Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
190.


__ADS_3

Pesta resepsi perikahan Morgan dan Lyla laksanakan, pesta itu memang bertema sederhana, tapi jelas bukan sederhana yang ada di dalam pikiran Lyla. Itu adalah definisi sederhana menurut Morgan.


Pesta resepsi itu dilakukan secara private, tidak ada media massa yang boleh meliput tentang acara ini dan setiap tamu yang hadir tidak diperkenankan untuk mengambil gambar atau apa pun itu. Keamanan di perketat, para tamu yang datang juga diperiksa, diminta ponsel mereka untuk dimasukkan ke dalam sebuah wadah khusus dan ditutup kameranya. Tidak ada yang boleh mengambil gambar atau pihak keamanan akan bertindak jika ada seseorang yang tidak menghormati keinginan si pemilik acara.


Lyla sangat terasing dengan semua orang yang ada di sini, dia jelas tidak tahu dan tidak kenal siapa saja yang hadir di sini karena semua orang adalah partner bisnis Morgan, yang dia kenal hanyalah Alex, Theresia, Lian, dan Gerald saja. Juga dengan Leo si dokter yang pernah mengobatinya dulu saat baru saja terjadi hal yang tidak diinginkan akibat perbuatan Morgan. Selebihnya adalah orang asing yang hanya dia lihat di acara pemberkatan pernikaha mereka.


Acara dilakukan sampai hampir tengah malam. Rahangnya sakit karena dia harus menampilkan senyuman untuk para tamu undangan yang menyapa mereka. Akhirnya pesta resepsi berakhir dengan rasa lelah dan lapar. Morgan dan Lyla kembali ke hotel tempat mereka menginap kemarin.


"Biar aku bantu," ucap Morgan mengambil alih reseleting gaun pengantin Lyla dan membukanya. Rasanya seperti deja vu karena mereka pernah melakukan ini dan endingnya bisa ditebak seperti apa.


Ya, Morgan tidak akan bisa menolak pesaona sang istri sama sekali dan dia tidak akan melepaskan Lyla sampai kapanpun. Bersama dengan istrinya adalah hal yang terbaik dan dia tidak ingin melewatkan hal yang menarik ini dengannya.


"Istirahatlah. Kau tampak lelah sekali."


Lyla membuka matanya saat Morgan selesai dan mencium keningnya.


"Aku memang lelah, tapi tidak apa asal bersama denganmu," ucap Lyla senang. Pun dengan Morgan yang merasa tersanjung karena mendapatkan ucapan itu dari istrinya.


"Kau membuatku jatuh cinta berkali-kali lipat, Honey. Cintaku padamu leih besar dari Gunung Everest."


Lyla terkikik mendengar gombalan dari suaminya. Sekarang gombalan itu lebih baik lagi daripada sebelumnya.


"Mari kita tidur. Bukannya kita akan melakukan perjalanan jauh besok?"


"Perjalanan jauh?" Kening Morgan mengerut dalam.


"Ayah menghubungiku tadi pagi dan dia bilang kita akan pergi bersama-sama ke pulau pribadinya di daerah tropis. Di sana sedang musim panas dan Ayah bilang pemandangan di sana sangat bagus. Dia abilang akan mengajak kita untuk pergi ke penginapan bawah laut yang baru selesai dibangun," ucap Lyla. Morgan hanya bisa ternganga mendengar ucapan istrinya. Robinson tidak mengatakan itu kepadanya kemarin, dan dia juga tidak mengatakan kepada ayahnya bahwa dia akan ikut bersama dengan mereka.


Bagaimana bisa Ayah bicara lebih dulu dengan Lyla? Dasar Pak Tuan menyebalkan!

__ADS_1


Morgan tentu tidak ingin berbulan madu bersama dengan ayahnya. Dia sudah memikirkan tempat indah di puncak gunung tinggi yang bersalju. Akan sangat enak jika udara dingin dan mereka akan melakukannya sepanjang hari.


"Aku ingin melihat ikan hias yang ada di laut. Bagaimana jadinya ya jika kita menginap di hotel bawah laut? Ayah juga sudah mengirimkan beberapa foto kepadaku dan tempatnya sangat indah sekali." Lyla membuka selimut dan mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, membuka pesan chat yang dikirim oleh Robinson saat tadi pagi dan dia lupa tidak memberi tahu Morgan karena pria itu terus mengganggunya dan hanya beristirahat saat waktunya makan dan tidur.


"Kapan Ayah memiliki nomor ponselmu?"


"Sejak aku masih di rumah sakit," jawab Lyla sambil menggulirkan layarnya hingga sampai pada gambar yang dikirim oleh Robinson tadi pagi.


"Astaga. Sudah selama itu kalian bertukar nomor dan aku tidak tahu?" sesal Morgan. Andai dia tahu, dia pasti akan menghapus nomor ayahnya dari ponsel istrinya. Robinson bisa saja mempengaruhi Lyla saat dirinya tidak ada.


"Yupss. Oh, ini dia. Aku menemukannya. Bagaimana? Tempat ini indah, bukan?" tanya Lyla seraya memperlihatkan ponselnya pada Morgan. Gambaran sebuah ruangan di bawah laut dengan dinding kaca tebal dan memperlihatkan view yang sangat indah. Banyak ikan hias berwarna warni di luar kamar itu dan terumbu karang yang tak kalah indahnya.


Morgan melihat binar di mata istrinya, juga senyum yang terpancar di sana. Lebar sekali dan membuat hatinya menghangat.


"Apa kau mau pergi ke sana?" Akhirnya Morgan bertanya.


"Iya. Jika kau setuju."


"Biaklah, kita akan menyusul mereka ke sana," ucap Morgan. Lyla berteriak senang dan melompat ke arah suaminya, memeluk serta menghujani ciuman di wajah Morgan.


"Aku senang. Terima kasih. I love you, Sayang."


"I love you too. Sekatang kita tidur."


"Jika tidak?" tanya Lyla dengan senyuman dan kerlingan nakalnya.


"Oh, Honey. Jangan memancingku lagi!"


Lyla tertawa renyah dan memeluk suaminya dengan erat, membenamkan kepalanya di leher Morgan yang wangi dengan banyak warna merah di sana.

__ADS_1


"Honey."


"Hem?"


"Lain kali jangan membuat tanda merah begitu banyak di leherku," ujar Morgan saat Lyla lagi-lagi memberikan ciumannya disana dan menambahkan tanda merah sekali lagi.


"Lalu? Aku harus membuatnya di mana?" tanya Lyla.


"Aku ada acara besok sebelum kita pergi untuk honeymoon."


Lyla berdecak kesal, tapi tidak marah. Dia hanya sedang menyukai apa yang menjadi kegiatannya semenjak semalam, yaitu meninggalkan bekas berwarna merah di tubuh suaminya. Sudah tidak terhitung lagi berapa tanda merah yang ada di sana dan dia masih memiliki rencana untuk menambahkannya beberaa lagi.


"Acara apa?"


"Mengenai pemindahan properti yang aku miliki. Semua akan aku serahkan kepada Gerald. Aku akan memberikan semua yang aku miliki kepadanya, karena Ayah memintaku untuk meneruskan bisnisnya yang ada disana. Kau tidak apa-apa kan jika kita pindah ke sana?" tanya Morgan, tapi dia masih tidak bisa mengatakan alasan yang menjadi sebab pemindahan properti itu untuk Gerald. Morgan masih bingung untuk menjelaskan soal masa lalunya kepada Lyla.


"Apa pun yang menjadi keputusanmu, aku terima. Kau suamiku dan aku yang menjadi istrimu, bukankah aku harus mengikuti dan patuh dengan suamiku?" ujar Lyla.


Morgan senang akan ucapan istrinya itu dan mengambil Lyla ke dalam pelukannya.


"Kau memang istri yang baik sekali."


"Aku hanya sedang mencoba menjadi yang lebih baik untukmu."


"Tapi, jika suamimu tidak baik. Kau bisa menegurku dan menghukumku."


"Memangnya, apakah ada suatu hal yang tidak aku ketahui? Kenapa kau bicara seakan kau bukan orang yang baik?" tanya Lyla sambil menatap suaminya.


"Aku bukan orang yang baik di masa laluku, Lyla. Kau tahu itu kan?"

__ADS_1


"Tapi kau adalah laki-laki yang baik untukku selama aku bersama denganmu. Teruslah menjadi laki-laki yang sepeti itu untukku.


__ADS_2