanjutkan lagi tidurmu," ucap Lyla menggoyangkan bahu Morgan yang tanpa helai pakaian. Lyla harus tega membangunkan Morgan karena dia tidak mau jika Morgan sakit lagi.
"Tuan, apakah kau ingin aku membawa makanan itu kemari?" tanya Lyla sekali lagi. Morgan yang merasa tidurnya terganggu menjadi kesal. Dia baru saja menutup matanya sekitar dua puluh menit yang lalu, kenapa wanita ini sudah mengganggunya?
Morgan membuka matanya. "Apa kau tidak bisa membiarkanku tidur dengan baik?" tanya Morgan kesal.
"Maaf, tapi aku tidak mau kau sampai sakit lambung lagi karena terlambat makan. Koki sudah menyiapkan makanan dan kau harus pergi untuk memakannya," desak Lyla.
Morgan menghela napasnya dengan kesal. Selama ini tidak ada yang pernah mengganggu tidurnya, ada apa dengan wanita ini?
__ADS_1
"Ayo, bangunlah dulu. Seharusnya jika kau ingin tidur siang pastikan dulu jika kau sudah makan, jadi tidak akan ada yang mengganggumu untuk tidur," ucap Lyla bak seorang ibu yang tengah mengomel kepada putranya. Morgan benar-benar kesal sekarng ini, dia mengambil selimutnya dan berbalik memunggungi Lyla.
"Kau makan lah dulu, aku akan pergi satu jam lagi," ucap Morgan kesal.
"Benar satu jam lagi?" tanya Lyla memastikan.
"Hem!" Selimut itu dia naikkan menutupi kepalanya.
"Oke, satu jam lagi aku akan kembali membangunkanmu. Awas saja jika kau tidak bangun, aku akan menyirammu dengan seember air!" ancam Lyla. Morgan tidak menggubris ucapan wanita itu, dia meneruskan memejamkan matanya.
Lyla keluar dari kamar Morgan dan pergi ke dapur untuk makan bersama dengan asisten yang lainnya.
"Mana Tuan Morgan?" tanya ibu Lian.
"Dia masih tidur, Bu."
"Apakah dia sakit?" tanya ibu Lian dengan khawatir.
"Aku pikir tidak. Mungkin dia hanya ingin bermalas-malasan saja," ucap Lyla.
"Ya, semoga saja seperti itu. Ayo kita makan. Aku sudah buatkan makanan yang enak untuk kita semua." Lyla menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah kaki wanita itu ke dapur.
"Emh, ini wangi sekali. Apa bahan dari sup ini? Aku ingin belajar memasak," tanya Lyla saat dia membuka tutup panci dan membaui aroma kuah yang ada di sana. Aroma rempah yang kuat dengan kuah berwarna kuning membuat dia merasa lapar sekarang ini.
"Nama masakan ini Soto. Aku mendapatkan resepnya dari temanku, seorang asisten yang berasal dari Indonesia. Aku juga mendapatkan banyak rempah yang dia bawa dari sana," ucapnya sambil tertawa dengan senang.
"Tentu saja. Ini." Ibu Lian membawakan mangkok berserta sendoknya untuk Lyla dan memberikan makanan yang telah dia ambil untuk dicicipi.
"Waaah, rasanya enak sekali. Sedikit pedas. Apakah yang membuatnya gurih?" tanya Lyla penasaran. Dia sedikit kepedasan karena tidak terlalu suka dengan rasa pedas.
"Itu dicampur dengan santan kelapa, juga dengan bumbu kaya rempah yang beberapa hanya ada di sana," terangnya.
"Ooh."
"Ayo kita hidangkan di belakang," ajak ibu Lian. Lyla mengangguk dan segera mengambil piring untuk semua orang yang akan makan di belakang.
"Oh, ya. Apakah tuan muda tidak memakan ini?" tanya Lyla saat dia tidak melihat makanan yang sama terhidang di atas meja.
"Tidak. Aku tidak yakin jika tuan muda akan suka, lagi pula beberapa orang yang memiliki masalah lambung tidak cocok makan ini karena akan memacu asam lambungnya naik. Ayo, cepat bawa ini. Semua orang pasti sudah menunggu kita untuk makan."
Satu jam berlalu, Morgan belum juga keluar dari dalam kamarnya sehingga Lyla kembali membangunkan laki-laki itu.
"Tuan, ini sudah satu jam. Apakah kau tidak akan bangun juga?" tanya Lyla mulai kesal. Sejak lima menit yang lalu dia tidak bisa membangunkan Morgan. Tepatnya tidak bisa membuat laki-laki ini keluar dari kamarnya.
Morgan sedari tadi memang tidak tidur, dia hanya ingin berbaring malas saja menikmati waktu santainya seharian ini.
__ADS_1
"Tuan, kau bisa jadi ulat jika tidak bangun. Ayo, sudah waktunya untuk makan siang," ucap Lyla kemudian menarik tangan Morgan sekuat tenaga agar dia mau bangun.
"Aku sedang malas, Lyla." Morgan tidak menghalau tangan Lyla, tapi dia memberatkan dirinya sendiri membuat Lyla kesulitan untuk menariknya.
Lyla kini menyerah, sudah lelah dirinya membangunkan pria besar pemalas ini. "Ya sudah jika kau tidak mau bangun. Aku tidak mau mengurusmu lagi!" ucap Lyla marah lalu pergi dari kamar itu. Morgan tidak peduli, dia memilih untuk melanjutkan kembali acara malas-malasnya.
Tidak sampai lima menit kemudian, Lyla kembali datang dengan kegaduhan dari suaranya yang menyuruh Morgan untuk bangun, tapi Morgan benar-benar tidak mau ke luar untuk makan. Dia menutupi telinganya dengan bantal tanpa dia tahu jika Lyla membawa makanan untuknya.
"Pergi lah, aku sedang ingin bermalas-malasan, Lyla!" usir Morgan.
"Tidak bisa seperti itu. Kau sudah janji satu jam yang lalu bahwa kau akan makan, bukan? Jadi, karena kau tidak mau keluar, makanan yang datang kemari," ucap Lyla kemudian menyimpannya di atas nakas.
Lyla menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Morgan, tidak menyangka jika laki-laki ini ternyata bisa bersikap seperti anak kecil juga. Dia teringat dengan adiknya di panti asuhan, terkadang juga seperti ini saat tidak mau makan dan harus dibujuk dengan perjuangan dan kesabaran ekstra.
Bantal yang ada di kepala Morgan dia ambil dan dibuang ke sisi ranjang yang lain.
"Apa yang kau lakukan? Aku sedang tidak ingin makan." Morgan berbalik, menatap Lyla dengan marah, wanita itu berkacak pinggang dengan tatapan melotot.
"Aku tidak suka kau bersikap seperti ini. Yang lain sudah membuatkanmu makanan yang lezat, kenapa kau masih tidak mau makan?" tanya Lyla mulai kesal.
"Aku tidak lapar."
"Kau tetap harus makan agar perutmu tidak sakit, ini sudah terlambat satu jam dari makan siangmu!" Lyla tidak mau tahu, dia menarik kembali tangan Morgan dengan kuat.
"Jika kau tidak mau makan, aku akan mengganggumu sampai kau mau menghabiskan makananmu," ucap Lyla lagi. Mau tidak mau Morgan menurut saja, dia pasrah saat Lyla kembali menariknya dan duduk dengan baik. Lebih baik makan daripada mendengarnya mengomel panjang lebar.
Seperti Tante Selvi saja. Aku tidak bisa tenang dengan adanya dua orang ini, batin Morgan.
Lyla sangat senang karena akhirnya Morgan mau duduk, dia segera mengambil piring dan menyendok makanan tersebut dengan tanpa sadar. Kebiasaannya saat di panti tidak bisa dia lupakan.
"Aaa." Lyla membawa sendok berisi makanan ke depan mulut Morgan.
Morgan terkejut dengan apa yang Lyla lakukan. Dia hanya diam dan menatap mata Lyla yang meneduhkan.
Sadar dengan diamnya Morgan, Lyla tersadar dan kembali menyimpan sendok itu di atas piring. Kikuk rasanya karena dia melakukan kesalahan yang seperti itu.
"Eh, maaf," ucap Lyla seraya memberikan piring itu ke tangan Morgan. "Aku lupa. Aku refleks seperti biasanya saat aku di panti. Maaf," ucapnya lagi dengan merasa bersalah dan juga malu. Wajahnya memerah, terasa panas saat Morgan tidak mengalihkan tatapan darinya.
"Anda makanlah, aku akan pergi," pamit Lyla. Akan tetapi, saat dia baru saja akan berdiri Morgan menahannya dan menyuruhnya kembali duduk.
"Duduklah. Suapi aku seperti kau menyuapi adikmu di panti," ucap Morgan. Lyla terdiam, tapi segera mengambil piring itu kembali saat melihat Morgan menunjuk mulutnya yang terbuka.
Ragu, tapi Lyla melakukannya juga. Dia merasa malu karena baru kali ini menyuapi seorang laki-laki dewasa seperti ini.
Morgan tersenyum tipis diantara kunyahannya, makanan ini tentu saja sangat enak, terlebih lagi dia tidak perlu menggunakan tangannya untuk makan.
__ADS_1
Seseorang menutup pintu kamar itu dengan pelan dan dengan gumaman kesal.
Bisa-bisanya mereka berduaan, sementara aku saja kelaparan!