
Beberapa hari Morgan berada di rumah itu bersama dengan Lyla, dia sangat tenang karena tidak harus memikirkan pekerjaannya di sana. Ada Selvi dan Gerald yang mengurusi semua pekerjaannya dan dia percaya kepada mereka berdua.
Dua orang itu sedang duduk santai. Paman Will berada di samping pintu untuk memperhatikan mereka, seperi yang selalu Alex pesankan kepadanya. Laki-laki tua itu setia menunggu Morgan dan Lyla yang duduk berdua di taman belakang rumah setelah makan tadi pagi. Ada kolam ikan dan taman bunga di samping kolam ikan itu. Terjaga kebersihannya dan sangat asri tanpa adanya lumut satupun.
Paman Will penyuka ikan dan tanaman, dia meminta izin kepada Alex untuk membuat kolam ikan dan taman tersebut. Alex pun tidak keberatan karena biasanya wanita juga menyukai bunga.
"Aku sudah terlalu lama pergi dari rumahmu. Aku rindu Lian dan Tuan Gerald."
Morgan tersenyum dan memainkan kakinya yang terjuntai ke dalam air. Ikan hias berwarna warni berenang di antara kakinya.
"Mereka baik-baik saja. Mereka juga merindukanmu."
"Aku rindu dengan mereka. Tapi, aku masih belum bisa kembali sebelum bertemu dengan ibuku. Apa kau juga tahu kabar tentang ibuku?"
Morgan melihat kerinduan yang teramat sangat di mata Lyla, dia paham sekali apa arti orang tua untuk wanita ini.
Morgan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tapi aku akan membantumu sebisaku. Aku dan Gerald juga sudah mengerahkan semua anak buahku untuk mencari titik terang di mana ibumu berada."
"Morgan."
"Hemm?"
"Apa menurutmu ibuku masih hidup?"
"Aku yakin, selama kita belum melihat nisannya, aku yakin dia masih hidup."
Paman Will mendengar pembicaraan itu meski samar, dia merasa kasihan kepada Lyla, tapi dia juga masih belum tahu apa yang terjadi. Dia juga sudah mencari tahu, tapi sampai sekarang tidak ada kabar lain yang bisa dia infokan kepada Alex.
Tiba-tiba saja terdengar suara gaduh dari dalam rumah yang membuat Morgan dan Lyla menolehkan kepalanya. Paman Will berlari ke dalam rumah.
"Apa yang terjadi?" Pandangan Lyla mengekor, hingga Paman Will tidak terlihat lagi.
"Tunggu di sini, aku akan melihatnya."
Morgan yakin ada hal yang tidak baik yang terjadi. Dia pergi ke depan dan melihat Alex dibopong oleh beberapa orang dengan tubuh yang berlumuran darah.
"Uncle!" teriak Lyla yang ternyata mengikuti langkah kaki Morgan. Lyla menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat keadaan sang paman yang sudah tidak berdaya. Alex tidak sadarkan diri dan segera di bawa ke dalam kamar serta dibaringkan di sana. Darah segar seketika membasahi lantai dan seprai tempat tidur Alex.
"Apa yang terjadi? Apa yang terjadi dengan pamanku? Mac!" teriak Lyla ingin tahu. Mac pun sama, ada banyak darah di perutnya dan dia meringis kesakitan. Wajahnya pucat dan lebam serta berdarah.
"Mac, apa yang terjadi?" tanya Lyla sekali lagi.
"Black Eagle, menyerang markas." Suara Mac terpatah-patah menahan sakit.
Mac terpaksa membawa pulang Alex karena jalan menuju ke rumah sakit terblokir oleh anggota Black Eagle. Para pengawal yang lain diberantas habis oleh mereka.
__ADS_1
"Apa maksudnya? Apa itu Black Eagle?" Lyla masih bertanya.
Morgan mengepalkan tangannya erat sehingga buku-bukunya memutih, kemudian dia melihat luka Alex yang terkena beberapa tembakan di perut dan dadanya.
Black Eagle adalah sebuah kelompok besar yang berjalan di area hitam dan terkenal di kalangan mafia di negara ini. Transaksi penjualan obat terlarang dan senjata ilegal terjadi di sana, bahkan mereka juga sering memperjualbelikan manusia untuk menjadi budak maupun untuk diambil organ dalamnya dan dijual ke pasar gelap. Tidak ada yang berani menghalangi Black Eagle, bahkan polisi pun dibuat tidak berdaya oleh kelompok yang hampir berkuasa di negeri ini.
Alex juga memiliki sebuah pekerjaan di area hitam, dia menjadi seorang pemimpin di suatu kelompok yang sama besarnya dengan Black Eagle. Red Dragon adalah julukan dari kelompok yang dinaungi oleh Alex. Transaksi obat terlarang, penjualan senjata api ilegal, atau pembunuh bayaran, tapi Alex mengecualikan menjual manusia. Baginya menjual kebebasan manusia sungguh hal yang tidak terpuji.
Red Dragon sudah berdiri sejak sepuluh tahun yang lalu dan selama lima tahun ini mengalami kejayaannya. Alex dikenal sebagai Black Hunter di antara para mafia dan termasuk orang yang patut untuk diperhitungkan. Selama ini dia tidak pernah menunjukkan dirinya di kalangan mafia, dan mereka hanya melihat Alex yang hanya seorang Black Hunter. Identitas Alex dirahasiakan sebaik mungkin, itu sebabnya dia tidak bisa membawa Lyla saat dia menemukannya dulu. Dia takut jika keselamatan Lyla akan terancam.
Akan tetapi, saat ini Alex sedang tidak berdaya, karena Black Eagle mencari sesuatu yang hilang beberapa hari yang lalu.
Tiba-tiba saja Morgan teringat akan sesuatu.
"Keluar kalian semua," ucap Morgan memberi perintah. "Aku bilang keluar kalian semua!" teriaknya saat tidak ada yang mendengarkan.
Paman Will memaksa menarik tangan Lyla. "Ayo, Nona. Kita harus pergi dari sini."
"Uncle--" Lyla enggan untuk pergi, tapi laki-laki tua itu tetap menariknya.
"Lyla keluarlah, aku akan di sini mengurusi Alex."
"Tidak. Uncle--"
"Lyla!" bentak Morgan keras.
Morgan memberi perintah kepada Alex untuk membawakannya beberapa barang guna mengobati Alex. Segera Mac mencarikan apa yang diminta Morgan dan mengabaikan kesakitan di dalam dirinya.
Di luar ruangan, Lyla menunggu dengan cemas, dia tidak tahu apa yang dilakukan oleh Morgan kepada pamannya. Lyla sangat resah sekali, dia juga gelisah bercampur takut dengan keadaan Alex.
"Paman, apa yang sudah terjadi. Ada apa sebenarnya ini? Siapa mereka hingga membuat pamanku seperti ini?" tanya Lyla kepada Paman Will.
Paman Will tidak berhak menjawab jika bukan Alex yang mengatakannya sendiri, hal itu sudah Alex terangkan kepada Paman Will agar Lyla tidak perlu mengetahui identitasnya yang lain.
"Mereka hanyalah sekumpulan orang jahat, mungkin saja Tuan Muda tidak sengaja menyinggung mereka." Hanya itu saja yang bisa Paman Will terangkan kepada Lyla.
...***...
"Apa yang akan Anda lakukan?" tanya Mac saat Morgan membuka botol alkohol yang tadi diminta oleh Morgan.
"Tenang saja, ini tidak akan membunuhnya."
"Aku sudah menghubungi dokter untuk datang ke rumah ini."
"Kau pikir dengan luka sebanyak ini dia akan bisa bertahan? Diam dan bantu aku!"
__ADS_1
Mac melihat Morgan mengucurkan alkohol itu ke dalam luka Alex, kemudian Morgan mencuci pisau kecil yang ada di tangannya dengan air alkohol yang sama.
"Sebagai anggota Red Dragon, seharusnya kalian bisa melakukan hal lain daripada hanya menembak dan baku hantam."
Mac terkejut karena Morgan mengetahui siapa mereka. Alih-alih heran karena hal itu, Mac lebih ngeri melihat Morgan menyayat kulit perut Alex dan seketika darah mengucur dari sana dengan tanpa ragu sama sekali. Tangan Morgan dengan leluasa mengangkat satu persatu peluru yang bersarang di tubuh Alex.
"Siapa kau sebenarnya?"
Morgan hanya melirik Mac, kemudian kembali kepada pekerjaannya membalut luka.
"Kau tidak perlu pedulikan siapa aku."
...*...
Sudah hampir dua jam Lyla menunggu, tapi pintu kamar Alex tidak terbuka sedari tadi. Waktu dua jam ini dia rasakan sangat lama dari biasanya.
"Uncle." Lirih Lyla tak kuasa lagi menahan tangisnya. Baru sebentar dia bertemu dengan Alex, haruskah dia kehilangan laki-laki itu lagi?
Tidak. Jangan sampai Alex mati dengan mengenaskan seperti ini. Dia ingin bersama dengan Alex lebih lama dan dia tidak rela anggota keluarganya meninggal di depan matanya.
"Jangan khawatir. Tuan Muda bahkan pernah mengalami hal yang lebih parah dari ini." Paman Will mencoba untuk menenangkan Lyla.
Pintu kamar terbuka, Lyla langsung berlari saat melihat Morgan di ambang pintu dengan pakaian yang telah berlumur darah.
"Morgan, bagaimana pamanku? Apa yang kau lakukan?" tanya Lyla ingin tahu keadaan Alex.
"Dia tidak apa-apa, aku sudah mengeluarkan semua pelurunya." Senyum Morgan ketir, melihat wajah Lyla yang panik seperti itu. Dia tahu jika Lyla sangat panik dan ketakutan. Morgan ingin sekali memeluk Lyla, tapi wanita itu mendorongnya dan langsung masuk ke dalam untuk melihat keadaan Alex. Mac masih menunggu di sana dengan perut yang sudah diobati pula oleh Morgan dan sudah terbalut kain kasa dengan rapi.
"Uncle. Bangunlah, aku mohon!" Lyla bersimpuh di samping ranjang. Suara tangis menggema, tapi tidak membuat Alex terganggu dan membuka matanya. Laki-laki itu masih terpejam tanpa bisa membuka mata padahal dia sangat ingin. Dunia bawah alam sadar, menyuruhnya untuk bangun, tapi dia tidak berdaya seakan ada tali besar yang mengikatnya dan menahan pria itu untuk bisa bangkit.
"Mac, apa yang terjadi?" tanya Lyla kini.
"Kami hanya bertemu dengan seseorang yang pernah kami singgung."
"Kenapa sampai seperti ini? Apa kau sudah menghubungi polisi?" tanya Lyla. Mac hanya mengangguk saja setelah melirik ke arah Morgan yang menatapnya tajam di belakang Lyla.
"Ya, aku sudah melakukannya. Pasti polisi sebentar lagi akan menangani kasus ini."
Morgan pergi untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan Mac berjalan tertatih menuju ke arah lain dan melakukan rapat dadakan atas kejadian ini.
"Paman, bisakah kau menemani Laura sebentar? Ada yang harus aku lakukan." Pinta Morgan. Paman Will menunduk dalam dan mengantarkan Morgan pergi ke luar rumah tersebut.
"Apakah Anda butuh seseorang untuk menemani Anda?" tanya Paman Will saat Morgan masuk ke dalam mobil yang disediakan di sana. Mobil anti peluru yang canggih dan dilengkapi GPS serta alat canggih lainnya. Di bawah pijakan Morgan terdapat beberapa senjata api dan ada juga granat. Mobil itu telah di desain dengan tembakan otomatis yang akan bisa dikendalikan dari sebuah remot yang ada di dekat kemudi.
"Tidak perlu. Aku akan kembali dalam tiga jam. Jika dalam waktu itu aku masih belum kembali, bawa Laura pergi dari sini."
__ADS_1
Paman Will mengerti, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam dan menunggu hingga Mobil yang dikendarai oleh Morgan menghilang dari pandangannya.