Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
147. Sisi Menyeramkan


__ADS_3

Film sudah dimulai beberapa menit, tapi Alex dan Mac merasa jika mereka sudah berada sangat lama di dalam sana. Berkali-kali Mac mengenyahkan tangan laki-laki itu, tapi dia kembali menyentuh Mac dengan sentuhan s*nsualnya dan tersenyum centil. Mac menjadi tidak bisa fokus dengan film yang tersaji di depan sana.


Mac melirik Lyla yang fokus dengan film-nya, pun dengan Alex yang mencoba untuk fokus meski sesekali bergerak untuk menghindari gangguan dari tatapan wanita yang ada di sebelahnya.


Tak sabar lagi, Mac hendak mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya, sebuah senjata api berukuran kecil, tapi bisa mematikan jika menembus jantung laki-laki bertulang lunak tersebut.


Mac menangkap tangan laki-laki itu dan menariknya sehingga wajah mereka hampir bersentuhan. Pemuda berponi itu tersenyum senang, wajah Mac sangat tampan meski tidak setampan wajah laki-laki yang duduk di samping kanan Lyla. Akan tetapi, alis Mac sangat tebal dan dia menyukai pria dengan alis tebal.


"Ah, Tuan. Kalau kau mau menciumku, lebih baik jangan di sini," ucap laki-laki kurus itu. Dia menggerakkan kepalanya mengisyaratkan untuk mereka berpindah ke belakang di mana tempat tersebut bisa membuat mereka lebih leluasa tanpa ada yang bisa melihatnya.


Mac mengurungkan niatnya untuk mengambil pistol kecil miliknya dan mengikuti langkah kaki pria kurus itu pergi ke belakang. Tangannya terus ditarik oleh pemuda berponi itu.


Mac disudutkan olehnya di dinding, tidak ada yang memperhatikan mereka karena semua orang terfokus kepada film yang tengah diputar. Orang-orang yang ada di bangku belakang juga sedang fokus dengan urusan masing-masing. 'Urusan masing-masing'.


"Ini tempat yang bagus jika kau mau menciumku." Laki-laki itu memejamkan matanya dan memajukan bibirnya hendak mencium Mac.


Mac balik menarik laki-laki melambai itu ke dinding, membuatnya terpekik sedikit. Beberapa orang menatap mereka, tapi itu sudah biasa untuk mereka melihat pemandangan yang seperti itu, maka mereka mengabaikannya saja.


"Kau agresif sekali, Tuan! Aku jadi berpikir kau seribu kali lebih tampan jika agresif seperti ini," ujar laki-laki itu dengan senyum yang mengembang. Bisa Mac lihat jika pemuda yang dia taksir usianya awal dua puluhan memakai lipstik di bibirnya.


Mac kali ini benar-benar mengeluarkan pistol kecil miliknya dari balik baju dan menodongkannya ke depan hidung laki-laki itu sehingga dia membulatkan matanya takut.


"Eh, kau--"


"Jika kau masih ingin hidup, pergi dari hadapanku sekarang!" ujar Mac. "Kau lihat laki-laki di sebelah gadis itu?" tunjuk Mac kepada Lyla dan Alex, pemuda itu melirik tempat yang ditunjuk Mac. Tepat pada saat itu Alex melirik ke arahnya juga. Keringat dingin keluar dari kening laki-laki itu, besar seperti bulir jagung.


"Dia kakak pacarku, jika kau masih menggangguku dan menggodaku, aku akan pastikan jika kau akan mati di tanganku daripada aku yang mati di tangannya. Aku akan mencongkel kedua bola matamu dan akan aku jadikan umpan di kolam hiu milik mereka. Aku juga akan menjadikan ususmu sebagai kulit sosis dan akan aku berikan kepada macan yang mereka pelihara. Jantung dan otakmu, akan aku jadikan bahan percobaan pacarku yang ingin menjadi seorang dokter syaraf, kau tahu bagaimana dia akan memperlakukan otak dan jantungmu nanti?"

__ADS_1


Baru saja Mac akan berbicara lagi, pemuda itu menggeserkan pistol dari depan hidungnya dan segera pergi berlari sambil berteriak ketakutan.


Mac tertawa geli melihat laki-laki bertulang lunak itu akhirnya pergi. Tidak ada lagi pengganggu untuknya dan dia bisa menonton film dengan tenang.


Tak!


Mac menarik pelatuk, sebuah api keluar dari moncong pistol itu.


"Senang sekali mengerjai orang!" Mac tersenyum dan meniup api itu hingga padam.


"Dari mana kau?" tanya Lyla saat Mac sampai di tempatnya lagi.


"Mengerjakan sesuatu yang menyenangkan," jawab Mac. Kening Lyla mengerut mendengar ucapan Mac.


"Kau bersenang-senang dengan wanita?" tunjuk Lyla tepat di depan hidung Mac. Mac hanya tersenyum saja hingga matanya menyipit.


"Uncle, kau kenapa?" tanya Lyla. Alex tidak menjawab, hanya tersenyum saja. Bisa Lyla lihat jika di samping Alex ada wanita yang mencoba untuk merayu Alex dengan sentuhan kakinya, bergerak untuk menyentuh betis sang paman.


Lyla kesal dengan apa yang wanita itu lakukan sehingga dia bangkit dan beralih di atas pangkuan sang paman menghadap pada wanita itu.


"Sayang, boleh aku duduk di pangkuanmu?" tanya Lyla mengenyahkan kaki wanita itu yang menyentuh kaki Alex dengan tendangan halusnya.


Alex terkejut dengan apa yang Lyla lakukan. Juga dengan tangannya yang melingkar di leher Alex.


"Melihat adegan di film, membuat aku tidak tahan, haruskah kita bercinta di sini dan memperlihatkan pada yang lainnya jika kita pasangan yang serasi?" tanya Lyla sambil melirik wanita yang ada di sebelah Alex. Lyla mencondongkan tubuhnya pada wanita itu. "Hei, Nona. Bagaimana rasanya dekat dengan pacarku? Apa film yang kau tonton di sana sudah beralih pada wajah pacarku? Kau menikmatinya?" tanya Lyla tanpa berniat untuk memelankan nada suaranya sehingga beberapa orang menatap ke arah mereka.


"Apa kekasihmu masih kurang baik untukmu? Kau sungguh hebat duduk bersama dengan pacarmu, tapi jelas-jelas kau masih bisa menggoda kekasihku."

__ADS_1


"Kau menggodanya?" tanya pemuda yang duduk di samping kanan wanita itu membuat si wanita gelagapan dan menatap Lyla dengan sorot mata penuh kemarahan.


"Ti-tidak. A-aku tidak menggoda pacarmu? Siapa? Aku tidak sedang menggodanya!" elaknya.


"Cih, jika kau tidak menggodanya, tentu aku tidak akan mengambil sikap."


Pemuda yang ada di sebelah wanita itu berdiri, tapi tangannya ditahan oleh sang kekasih dan memintanya untuk tidak pergi. Namun, pemuda itu menghempaskan tangan sang kekasih dan pergi begitu saja dengan wajah yang sudah tersulut amarah.


"Awas kau ya!" Tunjuk wanita itu kepada Lyla dengan sorot mata penuh kemarahan dan pergi untuk menyusul kekasihnya.


Lyla tersenyum senang melihat drama yang sesungguhnya. Lebih menarik daripada film yang sedang diputar di sana.


"Hei, kau tidak akan turun?" tanya Alex menjewer telinga Lyla.


"Aww, sakit! Lepaskan aku, Uncle!" seru Lyla merasakan telinganya yang ditarik oleh sang paman. "Aduh!"


Alex menarik telinga Lyla sehingga dia kembali duduk di tempat semula.


"Jangan tiba-tiba duduk di pangkuan seorang laki-laki. Aku memang pamanmu, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya duduk di atas pangkuanku!" tegur Alex dengan menahan dirinya.


"Aw, tapi lepaskan aku, ini sakit!" keluh Lyla masih menjaga nada suaranya agar tidak mengganggu orang lain yang ada di dalam ruangan ini.


Alex melepaskan tangannya dari telinga Lyla. Keponakannya itu menggosok telinganya yang berubah merah. "Apa salahku? Aku kan membantumu agar terhindar dari wanita gila itu," gumam Lyla tak terima.


Alex memilih diam dan lebih ingin meredakan gejolak yang ada di dalam dirinya. Perlakuan Lyla tadi telah membangkitkan sesuatu di dalam dirinya. Sesak.


Akh, dasar sial!

__ADS_1


__ADS_2