Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
79. Semua Tetap Sama


__ADS_3

Lyla dan Markian masuk ke dalam kelas yang sama, beberapa orang tertuju menatap orang baru yang datang dengan Markian, si playboy kelas kakap.


"Kau juga masuk ke sini?" tanya Lyla.


"Iya, kebetulan kita satu kelas," ucap Markian malu.


"Oh ya. Kebetulan sekali! Aku ada teman," seru Lyla.


Markian tersenyum malu. "Iya, kau beruntung karena sekelas denganku. Jika ada yang ingin kau tanyakan aku akan membantumu dengan baik."


"Waah, beruntung sekali. Aku pikir aku akan membutuhkan banyak bantuanmu nanti, Tuan Lenon!"


"Panggil saja aku Markian, atau Mark," ucap Markian.


"Oke, aku mohon bantuanmu nanti, Mark."


Markian tersenyum senang, wajah Lyla memang tidak terlalu cantik dibanding dengan wanita yang lainnya, tapi saat tersenyum kecantikan itu terpancar sehingga seperti magnet apalagi saat dia menunduk malu-malu, membuat banyak pria menatapnya gemas.


"Iya, bagaimana kalau kita nanti belajar bersama ke perpustakaan. Aku tahu tempat yang enak untuk kita belajar," ucap Markian yang membuat Lyla tersenyum senang dan menganggukkan kepala.


"Tentu saja, aku mau!" seru Lyla. Markian tersenyum senang. Lyla, selain bisa membantunya belajar juga bisa menyuntikkan semangat untuknya. Tahun ini dia harus bisa menyelesaikan tugas dengan baik, jangan sampai seperti tahun sebelumnya dan mendapatkan hukuman untuk pergi belajar ke luar negeri.


***


Morgan masih berdiri di depan universitas, rasa-rasanya enggan untuk pergi, tapi dia harus ke kantor karena pekerjaannya sangat menumpuk sekarang ini.


"Semoga saja dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh," ucap Morgan kemudian menyalakan mobilnya dan pergi dari sana. Morgan khawatir dengan Lyla, tapi lebih khawatir lagi dengan Markian yang tampak seperti laki-laki br3ngs3k.


***


"Duduklah di sampingku dan jangan jauh dariku," pinta Markian, Lyla mengangguk dan duduk di samping Markian. Untuk saat ini dia hanya percaya dengan Tuan Muda Lenon saja.


Seorang pria mendekati Lyla dan duduk di kursi di depannya, dia sudah memperhatikan Lyla saat wanita ini masuk ke dalam ruangan kelas.


"Hai, Mark. Siapa Nona manis ini?" tanya Jeff. Lyla menunduk malu saat laki-laki asing ini menatapnya lekat-lekat.

__ADS_1


"Dia sepupuku. Jangan ganggu dia, Jeff!" ucap Markian memberi peringatan.


"Wooo, sepupu? Aku tidak tahu kau punya sepupu secantik ini."


"Dia baru datang dari luar kota."


"Ooo ... hai, Nona. Bisakah kita berkenalan?" tanya Jeff seraya mengulurkan tangannya, dia merasa gemas melihat Lyla yang tampak malu terhadapnya. Tak banyak wanita yang seperti ini.


"Jangan masukkan dia di dalam daftar incaranmu, Jeff. Jika tidak, kau akan berhadapan denganku!" Mark memberikan tatapan tajam penuh dengan ancaman.


Jeff menatap malas Markian. "Aku tidak bisa janji, adik sepupumu membuatku tertantang untuk mendapatkannya," ucap Jeff dengan pelan.


Markian menatap kesal laki-laki ini, mereka berteman, tapi tetap bersaing dalam mendapatkan wanita. Markian mencondongkan tubuhnya ke depan, dekat dengan Jeff. "Percayalah, Jeff. Jika kau mengganggunya, maka aku tidak akan bisa menjamin masa depanmu akan bisa berjalan dengan mulus," ucap Markian. Jeff hanya mengangkat bahunya, baginya masa depan adalah hal yang tidak bisa diprediksi. Akan seperti apa dirinya di masa depan tentulah tidak akan ada yang tahu, yang terpenting adalah masa kini.


"Aku jadi penasaran, apa yang bisa terjadi di masa depanku nanti," ucap Jeff dengan senyuman tipis di bibirnya.


***


Morgan telah sampai di perusahaanya, dia berjalan dengan langkah yang ringan dan sedikit senyum di bibir, di tangannya membawa sebuah paper bag berwarna hitam.


"Aku yakin dia pasti akan senang aku belikan ini," ucap Morgan sambil melirik isi yang ada di kotak tersebut.


"Demi Tuhan, benarkah apa yang aku lihat?" tanya seorang wanita mengucek matanya saat melihat Morgan yang telah masuk ke dalam lift.


"Iya, dia tampan dengan jaket itu. Seperti artis terkenal," ucap temannya dengan kagum masih menatap pintu lift meski kini telah tertutup.


Keluar dari lift Morgan berjalan dengan riang, terdengar sedikit siulan di mulutnya. Mendengar suara seseorang di lantai ini membuat wanita yang bekerja sebagai sekretaris Morgan menolehkan kepalanya dan melihat Morgan telah sampai di lantai ini. Dia menatap heran sang atasan yang datang dengan siulan gembira dan pakaian santai.


"Selamat siang," sapa Morgan pada sekretarisnya. Wanita itu masih melongo dengan ketampanan atasannya tersebut sehingga lidahnya kelu, tidak bisa menjawab sapaan dari Morgan. Sungguh laki-laki itu berbeda dari biasanya.


"Antarkan jadwalku hari ini," ucap Morgan.


"I-iya, Tuan," ucap wanita itu.


Morgan masuk ke dalam kantornya tanpa menunggu sekretaris membukakan pintu untuknya seperti biasa.

__ADS_1


"Apakah Tuan Morgan kerasukan?" gumam wanita itu masih belum mengerti.


Morgan menyimpan paper bag di atas mejanya dengan sangat hati-hati, kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan istirahatnya untuk mengganti pakaian dengan jas rapi. Tidak mungkin dia akan bekerja dengan menggunakan pakaian santai, bukan?


Gerald keluar dari ruangannya dan menemui sekretaris untuk meminta bantuan dari wanita itu.


"Em, Tuan. Tuan Muda Morgan ada di dalam," terang wanita itu seraya memberikan berkas yang baru saja selesai dia kerjakan.


"Tuan Muda sudah kembali?" tanya Gerald dengan tidak percaya, dia kira Morgan akan menunggu sampai Lyla selesai dengan kuliah pertamanya.


"Oke, terima kasih." Gerald masuk ke dalam ruangan Morgan dan tidak melihat sepupunya itu ada di sana. Akan tetapi, dia melihat benda asing yang ada di atas mejanya.


"Apa ini?" gumam Gerald melihat dan mengintip isi yang ada di dalam sana, sebuah ponsel. "Untuk siapa dia membeli ini?" tanyanya pada diri sendiri. Morgan baru membeli ponsel keluaran terbaru satu bulan yang lalu.


"Apa dia ingin mengganti ponselnya lagi?"


Saat Gerald hendak mengeluarkan kardus ponsel yang ada di dalamnya, Morgan keluar dari ruangan istirahat dan melihat Gerald ada di sana.


"Apa yang kau lakukan? Jangan sentuh barangku!" ucap Morgan dengan suara keras sehingga Gerald terkejut dan berbalik.


"Kau membeli ini?" tunjuk Morgan yang sedang mengancingkan pakaiannya.


"Yes!"


"Untukmu?"


"Bukan, untuk Lyla," ucapnya yang sukses membuat Gerald menatap Morgan aneh. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Kau menjadi aneh setelah dia datang. Apakah dia telah membuat perubahan untukmu?" tanya Gerald seraya duduk di hadapan Morgan.


"Ada atau tidaknya dia semua tetap sama bagiku. Tidak ada yang berubah dan tidak ada yang berbeda," ucapnya. Akan tetapi, Gerald tidak memikirkan hal itu. Semua sudah tampak jelas di matanya.


"Bagaimana keadaan di universitas? Apa kau pikir dia akan betah di sana?"


Morgan menjawab hanya dengan mengangkat kedua barunya tinggi-tinggi.

__ADS_1


"Semoga saja dia bisa berteman dengan baik. Haruskah aku menyuruh seseorang untuk memperhatikan dia?" tanya Gerald sekali lagi.


"Tidak perlu. Dia pasti bisa melakukannya sendiri," ucap Morgan dengan yakin. Sedikit. Sedikit yakin, semoga saja Lyla bisa mengurus dirinya dengan baik di sana.


__ADS_2