Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
134. Masa Lalu


__ADS_3

Sementara di tempat yang lain, seseorang tengah mengucurkan air mata tanpa bisa berbuat banyak. Selang oksigen menempel di mulut, di tangannya terdapat selang dengan cairan infus. Kurus, tak lagi berdaya, itulah yang menjadi penyesalannya. Seharusnya dia tidak pernah kembali, seharusnya dia menyerah saja. Mana tahu jika ternyata Morgan akan menabrakkan kendaraan hingga membuat kecelakaan itu terjadi dan membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa selain berbaring.


Suara ranting di luaran sana terdengar bergesekan dengan jendela akibat angin yang berembus cukup kencang. Ditambah dengan suara hujan yang semakin lama semakin deras.


Seorang laki-laki duduk di samping wanita itu, menatapnya tanpa ekspresi, kedua tangannya terlipat di depan dada, senyumnan sinis terlihat di bibirnya.


"Apa yang kau inginkan lagi? Kenapa kau tidak membunuhku saja?" ucap Renee dengan terbata dan juga dengan nada yang sangat lemah.


"Membunuhmu? Belum waktunya malaikat maut menjemputmu, Sayang. Belum waktunya!" ucap Gerald sambil tersenyum sinis.


Renee menggelengkan kepalanya dengan lemah. Sudah cukup apa yang dilakukan oleh laki-laki ini terhadapnya.


"Apa kau tidak kasihan kepadaku? Mana hatimu?"


"Hatiku? Kau yang sudah membawanya pergi, Renee. Kau yang menyebabkan di sini tidak ada lagi hati untukmu," ucap Gerald sambil menunjuk ke dadanya, membuat hati Renee semakin sakit. Sakit yang tak terkira melebihi sakit di tubuhnya.


Gerald bangkit dari duduknya dan beralih duduk di samping wanita yang dulu pernah memporakporandakan hatinya.


"Aku pernah mengatakan padamu agar jangan kembali, bukan? Kau tidak pernah mendengarkanku. Sudah berapa kali aku bilang itu, ha!" ujar Gerald seraya mengelus pipi Renee.


Renee menangis dalam diam. Ya, dia salah. Dia yang tidak mendengarkan. Rasa hatinya yang besar kepada Morgan membuatnya menyingkirkan rasa malu atas apa yang pernah dia lakukan pada Morgan.

__ADS_1


"Bukankah aku dulu juga pernah bilang padamu untuk menyingkirkan perasaan itu dan tinggal bersama denganku di tempat lain? Tapi kenapa kau tidak mau? Apakah aku laki-laki yang buruk untukmu?" tanya Gerald lagi.


Renee mengingatnya, Gerald tidak pernah memperlakukan dia buruk. Justru dia lah yang memperlakukan Gerald semena-mena. Karena Morgan, dia melupakan cinta tulus dari laki-laki ini padahal dulu memang Gerald lah yang bisa memiliki hatinya. Hanya karena hasutan dari keluarganya untuk mendekati Morgan agar laki-laki itu bisa dijadikan pegangan mereka, selain nama besar juga karena hartanya.


"Aku salah."


"Ya, kau memang salah. Apalagi dengan yang kau lakukan terhadap Marcel. Siapa yang akan terima jika adiknya diperlakukan seperti itu?" tanya Gerald mendekatkan diri dan menatap mata Renee denganjarak yang sangat dekat, tak ada lagi cahaya yang ada di dalam sana, hanya ada bulir air mata yang tidak bisa membuat luluh hati seorang Gerald kini. Hati Gerald benar-benar terluka dan sulit untuk dibenahi lagi.


Renee mengingat kembali di masa lalu, dia memang salah memperlakukan Marcel. Dia tidak menyangka hanya karena kata-katanya, telah membuat laki-laki itu menurut dan akhirnya semua itu terjadi. Dia mengingat semua kesalahannya terhadap Marcel, laki-laki yang juga mencintainya.


*


"Kau bisa melakukan itu, bukan?" tanya Renee waktu itu, saat dua bulan sebelum Morgan mengajaknya menikah. Renee dan Marcel bertemu di sebuah taman yang ada tak jauh dari perusahaan Morgan.


"Hem, akan aku pikirkan. Kau pikir kau layak untukku?" tanya Renee seraya tersenyum sinis.


"Ya, tentu saja aku layak. Aku akan berusaha untuk layak demi kau, Renee."


Renee tertawa kecil sambil menutupi mulutnya. "Adik kecil. Rupanya kau sudah bisa menyebut namaku tanpa sebutan 'Kak'. Apa kau tidak takut jika kakakmu akan marah kau menemuiku dan mengatakan cinta untukku?" tanya Renee lagi merasa lucu dengan Marcel. Dia tahu jika Marcel hanyalah adik angkat Morgan dan tidak memiliki apa-apa jika bukan karena Morgan yang memberikannya.


"Tentu saja tidak. Aku tidak akan takut dengannya. Dia sama sepertiku, dan aku tahu bagaimana cara untuk mendapatkan apa yang kau mau," ucap Marcel dengan cepat, tak ingin jika Renee mencabut lagi kata-katanya.

__ADS_1


"Oh, baiklah. Aku akan menunggu, aku ingin pembuktian darimu," ucap Renee sambil pergi meninggalkan Marcel dan pergi menuju ke perusahaan Morgan.


Marcel berusaha keras untuk membuat Renee jatuh cinta kepadanya. Jika hanya untuk kalah di dalam pelelangan dia bisa melakukannya dengan mudah. Katakan saja pada Morgan jika pihak lawan sangat gigih atau dia terlambat karena suatu hal saja. Dia yakin jika Morgan tidak akan marah kepadanya.


Pelelangan yang ingin dimenangkan Morgan telah jatuh ke tangan orang lain. Morgan tidak pernah menyangka jika dia kalah dan tidak bisa mendapatkan tempat tersebut. Area lahan yang sangat luas berada di tengah-tengah kota, strategis, dan dia yakin jika membangun pusat perbelanjaan di sana akan sangat menghasilkan untuknya. Akan tetapi, bukan karena hal itu juga yang membuatnya kecewa, seseorang yang memenangkannya lah yang membuat Morgan merasa kesal. Dia adalah musuhnya dalam dunia bisnis.


"Aku sudah mendapatkannya untukmu. Kau bisa bersama denganku?" tanya Marcel pada Renee yang ada di dalam pelukannya, mencium leher jenjang wanita yang dia cintai dan memberikan tanda merah di sana.


"Hanya karena itu saja belum layak kau untuk bersama denganku, Marcel," ucap Renee melepaskan tangan Marcel dari depan tubuhnya.


"Lalu aku harus melakukan apa?" tanya Marcel sedih, menatap Renee yang memunguti pakaian di lantai.


Renee menatap pemuda yang usianya tiga tahun di bawahnya, meskipun begitu tubuh Marcel lebih besar dan tampak lebih menarik daripada Morgan. Tinggi, dengan otot-otot perut yang sangat kuat, juga dengan otot tangannya yang terbentuk sempurna. Mungkin oleh karena itu lah dia sangat perkasa dan bisa membuatnya berteriak puas.


Renee mendekati pemuda itu dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Kau bercanda?" tanya Marcel. Renee menggelengkan kepala dan memakai pakaiannya dengan santai di depan Marcel.


"Tidak. Untuk apa aku bercanda? Aku sama sekali tidak bercanda."


"Tapi itu sangat berbahaya!"

__ADS_1


Renee mengangkat kedua bahunya. "Terserah kau. Semua keputusan ada padamu, Sayang!" Dengan santainya Renee memoles wajahnya dengan make up tipis.


Marcel tak tahu harus melakukan apa. Hal yang sangat berbahaya yang bisa mengancam nyawanya dan juga nyawa kakaknya. Akan tetapi, karena cinta telah membutakan matanya, Marcel melakukan apa yang diinginkan oleh Renee. Lagi-lagi menusuk kakaknya dari belakang.


__ADS_2