Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
232


__ADS_3

Selsai dengan makan malam, Selvi dan Robinson pulang ke rumah. Selvi sangat senang sekali karena Robinson memberikan yang dia mau malam ini. Semua makanan tadi telah masuk ke dalam perutnya sehingga dia kekenyangan.


Mobil melaju di jalanan Kota New York, sangat pelan sekali sehingga mereka masih belum sampai ke rumah.


"Weston, kenapa kita melaju perlahan sekali?" tanya Selvi kepada asisten suaminya.


"Aku yang memerintahkannya untuk melaju lebih lambat."


"Ini bukan lebih lambat, Sayang. Tapi kita hampir tidak bergerak!" ucap Selvi kesal. Seharusnya mereka sudah sampai semenjak tiga puluh menit yang lalu, tapi sampai saat ini bahkan seperempat perjalanan pun belum mereka lalui. Selvi heran sedari mereka pergi dari rumah sakit tadi, mobil melaju sangat pelan.


"Kau sedang hamil dan ingat apa kata Rachel, kita harus berhati-hati dan aku harus ekstra menjagamu, Sayang. Aku tidak mau ada sesuatu hal yang buruk terjadi kepadamu dan anak kita."


Selvi kesal mendengarnya.


"Sayang, aku paham apa yang kau khawatirkan, tapi tidak juga seperti ini keadaannya. Kita tidak akan pernah sampai ke rumah dan bahkan bisa saja jika tiga hari kemudian kita sampai," omelnya.


"Ide yang bagus. Weston, sepuluh kilometer perjam."


"Baik, Tuan."


wanita itu hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar perintah yang diberikan oleh suaminya.


"Robinson, yang benar saja. Jangan terlalu berlebihan!" peringat Selvi sekali lagi.


"Aku tidak berlebihan, hanya sekedar sedang menjaga milikku," ucap Robinson tidak peduli.

__ADS_1


"Kalau begitu hentikan mobilnya, biar aku pakai taksi saja. Bahkan berjalan kaki lebih cepat dari mobil ini!" perintah Selvi kepada Robinson.


"Aku tidak akan mengizinkannya."


"Aku akan melompat," ancam Selvi dengan nada kesal dan tatapan marah ke pada suaminya.


Robinson adalah pria yang tidak pernah terbantahkan sebelumnya, tapi entah kenapa semenjak menikah dengan Selvi dia menjadi pria yang selalu mengalah dan tidak bisa menang dari wanita itu.


"Baiklah-baiklah. Weston, lebih cepat lagi, dua puluh kilometer per jam. Sudah lebih baik, kan?" tanya Robinson kini ke pada istrinya. Selvi memutar bola matanya malas mendengar hal yang tidak lebih baik lagi.


"Sayang. Bisakah kita lebih cepat lagi?"


"Tidak!"


"Robinson 'Willy' Evander!" panggil Selvi dengan nama tengah yang merupakan nama panggilan Robinson saat kecil. Weston yang sedang mengemudi hampir tidak bisa menahan tawanya. Beruntung dia tidak sampai menyemburkan tawa, jika tidak entah bagaimana hidupnya dalam hitungan beberapa jam ke depan.


"Kalau begitu percepat laju mobil ini, Willy."


Akhirnya Robinson memerintahkan Weston untuk menekan pedal gas lagi, tapi tetap dalam kondisi mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.


"Jangan harap akan lebih laju lagi dari ini, Sayang. Aku tidak mau berdebat dan aku tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan."


Selvi hanya tersenyum meringis memperlihatkan giginya yang putih. Sedangkan Robinson hanya mengurut pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.


Sampai di rumah, waktu telah menunjukkan hampir jam sebelas malam. Robinson langsung membersihkan dirinya sementara Selvi berbaring dengan nyaman di atas kasur.

__ADS_1


Robinson keluar dari dalam kamar mandi dan terkejut saat melihat Selvi yang telah mengganti pakaiannya dengan lingerie sehingga memperlihatkan tubuhnya yang putih mulus.


Glek.


Robinson dengan susah payah menelan ludahnya sendiri. Apa yang tersuguh di depannya adalah hal yang membuat sesuatu di tubuhnya selalu bereaksi tanpa bisa dikendalikan. Bahkan kali ini pun sama, handuknya tidak bisa menutupi tonjolan yang semakin lama semakin terlihat.


Napas Robinson semakin sesak, hawa dingin di dalam kamar itu kini menjadi panas sekali.


"Apa yang kau pakai?"


"Ini? Tentu saja baju haram yang kau suka aku pakai," ucap Selvi sambil menggerakkan jari telunjuknya mengundang Robinson untuk mendekat.


"Hentikan. Jangan lakukan itu!" tolak Robinson yang membuat Selvi menjadi marah. Biasanya Robinson tidak pernah menolaknya, tapi kali ini kenapa suaminya itu menolaknya padahal dia sudah mengganti pakaiannya dengan lingerie yang disukai oleh Robinson?


"Jadi kau tidak mau?" tanya Selvi semakin marah, apa lagi saat Robinson memutar tubuhnya dan memunggunginya. Susa payah Robinson menahan dirinya untuk tidak mendekati sang istri. Ini adalah godaan terberatnya dan dia telah menahannya selama sebulan lamanya.


"Sayang, sebaiknya kau pergunakan waktumu lebih banyak untuk beristirahat. Kau membutuhkannya karena ada baby di dalam perutmu," ucap Robinson lagi.


Selvi mendengkus sebal, kemudian mendekati suaminya dan memeluknya dari belakang.


"Apa kau marah kepadaku karena aku sedang hamil?" perasaan Selvi campur aduk, padahal dia ingin disentuh oleh suaminya sekarang dan sebagai bentuk karena dia sudah membelikan makanan yang diinginkan.


"Tidak aku tidak marah. Aku hanya takut jika ... sshhhh." Robinson mengeluarkan suara keenakan saat Selvi memasukkan tangannya ke balik handuknya, memainkan belut yang kian lama kian menjadi besar.


"Ayo kita bercinta, aku menginginkanmu, Suamiku."

__ADS_1


Robinson menahan dirinya dengan susah payah.


"Rachel. Kita hubungi Rachel terlebih dahulu," usul Robinson seraya menjauhkan tangan Selvi dari miliknya yang sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Robinson pergi dan mengambil ponselnya.


__ADS_2