Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
135


__ADS_3

Renee menangis tersedu, tapi siapa yang akan iba kepadanya? Laki-laki dengan hati yang dingin seperti Gerald tentu saja kini tengah tertawa puas. Terlihat dengan sangat jelas olehnya senyuman di bibir laki-laki itu yang tampak mengerikan di matanya.


Tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka dengan lebar, seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan dan berjalan dengan sangat santai sekali. Menatap dua orang itu yang berpandangan dengan sangat lekat.


"Apa kau belum selesai?"


Gerald mengalihkan tatapannya pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam sana.


"Aku baru saja mulai," jawab Gerald sedikit sebal. Dia menyingkir dari sana dan membiarkan Morgan untuk mengambil alih bagiannya.


"Apa kabar, Sayang? Apakah kau sudah merasa baikan?" tanya Morgan dengan tersenyum senang menatap Renee dengan tatapan yang teduh. Renee menatap Morgan dengan matanya yang penuh ketakutan. Baik Morgan mau pun Gerald sama-sama laki-laki yang menyeramkan.


"Jika kau tidak melepaskanku, maka bunuh saja aku," bisik Renee dengan suara yang lirih. Morgan tertawa kecil mendengarnya, menggelengkan kepala beberapa kali.


"Sebenarnya aku ngin sekali membunuhmu, tapi aku rasa akan tidak adil bagi adikku jika kau menemui penciptamu dengan cepat dan mudah. Kau harus merasakan penderitaan atas apa yang adikku rasakan dulu."


Renee membulatkan matanya menatap Morgan. Apa yang akan laki-laki ini lakukan? batinnya. Akan tetapi, apa yang ingin dia katakan nyatanya tidak bisa keluar dari mulutnya.


Morgan menempelkan jari telunjuknya di bibir Renee saat dia hendak berbicara. "Sshhttt! Kau tidak perlu berbicara apa-apa. Aku tahu apa yang kau inginkan, tapi balasan yang aku berikan masih belum sepadan," ucap Morgan seraya tersenyum kuat membuat Renee yang mendengarnya membulatkan mata.


Morgan melirik pada Gerald yang masih berdiri di sana. Dengan tatapan yang dilayangkan oleh Morgan, Gerald paham jika dia tidak boleh berada di sini. Maka, dia pun keluar dari ruangan tersebut.


Renee menggelengkan kepala melihat Gerald yang ke luar dari sana, seakan dari tatapan itu dia memohon untuk tidak ditinggalkan oleh lelaki itu.


"Sama seperti apa yang kau lakukan terhadap adikku, aku juga tidak akan segan-segan untuk membuatmu merasakan apa yang dia dapatkan akibat ulahmu dulu," ucap Morgan sambil membuka kancing pakaian Renee satu persatu. Dia ingin sekali membalaskan apa yang telah dilakukan oleh wanita itu.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Renee sambil menatap takut laki-laki itu. Akan tetapi, Morgan hanya tersenyum lebar dan tidak menghentikan tangannya membuka pakaian Renee hingga tampak sekali kulit putih mulus wanita itu meski dengan tulang dada yang tampak di sana.


"Aku hanya ingin bersenang-senang, seperti biasanya. Bukankah kau senang aku perhatikan seperti ini?" ujar Morgan.


Renee membulatkan matanya dan ingin berontak, tapi tubuhnya sudah tidak bisa dia gerakkan sama sekali. Sial! Di saat rasa panas menyerang tubuhnya, dia tidak bisa bergerak sama sekali. Dia memang lumpuh karena kecelakaan itu, tapi beberapa saraf sensorisnya masih berfungsi sehingga dia masih bisa merasakan sakit pada anggota tubuh tertentu.


"Morg-gan!" rintih Renee saat lelehan lilin yang panas mengenai dadanya, laki-laki itu tak mengindahkan seruan permohonan ampun yang dia ucapkan, malah tampak tersenyum mengerikan dan terus mengulangi hal yang sama.


"Lebih baik kau bunuh saja ku," ucap Renee dengan memelas. Air mata keluar dari matanya yang kini tak bersinar lagi. Dia hanya berharap kematian akan lebih baik untuknya sekarang ini.


Morgan menghentikan aksinya setelah beberapa titik di permukaan kulit wanita itu memerah. Sudah sangat lama sekali dia tidak melakukan hal menyenangkan seperti sekarang ini.


"Ah, kenapa sekarang menjadi membosankan? Apa mungkin karena kau tidak bisa melawan?" ujar Morgan kemudian menjauhkan lilin itu dari sana dan menyimpannya di atas meja, masih menyala.


Renee pasrah, hidup dan matinya ada di tangan seorang Morgan Castanov. Salah untuknya bermain-main dengan laki-laki itu.


"Ah, tapi jika aku membiarkan hal itu terjadi, bukankah aku akan menjadi laki-laki yang sangat kejam?" ujar Morgan sekali lagi sambil mend*sah pelan. Masih ada rasa di dalam dirinya yang belum merasakan puas terhadap wanita ini.


Morgan tak ingin berlama-lama melihat wajah Renee yang memelas. Dia keluar dari ruangan itu dengan langkahnya kakinya yang panjang.


"Bisakah kau bawa dia ke tempat yang jauh?" ujar Morgan saat di luar menemukan Gerald yang masih berdiri di depan pintu.


"Ya, aku bisa membawanya ke tempat yang kau mau," ucap Gerald.


Morgan pergi diikuti Gerald yang berjalan di belakangnya.

__ADS_1


"Apa kau sudah menemukan Lyla?" tanya Morgan saat mereka memasuki ruangan kerjanya.


"Aku kehilangan dia," ujar Gerald. Morgan mendudukkan dirinya dengan kasar di kursinya dan mengusap wajahnya yang frustrasi. Beberapa bulan lamanya dia masih belum bisa menemukan Lyla.


"Ah, ada di mana dia sekarang?" gumam Morgan merasa bingung dan khawatir. "Kerahkan lebih banyak lagi orang untuk mencari Lyla. Aku ingin dalam beberapa hari kau bisa menemukan dia," titah Morgan. Gerald menundukkan kepalanya kemudian pergi dari hadapan Morgan untuk melakukan apa yang tadi Morgan perintahkan.


"Lyla, sebenarnya di mana kau."


Helaan napas berat terdengar dari bawah hidung Morgan. Laki-laki itu jelas merasa sangat kehilangan atas kepergian Lyla yang tengah mencari kedua orang tuanya. Tak lama setelah kecelakaan itu, ingatannya kembali, tapi dia terlambat karena Lyla telah pergi. Bukan Morgan tak ingin menyusulnya, tapi ada sesuatu yang terjadi dan dia tak ingin Lyla terlibat di dalam masalahnya, sehingga Morgan membiarkan Lyla berada di sana tentunya di bawah pengawasan orang-orangnya. Namun, kini entah di mana dia berada. Ada seseorang yang menjadi penyusup dan membawa Lyla pergi setelah penyerangan dari orang yang tidak dia kenal.


Meski di dalam hati dia yakin jika Lyla baik-baik saja, tapi rasa khawatir masih saja menderanya.


...****************...


Assalamualaikum para readers semua. Mohon maaf karena Othor sudah menghilang selama satu bulan ini tidak update sama sekali. Maaf karena telah membuat banyak orang pembaca Yumna-Haidar dan juga Morgan-Lyla telah menunggu lama dan pastinya membuat kecewa.


Ada satu hal dan lainnya yang membuat Othor tidak bisa sama sekali melanjutkan tulisan. Bahkan, di pf lain juga tidak nulis sama sekali.


Tulis dan hapus, seperti itu lah saat Othor mencoba untuk melanjutkan tulisan, baik di pf ini maupun pf sebelah yang alhasil membuat Othor nggak pede meski hanya up untuk beberapa kata saja dan akhirnya menunggu waktu yang tepat untuk bisa melanjutkan tulisan. Rasanya ... Entahlah, tidak bisa digambarkan dengan kata-kata😮‍💨.


Semoga saja setelah hari ini dan selanjutnya Othor bisa bangkit lagi dan bisa melanjutkan berkarya lagi. Sekali lagi Othor minta maaf sebanyak-banyaknya untuk semua dan maaf sudah mengecewakan 🙏.


Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya. Mohon maaf ya atas segala salah dan khilaf yang sudah Othor lakukan 🙏. Semoga puasa kita lancar dan kuat hingga akhir nanti.


Salam sayang untuk readers semua🥰

__ADS_1


__ADS_2