
Morgan telah terbang selama lebih dari sepuluh jam dengan menggunakan privat jet-nya untuk bertemu dengan Lyla. Ia sudah tidak sabar untuk itu. Rasanya sangat bersalah sekali karena dia sempat tidak mengenali Lyla saat itu.
...Sial! Andai waktu itu aku tidak hilang ingatan, aku pasti sudah bahagia bersama dengannya. Kenapa Gerald dan semua orang tidak memberitahuku tentang keberadaan Lyla? batin Morgan kesal. Dia sangat menyayangkan sekali dengan tindakan semua orang yang menutupi akan kehadiran Lyla darinya, bahkan semua maid yang ada di rumahnya juga tidak pernah membahas soal wanita malang itu....
"Tuan, apakah Anda butuh sesuatu?" tanya seorang pramugari yang bertugas di pesawat tersebut.
"Tidak. Aku hanya sedang ingin sendiri saja," ucap Morgan dan diangguki tanda mengerti oleh wanita tersebut. Maka dari itu, dia pergi dan menunggu saja jika mana Morgan membutuhkannya untuk membawa makanan atau minuman untuknya.
Morgan menatap ke kejauhan di luar jendela private jet tersebut. Awan tebal bak permen kapas lembut berada di bawah pesawatnya. Matahari sore yang terik dan menyorot langsung sinarnya ke arah Morgan tidak membuatnya mengalihkan tatapannya dari sana. Pikiran Morgan justru tidak ada pada benda mahakarya yang agung itu, dia sedang berpikir kata-kata apa yang akan dia ucapkan untuk pertama kalinya kepada Lyla saat bertemu dengannya nanti.
Senyum Morgan mengembang selama perjalanan itu. Dia senang, bahagia yang tak terkira bahwa sebentar lagi dia akan membawa Lyla untuk pulang bersamanya lagi.
"Tuan," panggil seseorang saat Morgan tengah melamun. Pria dengan seragam kapten mendekat dan menundukkan kepaanya pada Morgan yang ada di sana. "Satu jam lagi pesawat akan landing." Lapor laki-laki tersebut kepada Morgan.
Morgan menganggukkan kepalanya menaggapi laporan dari pria tersebut. "Bagus." Hanya itu saja tanggapan dari Morgan, sangat singkat seperti biasanya. Pria tersebut kembali ke kokpit dan kembali memimpin penerbangan tersebut. Senyum Morgan semakin mengembang saat mendengar tidak lama lagi dia akan sampai di sana.
__ADS_1
"Apa aku harus segera pergi ke rumahnya? Atau besok saja?" tanya Morgan kepada dirinya sendiri. Pasalnya, satu jam lagi pasti langit sudah mulai gelap dan perjalanan menuju ke mansion milik Alex membutuhkan waktu yang tidak sebentar juga. "Sepertinya aku harus menunggu hingga besok hari," ujar Morgan sedikit kesal. Jika itu terjadi di rumahnya, tentu saja dia tidak akan berpikir siang atau malam, bahkan tengah malam pun dia akan pulang untuk menemui Lyla.
Pesawat telah sampai di bandara, mobil yang menjemput Morgan juga sudah sampai, dia diantarkan ke markas tempat anak buah Gerald berada di sana. Gerald yang merupakan sepupu Morgan juga memiliki sebuah bisnis keluarga di negara ini, sedikit ekstrim mengingat bukan bisnis biasa yang dia jalankan. Menyelundupkan senjata dari luar Amerika yang jelas dilarang di negara ini.
Mansion yang luas menjadi tempat bermalam Morgan untuk beberapa hari ke depan. Selama itu urusan yang ada di London dia serahkan terlebih dahulu pada Gerald dan juga Selvi.
Morgan diarahkan ke sebuah ruang tidur yang dikhususkan untuk tamu keluarga, mengingat jika laki-laki ini adalah keluarga Gerald dan pria itu meminta bawahannya untuk memperlakukan dia dengan baik di sini.
Mansion yang luas dengan bangunan bertingkat tiga, berada di sebuah kawasan elit yang bukan sembarangan orang bisa masuk ke sana. Penjagaan ketat dan juga sangat terstruktur membuat tempat tersebut tidak dicurigai oleh pihak polisi jika di sana juga menjadi salah satu tempat untuk merakit senjata ilegal dan jual beli. Saking rapinya Gerald dan anak buahnya melakukan transaksi dan juga langkahnya yang seperti bayangan yang sulit untuk ditangkap.
Apakah dia juga melihat bulan sekarang ini? gumam Morgan pelan. Rasa lelah dia abaikan, untuk sekarang melihat bulan tentu sangat menyenangkan daripada tempat tidur.
...***...
Di lain tempat, Lyla menatap bulan yang bersinar sedikit redup. Langit malam gelap, ada awan hitam yang menggantung di sana dan menutupi sinarnya. Rasa rindu kepada seseorang seringkali memuncak, tapi dia tidak bisa pergi begitu saja sebelum misinya selesai.
__ADS_1
Sebenarnya Lyla tidak terlalu tahu apa misi yang harus dia lakukan, mengingat jika Alex juga tidak mengatakan apa saja dan dia yang harus bagaimana. Siapa yang akan mereka pancing.
"Hah, apa aku bisa melakukan ini? Gimana kalau besok aku melakukan kesalahan? Apa Alex tidak akan melepaskanku?" gumam Lyla sambil menatap ke kejauhan sana.
"Aku rindu dengannya. Tapi apakah dia akan melepaskanku dan mengantarkanku pada Morgan?"
Tiba-tiba saja Lyla menggelengkan kepalanya. Andai dia kembali apakah Morgan akan mengingatnya?
"Ah, aku jadi bingung. Haruskan aku melupakan dia?"
Langkah kakinya dia lajukan ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya yang cukup lelah di atas kasur. Alex sangat sibuk, sehingga dia tidak menemukannya sore ini. Bahkan, saat makan malam pun dia tidak bisa menemukannya.
"Sebenarnya aku siapa? Kenapa aku belum bisa mendapatkan kejelasan diriku? Aku cuma tahu Alex adalah pamanku saja. Mana keluargaku yang lain? Ayah, ibu, dan yang lainnya. Kemana mereka?" gumam Lyla dengan pelan.
Lyla lelah memikirkan semua ini sehingga dia memutuskan untuk tidur saja.
__ADS_1